NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Pelarian dari SMA Persada meninggalkan bekas luka baru di lengan kiri Adella, namun amarah di dadanya jauh lebih membara daripada rasa sakit fisiknya. Ia kembali ke safe house di Jakarta Pusat—sebuah gudang logistik milik Zero yang disamarkan sebagai toko alat tulis.

Viona muncul di layar proyektor dengan wajah yang sangat tegang. "Adella, data yang sempat kamu unduh secara otomatis saat berada di dekat Lukas tadi... itu mengerikan. Lukas tidak hanya memproses data; dia terhubung secara real-time ke sistem perbankan pusat dan infrastruktur energi nasional. Arkana sedang mencoba melakukan 'Hard Reset' pada ekonomi kita."

"Mereka menggunakan anak delapan tahun sebagai saklar kiamat?" geram Adella sambil mengobati lukanya sendiri dengan kasar.

"Lukas adalah Interface," jelas Viona. "Arkana menanamkan Neural-Link di otaknya. Semua amarah dan trauma yang mereka tanamkan pada Lukas diubah menjadi energi pemrosesan data. Semakin dia merasa tertekan, semakin cepat sistem Arkana bekerja. Itulah sebabnya mereka memancingmu, Adella. Mereka butuh kamu untuk menjadi 'Antagonis' yang memicu trauma Lukas agar kekuatan sistemnya mencapai seratus persen."

Adella terdiam. Ia baru menyadari bahwa perannya dalam skenario Aristho bukan lagi sebagai koleksi, tapi sebagai pemicu. Ia adalah bagian dari mesin yang ia benci.

"Lalu bagaimana cara menghentikannya tanpa menyakiti Lukas?" tanya Adella.

"Ada satu cara," suara Zero menyahut dari sudut ruangan. Ia membawa sebuah perangkat berbentuk silinder kecil yang berkilau kebiruan. "Ini adalah 'EMP-Dart'. Jika kamu bisa menyuntikkan ini ke pelabuhan saraf di tengkuk Lukas, kamu akan memutuskan koneksi sarafnya dengan server Arkana secara permanen. Tapi risikonya... Lukas mungkin akan mengalami kerusakan otak permanen karena lonjakan listrik tersebut."

Adella menatap perangkat itu. Ia teringat tatapan Lukas di perpustakaan. Anak itu adalah cermin dari apa yang mungkin terjadi padanya jika ia tidak melawan dulu. Menyelamatkan dunia dengan mengorbankan masa depan seorang anak? Itu adalah logika yang sering dipakai Pak Adwan.

"Pasti ada jalan lain," gumam Adella.

"Tidak ada waktu, Adella," potong Viona. "Lukas baru saja memulai fase pertama. Pemadaman listrik massal di seluruh Jakarta sudah dimulai. Lihat ke luar."

Adella berjalan ke jendela. Di luar, kota Jakarta yang biasanya gemerlap kini perlahan-lahan gelap. Gedung-gedung pencakar langit padam satu per satu, menciptakan siluet raksasa yang menakutkan di bawah langit mendung. Suara klakson kendaraan yang terjebak kemacetan karena lampu lalu lintas mati mulai bersahutan, diikuti oleh kepanikan di jalanan.

"Dia berada di Menara Telekomunikasi Pusat," ujar Zero setelah melacak lonjakan frekuensi. "Aristho di sana. Dia sedang memamerkan kekuatannya pada dunia."

Adella bergerak menembus kegelapan kota menggunakan sepeda motor listrik yang tidak terdeteksi sensor panas. Menara Telekomunikasi berdiri tegak di tengah Jakarta, dikelilingi oleh barikade militer swasta Arkana. Namun, kepanikan massa di sekitar menara memberikan celah bagi Adella untuk menyelinap masuk melalui jalur utilitas bawah tanah.

Di puncak menara, di ruang kendali utama yang dikelilingi dinding kaca, Aristho Arkana berdiri dengan tenang. Di depannya, Lukas duduk di kursi khusus yang terhubung dengan ribuan kabel optik. Anak itu memejamkan mata, namun jari-jarinya bergerak liar di atas meja holografik, seolah sedang memainkan simfoni kehancuran.

Adella muncul dari balik pintu otomatis, napasnya memburu. "Berhenti, Aristho!"

Aristho menoleh, koin emasnya masih berputar di jarinya. "Adella. Tepat waktu. Lukas baru saja mulai meretas sistem pertahanan udara. Kamu datang untuk melihat mahakarya yang sebenarnya, bukan?"

"Lukas, dengarkan aku!" Adella mengabaikan Aristho dan berteriak pada anak itu. "Kamu bukan mesin! Kamu tidak harus melakukan ini!"

Lukas membuka matanya. Warna matanya kini berubah menjadi biru elektrik karena aliran data yang berlebihan. "Sakit, Kak... di dalam sini sangat bising. Ayah bilang jika aku menyelesaikan lagu ini, kebisingannya akan berhenti."

"Ayahmu berbohong, Lukas! Kebisingannya tidak akan berhenti, dia hanya akan menghapus siapa dirimu!" Adella melangkah maju, namun dua penjaga bersenjata segera menahannya.

Aristho tertawa. "Dia tidak bisa mendengarmu lagi, Adella. Dia sudah menyatu dengan algoritma. Sekarang, tunjukkan padaku... apakah 'kemanusiaan' yang kamu banggakan bisa menghentikan kemajuan zaman?"

Adella melihat Lukas mulai mengerang kesakitan. Darah mulai keluar dari telinganya. Beban data itu terlalu besar untuk tubuh seorang anak kecil. Jika ini terus berlanjut, Lukas akan mati dalam hitungan menit, namun Arkana akan mendapatkan kontrol penuh atas seluruh sistem negara.

Dalam sepersekian detik, Adella membuat keputusan. Ia tidak menyerang Aristho. Ia menggunakan kekuatan fisiknya untuk melepaskan diri dari penjaga, lalu melemparkan EMP-Dart miliknya bukan ke Lukas, melainkan ke Antena Pemancar Utama di atas kepala mereka.

Duar!

Ledakan elektromagnetik itu membutakan seluruh ruangan. Semua layar mati, dan kabel-kabel optik yang terhubung ke Lukas meledak mengeluarkan percikan api. Lukas terlempar dari kursinya dan jatuh pingsan.

"Tidak! Kamu menghancurkan jaringannya!" raung Aristho.

Adella segera berlari ke arah Lukas, memeluk tubuh kecil itu. Ia meraba denyut nadi di leher Lukas. Lemah, tapi masih ada.

Aristho mengeluarkan pistol dari balik jasnya, wajahnya yang biasanya tenang kini penuh dengan kegilaan. "Jika aku tidak bisa menguasai dunia melalui dia, maka tidak ada satu pun dari kalian yang boleh hidup!"

Namun, sebelum Aristho sempat menarik pelatuk, suara helikopter polisi yang sebenarnya terdengar di luar jendela. Viona telah berhasil mengirimkan bukti kejahatan Arkana secara langsung ke markas besar kepolisian internasional tepat saat sistem keamanan Arkana lumpuh oleh EMP tadi.

"Semuanya sudah berakhir, Aristho," bisik Adella sambil mendekap Lukas.

Bab 28 berakhir dengan petugas polisi yang mendobrak masuk dan meringkus Aristho Arkana. Di tengah kekacauan itu, Adella menggendong Lukas keluar dari menara yang gelap. Kota Jakarta mulai kembali menyala di kejauhan, lampu-lampu kembali menyala satu per satu seperti harapan yang baru muncul.

Adella menatap wajah Lukas yang tenang dalam pingsannya. Ia tahu, perjuangannya belum selesai. Arkana mungkin hancur, namun luka yang mereka tinggalkan akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk sembuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!