NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 028

Suasana di bandara lama sangat kontras dengan ketenangan malam. Cahaya lampu dari deretan motor dan mobil modifikasi menerangi lintasan aspal yang panjang. Bau ban terbakar dan bensin menyengat di mana-mana.

​Vino, Bram, Kenan, dan Daren sudah berkumpul di dekat garis start. Mereka dikelilingi oleh banyak murid SMA Pelita Bangsa dan beberapa alumni, termasuk Abian yang sedang asyik memakan kacang rebus sambil duduk di atas kap mobil temannya.

​"Aksa mana? Jangan bilang dia diculik sama 'Ratu Mager'?" tanya Vino sambil celingukan.

​"Sabar, Vin. Singa kalau mau muncul emang biasanya terakhir biar dramatis," sahut Kenan tenang.

​Tak lama kemudian, suara raungan mesin yang sangat dikenal masuk ke area. Motor hitam Aksa membelah kerumunan layaknya pedang membelah air. Semua orang menepi, memberikan jalan. Aksa membuka helmnya, memperlihatkan wajah datarnya yang tampak sangat intimidasi di bawah cahaya remang-remang.

​"Widih, Bos kita dateng!" seru Bram.

​Aksa turun dari motor, namun matanya langsung menyapu kerumunan. Ia mencari satu titik. Satu wajah. Tapi yang ia temukan hanya barisan cowok-cowok berjaket kulit dan cewek-cewek pendukung tim lawan (SMA Garuda).

​"Cari siapa, Aks? Musuh lo di sana tuh, si Leon dari Garuda udah panas-panasin mesin," tunjuk Kenan.

​Aksa hanya mendengus. "Nggak cari siapa-siapa."

Ziva terus mengumpat di balik helmnya yang sedikit kebesaran. Motor matic-nya bergetar hebat setiap kali melewati jalanan aspal yang tidak rata. Di pikirannya hanya ada satu: Kenapa bandara lama harus dibangun di tempat yang jin aja ogah buang sampah di sini?

"Dikit lagi, Ziv. Lo bisa. Habis ini balik, terus hibernasi seminggu," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Namun, nasib berkata lain. Di depan sana, ada sebuah lubang jalan yang cukup dalam, tertutup bayangan pohon besar sehingga tidak terlihat oleh lampu motor Ziva yang redupnya mengalahkan lilin warung remang-remang.

BRAKK!

​"ASTAGA—HUWAAA!"

​Ban depan motor Ziva menghantam lubang itu dengan sukses. Motornya oleng ke kiri, dan Ziva, dengan segala martabat "Ratu Mager"-nya, terbang estetis sebelum akhirnya mendarat di atas rumput liar di pinggir jalan.

Gubrak!

Ziva terkapar dengan posisi telentang, menatap langit malam yang mendadak terasa berputar. Motornya rebahan dengan damai di sampingnya, mesinnya mati, meninggalkan Ziva dalam keheningan total di tengah jalan yang sepi.

​"Aduh... pinggang gue... jiwa jompo gue meronta-ronta," rintih Ziva. Ia mencoba duduk, meringis saat merasakan perih di lutut dan telapak tangannya. "Sialan. Gini nih kalau jiwa rebahan dipaksa keluar dari zona aman. Lecet kan tangan gue yang halus mulus tanpa dosa ini."

​Ia melihat lututnya. Jeans-nya sedikit robek, dan ada lecet kemerahan di sana. Telapak tangannya juga kotor dan perih.

"Gue balik aja apa ya?" Ziva menoleh ke belakang, ke arah kegelapan jalan yang baru saja ia lewati. Lalu ia menoleh ke depan, di mana sayup-sayup terdengar raungan mesin motor dari arah bandara.

Ziva menghela napas, ia bangkit berdiri dengan kaki yang sedikit pincang. Ia mencoba menegakkan motornya—yang ternyata beratnya minta ampun.

​"Ayo dong, Sayang... bangun. Jangan ikutan mager kayak gue," bisik Ziva sambil sekuat tenaga menarik stang motornya. Setelah perjuangan yang menghabiskan sisa tenaganya, motor itu akhirnya tegak.

​Ziva menstarter motornya. Cekit... cekit... greng!

​"Alhamdulillah! Oke, kita lanjut. Gue harus liat si Tiang Listrik itu balapan. Gue udah berdarah-darah begini, kalau nggak sampe sana rugi bandar!"

Trek Bandara Lama – 23:15 WIB

Trek bandara lama kini benar-benar telah berubah menjadi kawah kegilaan. Cahaya lampu high-beam dari puluhan motor sport menciptakan efek silau yang dramatis di atas aspal yang masih sedikit lembap.

​Di garis start, Aksa sudah duduk di atas motor sport hitam nya. Ia menurunkan kaca helm gelapnya, mengunci dunia luar dari pendengarannya. Baginya, suara-suara di sekitarnya sekarang hanyalah frekuensi yang tidak perlu ia proses. Ia hanya fokus pada lampu indikator dan getaran mesin di bawah selangkangannya.

OKE! SEMUANYA SIAP?!" Teriak seorang pria dengan bendera di tengah lintasan.

​"AKSAAAAA! CULIK AKU PAKE MOTOR KAMUUUU!"

"KAK AKSAAA, JANGAN MENANG DI LINTASAN AJA, MENANG DI HATI AKU JUGA DONG!"

"YA AMPUN, GANTENG CALON PACAR GUE, BENER-BENER GANTENGNYA ILEGAL!"

Vino yang berdiri tidak jauh dari motor Aksa langsung menutup kupingnya. "Anjir! Kuping gue mau pecah! Ini cewek-cewek suaranya melebihi knalpot racing, gila!"

​Bram tertawa terbahak-bahak. "Itu mah belum seberapa, Vin. Liat tuh di sebelah sana, ada yang bawa spanduk 'Aksa Erlangga I Love You'. Padahal orangnya dilirik aja kagak."

Kenan hanya menggelengkan kepala. "Aksa nggak bakal denger. Kalau dia udah pake helm, dunia dia cuma dia dan aspal."

Sementara itu, di sisi lain lintasan, agak menjauh dari kerumunan inti Black Eagle, Abian sedang asyik tertawa bersama teman-temannya. Ia nangkring di atas kap mobil sambil memegang botol air mineral.

​"Gila, itu Aksa auranya emang beda ya kalau udah di lintasan," celetuk salah satu teman Abi. "Adek lo beneran temenan sama dia, Bi?"

​"Temenan doang. Tapi ya gitu, Aksa kayaknya emang tipe yang protektif," sahut Abi santai.

Ia melirik ke arah kerumunan, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakangnya, di balik tumpukan ban bekas, ada sosok kecil yang sedang mengendap-endap.

​Ziva sampai di lokasi dengan nafas satu-satu. Ia memarkirkan motor matic-nya di tempat paling gelap yang bisa ia temukan, jauh dari jajaran motor mewah kelas kakap. Ia berjalan pincang, mencoba menahan perih di lututnya.

​"Gila... rame banget. Ini tawuran apa konser?" gumam Ziva sambil menarik tudung hoodie-nya makin rendah.

​Ia menyelinap di antara kerumunan, berusaha agar tidak terlihat oleh Abangnya. Pandangannya menyapu ke tengah lintasan. Di sana, di bawah sorotan lampu, ia melihat sosok hitam legam dengan motor yang tampak seperti binatang buas yang siap menerkam.

​Aksa.

Ziva tertegun. Di sekolah, Aksa adalah cowok dingin yang irit bicara. Tapi di sini... di tengah kegelapan di bandara lama, Aksa terlihat seperti penguasa malam. Ada aura liar dan dominan yang membuat Ziva mendadak merasa dadanya sesak—bukan karena asma, tapi karena rasa kagum yang ia sangkal mentah-mentah.

​"Aksa..." bisik Ziva lirih.

​3... 2... 1... GO!

​VROOOOOOMMMMM!!!

Raungan mesin memecah malam. Motor Aksa melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Ban depannya sempat sedikit terangkat (wheelie) sebelum akhirnya mencengkeram aspal dengan sempurna. Lawannya, Leon, tertinggal setengah badan motor di detik pertama.

​Ziva terkesiap, secara refleks ia maju selangkah untuk melihat lebih jelas, mengabaikan rasa sakit di kakinya. Ia melihat Aksa bermanuver di tikungan pertama dengan kemiringan yang sangat ekstrem.

"GILA! DIA MAU MATI APA GIMANA?!" teriak Ziva spontan.

Suaranya tenggelam oleh teriakan histeris para penonton di sekitarnya.

"KYAAAA! KAK AKSA KEREN BANGET!"

"GUE RELA JADI BAN MOTORNYA!"

​Ziva melirik cewek di sebelahnya dengan tatapan julit. Jadi ban motor? Yang bener aja. Kalo jadi bantal motor sih mungkin gue pertimbangin, batinnya ketus.

Trek bandara lama malam itu seolah berubah menjadi sirkuit neraka. Angin malam yang kencang justru membawa aroma karet terbakar dan panas mesin yang menyengat. Di lintasan lurus sepanjang satu kilometer itu, Aksa dan Leon saling menempel ketat, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter antar setang motor mereka.

​Aksa merunduk serendah mungkin, dagunya hampir menyentuh tangki motor. Di balik kaca helm gelapnya, dunianya menyempit hanya pada garis putih aspal dan lampu belakang motor Leon yang sesekali menghalangi jalannya. Ia tidak mendengar teriakan histeris penonton; ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu harmonis dengan putaran mesin 13.000 RPM.

​Leon bukan lawan sembarangan. Ia mencoba melakukan block setiap kali Aksa ingin menyalip dari sisi dalam. Di tikungan kedua yang berbentuk U-turn tajam, Leon mengerem mendadak, mencoba memaksa Aksa keluar jalur.

​"Cih," decit Aksa di balik helm.

​Alih-alih mengerem, Aksa justru menurunkan gigi secara ekstrem dan melakukan late braking. Motor hitamnya miring hingga sudut yang tidak masuk akal, lututnya menggores aspal hingga menimbulkan percikan api yang dramatis. Dengan akselerasi keluar tikungan yang brutal, Aksa melesat maju, mengambil alih posisi pertama.

Di pinggir lintasan, suasana pecah. Para penonton dari murid SMA Pelita Bangsa juga ikut hadir untuk menonton mereka melompat-lompat kegirangan.

​"GILA! SLIDE-NYA BERSIH BANGET!" teriak Vino sambil memukul-mukul kap motornya. "Itu teknik gila, Aksa beneran nggak punya rasa takut!"

Abian sendiri sampai berdiri di atas kap mobil, kacang rebusnya sudah tumpah entah ke mana. "GUE NGGAK NYANGKA! Selain jago main basket kaya robot, ternyata dia juga jago bawa motor kayak setan sih!" seru Abi dengan mata berbinar bangga, meski terselip sedikit rasa ngeri melihat Aksa seperti itu, mempertaruhkan nyawa nya demi menang balapan.

​Di kerumunan paling depan, para pendukung SMA Garuda mulai bungkam. Leon tertinggal dua badan motor. Aksa benar-benar mendominasi.

Ziva berdiri mematung di balik pagar kawat yang membatasi lintasan. Tangannya meremas ujung hoodie-nya dengan sangat kencang hingga buku-bukunya memutih. Setiap kali ia melihat motor Aksa miring di tikungan, jantungnya seolah berhenti berdetak.

​"Dasar tiang listrik gila..." bisik Ziva, suaranya bergetar. "Kenapa dia harus seberani itu?"

​Ada perasaan campur aduk yang menyerang Ziva. Ia ngeri melihat bahaya di depan matanya, namun di sisi lain, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Aksa. Di bawah lampu sorot, Aksa terlihat begitu fokus, begitu berkuasa. Ini adalah sisi Aksa yang tidak pernah ia lihat di sekolah. Bukan Aksa sang pelindung yang cuek, tapi Aksa sang penakluk yang liar.

Tiba-tiba, motor Aksa melesat melewati titik di mana Ziva berdiri untuk putaran terakhir. Angin kencang dari laju motor itu menghempaskan tudung hoodie Ziva hingga terbuka, menampakkan wajahnya yang pucat pasi terkena debu lintasan.

Memasuki trek lurus terakhir menuju garis finish, Leon mencoba melakukan serangan terakhir. Ia memacu motornya hingga batas maksimal, perlahan mulai mendekati ban belakang Aksa.

Aksa melirik spion kecilnya. Ia tahu Leon sedang mencoba mengambil slipstream (posisi di belakang motor lawan untuk mengurangi hambatan angin). Aksa menyeringai di balik helm. Ia sengaja sedikit bergeser ke kiri, memberikan ruang palsu bagi Leon.

​Saat Leon mencoba masuk, Aksa kembali ke jalur utama dan melakukan shift ke gigi terakhir dengan presisi sempurna. Motor hitam itu seolah mendapat suntikan tenaga tambahan, melesat meninggalkan Leon seolah lawannya itu sedang berjalan diam di tempat.

​VROOOOOOMMMMM!!!

Aksa melewati garis finish dengan jarak yang sangat jauh. Ia melakukan stoppie (pengereman roda depan hingga roda belakang terangkat) saat melambat, menciptakan decitan ban yang memekakkan telinga.

​"YEEAH! BOS KITA MENANG WOY " teriak Bram dari atas motornya sendiri, diikuti klakson motor Black Eagle yang bersahutan.

Setelah raungan mesin mereda, yang tersisa hanyalah kepulan asap ban yang menyengat dan sorakan membahana dari pendukung SMA Pelita Bangsa. Aksa memutar arah motornya, melaju pelan menuju titik kumpul di mana tim lawan sudah menunggu dengan wajah tertunduk lesu.

​Ia melepas helmnya, membiarkan rambutnya yang basah oleh keringat jatuh berantakan di dahi. Napasnya masih menderu, adrenalin masih memompa cepat di nadinya.

​"Sesuai perjanjian," ucap Aksa dingin, suaranya terdengar sangat otoritas di tengah keheningan yang mendadak tercipta.

​Leon, sang raja jalanan dari SMA Garuda, turun dari motornya dengan tangan gemetar. Ia melemparkan kunci motor sport berwarna merah miliknya ke arah Aksa. Aksa menangkapnya dengan satu tangan tanpa ekspresi. Tidak hanya itu, seorang pria berbaju hitam menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai sebesar 100 juta rupiah—hadiah utama dari taruhan besar malam ini.

Vino, Bram, Kenan, dan Daren langsung menyerbu Aksa.

​"GILA! AKSA! Lo beneran bikin Leon jadi kayak anak TK belajar naik sepeda!" teriak Vino sambil merangkul bahu Aksa heboh.

​"Dapet motor baru, dapet duit seratus jeti. Besok traktiran di basecamp nggak mau tau!" Bram menepuk-nepuk tangki motor Aksa dengan bangga.

​"Duitnya buat lo semua aja. Bagi rata," sahut Aksa santai, menyerahkan amplop cokelat itu pada Kenan yang langsung membuat Vino dan Bram melongo tidak percaya. "Gue cuma butuh motornya buat jadi koleksi di gudang."

​"Anjir, emang bener-bener sultan kita!" Vino bersorak girang.

​Ia menyipitkan mata, menatap ke arah pagar kawat di pinggir lintasan. Di sana, ia sempat melihat siluet seseorang dengan hoodie hitam besar yang tampak pincang, namun sosok itu dengan cepat menghilang di balik kerumunan orang yang mulai bubar.

​Aksa kembali mengenakan helmnya, namun pikirannya kini tidak lagi berada pada kemenangan mutlak yang baru saja ia raih. Ada rasa cemas yang mendadak muncul, lebih besar daripada rasa takut saat ia balapan tadi di tikungan yang tajam.

​Malam ini memang milik Aksa di lintasan, tapi di hatinya, balapan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Marseli
Bagusnya, lanjut kak jangan berhenti di tengah jalan.
CaH KangKung,
astaga...ikut deg"an aq....aksaaaaa....
ana Ackerman
salting brutal gue thorrr
W: hehe 🤭
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak💪
ana Ackerman
serius kak bab ini ngk bisa nahan tawa anjir🤣
ana Ackerman
lanjut kak💪
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
mom_nurul
aku masih stay disini kak,ga mau berpaling 🤭
di tunggu selalu update nya👍
W: siap👌
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!