Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Yang Tidak Ikut Ditutup
Pukul 05.20.
Cahaya pagi masuk pelan.
Hangat.
Tenang.
Terlalu tenang.
Kinasih duduk di tepi ranjang.
Tangannya menggenggam selimut.
Matanya kosong.
Namun—
bukan kosong seperti sebelumnya.
Ini kosong yang… selesai.
Seharusnya.
Ia menatap jendela.
Langit mulai terang.
Burung terdengar.
Semua kembali seperti biasa.
Seperti tidak pernah ada apa-apa.
Seperti semua itu—
hanya mimpi buruk.
Namun—
Kinasih tahu.
Ini bukan mimpi.
Karena—
di dalam dirinya—
masih ada rasa.
Bukan suara.
Bukan bisikan.
Namun—
bekas.
Seperti luka yang tidak terlihat.
Ia menarik napas panjang.
Lalu berdiri.
Kakinya sedikit gemetar.
Namun—
ia tetap berjalan.
Menuju cermin.
Ia berdiri di depannya.
Menatap.
Pantulan itu—
hanya dirinya.
Tidak ada yang lain.
Tidak ada gerakan aneh.
Tidak ada bayangan tambahan.
Hanya—
Kinasih.
“Udah selesai…”
bisiknya.
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada suara.
Tidak ada mereka.
Dan untuk pertama kalinya—
ia merasa lega.
Namun—
lega itu tidak bertahan lama.
Karena—
ada sesuatu yang aneh.
Sangat halus.
Hampir tidak terasa.
Namun—
cukup untuk membuatnya berhenti.
Pantulannya…
terlambat.
Sangat sedikit.
Namun—
tidak sinkron.
Kinasih membeku.
Ia mengangkat tangannya.
Pelan.
Pantulannya ikut.
Namun—
sedikit terlambat.
Sepersekian detik.
Hampir tidak terlihat.
Namun—
cukup.
“…”
Napasnya tertahan.
Ia menurunkan tangannya.
Pantulan itu mengikuti.
Lagi-lagi—
terlambat.
“Tidak…”
bisiknya.
Ia mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Namun—
pantulan itu tetap berdiri.
Tidak langsung mengikuti.
Seperti—
menunggu.
Seperti—
memilih.
“Jangan…”
Suara Kinasih gemetar.
Namun—
pantulan itu akhirnya bergerak.
Menyusul.
Pelan.
Dan saat itu—
senyumnya muncul.
Tipis.
Namun—
tidak sama.
Tidak seperti senyum Kinasih.
Lebih lebar.
Lebih… tahu.
Kinasih menutup mulutnya.
“Ini udah selesai…”
bisiknya.
Namun—
pantulan itu bergerak lagi.
Kali ini—
tanpa menunggu.
Dan—
mulutnya terbuka.
Perlahan.
“Kamu yakin?”
Suara itu keluar.
Dari dalam cermin.
Bukan dari dirinya.
Kinasih mundur cepat.
Jantungnya berdebar keras.
“Bima…?”
Sunyi.
Pantulan itu tertawa kecil.
Namun—
itu bukan tawa Bima.
Bukan suara siapa pun yang ia kenal.
Lebih seperti…
sesuatu yang baru belajar.
“Bukan…”
bisiknya.
“…yang itu sudah tinggal.”
Kinasih membeku.
Tubuhnya dingin.
“Lalu… kamu siapa…”
Pantulan itu mendekat.
Namun—
hanya di dalam cermin.
Seperti tidak bisa keluar.
Belum.
“Yang tidak ikut ditutup…”
Sunyi.
Dan kalimat itu—
lebih menakutkan dari semuanya.
Karena—
itu berarti…
tidak semua selesai.
Kinasih menggeleng.
“Tidak… semua sudah—”
Pantulan itu tersenyum lebih lebar.
“Kamu lupa…”
bisiknya.
“…yang kecil tidak pernah diperhitungkan.”
Sekejap—
sesuatu muncul.
Di belakang pantulan itu.
Bayangan.
Kecil.
Tipis.
Namun—
hidup.
Merayap.
Pelan.
Di dalam cermin.
Kinasih menjerit.
Ia mundur.
Menabrak meja.
Namun—
cermin itu tidak pecah.
Tidak retak.
Tidak berubah.
Tetap utuh.
Namun—
di dalamnya…
sesuatu tumbuh.
“Kamu tutup pintunya…”
lanjut suara itu.
“…tapi kamu lupa…”
Bayangan itu semakin jelas.
Membentuk sesuatu.
Kecil.
Tidak sempurna.
Namun—
bergerak.
“…aku sudah di dalam.”
Kinasih gemetar.
Matanya membesar.
Karena—
ia mengerti.
Yang besar sudah ditutup.
Yang banyak sudah dikunci.
Namun—
yang kecil…
yang tidak terlihat…
yang tidak terasa…
yang masuk terakhir—
tidak ikut.
Dan sekarang—
ia tumbuh.
“Keluar…”
bisiknya lemah.
Namun—
tidak ada yang mendengar.
Karena—
yang ini…
tidak seperti sebelumnya.
Tidak butuh pintu besar.
Tidak butuh tubuh.
Ia—
cukup kecil.
Untuk tinggal.
Cukup sabar.
Untuk tumbuh.
Pantulan itu mengangkat tangannya.
Menyentuh kaca.
Dari dalam.
Dan—
untuk pertama kalinya—
kaca itu bergetar.
Halus.
Seperti tidak kuat menahan.
“Kita mulai lagi…”
bisiknya.
Kinasih menggeleng.
“Tidak…”
Namun—
terlambat.
Karena—
retakan muncul.
Tipis.
Sangat kecil.
Namun—
ada.
Di sudut cermin.
Dan dari retakan itu—
sesuatu keluar.
Bukan tangan.
Bukan wajah.
Namun—
kabut.
Tipis.
Hitam.
Pelan.
Sangat pelan.
Namun—
hidup.
Kinasih mundur.
Tidak berani mendekat.
Namun—
kabut itu tidak mengejar.
Ia hanya…
turun.
Ke lantai.
Dan—
menghilang.
Seperti menyerap.
Masuk.
Ke dalam rumah.
“Tidak semua butuh kamu…”
bisik suara itu.
“…kami bisa sendiri sekarang.”
Sunyi.
Kinasih berdiri.
Tidak bergerak.
Tidak bernapas.
Karena—
ia tahu.
Ini lebih buruk.
Lebih buruk dari sebelumnya.
Karena—
yang ini tidak besar.
Tidak jelas.
Tidak terlihat.
Namun—
itu yang membuatnya berbahaya.
Ia tidak perlu membuka.
Ia tidak perlu memaksa.
Ia hanya…
ada.
Dan akan tumbuh.
Pelan.
Tanpa disadari.
Kinasih menatap lantai.
Kosong.
Tidak ada apa-apa.
Namun—
ia merasakannya.
Di bawah.
Di dalam.
Di sekitar.
“Pergi…”
bisiknya.
Namun—
jawaban itu datang.
Dari mana-mana.
Pelan.
Lembut.
Namun—
pasti.
“Kita baru mulai…”
Lampu berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu—
normal lagi.
Namun—
suasana itu…
tidak kembali.
Karena—
sekarang—
ada sesuatu yang tidak terlihat.
Yang tidak bersuara.
Yang tidak bergerak.
Namun—
hidup.
Dan menunggu.
Untuk waktu yang tepat.
Untuk tumbuh.
Untuk mengambil alih.
Pelan.
Tanpa disadari.
Dan di cermin—
pantulan itu masih berdiri.
Tersenyum.
Menatap Kinasih.
Tanpa berkedip.
Tanpa bergerak.
Namun—
tidak lagi mengikuti.
Karena—
sekarang—
ia tidak perlu.
Ia sudah punya tempat lain.
Dan di sudut kamar—
sesuatu bergerak.
Sangat kecil.
Sangat halus.
Namun—
cukup untuk membuat satu suara.
Tok.
Satu ketukan.
Kecil.
Namun—
nyata.
Dan kali ini—
tidak ada yang membalas.
Karena—
yang lain…
belum tahu.
Bahwa sesuatu—
masih tertinggal.