NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Efek samping

Begitu pintu apartemen tertutup rapat setelah keberangkatan Tante Sofia, keheningan di Unit 402 mendadak terasa mencekam. Nala dan Saga yang tadinya menempel seperti perangko, langsung melompat menjauh seolah-olah tubuh masing-masing mengandung aliran listrik ribuan volt.

"Cuci tangan! Saya mau cuci tangan sepuluh kali pakai sabun antiseptik!" seru Saga sambil berjalan cepat ke arah wastafel dapur. Ia menggosok tangannya dengan brutal, seolah-olah bekas cubitan Nala di pinggangnya adalah kontaminasi zat kimia berbahaya.

Nala tidak kalah heboh. Ia duduk di lantai, mengelus kakinya yang tadi sempat tertekuk karena rangkulan maut Saga.

"Mas pikir tangan Mas itu suci? Tulang rusuk saya rasanya mau geser! Itu tadi rangkulan atau pitingan pegulat bebas sih?!"

Saga mematikan keran dengan sentakan keras. Ia berbalik, menatap Nala yang masih duduk di lantai dengan rambut yang sedikit berantakan.

"Kalau kamu tidak mulai duluan dengan aksi 'suap apel' yang hampir membuat saya tersedak, saya tidak akan melakukan itu, Nala. Kamu itu benar-benar ancaman bagi keselamatan nyawa saya."

"Ya habisnya Tante Sofia liatin terus! Saya panik!" Nala membela diri. Ia berdiri, lalu menepuk-nepuk celana kulotnya.

"Lagian, Mas tadi ngomong 'Sayang' lancar banget ya? Jangan-jangan Mas diam-diam latihan di depan cermin?"

Wajah Saga yang biasanya pucat mendadak berubah warna menjadi kemerahan. Bukan karena marah, tapi karena tertangkap basah.

"Itu... itu murni profesionalisme sandiwara. Jangan besar kepala."

Saga berjalan menuju meja makan, merapikan sisa piring buah yang sudah hancur berantakan.

Ia menghela napas saat melihat potongan apel "referensi"-nya kini sudah tidak berbentuk. Namun, entah kenapa, rasa manis apel yang dipaksakan Nala tadi masih tertinggal di ujung lidahnya.

"Mas," panggil Nala pelan, kali ini suaranya

tidak melengking.

Saga menoleh, sebelah alisnya terangkat.

"Apa lagi? Mau minta keripik pedas sebagai imbalan?"

Nala menggeleng. Ia berjalan mendekat ke arah meja makan, tangannya memainkan ujung kaosnya.

"Soal dahi tadi... Mas nyundulnya kekencangan. Sakit tau."

Saga terdiam.

Ia teringat momen saat ia mengecup—atau lebih tepatnya menanduk—dahi Nala untuk menenangkan Tante Sofia. Ia baru sadar kalau ada bekas merah kecil di dahi Nala yang putih.

"Sini," ujar Saga pendek.

"Mau apa? Mau nyundul lagi?!" Nala mundur selangkah, waspada.

Saga memutar bola matanya. "Jangan drama. Sini saya lihat."

Nala mendekat dengan ragu. Saga mengulurkan tangannya. Jemarinya yang panjang dan dingin perlahan menyentuh dahi Nala, tepat di bekas merah itu. Untuk beberapa detik, waktu di Unit 402 seolah berhenti berputar. Aroma sabun cendana Saga kembali menyerbu indra penciuman Nala, dan kali ini, tidak ada Tante Sofia yang mengawasi.

Nala menelan ludah. Jantungnya mulai melakukan marathon tanpa izin. "Mas... kok tangannya dingin banget? Mas kurang darah ya?"

Saga langsung menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh panci panas. Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang hampir runtuh.

"Itu karena saya selalu menjaga suhu tubuh agar tetap logis. Tidak seperti kamu yang selalu meledak-ledak seperti kembang api murah."

Saga berbalik memunggungi Nala,

berpura-pura sibuk mengelap meja marmer yang sebenarnya sudah sangat bersih.

"Malam ini... kamu boleh makan keripik pedas di sofa."

Mata Nala langsung berbinar. "Beneran?!"

"Tapi," potong Saga cepat, "pakai alas kain supaya remahannya tidak masuk ke sela-sela sofa. Mengerti!"

Nala memberikan hormat dua jari dengan semangat. "Siap, Kapten Kaku! Eh, maksud saya, Mas Sayang!"

"Nala!" bentak Saga, tapi ada sedikit lengkungan di sudut bibirnya yang ia sembunyikan dengan sangat baik.

Malam itu, di Unit 402, Nala asyik mengunyah keripik pedasnya di atas sofa dengan alas kain sesuai instruksi, sementara Saga sibuk di depan laptopnya. Namun, berkali-kali mata Saga melirik ke arah Nala yang sedang asyik menonton drakor di ponselnya sambil sesekali tertawa kecil.

Diplomasi buah tadi mungkin memang berbahaya, tapi entah kenapa, keheningan di apartemen ini tidak lagi terasa dingin bagi Saga. Dan bagi Nala, sofa keras ini perlahan mulai terasa seperti... rumah.

Hanya saja, mereka berdua terlalu gengsi untuk mengakuinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!