Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Terciptanya Dosa Yang Manis
Bisikan itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar langsung ke tulang belakang Erian. Suara Stefani yang rendah dan serak, berpadu dengan gigitan kecil yang menggoda di daun telinganya, meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan terakhir di otak Erian.
Obat perangsang itu sudah bekerja seratus persen, membuat akal sehatnya terkunci rapat di dalam peti mati. Di kepalanya, suara Nadya yang merintih kesakitan karena datang bulan seolah teredam oleh dentum jantungnya sendiri yang kian menggila.
"Di kamarku saja, Mas Erian..." bisik Stefani lagi, kali ini sambil mengembuskan napas hangat yang memabukkan di ceruk leher Erian.
Erian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengerang rendah, sebuah suara parau yang penuh dengan tuntutan. Tanpa melepaskan cengkeraman tangannya pada bongkahan pantat Stefani yang padat, Erian berdiri dengan sentakan kasar. Tubuhnya yang tinggi besar menjulang, sementara Stefani melingkarkan kakinya di pinggang Erian, membiarkan dirinya digendong layaknya koala.
Dengan langkah yang berat dan napas yang memburu, Erian membopong Stefani keluar dari ruang makan. Mereka melewati lorong rumah yang sepi menuju kamar asisten itu—sebuah ruangan yang letaknya cukup jauh dari kamar utama agar suara mereka tidak sampai terdengar oleh Nadya yang sedang tertidur lelap.
Begitu pintu kamar Stefani tertutup dengan bantingan pelan, suasana berubah menjadi liar. Erian langsung menyandarkan tubuh Stefani ke pintu, kembali melumat bibir wanita itu dengan ciuman yang jauh lebih kasar dan basah. Tangannya bergerak cepat, tidak lagi sekadar meremas, tapi mulai mencari jalan untuk menelanjangi sosok yang kini menjadi pusat dunianya.
Stefani tersenyum di sela-sela ciuman itu. Rencananya berhasil sempurna. Ia tidak hanya mendapatkan tubuh Erian, tapi ia juga sedang memegang kendali penuh atas harga diri pria itu.
Pintu kamar itu tertutup dengan bantingan pelan namun tegas, seolah memutus dunia luar dan segala moralitas yang tertinggal di baliknya. Begitu kunci berputar, suasana di dalam ruangan sempit itu meledak dalam ketegangan yang menyesakkan. Erian, yang seluruh sistem sarafnya sudah dikuasai oleh obat perangsang dosis tinggi, tidak lagi memiliki sisa kesabaran. Dunianya kini menyempit, hanya tertuju pada sosok wanita yang ada di depannya.
Dengan gerakan yang terburu-buru, tangan Erian yang gemetar namun kuat langsung melucuti dress sutra tipis yang melekat di tubuh Stefani. Kain itu jatuh ke lantai tanpa suara, menyisakan pemandangan yang membuat napas Erian seolah terhenti di kerongkongan. Di bawah temaram lampu tidur yang berwarna jingga redup, kulit Stefani tampak berkilau, memancarkan pesona yang selama ini hanya bisa Erian lirik dari sudut mata.
Erian memajukan tubuhnya, menghimpit Stefani ke daun pintu yang dingin. Ia mulai menciumi wajah Stefani dengan liar—keningnya, pipinya, hingga ke sudut matanya yang sayu.
"Kamu cantik sekali, Stef... Kamu luar biasa," gumam Erian parau, suaranya terdengar seperti erangan frustrasi. "Kenapa... kenapa baru sekarang aku bisa sedekat ini denganmu?"
Pujian-pujian itu mengalir begitu saja dari mulut Erian. Harus diakui, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Erian memang sudah terpukau dengan kecantikan Stefani sejak hari pertama wanita itu menginjakkan kaki di rumahnya sebagai asisten Nadya. Wajahnya yang proporsional, pembawaannya yang menggoda namun sopan, selalu menjadi gangguan di pikiran Erian. Dan malam ini, dengan bantuan zat kimia yang membakar darahnya, kekaguman itu berubah menjadi obsesi fisik yang tak terbendung.
Stefani sendiri sebenarnya memiliki ketertarikan yang sama. Ketampanan Erian yang maskulin, rahangnya yang tegas, dan wibawanya sebagai pria mapan telah lama menjadi incaran hasratnya. Namun, sebagai pemain watak yang handal, Stefani tahu ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia harus memainkan peran "korban yang terdesak" agar Erian merasa dialah yang memegang kendali, sekaligus untuk membersihkan namanya jika suatu saat rahasia ini terbongkar.
"Mas... jangan Mas... kumohon jangan Mas..." rintih Stefani. Suaranya bergetar, terdengar sangat meyakinkan seolah ia sedang berjuang melawan nuraninya sendiri. "Aku tak ingin mengkhianati Nadya... dia sahabatku sendiri, Mas... orang yang sudah menolongku..."
Stefani mulai meronta-ronta di dalam pelukan Erian. Ia mendorong dada bidang Erian dengan kedua tangannya, mencoba menciptakan jarak, meskipun gerakannya tidak benar-benar bertenaga. Ia memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, menghindari ciuman Erian yang kian menuntut.
"Lepaskan, Mas... jangan lakukan ini. Kita salah... ini dosa besar buat Nadya..." tangis Stefani pecah, air mata (yang entah asli atau buatan) mulai membasahi pipinya.
Namun, rontaan dan tangisan itu justru menjadi bensin bagi api gairah Erian. Di bawah pengaruh obat, penolakan Stefani justru terasa seperti tantangan yang harus ia taklukkan. Erian mencengkeram kedua pergelangan tangan Stefani, menguncinya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya kembali menjelajahi lekuk tubuh Stefani yang padat dan kencang.
"Maafkan aku, Stef... aku nggak bisa berhenti... kamu terlalu indah," bisik Erian tepat di depan bibir Stefani.
Erian kembali melumat bibir Stefani, kali ini dengan lebih dalam dan posesif. Stefani terus meronta, pinggulnya meliuk-liuk mencoba melepaskan diri dari himpitan tubuh Erian yang keras. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, Erian justru semakin menekannya ke pintu.
"Aaaaaahhhhhhh....... aaaaaaaahhhhhhhhhh........!!!" jerit Stefani tertahan ketika Erian mulai membenamkan wajahnya di ceruk lehernya, memberikan kecupan-kecupan basah yang meninggalkan tanda kemerahan di sana.
Jeritan itu bukan hanya karena rasa takut yang ia perankan, tapi juga karena sensasi luar biasa yang mulai menjalar di tubuhnya sendiri. Hasrat Stefani yang besar mulai bereaksi terhadap sentuhan kasar namun penuh damba dari Erian. Ia terus berteriak "jangan", namun tubuhnya perlahan mulai mengkhianati kata-katanya.
Erian mengangkat tubuh Stefani, membawanya menuju ranjang kecil di sudut kamar. Ia menghempaskan tubuh wanita itu ke atas seprai yang dingin, lalu segera mengukungnya di bawah bayang-bayang tubuhnya yang besar.
"Mas, ingat Nadya... dia sedang sakit di sebelah... Mas, kumohon..." Stefani terus meracau, suaranya serak karena tangis dan gairah yang bercampur aduk. Ia mencoba merangkak mundur di atas kasur, namun kaki Erian dengan cepat mengunci pergerakannya.
Erian menatap mata Stefani dengan tatapan yang sangat intens, tatapan yang dipenuhi kabut nafsu yang gelap. Ia membelai rambut Stefani yang berantakan di atas bantal, lalu kembali memuji kecantikannya dengan kata-kata yang memabukkan.
"Kamu adalah wanita paling menggoda yang pernah kutemui, Stef... Maafkan aku, tapi malam ini kamu harus jadi milikku."
Stefani menutup matanya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan napas yang tersengal. "Jangan... jangan, Mas... aaaaahhh..." Rintihannya semakin melemah, berganti dengan desahan yang sulit ia sembunyikan. Di dalam kamar yang terisolasi itu, permainan kucing dan tikus ini semakin memanas, menyeret mereka berdua jauh ke dalam pusaran pengkhianatan yang tak akan pernah bisa ditarik kembali.
Erian mulai menanggalkan kemejanya sendiri dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci tubuh Stefani. Ia tidak memedulikan apa pun lagi—tidak jabatan, tidak masa depan, dan ironisnya, tidak juga Nadya yang hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Baginya, hanya ada Stefani, aroma parfumnya yang sensual, dan kebutuhan untuk memuaskan gejolak yang sedang menghancurkan kewarasannya.
pdhl Nadya blm punya anak masa gk bisa muasin suami nya terlalu lempeng ya bosen lah.
sdng Nadya wanita gk tau gimana nyenengin suami pdhl blm punya anak. sakit perut saja tinggal minum obat ndadak kluar Kamar oalah manja nya.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭