Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 20
Siang itu, langit terlihat cerah, namun hati Rana terasa sebaliknya.
Ia duduk di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Tempatnya hangat, dengan aroma kopi yang lembut memenuhi udara. Di hadapannya, Nuri- sahabatnya yang sudah mengenalnya lama menatap Rana dengan penuh perhatian.
Di samping Rana, Rana duduk di kursi bayi. Tangannya sibuk menyusun puzzle huruf warna-warni, sesekali menggumam kecil saat potongan itu tidak pas.
"A..ini A, bunda..." ucapnya polos.
Rana tersenyum tipis. "Iya, sayang."
Namun senyum itu cepat memudar saat ia kembali menatap Nuri. Beberapa detik mereka hanya diam. Seolah Rana sedang mengumpulkan keberanian.
"Aku..." suaranya pelan. "Aku nemuin sesuatu."
Nuri langsung menegakkan tubuhnya. "Apa?"
Rana menarik napas dalam. Tangannya meraih tasnya, lalu mengeluarkan kertas yang sudah terlipat rapi.
Kertas itu. Kertas yang sejak pagi ia genggam. Ia meletakkannya di atas meja. Nuri mengeryit, lalu mengambilnya. Matanya membaca cepat, lalu melambat...hingga akhirnya berhenti disuatu titik.
Ekspresinya berubah. "Ran..." gumamnya sembari menoleh dan menatap sahabatnya.
Rana tidak langsung bicara. Matanya menatap kosong ke arah cangkir kopi di depannya.
"Jakarta," kata Rana lirih, "dia bilang kerja." Suara itu mulai bergetar. "Tapi dia satu kamar sama perempuan lain."
Hening.
Kalimat itu terasa berat menggantung di udara. Nuri menutup mulutnya, seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ini...kamu yakin?" tanyanya pelan.
Rana tersenyum tipis. Senyum yang menyakitkan. "Kertasnya nggak bohong, Nur."
Dan di detik berikutnya, air mata itu jatuh dari pelupuk matanya, tanpa bisa ditahan lagi. Rana menunduk, pundaknya bergetar. Selama ini ia menahan. Menahan semuanya sendirian. Tapi sekarang... pertahanannya runtuh.
"Aku tuh...kurang apa Nur?" suaranya pecah. "Aku selalu ada buat dia...aku jaga rumah... anak-anak..."
Kalimatnya terputus oleh tangis. Nuri langsung bangkit dari duduknya, berpindah ke sisi Rana, lalu memeluknya erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam turun dengan cepat. Rumah yang biasanya hangat berubah dingin dan terasa amat berbeda. Sunyi- tapi bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan.
Dipta baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih terlihat sedikit basah, kaos rumah yang ia kenakan sederhana. Ia mengusap wajahnya dengan handuk kecil, lalu berhenti saat melihat Rana.
Istrinya duduk di tepi ranjang. Diam. Menatap lurus ke arahnya. Ada sesuatu di matanya yang langsung membuat langkah Dipta mendekat.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
Rana tidak langsung menjawab hanya saja tangannya bergerak. Mengambil sesuatu dari sampingnya. kertas itu...kertas yang ia temukan pada kemeja Dipta pagi hari.
Tanpa banyak kata, Rana melemparkan kertas itu ke arah Dipta. Kertas itu jatuh tepat di dada bidang pria itu, lalu meluncur ke lantai.
Dipta mengernyit. Ia membungkuk, lalu memungutnya. Dan dalam hitungan detik, air mukanya berubah.
"Ini..."suaranya tertahan.
Rana berdiri. Tatapannya tidak lagi lembut.
"Jelasin."
Satu kata. Tapi cukup untuk membuat suasana pecah.
Dipta mengusap wajahnya kasar, "Rana, aku bisa jelasin-"
"Jelasin sekarang." Nada suara Rana masih terkendali. Tapi sangat jelas jika perempuan itu tengah menahan sesuatu yang besar.
Dipta menarik napas panjang. "Iya, aku memang satu hotel sama Laras."
Rana tersenyum. Namun bukan senyum hangat atau bahagia, namun lebih ke senyum getir.
"Satu kamar juga, Mas?"
Dipta langsung menatapnya. "Denger dulu-"
"Apanya yang mau didengerin?" potong Rana. "Semua udah kelas disitu."
"AKU NGGAK NGAPA-NGAPAIN!" suara Dipta tiba-tiba meninggi.
Hening seketika.
Itu pertama kalinya malam itu suara mereka benar-benar naik.
Dipta terlihat frustasi. "Kita memang satu kamar, tapi kita tidur terpisah Rana! Aku di sofa, dia di kasur. Nggak ada apa-apa!"
Rana menatapnya lekat. Mencoba membaca. Mencoba percaya.
"Kenapa harus satu kamar?" tanyanya pelan. Lebih pelan dari sebelumnya. Tapi jauh lebih menusuk.
Dipta terdiam.
Sepersekian detik. Seperti mencari alasan agar Rana bisa mengerti dan percaya. Akan tetapi, diamnya Dipta malah membuat hati Rana semakin tenggelam.
"Kenapa, Mas?" ulangnya, "hotel penuh? Atau...emang gak masalah buat kamu?"
"Situsnya nggak sesederhana itu, Rana..."
"Lalu jelasin!" suara Rana akhirnya pecah. "Aku istri kamu! Aku berhak tahu!"
Dipta mengepalkan tangannya.
"Dia lagi ada masalah, Ran."
"Masalah apa sampai kamu harus satu kamar sama dia?"
"Sidang perceraian!" jawab Dipta cepat. "Hak asuh anaknya! Dia sendirian di Jakarta, aku cuma bantu! Bukannya aku udah bilang soal ini sama kamu?"
Rana tertawa kecil. Tapi bukan bahagia. Lebih seperti tidak percaya.
"Kamu bantu?" ulangnya. "Sampai segitunya? Sampai kamu tidur satu kamar sama dia?!"
"RANA!" bentaknya.
Rana terkekeh. Lalu menatap suaminya putus asa, "jawab aku! kamu bantu apa sampai kamu memutuskan tidur satu kamar dengan dia!"
Dipta mulai kehilangan kendali. "Iya! Aku memang tidur satu kamar sama dia! Aku ngelakuin ini karena dia gak punya siapa-siapa disana!"
"Terus aku apa?" suara Rana naik. "Aku siapa, Mas?"
Hening.
Pertanyaan itu menggantung. Berat.
"Kenapa kamu harus sejauh itu buat dia?" lanjut Rana, napasnya mulai tidak teratur. "Kenapa kamu harus terlibat sampai urusan sidang, sampai hak asuh anak?"
Dipta menggeleng frustasi. "KARENA AKU KENAL DIA!"
"Kenal dia? Kenal sebagai apa?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar. Yang sejak tadi Rana tahan.
"Siapa dia buat kamu, Mas?"
Dipta terdiam. Rana menatapnya dalam. Menunggu. Dan kali ini...ia tidak akan mundur.
"Dia cuma teman lama," jawabnya cepat, Dipta membuang pandangannya. Mencoba menghindari kontak mata dengan Rana.
"Teman lama?" ulang Rana pelan.
"Iya. Kakak tingkat waktu kuliah...guru les aku waktu SMA. Udah, cuma itu."
"Cuma itu?" suara Rana bergetar. Matanya mulai memerah lagi. "Cuma itu...tapi kamu bisa ninggalin istri kamu di rumah, bohong soal kerjaan, terus nginep satu kamar sama dia?"
Dipta mengusap wajahnya kasar. "Aku nggak ninggalin kamu, Rana. Aku ke Jakarta memang ada urusan disana. Aku ketemu klien aku, kebetulan dia mantan suaminya Laras..."
"Tapi kenapa kamu nggak jujur dari awal?!" balas Rana.
Dipta berkecak pinggang, memalingkan wajah dari Rana. "Aku capek disalahin terus!" ucapnya keras seraya membanting handuk kecil ke sembarang arah.
Kalimat itu seperti titik terakhir. Rana diam. Benar-benar diam, tidak membalas lagi, tidak berteriak lagi, hanya menatap.
Dipta menghela napas kasar, mengambil kertas itu dari tangannya, lalu meremasnya sedikit.
"Kalau kamu nggak bisa percaya aku, yasudah. Terserah kamu, kamu yang memang gak pernah ngertiin aku dari dulu. Terserah kamu mau berpikir apa tentang Laras. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Laras tidak seperti itu!" nada suaranya dingin. Kecewa. Atau mungkin defensif.
Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
"Mas-" suara Rana tertahan. Namun Dipta sudah membuka pintu dan-
BRAAKKK!!!
Pintu tertutup keras. Menggema di seluruh rumah, menyisakan Rana sendirian di dalam kamar.
...****************...
Bersambung....