Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Jebakan Tangga
Dua jam berlalu. Napasnya berat, tubuhnya gemetar, tapi tangannya merangkai kawat dengan sistematis.
Sensasi kebas menjalar kejam dari pangkal paha hingga ujung ibu jari kakinya. Lantai keramik berlumut menyedot rakus sisa panas tubuhnya tanpa sisa. Sabrina memuntir ujung kawat baja berkarat menggunakan tang penjepit yang ia tarik dari kotak perkakas berdebu. Kulit telapak tangannya lecet terbuka, membiarkan darah segar menetes membasahi gulungan logam di pangkuannya.
"Lihat baik-baik, Jagoan," bisik Sabrina parau, suaranya pecah menahan perih. Ia menoleh perlahan ke arah ember plastik di sudut tergelap ruangan. Buntalan kain beludru berbau apak di dalamnya bergerak pelan mencari kehangatan. "Ibu sedang merangkai karpet merah untuk tamu-tamu kita."
Langkah kakinya terseret pelan menyusuri lorong menuju mulut tangga beton. Lorong sempit ini menghubungkan area bawah tanah gudang dengan pintu akses belakang di lantai atas. Anak tangganya curam, kotor, penuh kerikil tajam sisa puing bangunan. Kondisi geografis mematikan yang sangat sempurna untuk eksekusi gravitasi.
Rahimnya berkontraksi hebat secara mendadak.
Cairan kental kembali luruh merembes lewat robekan gaun sutranya. Sabrina menekan perut bawahnya keras-keras. Gigi serinya menggigit bibir bawah sampai rasa asin darah menyapa ujung lidah. Nyeri persalinan ini terus merobek saraf tulang belakangnya. Ia memaksa otaknya memisahkan diri dari raga hancur ini. Kematian konyol akibat pendarahan sama sekali tidak ada dalam kamus sejarah Maureen.
Ia membuka paksa tutup botol amonia pembersih lantai industri menggunakan giginya. Bau bahan kimia korosif langsung menyengat ganas merobek rongga hidung, menutupi total bau anyir darah segar dari tubuhnya.
Tangan kanannya memiringkan botol itu. Cairan licin menyengat tumpah membasahi tiga anak tangga teratas. Lapisan bening mematikan tercipta seketika di atas ubin keramik yang landai. Siapa pun yang berlari naik atau turun melewati titik ini akan kehilangan gaya gesek hingga titik nol.
Langkah selanjutnya adalah paku pembelah urat.
Sabrina mengambil palu besi berkarat. Ia menancapkan barisan paku beton sepanjang sepuluh sentimeter pada celah retakan dinding di sisi kanan dan kiri anak tangga paling bawah. Ia memiringkan sudut kepala paku itu empat puluh lima derajat ke atas. Target fisiknya sangat presisi. Saat tubuh musuh meluncur jatuh dari atas tangga yang licin, daging betis mereka akan langsung menghantam jajaran logam ini. Urat keting putus, pembuluh darah pecah, kelumpuhan permanen dalam hitungan detik.
Tiba-tiba radio komunikasi genggam milik Haryo, yang kini terikat kuat di sabuk Sabrina, memuntahkan suara statis memekakkan telinga.
"Yo, Haryo! Lo di mana?" Suara Jono terdengar terengah-engah dan panik. "Gue kedinginan di tebing bawah jurang! Kosong melompong! Mayatnya nggak ada, Bangsat!"
Sabrina membiarkan radio itu menyala menyiarkan kepanikan. Jari telunjuknya menjauhi tombol bicara.
"Jawab gue! Lo ketiduran ya di dalam?" Nada Jono melengking ketakutan. "Gue denger suara dua mobil naik ke arah vila! Nyonya Kania kirim orang tambahan buat periksa kerjaan kita!"
Sabrina mendengkus pelan. Sudut bibirnya ditarik ke atas membentuk seringai haus darah. Kania Tanjung memang perempuan parno dengan trauma pengabaian tingkat akut. Saudara angkatnya itu tidak pernah mempercayai siapa pun, bahkan preman bayarannya sendiri.
Tangan Sabrina kembali bergerak lincah. Ia membentangkan sisa kawat baja menyilang tepat di anak tangga keempat dari bawah. Tinggi mata kaki. Terlalu rendah untuk disadari oleh pandangan mata preman yang terburu-buru membelah gulita. Kawat itu ia ikat mati pada engsel pintu lapuk di sebelah kiri dan paku penyangga rak di sebelah kanan.
Tripwire berkarat ini akan menjadi penentu ritme kematian mereka.
Suara decit rem mobil terdengar kasar dari arah halaman depan vila. Pintu mobil dibanting paksa berurutan. Bunyi sol sepatu karet berat menginjak kerikil halaman menghancurkan kesunyian lereng gunung.
"Mana si Haryo?" Suara bariton berat memecah udara dingin. Laki-laki bertubuh masif dengan jaket kulit hitam masuk menendang sisa daun pintu depan.
"Gue nggak tahu, Bang Boni." Jono menyahut panik dari kejauhan, napasnya memburu berlari kembali dari arah tebing. "Dari tadi gue panggil lewat radio nggak nyahut sama sekali. Terakhir dia bilang mau jaga di dalam kamar depan."
"Kalian berdua memang otak udang! Goblok pelihara terus!" Maki Boni keras, suaranya menggema memantul ke dinding gudang. "Nyonya Kania bayar mahal buat kerjaan gampang begini aja kalian gagal! Cuma suruh tunggu cewek lemah beranak sampai mati!"
"Sumpah, Bang. Gue udah sisir tebing bawah sampai ke batas hutan babi. Nggak ada tanda-tanda perempuan itu jatuh ke sana. Daun-daun kering utuh."
"Berarti siluman itu masih di dalam! Nyalakan senter kalian semua! Kita sisir setiap sudut ruangan busuk ini malam ini juga!"
"Siapin senjata kalian," perintah Boni kasar.
Suara kokangan pistol otomatis terdengar beruntun merobek malam. Bunyi logam bergesekan itu adalah musik pengantar tidur bagi Maureen di kehidupan lalunya. Kini musik itu kembali memanggilnya ke medan pembantaian.
"Bang, Haryo bawa pisau lipat doang tadi," ucap Jono cemas, langkahnya ragu-ragu memasuki pintu depan.
"Gue nggak peduli Haryo bawa apa! Perempuan itu habis melahirkan paksa! Darahnya pasti berceceran ke mana-mana! Ikuti bau amisnya kayak anjing pelacak! Jangan sampai dia keluar dari sini hidup-hidup."
"Terus bayinya gimana, Bang?" Suara pria ketiga ikut menimpali. Nadanya bergetar hebat. "Katanya itu anak Bos Halim? Gue nggak mau berurusan sama iblis itu, Bang."
"Patahkan leher bayinya!" Bentak Boni tanpa ragu. "Nyonya minta nggak ada saksi hidup malam ini, apalagi anak tiran gila itu. Bos Halim bakal potong lidah dan nyongkel mata kita pelan-pelan kalau dia tahu kita sentuh darah dagingnya. Jadi pastiin anak itu mati membusuk di sini tanpa sisa!"
"Siap, Bang." Tiga suara menjawab serempak namun penuh ketakutan.
Adrianus Halim. Nama itu kembali disebut sebagai malaikat maut pelindung klan. Sabrina tertawa sumbang dalam monolog batinnya. Suaminya itu adalah bajingan penganut patriarki absolut yang menganggap istri hanyalah pabrik rahim pencetak pewaris tahta. Tapi reputasi kekejaman suaminya itu terbukti sangat berguna menebar teror mental pada kroco-kroco bodoh Kania.
Langkah kaki Sabrina mundur perlahan menjauhi mulut tangga. Ia menyeret panggulnya yang mati rasa naik ke atas tumpukan karung semen mengeras di balkon sempit area mezanin. Balkon ini menghadap langsung ke arah jebakan tangga di bawah sana. Titik pantau penembak jitu yang menguasai medan pertempuran.
Ia meraih ember plastik itu. Menarik buntalan kain beludru berisi bayinya ke pelukan dada. Ia mengancingkan sisa kemeja usang milik mayat Haryo untuk membungkus tubuh kecil itu dari serangan suhu beku.
Panas tubuh mungil sang bayi menembus langsung pori-pori kulit Sabrina, mengisi penuh baterai insting protektifnya.
"Tidurlah, Jagoan," gumam Sabrina sangat pelan. Punggung tangannya mengusap sisa kerak darah di dahi bayinya. "Pertunjukan kembang api kita akan segera dimulai."
Dada bayi itu naik turun teratur. Napasnya hangat menggelitik kulit pucat Sabrina. Ia sama sekali tidak menangis. Anak ini seolah menyerap DNA predator dari kedua orang tuanya, insting purba yang menyuruhnya bungkam saat mangsa berjalan mendekat ke lubang jebakan.
Lantai granit di bawah sana kini menunggu mangsa. Kawat menegang tak terlihat dalam gelap. Paku-paku menganga menantang gravitasi.
Sabrina mengatur pola napas tempur. Tarik tiga detik, tahan di dada, embuskan perlahan lewat celah bibir. Rasa perih mematikan di jalan lahirnya ia paksa mati. Ia mengubah sinyal rasa sakit itu menjadi bahan bakar kebencian murni. Semakin pedih selangkangannya, semakin tajam akalnya merangkai skenario pembunuhan.
Bau asap rokok bercampur keringat basi kembali masuk menyergap rongga hidung. Sinar senter halogen menyapu acak dinding lorong depan.
"Pintunya udah hancur total, Bang!" Jono berteriak dari ruang tengah. "Pasti dijebol dari luar!"
"Tolol! Lo nggak punya mata? Itu dobrakan dari luar ke dalam! Haryo yang dobrak pintu ini!" Boni memukul kepala Jono keras.
"Terus mayat Haryo di mana sekarang?"
"Cari ke lorong belakang arah kamar mandi! Baunya nyengat banget dari arah tangga sana! Bau bahan kimia campur darah!"
Langkah-langkah berat sepatu sol karet itu semakin dekat. Bunyi bergesekan dengan lantai keramik kotor menggemakan ancaman nyata.
Sabrina memejamkan mata sesaat. Otaknya mengkalkulasi jarak, waktu tempuh, dan titik pendaratan buta. Posisi mereka pasti berdekatan, berjalan berhimpitan masuk melalui lorong sempit menuju area tangga. Formasi tempur paling bodoh di ruang tertutup tanpa pencahayaan memadai.
Bayinya tertidur hangat di dadanya. Suara langkah terdengar dari bawah, bukan satu, tapi empat orang.