NovelToon NovelToon
Labirin Hati

Labirin Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Persahabatan / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kenaya_10

"Umur Ruby tuh udah 25 tahun, Masko. Kalau Ruby sampai gak dapet-dapet jodoh…” ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Miko, “masko aja deh yang jadi suami Ruby!” Miko yang sedang menyeruput iced americano langsung tersedak dan tanpa sengaja menyemburkannya ke wajah Ruby. “MASKOOO!!!” teriak Ruby murka seketika, lalu memukul-mukul tubuh Miko bertubi-tubi. Miko justru terbahak sambil berusaha menangkis pukulannya. “Sorry! Sorry! Sengaja!” Iya, Ruby tahu! Ruby bukan tipe masko!” sungut Ruby kesal. Miko hanya terkekeh, lalu meraih tisu dan mengelap wajah Ruby dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ruby tidak tahu saja kalau, Miko itu justru telah menyukai Ruby sejak mereka masih kecil. Ruby selalu ada, menjadi saksi paling setia atas keterpurukan Miko, terutama di masa-masa setelah ia mengetahui bahwa perempuan yang selama ini ia panggil Mama ternyata bukan ibu kandungnya. Sejak itu, Miko seperti kehilangan pijakan. Ada amarah di dalam dirinya, tapi ia tak tahu harus menujukannya ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenaya_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Ruby duduk di kursi kayu salah satu kedai kopi outdoor, tepat di bawah pohon rindang yang cukup menyelamatkan dari panas pagi. Napasnya masih berat, keringat membasahi pelipisnya.

Ia meneguk air mineral panjang, lalu menyeka dahinya dengan punggung tangan.

“Capek banget…” gumamnya pelan. “Lagian tumben-tumbenan Masko ngajak lari pagi begini.”

Baru saja ia menyandarkan tubuh ke kursi dan menikmati semilir angin, ponselnya berdering.

Di layar tertulis: Papi.

Ruby langsung mengangkatnya.

“Iya, Pi?”

“Kamu di mana?” suara Tony terdengar cepat, nyaris tanpa jeda.

“Lagi di kafe, habis jogging. Kan tadi Ruby udah bilang ke Mami?”

“Iya, Mamimu bilang ke Papi. Tapi kamu beneran jogging sama Miko?”

Ruby mengernyit. “Lah iya beneran. Emang ada apa sih, Pi?” tanyanya sambil melirik ke arah Miko yang masih berdiri di depan counter, menunggu dua cup es kopi pesanan mereka.

“Ongkelmu telepon. Dia bilang Miko pergi.”

“Hah?” Ruby makin heran.

“Denger ya, Ruby.” Nada Tony berubah serius, tegas. “Papi harap kamu nggak lagi bantuin Miko buat kabur. Kalau kamu kayak gitu lagi, kali ini Papi nggak akan tinggal diam.”

“Hah? Apaan sih, Pi?” Ruby langsung setengah kesal. “Siapa yang bantuin Masko kabur? Ini beneran Ruby abis lari pagi sama Masko!”

Di saat yang sama, Miko sudah berjalan mendekat dan menyerahkan satu cup es kopi ke Ruby. Ia menangkap namanya disebut-sebut.

Tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir, ia bertanya, “Siapa?”

Ruby membalas dengan gerakan bibir juga, “Papi.”

“Hah? Iya, Pi. Sumpah.” Ruby mendengus kecil. “Nih, kalau Papi nggak percaya, kita video call aja.”

Ia langsung mengganti panggilan ke mode video dan mengarahkan kamera depan sehingga wajah Miko terlihat jelas.

“Halo, Om,” sapa Miko santai.

Tony terlihat mengernyit di layar. Ia menatap Miko dari ujung kepala sampai kaki, pakaian olahraga, rambut sedikit basah, wajah masih lelah habis lari. Rasanya memang tidak masuk akal kalau ia kabur dengan tampilan seperti itu.

“Miko,” ujar Tony, “Ongkelmu nyariin kamu. Kamu pergi jogging kenapa nggak pamit?”

“Gimana mau pamit, Om? Pas Miko mau pergi, Ongkel nggak ada di rumah. Kayaknya dia juga lagi jogging.”

Tony menghela napas kasar, jelas frustrasi.

“Ongkelmu pikir kamu kabur. Dia ketuk pintu kamar kamu berkali-kali nggak ada jawaban. Pas masuk, tas dan jaket kamu nggak ada. Ya dia pikir kamu pergi.”

Miko berdecak pelan. “Kok ongkel bisa kepikiran Miko kabur? Emangnya Ongkel tau apa kalau Miko suka kabur? Atau Om Tony yang hobi gosipin Miko ke dia?”

Tony kini yang mendesis kesal. “Sudahlah. Yang penting kamu nggak ke mana-mana. Om mau kabarin Ongkelmu dulu.”

“Ok,” jawab Miko santai, lalu menyeruput iced americano-nya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Panggilan terputus.

Miko menghela napas panjang, lalu bersandar malas di kursinya. Wajahnya campur aduk antara jengkel dan bingung.

Sementara Ruby malah terkekeh kecil.

“Memang ada kejadian apa sih, Mas? Kok Ongkel bisa sampai mikir Masko kabur cuma gara-gara nggak lihat tas di kamar? Emang tas sama jaketnya ke mana?”

Miko cuma mengedikkan bahu santai.

“Gak ada kejadian apa-apa. Tas sama jaket Mas cuci lah. Udah kotor banget itu. Ada kali sebulan nggak dicuci.”

Ruby terdiam sepersekian detik… lalu langsung ngakak tanpa ampun.

“Papi kamu ada rencana apalagi sih?” tanya Miko kemudian

“Hah? Rencana apa?” Ruby mengernyit.

“Ya entahlah…” Miko menatap kosong ke depan. “Aneh aja. Tiba-tiba nyuruh Mas nemenin Ongkel. Terus sekarang Ongkel kepikiran Mas kabur. Dapet gambaran dari mana coba Mas bakal kabur kalau bukan dari Om Tony?”

Ruby terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan.

“Ruby jujur juga agak curiga sih. Ongkel tiba-tiba datang ke Indonesia, bilangnya cuma liburan. Tapi barang-barangnya udah kayak mau pindahan.” Ia menatap Miko serius. “Tapi beneran, Ruby gak tahu apa-apa. Gak ada info sama sekali apakah kedatangan Ongkel ada hubungannya sama Masko.”

Miko hanya manggut-manggut pelan.

Ruby lalu menatapnya lagi.

“Terus sekarang rencana Masko gimana? Ruby berharap Masko gak kepikiran buat kabur lagi.”

“Entahlah by…” jawab Miko singkat, kembali mengangkat bahu.

“Mas…” Ruby hendak melanjutkan kalimatnya, tapi dering ponselnya memotong.

Nama yang muncul di layar: Fathur.

Miko sempat melirik dan menaikkan satu alisnya.

Ruby mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

“Hai, Ruby. Apa kabar?”

“Baik. Mas Fathur sendiri apa kabar?”

“Baik, alhamdulillah.”

“Alhamdulillah. Ada apa ya, Mas?”

“Oh… ehem… saya hari ini ada urusan di Jakarta. Apa kita bisa ketemu sebentar? Makan siang mungkin?”

“Oh…” Ruby menjawab singkat, wajahnya sedikit bingung.

Hening.

“Eh, gapapa kalau memang sibuk,” lanjut Fathur cepat.

“Bisa kok. Tadi cuma kaget aja,” jawab Ruby akhirnya.

Fathur terkekeh kecil. “Oke, nanti saya kirim lokasi ya.”

“Siap. See you.”

Sambungan terputus.

Sejak tadi Miko menatap Ruby dengan ekspresi campuran penasaran dan kesal.

“Ngapain Fathur telepon kamu?” tanyanya ketus.

“Ngajakin makan siang,” jawab Ruby santai, kembali menyeruput es kopinya.

“Ngapain dia ngajak-ngajakin makan siang?”

“Ya gak tahu. Katanya lagi ada urusan di Jakarta, jadi sekalian aja mau makan siang bareng Ruby.”

Miko mendengus pelan.

Ruby memiringkan kepala, menahan senyum.

“Kenapa? Masko cemburu ya?”

Miko mendengus lagi.

“Siapa yang cemburu?”

“Lah itu muka Masko kelihatan kesel.”

“Mas gak kesel.” Ia berdiri tiba-tiba. “Mas laper. Ayo cepetan kita ke nasduk Mak Iyos aja deh sekarang!”

Nada bicaranya tetap ketus.

Ruby cuma tertawa kecil sambil berdiri menyusulnya.

“Iya, iya… yang gak cemburu.”

Sementara itu, Fathur berdiri di teras belakang rumahnya, menatap kebun teh yang masih diselimuti kabut tipis. Senyum tipis tak lepas dari wajahnya setelah menutup sambungan telepon dengan Ruby.

“Ehem…”

Fathur tersentak kecil.

“Eh, Bunda… bikin kaget Aa aja,” ujarnya sambil cepat-cepat menghampiri Bu Andini yang berjalan pelan ke arahnya.

Wanita itu merapatkan cardigan rajutnya. Wajahnya masih pucat. Beberapa minggu terakhir kesehatannya memang belum benar-benar pulih. Sejak… ia memutuskan untuk kembali melepaskan Miko.

“Bunda ngapain sih jalan-jalan begini? Mukanya masih pucat loh ini,” tegur Fathur lembut sambil menggiringnya duduk di kursi rotan. “Bunda udah sarapan belum?”

“Udah. Tadi Bi Anah anterin ke kamar,” jawab Andini ringan. Lalu ia menyipitkan mata menatap putra sambungnya. “Anak Bunda kenapa senyum-senyum begitu? Kelihatan happy banget.”

Fathur cuma tersenyum, berusaha santai.

“Nggak apa-apa, Bun.”

“Oh iya,” lanjutnya cepat, mencoba mengalihkan, “nanti setelah inspeksi gudang, Fathur izin ke Jakarta ya, Bun.”

“Oh?” Andini mengangkat alis. “Memang ada urusan apa di Jakarta?”

“Gak ada apa-apa, Bun. Cuma mau main aja ke sana.”

Andini tersenyum pelan, satu alisnya terangkat.

“Oh… jadi ‘urusan di Jakarta’ yang kamu bilang ke Ruby tadi cuma modus?”

Sekejap wajah Fathur memerah.

“Hah? Bunda nguping obrolan Fathur tadi ya?”

Andini tertawa kecil.

“Maaf nggak sengaja, Nak. Tadi Bunda nyari kamu. Kata Bi Anah kamu di teras belakang. Pas Bunda mau samperin, kamu lagi teleponan… ya kedengeran sedikit.”

Fathur menunduk, mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. Ia terkekeh malu.

Andini mengusap punggungnya lembut.

“Nggak usah malu begitu dong. Kayak sama siapa aja. Ini kan Bundamu.”

Fathur akhirnya tersenyum menatapnya.

“Bunda senang akhirnya kamu mau buka hati lagi setelah berpisah dari Luna,” lanjut Andini pelan. “Sudah lama sekali kan, Nak. Memang sudah waktunya kamu move on.”

Fathur tertawa kecil.

“Hehe… iya, Bun. Jadi Bunda restuin aku sama Ruby?”

“Iya dong,” jawab Andini tanpa ragu. “Bunda kenal papinya Ruby. Bunda tahu keluarganya baik-baik. Dan Bunda yakin Ruby mewarisi sifat baik kedua orang tuanya.”

Fathur tersenyum lebar, lalu memeluk Bundanya dari samping.

“Makasih, Bunda.”

Andini membalas pelukannya dengan hangat.

“Sama-sama, sayang.”

1
💞Putri Chania💞
yang d tunggu" akhir nya update juga..tq thor
Kenaya: sama-sama. makasih ya udah mau dabar dan terus baca cerita ini 🌹
total 1 replies
merry yuliana
kak ini lanjutkah??kok ga ada update update lagi kak?😄
Kenaya: lanjut kak...lg agak writer's block hehehe...kemungkinan paling lambat pagi bsk bs up bab baru 🙏
total 1 replies
merry yuliana
kak crazy up pleaseee jangan mendadak ghpib yaaa
merry yuliana
crazy up ya kak
merry yuliana
crazy up kak🙏💪
merry yuliana
crazy up kak💪💪💪
merry yuliana
lukamu jadi duri yang nempel.ya ko...masih banyak yang sayang dan care km koooo...semangat dan lepaskan semua💪💪💪 crazy up ya kak
Kenaya: 🫰🏽🫰🏽🌹
total 1 replies
merry yuliana
crazy up kak💪💪🙏
merry yuliana
sehat semangat up terus ya kak jangan memfafak brenti n ilang ya💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
merry yuliana: 😍😍😍😍😍🙏
total 2 replies
merry yuliana
kak lanjut ya jangan ilang ya.....sehat semangat terus kak...ditunggu crazy upnya yaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!