Mesha tidak pernah menyangka, bahwa beberapa kali menikah, berkali-kali pula ia menjadi janda, karena semua suaminya, meninggal saat malam pertama. Semua ia jalankan demi menuruti keinginan orang tuanya.
Orang tuanya tidak memikirkan bagaimana perasaan Mesha. Yang mereka inginkan, Mesha harus membuktikan bahwa ia bukan perawan tua yang tidak laku-laku.
Namun, karena beberapa pernikahannya yang gagal, secara misterius, malah membuat ia semakin dipandang bagai monster.
Apakah ini sebuah kesialan? Atau kutukan? Bagaimana kehidupan Mesha selanjutnya?
Adakah yang bisa mengubah nasibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Cemburu Menyiksa.
Marisa sudah tidak bisa menahan lagi semuanya. Hatinya panas saat melihat Sakha dan Mesha sering berdekatan. Sudah lama dirinya menaruh hati terhadap pria yang sopan dan berkharisma itu. Namun ia betul-betul jengkel saat perhatian laki-laki pujaannya beralih ke pegawai baru itu.
Beberapa hari sebelumnya, bahkan Marisa mulai menyelidiki latar belakang Mesha. Bahkan, secara kebetulan, asisten juru paes yang menangani pernikahan Mesha dulu, tidak lain adalah sepupunya. Dari perempuan itu, Ia mendapatkan banyak informasi, hingga pada kejadian naas yang menimpa Mesha.
"Jangan salahkan aku, kalau nanti aku berbuat aneh-aneh. Siapa suruh kamu menggoda Mas Sakha!" gumam Marisa. Ada rasa kesal dalam nada bicaranya.
Kecemburuan dan iri hati Marisa benar-benar mulai membutakannya. Apalagi saat ia tidak sengaja melihat Sakha dan Mesha keluar bersama dari ruang arsip. Bahkan gadis itu membenci tatapan penuh kasih Sakha terhadap Mesha.
"Kamu pengen perempuan itu pergi dari kantor ini?" Suatu hari seorang laki-laki menghampiri Marisa yang masih mengawasi Sakha dengan tatapan nanar. Ada luka di pancaran mata Marisa.
"Bagaimana caranya, Pak?"
"Ada, pokoknya. Aku juga risih sama perempuan itu, gayanya alim dan kalem. Tapi dia berhati busuk. Banyak orang yang ndak tahu kalo dia sudah pernah menikah."
"Saya tahu hal itu, Pak."
"Lalu tunggu apalagi? Perempuan macam itu, ndak layak di sini, 'kan?"
Awalnya Marisa ingin menolak tawaran dari pria tersebut. Bukan prinsipnya. Namun, rasa ketidak sukaan pada Mesha, mendorong sisi egoisnya. Yang ada di pikirannya sekarang, hanyalah bagaimana cara memisahkan kedua orang yang semakin hari semakin membuatnya jengkel. Kemudian perempuan berambut sebahu itu, akhirnya berpikir untuk menerima tawaran "jahat" tersebut.
"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Marisa pada suatu pagi pada laki-laki tersebut.
Laki-laki di hadapannya tertawa, lalu mulai menyeringai.
"Belum waktunya, kamu ndak perlu ngapa-ngapain saat ini. Tunggu komando dariku!"
Marisa menggangguk mendengar perkataan pria tadi.
Saat jam makan siang, Marisa ingin memberikan nasi bekal buatannya untuk Sakha. Namun terlambat, laki-laki pujaannya otu malah sudah keluar lebih dulu untuk makan siang bersama Mesha. Dengan menahan rasa sakit, ia membawa kembali kotak makan yang sudah dipersiapkan khusus untuknya. Kemudian saat Paijo, terlihat melintas, gadis itu memanggilnya.
"Wah, makasih buangett lho, Mbak Risa. Semoga rejekinya, makin lancar dan barokah." Begitu perkataan Paijo, saat Marisa mengulurkan kotak makan berwarna hijau padanya.
Dengan senyum yang dibuat-buat, Marisa membalas pernyataan tukang kebun itu.
"Aamiin. Makasih doanya, Pak. Jangan lupa dihabiskan!"
Lagi-lagi, hati Marisa harus merasakan pedih saat melihat Sakha dan Mesha berjalan beriringan sambil tertawa bersama. Gadis itu mengepalkan telapak tangannya.
Marisa kembali ke balik meja kerjanya. Matanya kembali menatap rekan kerja perempuannya itu dengan tatapan penuh emosi.
"Eh, Mbak Risa nggak makan siang?" tanya Mesha saat melihat Marisa yang terlihat tidak bergerak dari meja kerjanya sedari pagi.
"Nggak Mbak, lagi banyak kerjaan," sahutnya dingin.
"Jangan sampe telat makan lho, Mbak. Nanti bisa sakit perut." Mesha menyambung perkataannya lagi.
Nggak usah berpura-pura baik atau pun peduli,Sha! Aku nggak suka dengan sikapmu yang penuh kepalsuan, untukku! Dalam hati, Marisa bersungut-sungut.
"Eh, iya, Mbak Sha. Ini, aku udah bawa bekal. Nanti kalo lapar, pasti aku makan." Marisa menunjukkan kotak makan lainnya yang tergeletak di meja.
"Oh, gitu ...."
Marisa memandang Sakha. Namun, lagi-lagi kekecewaan yang ia dapat. Pria itu menatap Mesha dengan tatapan yang dianggapnya seperti tergoda. Tanpa sadar, Marisa mencengkram ujung taplak meja.
***
Sepulang kerja, Mesha langsung berganti baju. Ia memilih setelan kasual. Rambutnya yang panjang, diikat dengan rapih ke belakang. Celana jeans berwarna gelap model pipa, ia padu padankan dengan kemeja polos berwarna pastel. Bedak tabur kesukaan, ia bubuhkan di wajahnya. Agar tidak terlihat pucat, ia memulas bibirnya dengan lipstick berwarna soft. Kemudian ia memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas selempang andalannya. Gadis itu mengerling pada jam yang tergantung di dinding.
"Masih cukup, waktunya." Ia bergumam pada diri sendiri.
"Mau ke mana, Cha?" Mayang bertanya ketika ia melihat penampilan putrinya.
"Mau ketemu Fia, Bu."
"Oh, ya sudah. Hati-hati! Pokoknya, sampe rumah sebelum surup lho, Nduk!"
"Iya, Bu." Mesha mengecup punggung tangan ibunya penuh hormat, lalu pergi.
Zafia melambaikan tangan saat menangkap sosok Mesha yang celingak-celinguk di pintu masuk sebuah kafe. Mesha membalas lambaian tangan Zafia. Beberapa menit berikutnya, kedua gadis itu sudah terlibat obrolan seru.
"Oh iya, Sha. Temenin aku nyari baju, yuk! Seleramu biasanya bagus," pinta Zafia setelah minuman mereka habis.
"Boleh. Yang deket-deket sini aja, 'kan?"
"Iya, Sha."
"Ayo, kalau begitu!"
Setelah membayar minuman mereka, gadis yang bersahabat itu. keluar dari kafe. Kemudian, mereka menuju sebuah toko pakaian. Saat memilihkan baju untuk Zafia, Mesha dikagetkan oleh suara seseorang.
"Mbak Mesha, to?" tanya suara tersebut.
Mesha menolehkan wajahnya ke sumber suara. Ia tersenyum saat melihat siapa yang baru saja menyapanya.
"Yumna, lagi apa di sini?"
Zafia yang berada tak jauh dari Mesha, berjalan mendekat.
"Yumna? Putrinya Bulek Ning?" sela Zafia.
"Lho? Mbak Fia!"
Mesha memandangi kedua perempuan muda di hadapannya.
"Kalian berdua saling kenal?" Mesha semakin bingung saat kedua gadis itu bersalaman dan saling menempelkan pipi kiri dan kanan.
Zafia tersenyum mendengar perkataan Mesha.
"Yumna ini sepupuku, Sha. Yang aku bilang mau mampir. Eh, malah ketemu lagi di sini," sahut Zafia.
"Oh iya, kamu sendirian ke sini, Yum?" Zafia memalingkan wajahnya pada Yumna.
"Sama Mas Kha kok, Mbak. Tadi ke toko seberang dulu, mau beli apa, gitu."
Mesha dan Zafia reflek mengangguk bersamaan.
Tanpa mereka bertiga ketahui, Sakha sudah mendengar percakapan mereka dari sisi lain toko tadi. Kemudian, ia mendekat.
"Jadi, kamu kenal sama Mbak Mesha, Fi?" sela Sakha.
"Eh, Mas Sakha. Iya, teman dekat pas jaman SMA."
"Wah, ini judulnya dunia selebar daun kelor," celetuk Yumna sambil membetulkan kacamatanya yang melorot.
"Oh iya, ngomong-ngomong, pada mau nyari apa, Mbak Fi?"
"Aku mau nyari baju buat kuliah, kayaknya aku mulai menggendut Yum." Zafia tersenyum kecut.
"Lhah, sama Mbak!"
Sementara Zafia dan Yumna sibuk memilih-milih, Mesha dan Sakha berdiri sejajar memandang dua gadis di depannya.
Kebetulan yang sangat tidak menyenangkan buat Marisa, saat ia melihat Sakha dan Mesha dalam posisi tersebut.
"Yang benar saja? Bahkan di luar kantor pun, mereka bertemu!" Marisa meremas botol minuman yang dibawanya, sehingga buku-buku jarinya memerah. Kemudian gadis itu keluar dari toko dan melemparkan botol plastik di tangannya ke tong sampah dengan kasar.
"Sial!" umpatnya.
Bersambung ....
🌹🥀 Terima kasih sudah membaca. ❤ Jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya dengan komentar dan like-nya!
Jangan lupa juga, patuhi protokol kesehatan! Semoga pandemi cepat berlalu. 🤲🏻 Lup yu pul tu de mun en bek!!! ❤❤❤
Thanks thor 🙏😘💗