Menikah dengan Aris (28 tahun), seorang bos pertambangan yang wajahnya setampan aktor film tapi sedingin es di kutub utara, seharusnya membuat hidup Maya (24 tahun) tenang. Namun, pindah ke rumah mewah di pinggiran kota justru menjadi awal dari kegilaan hidupnya.
Aris itu aneh. Dia posesifnya bukan main, tapi bukan ke sesama manusia. Dia melarang Maya keluar rumah lewat magrib bukan karena cemburu, tapi karena takut Maya "disapa" oleh penghuni pohon kamboja depan rumah. Dia memasang CCTV di setiap sudut, bukan untuk maling, tapi untuk memantau pergerakan bayangan putih yang hobi duduk di ruang tamu mereka.
Maya yang aslinya penakut tapi hobi ngelawak dan hobi menebar gombalan "maut" ke suaminya yang kaku itu, mulai merasa ada yang tidak beres. Apalagi para tetangga—Geng Gibah Bu RT—mulai nyinyir. Mereka bilang Maya itu tumbal pesugihan Aris karena Aris kaya raya tapi istrinya seperti dikurung di istana berhantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bikin warga iri
Seminggu setelah insiden "Dukun Pot Melayang", suasana kompleks mendadak ramai. Ketua RW mengadakan acara Malam Keakraban Warga untuk merayakan hari jadi kompleks. Mas Aris awalnya menolak keras. Baginya, membawa Maya ke kerumunan orang-orang yang gemar bergosip adalah ide buruk.
Namun, Maya merayu. "Mas, sekali saja. Aku bosan di rumah terus. Lagipula, ini cara terbaik buat nunjukin kalau fitnah Rendy itu sampah."
Aris akhirnya menyerah, tapi dengan satu syarat Maya tidak boleh lepas dari jangkauannya.
Malam itu, lapangan tengah kompleks disulap menjadi area pesta kebun. Semua pasangan hadir, termasuk Bu RT yang kepalanya masih dibalut perban kecil. Suasana mendadak hening saat sebuah mobil mewah berhenti di pinggir lapangan.
Mas Aris turun lebih dulu. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menunjukkan jam tangan mahal dan urat tangannya yang maskulin. Ia berjalan memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Maya dengan gerakan yang sangat ksatria.
Maya keluar dengan gaun hamil berwarna soft lilac yang membuatnya tampak seperti dewi.
Namun, yang membuat ibu-ibu kompleks menahan napas adalah bagaimana Aris memperlakukan Maya. Aris tidak hanya menggandeng tangannya; ia melingkarkan lengannya di pinggang Maya dengan sangat posesif, seolah-olah sedang memasang pagar tak kasat mata.
"Lihat itu, Bu RT. Katanya pesugihan, tapi kok istrinya dimanja banget begitu?" bisik salah satu warga.
Acara inti dimulai dengan sesi "Pasangan Paling Harmonis". Setiap pasangan diminta naik ke panggung kecil untuk menceritakan rahasia romantis mereka. Saat giliran Aris dan Maya, suasana jadi sangat panas.
"Mas Aris, kabarnya Mas ini tipe suami yang sangat sibuk. Gimana cara Mas nunjukkin rasa sayang ke Mbak Maya di tengah kesibukan?" tanya pembawa acara.
Aris mengambil mikrofon, tapi matanya tidak menatap penonton. Ia menatap Maya. "Saya tidak punya rahasia. Bagi saya, Maya bukan sekadar istri. Dia adalah pusat gravitasi saya. Kalau dia bergeser sedikit saja, dunia saya hancur."
Aris kemudian melakukan hal yang membuat para suami di sana mendadak merasa "gagal". Di depan ratusan mata, ia berlutut satu kaki di depan Maya—bukan untuk melamar, tapi karena ia melihat tali sepatu flat shoes Maya terlepas. Dengan sangat tenang, tanpa rasa malu, pria sedingin es itu mengikatkan tali sepatu istrinya di depan umum.
"Mas... malu dilihat orang," bisik Maya dengan pipi merah merona.
"Biar saja. Biar mereka tahu siapa yang paling berharga di sini," jawab Aris tegas. Setelah selesai, ia berdiri dan mencium kening Maya sangat lama, membuat suara cieee pecah dari barisan anak muda, sementara ibu-ibu hanya bisa menghela napas iri.
Namun, unsur horor tidak pernah benar-benar hilang dari hidup mereka. Saat mereka sedang duduk di meja paling pojok menikmati hidangan, tiba-tiba lampu di area panggung berkedip-kedip aneh. Suara feedback dari mikrofon terdengar seperti lengkingan wanita yang menangis.
Salah seorang pemuda kompleks yang iri dengan Aris mencoba berbuat iseng. Ia sengaja menaruh kulit pisang di jalur jalan Maya saat Maya hendak ke toilet.
Baru saja Maya melangkah, kaki pria itu tiba-tiba terjegal sendiri oleh "tangan tak kasat mata" dari bawah meja. GEDEBUK! Pria itu jatuh tersungkur dengan wajah mendarat di piring kuah bakso.
Aris yang melihat itu hanya mengangkat satu alisnya. Ia tahu "satpam gaib" rumah mereka ternyata ikut camping ke acara ini. Aris segera berdiri, memeluk bahu Maya, dan berbisik, "Kita pulang sekarang. Hawanya mulai nggak enak... dan sepertinya 'penghuni' rumah kita mulai nggak betah di sini."
"Tapi acaranya belum selesai, Mas," ucap Maya.
"Sudah selesai buat saya. Tugas saya menunjukkan pada mereka siapa pemilikmu sudah tuntas," Aris menarik Maya mendekat, lalu memberikan tatapan mematikan pada pria yang jatuh tadi. "Lain kali kalau jalan pakai mata. Atau matamu mau saya pindahkan ke dengkul?"
Kalimat dingin Aris membuat pria itu gemetar ketakutan. Aris pun membawa Maya pergi dari acara tersebut. Di sepanjang jalan menuju mobil, Aris terus mendekap Maya, sesekali mencium pelipisnya dengan sangat intens.
Sesampainya di mobil, Aris tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap Maya dalam kegelapan kabin mobil. "Kamu cantik malam ini. Terlalu cantik sampai Mas ingin mengurungmu lagi di kamar supaya tidak ada mata lain yang melihat."
Aris mendekat, memberikan ciuman panas yang membuat Maya lupa kalau mereka masih di area parkir umum. Di jendela mobil yang berembun karena hawa panas di dalam, muncul sebuah bekas telapak tangan kecil dari luar yang perlahan membentuk gambar hati si penghuni gaib sepertinya setuju kalau majikannya memang pasangan yang paling romantis.
kurang keras bantingnya, butuh parutan gk? ni aq ada
mayan buat marut kuyang🤣🤣🤣🤣