Berawal dari kejadian beberapa tahun lalu, Intan bertekad untuk menjadi seorang pengacara agar dapat membela hak-hak orang tuanya.
Gayung pun bersambut, seorang pengacara terkenal yang dikenalnya 1 tahun lalu menawarkan dirinya untuk menjadi sekretarisnya.
Intanpun menerima tawaran itu dan bekerja di sana. Seiring berjalannya waktu, akhirnya merekapun menjalin hubungan. Hubungan mereka terlihat sangat bahagia hingga akhirnya Intan mengetahui bahwa Pak Hendra sudah mempunyai istri dan anak.
Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan di baca dalam novel "Aku memilih pergi"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 28- Menikmati senja bersamamu
Pak Hendra melirik jam di tangannya.
“Sudah pukul tiga sore, waktunya menjemput Intan,” gumam Pak Hendra.
Diapun bersiap-siap untuk pergi ke kantor tanpa mengabari Intan terlebih dahulu. Namun sebelumnya ke kantor, dia sengaja menyempatkan waktu untuk singgah di tokoh kue. Pak Hendra membelikan kue coklat untuk Intan karena dia tahu kekasihnya itu sangat menyukai coklat.
Setiba di kantor, dia langsung menuju ke ruangan Intan. Intan yang sedang mengambil air minum tak menyadari kedatangan Pak Hendra. Tiba-tiba saja Pak Hendra langsung memeluknya dari belakang yang membuat Intan jadi terkejut.
“Mas Hendra,” ucap Intan ketika menyadari Pak Hendra sedang memeluknya.
“Malu tau kalau di liat Dino,” ucap Intan.
“Ngga kok, itu pintunya tertutup,” jawab Pak Hendra sambil melihat ke arah pintu.
"Ihh..., Mas Hendra nakal," ucap Intan manja.
Pak Hendra semakin mengeratkan pelukannya dan berkali-kali mendaratkan ciumannya pada leher Intan.
“Ihh...apaan sih Mas,” balas Intan dengan senyum malu-malu.
“Miss you sayang,” ucap Pak Hendra sambil lagi-lagi mencium Intan.
“Baru semalam ngga ketemu masa udah kangen,” ucap Intan pura-pura biasa saja sambil tersenyum.
“Aku selalu merindukanmu setiap saat sayang."
“Ahh gombal,” ujar Intan sambil menahan senyumnya.
Seketika Pak Hendra langsung membalikkan badan Intan dan wajah merekapun langsung bertatapan. Pak Hendra menatap Intan dengan dalam.
“Kamu tahu apa arti kamu buat aku?" tanya Pak Hendra dengan suara lembut.
“Apa?” tanya Intan sambil menatap Pak Hendra.
“Kamu itu seperti matahari buat aku. Aku tak bisa hidup tanpamu,” ucap Pak Hendra sambil membelai rambut Intan.
“Kamu mengubah hidupku, memberi warna dalam hidupku. Itulah Tan, arti kamu buat aku. Jadi jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku karena itu bisa membunuhku. Kamu janji kan, ngga akan pernah ninggalin aku,” ucap Pak Hendra dengan penuh ketulusan.
Intan menatap Pak Hendra dalam-dalam dengan penuh cinta.
“Aku janji, aku ngga akan pernah ninggalin Mas Hendra.” balas Intan.
"Janji."
"Aku janji, Mas."
“Makasih sayang,” ujar Pak Hendra sambil memeluk Intan dengan erat.
Seketika semua masalah seperti menguap begitu saja. Setelah puas saling berpelukan, Pak Hendra perlahan melepas pelukannya.
“Sayang, kamu siap-siap yaa. aku mau ke ruanganku dulu.” ucap Pak Hendra.
“Iya sayang,” jawab Intan.
Setelah Pak Hendra pergi, Intanpun merapikan barangnya dan bersiap untuk pulang. Tak lama kemudian Pak Hendra sudah muncul kembali dan merekapun pergi.
“Mas, kita mau kemana?” tanya Intan setelah sadar bahwa Pak Hendra tidak menuju ke arah jalan pulang.
“Hari ini kita akan jalan-jalan ke pantai menikmati matahari tenggelam. Rasanya sudah lama aku tak mengajakmu untuk jalan-jalan.”jawab Pak Hendra.
“Kok Mas ngga bilang sih,” ucap Intan manja.
“Ini adalah kejutan,” ujar Pak Hendra dengan senyum lebar sambil melihat Intan.
“Ihhhh...Mas Hendra,” rengek Intan sambil mencubit lengan Pak Hendra.
“Aww sakit,” ucap Pak Hendra pura-pura kesakitan.
“Ouhh Maaf sayang,” ucap Intan dengan rasa bersalah.
“Aku mau maafin tapi ada syaratnya,” ucap Pak Hendra menatap Intan sambil menahan senyum.
“Apa?” tanya Intan serius.
“Nih,” ucap Pak Hendra singkat sambil menunjuk ke arah pipinya.
“Iiihh Mas Hendraaa,” rengek Intan sambil mendaratkan pukulan manja.
Pak Hendra tertawa terbahak-bahak melihat Intan. Intan tersenyum bahagia melihat Pak Hendra tertawa seperti itu, lalu dengan seketika dia mendaratkan satu ciuman di pipi Pak Hendra sebelum dia menyelesaikan tawanya. Seketika Pak Hendra menatap Intan dan mengambil tangannya kemudian menciumnya. Intan lalu menyandarkan kepalanya di pundak Pak Hendra. Rasa bahagia yang begitu dalam seketika menyelimuti kedua insan yang sedang di landa virus memabukkan yang dinamakan cinta.
Mobil terus melaju ke arah pantai yang kemarin di kunjungi oleh Pak Hendra. Mereka sampai ketika matahari baru mulai memulai ritualnya untuk menghasilkan warna yang indah. Segera mereka di pantai, dengan tangan saling menggenggam , mereka menikmati setiap detik per detik gerak matahari memasuki peraduannya. Begitu indahnya hingga membuat mereka terbuai untuk beberapa saat.
Baik Pak Hendra maupun Intan, keduanya sama-sama menyukai pantai dan senja. Sehingga menikmati hal-hal kecil seperti itu adalah hal yang sangat indah bagi mereka.
Setelah menikmati senja, Pak Hendra mengajak Intan untuk duduk di atas hamparan pasir sambil melihat ke arah lautan luas.
“Tan,” panggil Pak Hendra pelan tanpa menoleh.
“Hmm...," jawab Intan dengan deheman.
“Boleh aku minta sesuatu padamu?” pinta Pak Hendra.
“Iya, selagi aku bisa, aku akan melakukannya,” jawab Intan.
“Aku ingin, kamu mempercayaiku apapun yang mungkin akan terjadi ke depan,” ucap Pak Hendra pelan, namun serius.
“Maksud Mas Hendra?” tanya Intan seperti bingung.
“Apa kamu mempercayaiku?” tanya Pak Hendra lagi tanpa menjawab pertanyaan Intan.
“Iya, aku percaya Mas Hendra,” jawab Intan masih dengan keheranan.
“Aku ingin kepercayaanmu padaku tak pernah pudar sampai kapanpun,” balas Pak Hendra.
Intan menoleh ke arah Pak Hendra. Dia menatapnya dalam-dalam seakan seperti sedang menganalisis sesuatu.
“Mas Hendra ada masalah?” tanya Intan.
“Tan, aku tak berniat sama sekali untuk menyembunyikan sesuatu darimu, aku hanya butuh waktu dan saat yang tepat untuk benar-benar siap menceritakannya semuanya padamu,” ujar Pak Hendra lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Intan.
Intan mengerti maksud Pak Hendra. Dia tak ingin memaksa Pak Hendra harus menceritakan segala hal padanya.
“Sayang, aku akan selalu siap kapanpun itu. Ceritakan padaku jika suatu saat Mas telah siap,” balas Intan.
“Makasih sayang, aku sangat beruntung karena memiliki kamu,” ucap Pak Hendra dengan penuh ketulusan.
Beberapa saat mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suara deburan ombak yang terdengar samar-samar menghantam pantai. Gelembung putihnya tampak membasahi tepi pantai. Sesaat muncul dan sesaat lenyap saat di dorong dan di tarik oleh ombak. Angin malam yang berhembus lembut seakan membelai keduanya. Sunguh suasana yang begitu mendamaikan jiwa.
Hampir sepuluh menit mereka saling diam, akhirnya Pak Hendra mengajak Intan untuk beranjak pergi. Setelah keluar dari pantai mereka menuju ke restoran untuk makan malam. Tepat di belakang mereka terlihat seorang wanita yang sedang memperhatikan mereka. Wanita itupun duduk dengan seorang lelaki namun sang lelaki itu terlihat sedang berbicara dengan seseorang di telpon sehingga tak memperhatikan mereka.
Setelah makan, mereka langsung pulang.
“Tan, aku mau ke luar kota besok,” ucap Pak Hendra ketika di jalan pulang.
“Kenapa tiba-tiba,” yanya Intan agak sedikit kaget.
“Ada urusan besok dan aku baru dapat kabar tadi sore,” jawab Pak Hendra bohong.
“Berapa lama?” tanya Intan.
“Sekitar dua atau tiga hari,” jawab Pak Hendra.
“Ohh, yaa udah. Mas Hendra udah siapkan segala sesuatu yang akan di bawa?" tanya Intan lagi.
“aku hanya perlu beberapa potong pakaian, bisa di rumah sebentar di siapkan."
“Yaa udah nanti aku siapin."
“Makasih sayang."
“Iya."
“Maafkan aku sayang, aku ngga bermaksud untuk membohongimu.” ucap Pak Hendra dalam hati sambil melihat Intan dengan raut wajah sedih.
“Ada apa?" tanya Intan yang melihat Pak Hendra menatapnya seperti itu.
“Ngga apa-apa, aku hanya sedih aja karena akan meninggalkanmu beberapa hari,” ucap Pak Hendra bohong.
“Sabar sayang, hanya beberapa hari kok,ok” ucap Intan memberi semangat.
“Iyaa sayang,hehee” balas Pak Hendra sambil tertawa kecil.
Mobilpun melaju membelai jalanan yang sudah tak terlalu ramai. Di samping kiri kanan terlihat beberapa penjual kaki lima dan beberapa orang yang berlalu lalang dengan kegiatan mereka masing-masing. Intan menyandarkan kepalanya di bahu Pak Hendra. Sesekali Pak Hendra mendaratkan ciuman di kepala Intan. Tak lupa alunan lagu yang merdu dari radio mobil. Rasanya, keduanya tak ingin berpisah walau hanya sebentar.
terbaik kak thor 🥰🥰
mantap.