Pernikahan adalah impian setiap wanita dan termasuk aku sendiri. Akan tetapi aku tidak pernah mengharapkan pernikahan ku datang dengan secepat ini dan dalam keadaan yang seperti ini pula. Di umur ku yang masih sangat muda seharusnya saat ini adalah waktu yang pas untuk menikmati kebahagiaan ku sebagai seorang gadis muda, akan tetapi aku harus mengorbankan masa indah itu demi sebuah pernikahan yang tidak bisa aku hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon myranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Aku pun pergi menjauh dari teman-teman ku agar pembicaraan ku dengan bibi Ely tidak terganggu. Aku pun menceritakan bahwa aku akan kembali ke kampung halaman.
" lalu apa nenek dan kakek kamu tahu soal ini?" kata bibi Ely
" belum bi.... Aku juga baru tahu malam ini"
" jadi kapan berangkat?" kata Bibi Ely
" belum tahu bi"
" lalu bagaimana dengan Sheena dan Alex, apa kamu sudah memberitahu mereka" kata Bibi Ely
" sepertinya tidak usah deh bi, karena jika Sheena tahu nanti dia pasti akan menangis."
" lalu bagaimana dengan Alex, kamu tidak kasih tahu dia juga??" kata bibi Eky
" tidak usah deh bi, lagian dia tidak akan perduli soal itu"
" perduli atau tidak tetap saja beritahu dia, bagaimana pun juga dia tetap suami kamu walaupun sampai saat ini dia belum bisa menerima pernikahan kalian. Setidaknya kamu sebagai istri tetaplah lakukan yang terbaik walaupun pada akhirnya kalian akan bercerai nanti nya."
" tapi saran dari bibi sih, walaupun akan bercerai tetaplah berhubungan baik jika kamu dan Alex terus menerus seperti ini bagaimana dengan Sheena. Sheena akan bertumbuh besar dan perlahan dia juga akan mulai mengerti tentang pernikahan kalian. Jika kalian begini terus tetap membangun tembok pemisah diantara kalian berdua yang jadi kasihan kan Sheena."
" memang Sheena bukan darah daging kamu, tapi walaupun begitu Sheena begitu menyayangi kamu dan kamu juga sebaliknya. Tetapi saat dia mengerti nanti dia juga tidak ingin kalian berdua seperti ini."
" bibi tidak ingin berbicara banyak, karena bibi juga tidak pernah mengalami hal yang seperti ini. hanya saja saran bibi jika tidak saling mencintai setidaknya tetap berhubungan baik" kata bibi Ely.
Setelah obralan kami berakhir aku pun terdiam sendiri sambil memikirkan perkataan bibi Ely akupun terdiam memikirkannya, karena yang dikatakan bibi Eky ada benarnya juga. Sebelumnya Kami tidak memiliki konflik apapun, akan tetapi kami berdua malah seperti musuh.
Aku memang pernah menyukai nya akan tetapi setelah menikah dan setelah mengenalnya dan setelah menjadi bagian dari keluarga nya, perlahan aku malah membencinya, Dan rasa benci itu muncul mungkin sejak saat dia membahas masalah pernikahan kontrak denganku.
Sebenarnya sih jika dipikir-pikir Alex melakukan hal itu untuk kebaikan ku sendiri kedepannya, akan tetapi entah kenapa aku tidak menerima nya dan menyakiti hatiku, dan wajar dia mengatakan hal itu karena dia juga baru saja kehilangan wanita yang dia cintai dan pasti tidak segampang itu baginya untuk menerima pernikahan dan membuka hatinya untuk orang lain. Mungkin saja hatiku yang cemburu dan egois sehingga menjadikan Alex sebagai musuhku. Dan jika dipikir-pikir selama ini Alex bersikap baik kepada ku dan akulah yang memulai permusuhan denganya.
Saat aku memikirkan hal ini kini Davin pun menghampiri ku.
" hay Grace sedang mikirin apa?....." kata Davin
" eh ... Pak Davin"
" kenapa???"
" kamu ada masalah?" kata Davin
" tidak ada kog,,,,"
" bicara dengan Sheena tadi ya...." kata Davin
" tidak..... tadi bicara dengan bibi Ely ibunya kak Cyndi."
" oh.... Kirain Sheena" kata Davin
" pak Davin kenapa kesini?"
" aku lihat kamu tadi bengong sendiri, jadi aku samperin." kata Davin
" sebenarnya aku mau gabung tadi, tapi pak Davin udah keburu datang" akupun tersenyum mengatakan hal itu.
" Oh iya Grace hari kamis nanti kita akan berangkat ke Medan apa kamu sudah tahu soal ini?" kata Davin
" aku sudah tahu tapi soal berangkatnya kapan aku belum tahu"
" Beberapa hari yang lalu perusahaan kita sudah survey lapangan dan teken kontrak, jadi hari senin tanggal satu kita sudah mulai pengerjaan."
" senin mulai bekerja, kita berangkat kamis apa itu tidak kecepatan pak"
" tapi sebelum itu kan kita udah harus mempersiapkan yang lain dulu, misalnya tempat tinggal, dan yang lainnya. "
" sementara sabtu Minggu libur, jadi kamu bisa mempergunakan waktu itu untuk menemui keluarga dan yang lainnya juga bisa menikmati liburan selama dua hari."
" jadi itu sebabnya berangkat dihari kamis" kata Davin
" siapa saja yang ikut pak?"
" dari manajemen desain, kamu, Roy, Nora itu saja dari desain."
" dari manajemen keuangan 2 orang, dari bagian personalia 2 orang, dan dari bagian pemakaian 2 orang itu saja sih...." kata Davin
" berarti 9 orang pak"
" yang pastinya ikut aku 10 orang" kata Davin
" oh iya.... Lokasi proyek nya dimana pak?"
" Di daerah Parapat tepat di pinggiran Danau Toba " kata Davin
" oh.... Di Parapat ya pak, kirain di daerah yang lain. Danau Toba ini kan luas pak, ada dia Samosir dan Samosir ini terbentuk beberapa daerah lagi, misalnya Tuktuk, Tomok dan lain-lain lagi, ada juga kota Balige tapi Balige ini sudah diluar Samosir, dan banyak lagi lah pokoknya "
" terus rumah kamu dimana nya?" kata Davin
" kalau aku di kota Medan pak, masih lumayan jauh dari daerah Danau Toba sekitar 4 jam lah dari medan kesana"
" oh.... lumayan jauh juga ternyata, kirain di daerah Danau Toba itu juga" kata Davin
" bukan.... Tapi kakek dan nenekku tinggal di daerah Danau Toba, nama kampung nya kota Balige dan jarak nya lumayan dekat dari Parapat sekitar satu setengah jam lah"
" oh..... "
" berarti dekat dong dengan lokasi proyek kita nanti"
" sebenarnya lumayan jauh juga, cuman karena disana kan tidak ada drama macet jadi cepat kalau ada macet lain lagi ceritanya "
" nanti kamu bawa aku keliling Danau Toba" kata Davin
" hehehehe...."
" jadi pemandu wisata ceritanya ya pak"
" boleh juga sih, asal nanti bayaran nya sesuai"
" hahahaha...."Davin pun tertawa
" boleh...boleh...."
" asal pemandunya juga kerjanya bagus " kata Davin tersenyum
" pak sebaiknya kita bergabung dengan mereka, tidak enak dengan yang lain...."
" nanti mereka jadi mikir yang lain-lain " akupun mengajak Davin untuk bergabung dengan yang lain karena merasa tidak enak dengan yang lainnya.