NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Hari itu adalah hari biasa. Shen Yu pergi ke supermarket besar di pusat kota untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Keranjang belanjanya sudah terisi sebagian, dan ia berdiri di lorong makanan ringan untuk memilih camilan yang akan menemani bacaan malamnya. Suasananya ramai namun tenang—tipikal suasana hari libur.

Namun, kedamaian itu hancur dalam sekejap.

Suara teriakan panik memecah keheningan. Beberapa pria bertopeng dengan senjata tajam dan bensin menerobos masuk, meneriakkan ancaman. Kepanikan meledak seperti bom; orang-orang berlarian, berteriak, dan mencoba mencari jalan keluar, namun mereka sudah dikepung.

Shen Yu terpaku. Jantungnya berdebar kencang seolah hendak lepas dari dada. Ia dan puluhan pengunjung lainnya dipaksa berbaring di lantai dingin, dijadikan sandera. Suasana menjadi mencekam, dingin, dan penuh ketakutan.

Shen Yu bisa merasakan tubuhnya sendiri gemetar hebat.

Pikiran pertamanya bukan tentang harta, melainkan tentang novel-novel yang belum ia selesaikan. Betapa ironisnya nasib ini—ia ingin masuk ke dalam cerita, tapi bukan dengan cara menjadi figuran yang mati di bab awal.

Jam demi jam terasa seperti selamanya. Di luar, suara sirene polisi semakin keras mendengarnya. Posisi para perampok semakin terdesak. Mereka kehilangan akal sehat, diliputi kepanikan dan amarah yang meledak-ledak.

"Kami tidak akan menyerah! Jika harus mati, kalian semua ikut kami!" teriak salah satu dari mereka dengan suara parau.

Shen Yu melihat salah satu penjahat menekan sebuah alat. Waktu seolah melambat. Sebelum ia sempat berpikir atau berteriak, cahaya menyilaukan meledak, diikuti geledak yang memekakkan telinga.

Panas. Gelap. Hampa.

Kesadaran Shen Yu lenyap seketika, bersama dengan runtuhnya bangunan itu di atas kepalanya. Mimpi buruk itu berakhir, dan nyawanya yang masih muda layang sia-sia di tengah kekerasan yang tak masuk akal.

Apakah ini akhir?

Apakah ini alam baka? Surga? Atau hanya kegelapan abadi?

Shen Yu perlahan membuka matanya. Penglihatannya masih kabur, dan kepalanya terasa berat. Ia menunggu rasa sakit, menunggu cahaya terang yang katanya muncul saat kita meninggal. Namun, yang ia rasakan justru adalah permukaan yang kasar namun empuk.

Ia menggerakkan jari-jarinya, merasakan tekstur kain yang kasar namun hangat. Perlahan, bayangan di depannya mulai jelas.

Ia tidak melayang di awan. Ia tidak berada di ruang putih yang steril.

Shen Yu mendapati dirinya berbaring di atas kasur yang terbuat dari anyaman keras, ditutupi selimut tebal berwarna kusam. Di sekelilingnya berdiri dinding kayu tua yang tampak terkikis waktu, dengan ukiran-ukiran antik namun kokoh. Udara di ruangan itu sejuk, beraroma kayu dan tanah yang khas.

Tidak ada lampu neon yang menyilaukan, tidak ada suara mesin pendingin ruangan—hanya cahaya remang yang masuk dari celah-celah jendela kertas.

Ia duduk terkejut, memandangi kedua tangannya sendiri. Masih utuh. Masih hangat.

Shen Yu menatap sekelilingnya dengan mata terbelalak. Hati kecilnya mulai berdebar, bukan karena takut, melainkan karena sebuah realisasi yang tampak gila.

Ini bukan rumah sakit. Ini bukan dunia tempat ia tinggal sebelumnya.

Arsitektur, perabotan, suasana—semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang mustahil namun nyata di depan mata.

"Aku... aku hidup?" bisiknya dengan suara serak.

Ia menyentuh dinding kayu itu. Terasa nyata.

Shen Yu menarik napas panjang, menyadari hal yang mengejutkan: Ia tidak mati, tidak pergi ke akhirat. Ia benar-benar telah berpindah.

Mungkin sial, mungkin juga takdir yang aneh—namun kini ia berada di dunia yang sangat mirip dengan novel sejarah dan fantasi yang selalu ia baca. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, impian gilanya menjadi kenyataan: Ia bukan lagi pembaca yang hanya melihat dari luar, melainkan ada di dalamnya.

Kali ini, ia adalah tokoh utamanya.

Shen Yu turun dari tempat tidurnya dengan kaki yang masih terasa sedikit lemas. Ia berjalan pelan; telapak kakinya menyentuh lantai kayu yang mengeluarkan bunyi kriuk... kriuk... setiap kali ia melangkah. Suara itu terdengar nyata—terlalu nyata untuk dikatakan sebagai mimpi.

Ia mulai mengamati isi ruangan lebih teliti: sebuah meja kayu kecil, sebuah lemari tua yang pintunya sedikit melengkung, dan beberapa perabot lainnya. Semuanya terlihat sederhana, bahkan bisa dibilang sangat minim.

Namun, yang membuat Shen Yu terdiam dan mulutnya sedikit terbuka adalah kondisi bangunan itu sendiri.

"Ya ampun..." desisnya pelan.

Rumah ini tidak hanya terlihat tua, tapi benar-benar kumuh dan reyot. Dinding kayu banyak yang retak. Atapnya miring, dengan beberapa celah di mana angin luar bisa masuk dengan bebas.

Bahkan, saat hembusan angin cukup kencang masuk dari celah jendela, debu halus berterbangan, dan bagian sudut dinding yang sudah lapuk itu seolah-olah sebentar lagi akan rubuh.

"Tertiup angin pun langsung hancur..." gumam Shen Yu dalam hati dengan nada sarkas.

Ini bukan rumah bangsawan megah seperti di novel-novel favoritnya, melainkan lebih mirip gubuk tempat tinggal orang paling miskin di desa terpencil.

Dengan rasa penasaran yang bercampur cemas, ia berjalan mendekati pintu utama dan mendorongnya perlahan. Pintu kayu itu berdecit keras seakan memprotes gerakannya.

Saat ia melangkah keluar ke halaman, pemandangan di depannya semakin memperjelas situasinya. Di seberang jalan kecil tanah merah yang berdebu itu berdiri deretan rumah lain, namun kondisinya tidak jauh berbeda dengan tempat ia berada sekarang.

Semuanya terbuat dari kayu dan bambu, tampak tua, rapuh, dan tidak terawat. Tidak ada satu pun bangunan yang terlihat kokoh atau mewah.

Namun ada satu hal lagi yang membuat bulu kuduk Shen Yu meremang: suasana.

Lingkungan ini terlalu sunyi. Biasanya, di zaman kuno seperti ini seharusnya terdengar suara orang bekerja, anak-anak bermain, atau setidaknya suara ayam berkokok. Namun sekarang? Tidak ada apa-apa—hanya angin yang berdesir pelan membelai dedaunan pohon kering.

Jalanan kosong melompong; tidak terlihat satu pun orang lalu lalang.

Shen Yu memeluk tubuhnya sendiri, merasakan hawa dingin yang bukan hanya karena cuaca, tapi juga karena suasana mencekam yang menyelimuti tempat itu.

"Kenapa... sepi sekali?" gumamnya, suaranya terdengar kecil dan tertelan oleh angin.

Ia merasa ada yang tidak beres. Bukan hanya karena terlempar ke masa lalu, tapi karena tempat ini terasa seperti desa hantu.

Shen Yu masih berdiri terpaku di ambang pintu, mencoba mencerna situasi aneh yang menimpanya. Namun, belum sempat ia melangkah lebih jauh, rasa sakit luar biasa tiba-tiba menyerang kepalanya.

"AKH!"

Rasa itu bukan sekadar pusing biasa, melainkan seperti ada ribuan jarum yang menusuk bagian dalam otaknya, disertai suara gemuruh yang memekakkan telinga. Shen Yu tidak sanggup berdiri tegak; kakinya lemas seketika, membuatnya ambruk ke tanah keras dan berdebu.

"Sakit... Sakit sekali..." erangnya pelan, kedua tangannya refleks mencengkeram kepalanya dengan kuat. Tubuhnya menggigil hebat; wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi kemerahan, lalu kembali pucat pasi seperti mayat hidup.

Ia berguling-guling di tanah kering itu karena kesakitan luar biasa. Pemandangan di depannya berputar; langit dan bumi seolah bertukar tempat.

Di tengah kabut kesakitan itu, ribuan gambar dan suara mulai menyerbu masuk ke dalam benaknya secara paksa. Itu bukan ingatannya, tapi ingatan orang lain—ingatan dari pemilik tubuh yang kini ia tempati.

Qin Yu...

Nama asli anak ini adalah Qin Yu. Usianya baru menginjak 15 tahun.

Dulu, ia adalah putra dari keluarga saudagar terkaya di ibu kota, keluarga Qin. Hidupnya seharusnya penuh kemewahan dan kemuliaan. Namun, segalanya berubah sejak ibunya meninggal dunia.

Sejak kepergian ibunda tersayang, hati anak ini tertutup rapat. Ia menjadi sangat pendiam, tidak mau bicara pada siapa pun, selalu menunduk dan menutup diri. Di mata keluarga dan orang-orang sekitar, perubahan sikap itu dianggap sebagai kebodohan dan ketidakwarasan.

"Bodoh," "Aib keluarga," "Beban."

Itulah panggilan dan julukan yang melekat padanya. Ayahnya sendiri memandangnya dengan jijik; saudara-saudara tirinya sering memperlakukannya seperti budak, bahkan para pelayan pun berani menghinanya di belakang. Ia tidak memiliki tempat untuk bersandar, tidak ada yang peduli—hanya ada dinginnya penghinaan dan kebencian di rumah besar itu.

Hingga pada suatu malam yang seharusnya indah...

Festival Lentera, dua tahun yang lalu.

Malam itu kota dipenuhi cahaya dan warna-warni. Seorang pelayan yang merasa kasihan mengajaknya keluar sebentar untuk melihat keramaian, sekadar melepas penat. Namun, itu adalah jebakan.

Di tengah kerumunan yang ramai, ia dipisahkan dari pelayannya. Tangan-tangan kasar menutup mulutnya, memborgolnya, lalu menyeretnya pergi.

Ia diculik.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!