NovelToon NovelToon
The Ex'S Mission

The Ex'S Mission

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial
Popularitas:72.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayy

Kana Nada Praya dilahirkan oleh ibunya dengan doa akan anak perempuan yang kuat, penuh harapan dan dicintai. Seiring langkah kecil hingga ia dewasa, doa itu kerap menuntunnya pada keberhasilan gemilang yang ia raih. Hingga ia bertemu seorang lelaki yang mengubah semua itu. Mengubah hidup Kana menjadi sebuah kenyataan yang terbalik dari doa sang ibu.

Aruna Wira Mahendra bagai titisan berlian yang diturunkan tuhan dari langit. Ia dilahirkan dari keluarga terhormat dan berwibawa. Meski berada di keluarga kaya, Aruna tak pernah sekalipun memanfaatkan apa yang orangtuanya miliki. Dengan keahlian dan bakatnya, ia meraih kegemilangan hidup terutama saat bertemu Kana, magnet dalam hidupnya. Hingga sebuah keputusan demi keputusan salah menuntunnya pada jalan yang gelap.

Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang begitu indah.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang berakhir begitu saja.

Benarkah cinta adalah anugerah?
Ataukah cinta butuh lebih dari sekedar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desolate

Krisna sedang mengelap ujung sepatu kulit berwarna hitam miliknya saat sebuah panggilan masuk di ponsel berdering. Dengan sigap, Krisna mengangkat telepon itu. Sebab nama di layar adalah salah satu orang penting baginya, Krisna perlu berdiri untuk memastikan ia menjawab telepon itu dengan semangat dan lantang.

"Ya, Ndoro!" sahutnya begitu menekan tombol warna hijau di layar ponsel.

"Krisna," terdengar desah kesal yang Krisna hapal dari majikannya, Ndoro Lastri.

"Saya mau kamu cari tahu semua nama perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan Aruna! Sahabatnya, juga semua orang yang pernah dekat! Semuanya, datangkan! Kalau perlu, bayar. Berapapun," kalimat Lastri tertahan, lalu terdengar isak dari sebrang telepon.

Ragu-ragu, Krisna memanggil pelan, "Ndoro?"

Masih tidak ada jawaban, hanya terdengar isak tertahan Lastri. "Hari ini," akhirnya Lastri membuka suara diantara helaan tangis yang ia tahan.

Lastri mencoba lagi, "hari ini, saya di ajak bicara oleh dokter. Dokter-dokter itu bilang bahwa seluruh organ tubuh Aruna sudah mulai tidak memberikan respon. Kondisinya kembali memburuk. Dan dokter, dokter-dokter itu... mereka... mereka meminta pertimbangan untuk melepas Aruna! Huhuhu..."

Tangis Lastri pecah dan semakin menjadi. Sementara itu, Krisna membeku. Ia tak bisa membayangkan pria muda penerus tahta darah biru keluarga Mahendra itu akan pergi secepat ini. Ditengah gemilangnya pencapaian Aruna, dan masa depan dengan banyak harapan yang ada di pundak buah hati Lastri itu.

"Saya, saya tidak akan menyerah. Saya tidak akan melepas Aruna. Jika perlu bertukar nyawa, maka nyawa saya pun akan saya serahkan, Krisna! Jika mereka memaksa saya untuk melepas Aruna, saya akan pindahkan Aruna kemanapun. Meski harus ke luar negri pun saya akan lakukan!"

"Jadi, Krisna! Saya minta kamu juga harus bantu saya, bawa semua, siapapun itu, yang bisa memberi Aruna semangat lagi," perintah Lastri saat isaknya mereda.

Krisna sangat ragu, ia terbata-bata bertanya, "ba-bagaimana dengan Non Kana? Bukankah Non Kana justru membawa banyak perubahan baik pada kondisi Aruna?"

Krisna memang sudah mendengar beberapa saat yang lalu kondisi Aruna membaik. Hal itu terjadi setelah dikunjungi oleh mantan istrinya Aruna, Non Kana. Aneh, jika kondisi Aruna membaik, bukankah seharusnya ia tetap dijenguk dan mungkin dirawat oleh Kana saja?

"Kana," desis Lastri disebrang telepon. "Dia memang membawa kebaikan untuk Aruna, tapi saat dia datang selalu, selalu membuat kekacauan."

Ada helaan nafas panjang bersamaan antara Krisna dan Lastri.

"Pokoknya, kita coba semua orang selain Kana. Jika memang harus kembali lagi meminta Kana," Lastri menggantung kalimatnya.

"Akan saya lakukan. Seribu kalipun memohon pada Kana, akan saya lakukan, Krisna."

Saat telepon berakhir, Krisna sedikit termenung. Sungguh kompleks permasalahan majikannya ini. Ia sedikit membatin, apakah memang begini takdir orang kaya, memiliki permasalahan hidup yang tidak umum. Baginya, permasalahan hidup hanya tentang biaya dan kebutuhan hidup. Sedangkan majikannya ini, harus bertaruh harga diri pada orang yang pernah dulu ia buang.

Menggaruk kepalanya dengan kasar, Krisna berteriak kesal. "Hah! Ada-ada aja dah. Orang sekarat malah dicariin cewek-cewek. Gak bener ini majikan, kudunya di panggil ustad kek, pengajian kek! Heran!"

Rasa kesal Krisna disebabkan pula oleh betapa susahnya menemui dan bicara dengan teman-teman Aruna. Selain mereka terkesan sombong dan sibuk, sebenarnya, hubungan baik yang terjalin antara Aruna dan teman-temannya bukan sebuah hubungan yang nyata. Krisna tahu, semua ini hanyalah didasari oleh kepentingan, bisnis, uang dan relasi belaka. Begitu seseorang tidak ada manfaatnya, jangankan dijadikan teman bagi lingkungan mereka, kenal sajapun, mereka tidaklah punya waktu.

***

Aruna berjalan gontai di lorong rumah sakit, ia kembali mengunjungi tubuhnya yang terbaring di kamar VVIP ICU. Sesaat sebelum menembus pintu, Aruna sempat melirik sosok pria yang memandangi tubuhnya dari dinding kaca luar. Orang itu adalah, Jay. Di tangannya ada sebuah tas kertas yang bertuliskan nama sebuah toko bunga terkenal dan mahal.

Saat Aruna memasuki ruangan tempat tubuhnya terbaring, ia mencium semerbak wangi segar. Seperti wangi citrus dengan kesan manis. Wangi itu berasal dari sebuah bouquet bunga yang terletak di meja nakas dekat jendela. Aruna tidak punya energi untuk sekedar ingin berterimakasih pada pengirim bunga yang ia jelas tahu siapa. Ia saat ini hanya ingin meringkuk di tempat tidurnya.

Jika ingin jujur, Aruna merasa saat ini mental dan kejiwaannya sedang terguncang hebat. Selain karena begitu cepatnya pergantian suasana bahagia saat ia bersama Kana semalam, fakta yang terucap dari mulut Chas sungguh membuatnya merasa kosong. Ia bagai selongsong peluru yang telah habis ditembakkan. Terpelanting tak berdaya, kosong, dan merasa tak berguna.

Aruna berbaring di tempat tidur, menyatu kembali dengan raganya. Sesaat, hembusan nafas tubuh Aruna pada ventilator yang baru dipasang pagi ini sangat keras hingga membuat selang dan penutup mulut ventilator berembun. Pada mata terpejam tubuh Aruna, ada lelehan air mata yang cukup deras. Dan di dunia astral sana, tangis Aruna menggema. Keras, dan sangat keras. Seperti memekakkan telinga para mahluk transparan lainnya yang berkeliaran di rumah sakit itu. Masing-masing makhluk yang mendengar jeritan Aruna ikut meringkuk sedih, memahami apa arti tangisan penyesalan itu bagi mereka yang tak lagi punya kesempatan kembali memperbaiki semuanya, di dunia.

***

Pagi hari di kamar Kana, semuanya sudah tampak rapi. Seolah seperti hari-hari biasa, seolah seperti hari dimana Kana akan berangkat kerja. Namun, kali itu Kana tidak tampak akan berjalan menuju halte. Ia justu sedang berdiri didepan rumah menunggu taksi yang ia pesan. Tak lama, taksi datang. Segera Kana masuk dan melaju menuju tempat yang sedari shubuh sudah ada dikepalanya.

"RSJ Benteng Agung, pak!"  perintahnya pada supir taksi.

Begitu sampai di tempat yang tak asing bagi Kana, langkah kaki Kana cepat melangkah ke sebuah ruangan konsultasi yang sudah ia hapal. Bahkan, ketika ia melewati meja administrasi perawat, para suster penjaga itu hanya mengangguk dengan senyum.

Kana menarik nafas dalam-dalam saat tangannya memutar kenop pintu aluminium yang dingin. Ketika pintu terbuka, seorang pria berjas putih sedang melepas kacamata hitamnya dengan senyum menawan.

"Good Morning, Kana. I lie if I said I don't miss you (Pagi, Kana. Aku bohong kalau aku bilang aki ga kangen kamu)," ucap Sam sambil menopang dagunya. Memandangi puas pasien favoritnya yang masih berdiri terdiam.

Kana akhirnya menghembuskan nafasnya. Ia masih ingat dengan jelas percakapan terakhir kalinya dengan Sam. Ya, bukan di ruang konsultasi, melainkan di sebuah restoran mewah. Sam dengan amat menyesal mengakui bahwa ia benar-benar bingung karena ia merasa bahwa perasaan kasih sayangnya pada Kana adalah ambigu. Seperti bukan kasih sayang dokter pada pasien yang ditangani, melainkan kasih sayang seorang pria pada wanita.

Tentu saja saat itu Kana sudah mulai merasakan apa yang Sam risaukan. Tapi kala itu Kana memang benar-benar berharap bahwa Sam yang penuh perhatian hanyalah memberikan apa yang seharusnya seorang dokter lakukan. Pertemuan yang terasa sangat aneh dan janggal itu juga ditutup dengan kesimpulan yang membuat Kana sedikit sedih. Sam harus memutuskan apakah ia harus menyerahkan Kana pada dokter lain terkait perasaan pribadinya, atau Kana yang harus mengambil jeda untuk sesi konsultasi yang sebenarnya sangat menolong Kana.

"Yeah, couple of months have passed, (Iya, udah lama juga)" ujar Kana sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Sam.

Kana merasa sedikit canggung, ia buru-buru menunduk dan mencari botol kosong obat dari dalam tasnya yang selalu diresepkan Sam.

Tak!

Kana menyusun rapi 3 botol obat di atas meja Sam.

Alih-alih mengomentari kepatuhan Kana mengkonsumsi obat yang tak perlu di ragukan lagi. Sam justru menahan pandangannya pada paras Kana.

"Sam?" tegur Kana pelan.

Selain merasa bahwa suasana akan semakin canggung, dua pasang lesung pipi yang dalam di kedua sisi wajah Sam cukup membuat Kana tidak fokus. Justru semakin membuatnya ingin membahas sosok yang juga punya dua lesung pipi di hidupnya--yang sudah pasti Sam juga tahu.

"Okay, okay," akhirnya Sam beranjak dari posisi duduk malasnya. Ia menegakkan punggungnya dan merapikan jas. Menekan dengan tegas perasaan yang bergejolak didada yang disebabkan oleh kehadiran Kana kembali di ruangannya.

"However, gue bersyukur gak jadi menyerahkan lo ke dokter lain. Meski hubungan kita tidak bisa dilanjutkan yah, paling tidak, lo masih kembali pada gue," ucap Sam dengan mengulum senyum, namun memasang tampang dan berulah seperti seseorang yang pasrah telah patah hati.

Kana memutar bola matanya, "gue akan pindah rumah sakit sih lebih tepatnya, kalau seandainya gue harus ganti dokter kalo lo pindahin gue."

Terkikik, Sam akhirnya terhibur. Tampaknya hasil perenungannya di liburan minggu lalu benar. Ia harus menerima perjodohan dan menikah saja. Dari pada ia terus bertanya-tanya tentang kebingungannya terhadap perasaanya kepada Kana. Apakah itu rasa suka, atau hanya sekedar perhatiannya pada pasien.

"Well," Sam akhirnya tertarik dengan botol-botol kosong obat Kana.

Ia lalu sedikit mengerutkan alis. "Udah habis dari 7 hari yang lalu, dong?" tanyanya saat menyadari perhitungan konsumsi obat dan tanggal hari ini.

"Lo bisa tidur dengan baik?" tanya Sam lagi.

Terdiam dan berpikir sejenak untuk memilih kalimat, Kana akhirnya dengan gugup memegangi sisi kening kanannya. Sam paham, jika postur Kana seperti ini, berarti ada sesuatu yang Kana akan utarakan. Sesuatu yang ia pendam dan membuatnya gelisah.

Sam menurunkan nada suaranya, "ada yang terjadi, Kana?"

Kana memicingkan matanya dan berkata, "gue takut gue justru butuh dosis yang lebih tinggi. Seharusnya saat nyadar obat itu habis, gue gak perlu menerapkan placebo effect ke diri gue. Berpura-pura minum obat dari botol yang kosong dan menipu diri sudah minum obat agar mendapat tidur yang tenang."

Sam menelan ludah, menahan diri agar tidak berkomentar. Awalnya, perkataan Kana ini terdengar bagus. Tapi tentu akan ada yang tidak baik di akhir penjelasan Kana.

"Awalnya, hal itu berjalan mulus. Gue bisa tidur tanpa benar-benar minum obat. You know, hanya pura-pura minum obat seperti biasanya walaupun gue hanya menelan air putih tanpa pil. Tapi, ada kejadian penting, Sam..."

Sam mengeraskan rahangnya, jika penting, berarti ini terkait dengan masa lalu dan trauma Kana. Rasa khawatir yang di bumbui oleh rasa sayang yang ambigu ini, kembali muncul menyelusup di hati Sam.

"Ibu dari Aruna datang, dan justru mengabarkan bahwa," Kana berhenti, berusaha menguasai getar yang menjalari tangannya.

"Dia ingin gue menemui Aruna. Keadaan jadi kacau pada saat ternyata, dia tidak memberitahu gue keadaan yang sebenarnya tentang Aruna saat itu. Bahwa Aruna, mantan suami gue itu, sedang sekarat karena kecelakan. Sudah lama koma dan terbaring di ICU."

Manik mata Sam membesar, ia hampir bisa menduga apa yang terjadi disana.

"Gue ambruk, kacau, nangis dan ngamuk," air mata Kana menetes. Sam dengan sigap mengeluarkan sapu tangannya pada Kana.

Setelah menyeka air matanya, Kana melanjutkan, "gue saat itu ingin menunjukkan pada Aruna kalau gue udah bisa menata hidup meski masih rapuh. Gue ingin melihat dia tersenyum ramah, meminta maaf tapi juga mensyukuri kehidupan dia setelah berpisah dengan gue. Gue terlalu banyak berharap saat itu, yang justru membuat gue gak mempersiapkan mental jika keadaan yang gue harapkan itu tidak terjadi."

"Gue marah, gue kecewa, Aruna, justru tidak tersenyum, tidak pula membuka mata. Dia justru terbaring dan tidak merespon apapun, nyaris seperti mayat. Bukannya ia hidup baik dan bahagia, ia justru berbaring sekarat disana, tanpa ada siapapun yang duduk menangis menemaninya."

Sam menghela nafas, tidak bisa membayangkan bagaimana kacaunya Kana saat itu.

"Singkatnya, gue cukup terguncang. Tapi keadaan berikutnya membuat gue bertanya-tanya... apa mungkin kondisi gue semakin memburuk. Gue gak tahu apakah gue kembali berdelusi, Sam..."

Sam mengangkat alisnya, seolah bertanya maksud Kana.

"Gue, gue melihat, mendengar dan merasakan... ada Aruna disisi gue. Dia kembali. Bicara dengan gue, mengajak gue mengobrol, bahkan... menyentuh gue lagi."

Kana akhirnya mengangkat wajahnya, "gue rasa gue perlu dirawat disini, Sam."

***

 

 

 

 

1
Mom Dee🥰🥰
gak niat lanjut kah thor?udah setahun aja nih... ceritamu luar biasa bagus loj
Mom Dee🥰🥰
😍😍😍😍
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
keputusan yg bodoh aruna?!melepas untuk bahagia,sampai saat ini q masih mempertanyakan dimana letak kasih sayangnya???bukankah itu justru menyakiti???disaat pasangan ingin bersama kita dan siap menghadapi apapun bersama,sementara kita justru melepas hanya karna merasa tak sanggup membahagiakan.bukankah itu terlihat bullshit?!gak bisa jaga komitmen.
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kenapa sampai sini,q jadi gedeg bnget ma aruna.bener2 labil jadi cwok.belum siap jadi suami sok2 an ngajak nikah,akhirnya jadi suami toxic
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kenapa hati rasanya seperti diaduk aduk ya baca cerita ini??😢
Devi Kartika
bahasanya bagus bgt, kita kyk diajak untuk ikut kedalam cerita
krisbow
bagus baget ceritanya
Senandung Jelita
kpn up thor?
Novita Sari
udah stengah taun thooorr☹️
Novita Sari
dari bab sebelum ini,air mataq g bisa ditahan...sayang ceritanya gak diterusin😔
Just Love It
aduh Thor, jangan patah semangat dong...Aku seneng bgt ama karyamu terutama yg the Bridesmaids secret. serius karyamu keren bgt. sedikit diantara ribuan karya di NT yang aku suka. 😍😍😍
eve
up...up...thor...
Erna Sujan
duuhh Sam kamu di blacklist deh 🙊
ratmie lutfy
menunggu klanjutanya, duh. awal baca nyesek trus, kesini mlah kocak. 😂
ratmie lutfy
aku suka alur mundur.. nyeseknya itu brasa bgt
OFF
Masih meraba alurnya..dibaca pelan dan diresapi...
ni sepertinya alur maju mundur cantik bergabung 😂😂..tinggalin jejak thor
Siti Halimah
hadeee
🍭aiNa_SAN🦭
kasiiiian nya kana
Tri Dikman
Baru tau ada novel baru thor

Mulai baca
eve
novel kak ayy ini menyayat hati menguras emosi, masih kental dalam ingatan berdeau nya air mata maya di tinggal nikah ikhsan, lahh ini, 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!