Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Usang
Aurelia mengikuti langkah Elara dengan hati yang berdebur kencang. Bayangan sapu tangan bernoda darah dan sisa akar hitam di paviliun tadi seolah terus mengejarnya. Mereka bergerak dalam diam, menyusuri bayang-bayang pilar marmer istana yang dingin, menghindari sorot lampu minyak para penjaga yang berpatroli.
Perpustakaan sayap barat adalah tempat favorit Elara. Ruangan ini tidak sesak seperti perpustakaan utama di pusat istana; di sini hanya tersimpan buku-buku tentang botani, sejarah kuno, dan jurnal-jurnal medis yang membosankan bagi kebanyakan orang. Namun malam ini, bagi Aurelia, ruangan ini terasa seperti gudang senjata yang paling mematikan.
"Duduklah," bisik Elara setelah ia mengunci pintu kayu berat itu dari dalam. Ia meletakkan lenteranya di atas meja kayu bundar, menciptakan lingkaran cahaya kuning yang temaram. "Tunjukkan padaku apa yang kau bawa."
Dengan tangan sedikit gemetar, Aurelia mengeluarkan sapu tangan kuning itu dan meletakkannya di atas meja. Serbuk perak di permukaannya berkilau jahat terkena cahaya lampu. Elara mendekat, matanya menyipit tajam. Ia tidak langsung menyentuhnya; sebaliknya, ia mengambil sepasang penjepit kecil dari laci mejanya dan sehelai kaca pembesar.
"Sapu tangan ini... baunya masih ada," gumam Elara. Ia mendekatkan hidungnya, lalu segera menarik diri dengan kerutan dalam di dahi. "Manis yang menyesakkan. Seperti bunga yang terlalu matang dan mulai membusuk."
Aurelia menyodorkan sobekan kertas medis yang ia temukan. "Ibu menulis ini, Kak. Dia merasa paru-parunya terbakar. Dia bilang seseorang memberikan ini sebagai 'penyembuh'."
Elara membaca baris kalimat pendek itu berulang kali. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sedikit pucat. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik menuju rak buku paling pojok yang tertutup debu tipis. Ia memanjat tangga kayu kecil, jemarinya menelusuri punggung buku kulit yang sudah mulai mengelupas, hingga ia menarik sebuah buku tebal berjudul *Compendium Florae Periculosa*—Kumpulan Flora Berbahaya.
"Jika tebakanku benar, ini bukan racun yang diminum," Elara membuka halaman demi halaman dengan cepat. Suara gesekan kertas terdengar seperti bisikan di ruangan yang sunyi itu. "Ini adalah racun inhalasi. Sesuatu yang masuk ke sistem tubuh melalui udara, menetap di paru-paru, dan perlahan-lahan mengkristal."
Elara berhenti di sebuah halaman yang memuat ilustrasi bunga kecil berbentuk lonceng dengan kelopak yang tampak berkilau.
"Lihat ini," Elara menunjuk teks di bawah ilustrasi tersebut. Argentum belladonna, atau masyarakat utara menyebutnya Mawar Perak Es. Tanaman ini bukan mawar dalam pengertian sebenarnya. Ia adalah parasit yang tumbuh di akar pepohonan tua di pegunungan salju. Serbuk sarinya sangat halus, berwarna perak, dan bersifat anestetik—membuat orang yang menghirupnya merasa tenang dan rileks pada awalnya."
Aurelia mendekat, membaca lanjutannya dengan suara tercekat. "*Namun, dalam dosis yang berkelanjutan, serbuk ini akan melapisi alveolus paru-paru, menyebabkan sesak napas yang sering kali didiagnosis sebagai asma atau kelelahan jantung. Kematian biasanya terjadi dalam tidur, tampak seperti kegagalan organ alami.*"
"Penyembuh..." bisik Aurelia. "Mereka memberikan serbuk ini pada Ibu dengan dalih untuk menenangkan sarafnya setelah perang. Ibu percaya pada mereka."
"Masalahnya, Aurelia," Elara menatap mata sepupunya dengan serius, "Tanaman ini hanya bisa bertahan hidup jika akarnya tetap lembap dengan air dari pegunungan utara. Ia tidak bisa tumbuh di tanah kita. Seseorang harus membawanya kemari secara berkala, menjaga suhunya, dan memastikan serbuk sarinya tetap aktif."
"Berarti ada pengiriman rutin," Aurelia menyambungkan titik-titik di kepalanya. "Selama bertahun-tahun, sebelum Ibu tiada, ada seseorang yang membawa mawar ini masuk ke kamarnya."
Aurelia teringat pada vas porselen yang pecah di paviliun. Akar hitam yang aromanya masih tertinggal. Siapa yang memiliki akses ke kamar Ratu setiap hari? Siapa yang bisa memberikan "obat" tanpa dicurigai?
"Kak, apakah ada catatan di logistik tentang pengiriman tanaman?" tanya Aurelia.
"Itu wilayah Lucas," jawab Elara pelan. "Tapi kau tahu sendiri, Lucas hanya mencatat apa yang ada di permukaan. Jika tanaman ini disembunyikan di dalam peti lain, atau dibawa oleh kurir pribadi... tidak akan ada catatan resminya."
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan di pintu perpustakaan. Bukan ketukan pengawal yang keras, melainkan ketukan yang berirama. *Tuk... tuk-tuk... tuk.*
Aurelia dan Elara membeku. Elara segera menutup bukunya dan melemparkan kain taplak meja ke atas sapu tangan bernoda itu.
"Siapa di sana?" suara Elara terdengar tenang, meskipun Aurelia bisa melihat tangannya mengepal di balik gaun.
"Ini aku. Ada patroli tambahan yang menuju sayap barat. Jika kalian tidak ingin terlihat seperti dua penyihir yang sedang meramu kutukan, sebaiknya kalian segera keluar lewat pintu pelayan di belakang rak sejarah."
Suara itu milik Lucas. Nadanya tidak jenaka seperti biasanya; ada ketegasan yang asing di sana.
Aurelia dan Elara saling berpandangan. Bagaimana Lucas bisa tahu mereka ada di sana? Dan bagaimana dia bisa tahu ada patroli tambahan?
"Ayo," ajak Elara menarik tangan Aurelia. "Kita tidak punya waktu untuk bertanya sekarang."
Mereka menyelinap keluar tepat saat suara derap bot para pengawal terdengar di lorong depan. Di kegelapan taman belakang, Aurelia sempat menoleh ke arah menara pengawas. Di sana, di balik jendela tinggi yang gelap, ia melihat siluet seseorang yang berdiri mematung, menatap ke arah mereka.
Aurelia tidak tahu siapa yang berdiri di sana, tapi ia merasa bahwa di istana ini, ia tidak hanya sedang mencari bukti. Ia sedang diperhatikan. Dan setiap langkah yang ia ambil untuk mendekati kebenaran, seolah-olah membawa ia masuk lebih dalam ke dalam jaring laba-laba yang sudah menunggu untuk ditarik.
---