Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Perlindungan Sang Penguasa
Manajer toko itu adalah orang yang sangat cerdik. Melihat situasi yang ada, ia tidak lagi memedulikan Kaila yang merupakan 'pelanggan tetap'. Ia segera menghampiri Hans dengan senyum lebar, suaranya terdengar tiga kali lebih menjilat dari biasanya:
"Tuan Hans, Nona Tania baru saja naksir gelang 'Starry River Dream' ini. Gelang ini dan aura Nona Tania benar-benar perpaduan yang sangat sempurna!"
Hans melirik benda itu. Permata biru tua di sana berkilauan menciptakan cahaya gemilang seperti galaksi di bawah lampu. Desainnya indah dan elegan, memang sangat cocok untuk kesayangannya. Pergelangan tangan Tania ramping dan putih, kulitnya begitu halus hingga tampak seolah akan terluka hanya dengan satu sentuhan. Mengenakan gelang ini pasti akan membuatnya tampak luar biasa cantik.
Selera gadis kecilnya memang kelas satu.
Kaila terpaku di tempatnya, tangan dan kakinya seolah tidak tahu harus diletakkan di mana. Pengabaian total dari Hans terasa jauh lebih menghina daripada teguran keras sekalipun. Latar belakang keluarga dan penampilan yang ia banggakan seketika menjadi lelucon di depan Hans. Terlebih lagi, perlindungan dan kasih sayang yang ditunjukkan Hans secara terang-terangan kepada Tania bagaikan duri-duri tajam yang menusuk hatinya dengan rasa iri dan benci.
Ia menggigit bibir, ujung jarinya meremas pinggiran tas tangannya, mati-matian ingin mengatakan sesuatu untuk menyelamatkan mukanya.
"Toko ini—kalau aku tidak salah ingat, bukankah salah satu bisnis di bawah naungan Grup Lesmana?"
Hans akhirnya mengalihkan pandangannya dari Tania, memberikan lirikan datar kepada Sherly, lalu menatap tajam ke arah Kaila yang wajahnya sudah sepucat kertas.
Rasa dingin merayap di punggung Sherly, butiran keringat dingin muncul di dahinya. Ia buru-buru membungkuk, suaranya sedikit gemetar: "Benar, Tuan Hans. 'Only Jewelry' adalah merek yang sangat dijunjung tinggi oleh grup. Produk baru setiap musimnya selalu..."
Hans bergumam pelan, memotong usahanya untuk mengambil muka. Nadanya tenang namun membawa tekanan yang berat: "Karena ini milik Keluarga Lesmana, maka harus mengikuti aturan Keluarga Lesmana. Tidak sembarang orang bisa masuk dan mengomentari tamu Keluarga Lesmana sesuka hati mereka."
"Lian."
Asisten Lian, yang sedari tadi berdiri diam tidak jauh dari sana, segera melangkah maju dan membungkuk hormat. "Tuan, saya siap." Ia tetap menundukkan pandangan, seolah tidak peduli dengan keributan kecil ini, namun juga seolah segalanya berada dalam kendalinya.
"Beri tahu manajer merek," tatapan Hans kembali ke wajah kecil Tania yang tampak sedikit terkejut, namun nadanya berubah beberapa tingkat lebih dingin. Ia bicara pada Lian, tapi juga ditujukan untuk orang-orang tertentu.
"Tingkatkan standar pelayanan dan ambang batas pelanggan. Aku tidak ingin tamuku terganggu oleh keributan yang tidak menyenangkan di sini. Beberapa orang tidak perlu dilayani lagi di masa mendatang."
Begitu kata-kata itu terucap, wajah Kaila berubah putih total, kehilangan semua warnanya. Sangat jelas siapa yang dimaksud dengan 'beberapa orang' itu. Ini sama saja dengan menampar wajahnya keras-keras di depan seluruh kalangan kelas atas Jakarta dan langsung memasukkannya ke dalam daftar hitam 'Only Jewelry'.
Ia bahkan bisa membayangkan bahwa berita ini akan tersebar ke seluruh lingkaran pergaulan besok, dan dia, Kaila Tanujaya, akan menjadi bahan tertawaan terbesar. Tubuhnya goyah, ia hampir tidak mampu berdiri tegak.
Yohan yang berdiri di samping hampir tidak bisa menahan tawanya. Ia segera menutup mulut dengan tangan, namun bahunya tidak bisa berhenti berguncang. Langkah Hans yang "memukul satu untuk memperingatkan yang lain" ini benar-benar eksekusi yang sempurna. Selain melampiaskan kekesalan untuk calon kakak iparnya, Hans juga sekaligus mendeklarasikan hak miliknya. Jenius, benar-benar jenius!
Udara di sekitar seolah membeku sesaat. Orang-orang dan staf toko menahan napas, tidak berani mengeluarkan suara. Namun, Hans mengabaikan mereka semua, tatapan dalamnya hanya terfokus pada Tania.
Ia mengambil gelang berdesain elegan itu dari kotak beludru yang indah. Berlian-berlian di sana membiaskan cahaya yang menyilaukan mata. Ia meraih pergelangan tangan Tania yang halus, gerakannya terasa alami namun mengandung ketegasan yang mustahil untuk ditolak, saat ia bersiap mengenakannya sendiri pada gadis itu.
Rona panas seketika menjalar ke pipi Tania, dan jantungnya berdetak kencang. Merasakan maksud Hans, tangan kecilnya sedikit menarik diri, suaranya terdengar lemah:
"Hans... aku bisa beli sendiri..."
Gelang itu memang cantik, tapi sangat berharga, apalagi Hans baru saja membelanya.
Hans tersenyum memanjakan. Ia tidak melepaskan tangan Tania; sebaliknya, ia meremas lembut pergelangan tangannya untuk menenangkan.
"Mhm, kesayanganku memang bisa."
Suaranya berat, membawa kekuatan yang membuat siapa pun merasa tenang.
"Gelang ini, anggap saja sebagai... permintaan maaf kecilku padamu?" Hans memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya menyapu sosok Kaila yang pucat di dekat mereka, lalu menambahkan dengan nada santai: "Lagipula, ada seseorang yang tadi buta dan merusak suasana hati baikmu."
Meskipun nada bicaranya ringan, kata-kata itu membawa tekanan yang tak terlihat. Kaila merasa wajahnya terbakar, dan lirik-lirikan samar dari orang-orang di sekitarnya membuatnya merasa seperti duduk di atas hamparan jarum. Kukunya menancap dalam ke telapak tangan, rasa sakitnya nyaris tidak cukup untuk membuatnya tetap bertahan tanpa kehilangan kendali di tempat.
Setelah beberapa detik dalam ketegangan, Kaila akhirnya tidak kuat menahan tekanan dan tatapan orang banyak. Ia berbalik tiba-tiba dan melangkah pergi dengan terhuyung-keluar dari toko perhiasan, bahkan tanpa sempat meninggalkan sepatah kata pun untuk menjaga harga dirinya. Sosok yang menjauh itu tampak panik seperti orang yang melarikan diri. Suara sepatu hak tingginya yang beradu dengan lantai terdengar terburu-buru dan kacau, lalu dengan cepat menghilang di balik pintu.
Kata-kata Hans bagaikan aliran hangat yang seketika menghapus rasa tidak enak di hati Tania akibat dipandang rendah tadi. Memang ia merasa sedikit terhina karena Kaila, dan meskipun tidak mengatakannya, ia merasa sesak. Dengan cara Hans membelanya seperti ini, rasa tidak nyaman itu benar-benar seolah menguap begitu saja.
Pipi Tania terasa panas, terutama di bawah tatapan Hans yang tersenyum penuh kasih. Saat kalimat "kesayanganku" keluar dari mulut pria itu, ada kehangatan istimewa yang membelai relung hatinya. Rasa berdesir dan benang-benang manis menyebar diam-diam di dalam dirinya.
Ya, ia bisa membelinya sendiri, tapi niat Hans untuk melindunginya—perasaan disayangi dan dijaga di dalam hati pria itu—adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun. Hans menggunakan cara yang paling langsung dan efektif untuk meluluhkan segala ketidaksenangannya.
Udara di sekitar seolah melunak karena ini. Tania memberikan tatapan malu yang jenaka, namun ia tidak lagi bersikeras menarik tangannya. Ia menggumamkan "Mhm" pelan, hampir tak terdengar, sebagai tanda setujunya.
Melihat Tania tidak lagi menolak, Hans melengkungkan bibirnya dengan puas. Ia memasangkan gelang itu dengan hati-hati ke pergelangan tangan putih Tania. Ukurannya sangat pas, dan berlian kecil pada rantainya memantulkan cahaya indah di bawah lampu toko, membuat pergelangan tangannya tampak semakin halus dan menggetarkan hati.
Hans menundukkan kepalanya untuk menyesuaikan pengaitnya dengan teliti, ekspresinya sangat fokus, serius, dan penuh kehati-hatian.