Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Liburan ke Bandung
Satu minggu kemudian
Raport semester satu telah selesai dibagikan. Kini saatnya Arkan dan teman- tannya libur sekolah. Pagi tadi umi Fatimah bersama Abi Abdul datang ke rumah Intan untuk menemui Arkan. Mereka bilang akan mengajak Arkan liburan ke Lembang Bandung bersama cucu- cucunya yang lain.
Mereka berencana mau menginap di sana beberapa hari. Sebenarnya abi Abdul mengajak Intan untuk ikut serta. Tapi umi Fatimah melarangnya dengan alasan tidak ada yang menjaga rumah.
Intan pun menolak karena malas juga jika dia ikut pasti nanti di sana ada saja masalah yang akan terjadi. Karena dasarnya dari awal Umi Fatimah tidak menyukai Intan, pasti apapun akan dipermasalahkan. Apalagi ada Wulan juga yang ikut serta.
Membayangkannya saja Intan sudah males sekali berada di antara mereka. Setelah kejadian pertengkarannya dengan Umi Fatimah, Intan memang mencoba untuk jaga jarak dengan keluarga mertuanya. Jika umi datang pun Intan tidak banyak bicara . Dia hanya bicara seperlunya saja karena takut salah ngomong yang pada akhirnya akan jadi masalah.
"Mama... Mama kok nggak ikut sih, nanti Arkan di sana gimana dong kalau butuh bantuan mama...?'' tanya Arkan.
Iya, Arkan memang masih kolokan dan manja, yang selalu saja harus ada sang mama jika ingin melakukan sesuatu. Jika ingin makan atau memakai pakaian sekolah pun harus disiapkan oleh mamanya.
"Eh Arkan... Kan ada nenek. Nanti nenek yang siapin semuanya..." sahut umi Fatimah.
Arkan pun menoleh pada sang mama. Intan mengangguk sambil mengusap kepala Arkan.
"Mama kan harus jagain rumah. Nanti kalau butuh apa- apa, Arkan bilang ke nenek ya..." Intan tersenyum pada sang putra semata wayang.
Arkan pun mengangguk.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Keesokan harinya Arkan dijemput oleh umi dan abi menggunakan mobil. Di dalam mobil ada suami Wulan yang mengemudi mobil, Wulan, dan juga anak- anak dari Wulan serta anak- anak Digra.
Umi Fatimah dan Abi Abdul turun untuk menjemput Arkan, sedangkan Wulan dan yang lainnya menunggu di mobil.
"Umi.. Abi... Titip Arkan ya..." ucap Intan sambil memberikan tas Arkan pada umi Fatimah.
"Iya, kamu juga baik- baik di rumah ya..." sahut Abi Abdul.
"Intan... Walaupun kamu di rumah sendirian, kamu jangan santai- santai terus. Urusi rumah.. tuh lihat ...rumput depan rumah sudah panjang kok nggak dicabut..." ucap umi Fatimah sambil menunjuk rumput yang tumbuh di luar pagar rumah Intan.
Intan hanya mengangguk saja karena males menyahuti omongan umi Fatimah yang menurutnya tidak penting.
"Sayang, nanti di sana kamu nurut sama kakek nenek ya..." ucap Intan sambil mengusap kepala Arkan.
"Iya mama... Mama baik- baik di rumah ya..." sahut Arkan lalu memeluk sang mama.
Entah kenapa tiba- tiba Intan merasa sedih melepas Arkan pergi walaupun hanya beberapa hari. Karena sebelumnya Arkan tidak pernah pergi jauh tanpa Intan.
"Hati- hati di jalan ya.. " Intan mengusap pipi Arkan lalu mengecup kening dan kedua pipi Arkan dengan lembut.
"Ya ampun... lama banget sih, nanti jalanan macet...!'' ucap Wulan melalui kaca mobil yang dibuka.
"Mau ke Bandung beberapa hari aja pamitannya lama banget kayak mau pergi ke luar negri bertahun- tahun..." sambung Wulan dengan ketus karena kesal menunggu Arkan terlalu lama.
Iya, Wulan memang begitu, tidak pernah sekali pun dia bicara yang enak di dengar jika berhubungan dengan Intan. Intan pun sering kesal dengan sikap jutek Wulan. Menurut Intan penampilan Wulan tidak sesuai dengan perbuatannya. Pakaiannya memang syar'i, tapi ucapannya selalu menusuk jantung Intan. Hingga membuat Intan merasa muak pada adik iparnya.
Intan menoleh ke arah adik tirinya beberapa saat kemudian kembali menatap Arkan.
"Arkan naik ke mobil ya, ingat pesan mama ya..." Intan kembali mengusap kepala Arkan.
Arkan lalu naik ke mobil dan langsung disambut oleh saudara sepupunya dengan hangat karena mereka memang cukup akrab. Apalagi kedua anak Dirga yang suka sekali dengan Arkan. Mereka suka gemas dengan mencubit pelan pipi Arkan setiap kali bertemu.
Intan lalu mencium punggung tangan abi dan umi. Lalu mereka berdua naik ke mobil. Dan mobil pun mulai bergerak meninggalkan kawasan perumahan tempat tinggal Intan. Intan melambaikan tangan pada Arkan yang juga melambaikan tangan padanya.
Tak terasa air mata Intan tiba- tiba turun membasahi kedua pipinya. Iya, entah kenapa Intan tiba- tiba merasa sedih Arkan pergi. Apa lagi setelah Intan masuk ke rumah, tiba- tiba dia merasakan kesepian seorang diri.
"Oh ya ampun, baru juga Arkan pergi untuk liburan beberapa hari ke depan, aku sudah kesepian seperti ini. Bagaimana nanti kalau kalau Arkan melanjutkan sekolah di pesantren , pasti aku akan lebih kesepian lagi. .." Intan menghapus air matanya.
Tiba- tiba ponsel Intan berdering dan di layar ponsel terlihat bu yuyun memanggil. Dengan enggan Intan mengangkat telpon dari sang ibu.
"Halo bu..." ucap Intan.
"Intan... Kamu bisa ke tempat ibu nggak...?" tanya bu Yuyun di ujung telpon.
"Ada apa bu...?'' tanya Intan.
"Ibu nggak enak badan..." jawab bu Yuyun.
Intan menghela nafas. Iya, sebenarnya Intan sedang kesal pada bu Yuyun. Satu minggu yang lalu Intan baru mengetahui jika sang ibu punya hutang di rentenir. Itu yang membuat bu Yuyun sering minta uang pada Aldy walaupun selama ini setiap bulan Intan memberinya uang dan juga sembako.
Dan rumah peninggalan dari sang suami yaitu pak Wito sudah di sita oleh rentenir, karena bu Yuyun sering menunggak bayar cicilan hutangnya.
Dan sekarang bu Yuyun tinggal di kontrakan tiga petak. Dan tentu saja Intan yang harus membayar biaya sewa kontrakan tersebut tanpa sepengetahuan Aldy. Iya, sejak umi Fatimah memarahi Intan karena bu Yuyun sering meminta uang pada Aldy, Intan melarang sang ibu untuk menghubungi Aldy lagi.
Bu Yuyun pun kelimpungan harus meminta uang ke mana lagi. Sedangkan sekarang bu Yuyun sudah tidak bekerja lagi. Bu Yuyun sudah tidak laku lagi jadi pekerja s*ks komersial. Maklumlah dia sudah tua, dan umurnya sudah hampir enampuluh tahun. tentu saja posisinya sudah tergeser oleh para pekerja s*ks yang muda- muda.
"Ibu juga belum makan..." ucap bu Yuyun.
"Ya udah nanti Intan ke sana, bawain makanan untuk ibu..." jawab Intan lalu mematikan sambungan telponnya dan bersiap untuk pergi ke rumah kontrakan sang ibu.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Intan meletakkan nasi dan juga lauk pauk di atas piring lalu memberikannya kepada sang ibu.
"Nih bu di makan..." ucap Intan.
Bu Yuyun yang sedang berbaring lalu bangun dan duduk di atas kasur. Lalu dia makan makanan yang Intan bawa dari rumah.
"Ibu sakit apa sih, kok mukanya pucat begitu...?'' tanya Wulan sambil menatap wajah pucat bu Yuyun.
"Sakit perut..." jawab bu Yuyun sambil menyuap makanannya.
"Kenapa...? Ibu suka telat makan...?'' tanya Intan. Bu Yuyun mengangguk.
Intan menghela nafas.
"Gimana ibu nggak telat makan, kamu saja jarang ngasih duit..." ucap bu Yuyun.
"Ya ampun bu, memangnya apa yang Intan kasih ke ibu selama ini masih kurang...?" Intan terlihat kesal karena sang ibu seolah tidak ada terima kasihnya.
"Ya kurang lah, ibu kan harus bayar hutang..." jawab bu Yuyun.
"Apa...? Ibu masih harus bayar hutang...? Bukannya hutang ibu sudah lunas...? Kan rumah ibu saja sudah di sita rentenir. Seharusnya hutangnya sudah lunas kan...?'' tanya Intan dengan kesal.
"Masih ada...'' jawab bu Yuyun sambil menunduk karena tidak berani menatap Intan.
"Ya ampun bu... Memangnya hutang ibu ada berapa sih...? Masa rumah sampai di sita , hutang masih belum lunas juga..? Trus ibu ambil hutang di rentenir untuk apa...?" Intan kembali menghela nafas .
"Sudah lah Intan... Kamu tidak perlu tahu ibu hutang untuk apa. Memangnya kamu tahu apa sih tentang ibu. Kamu sebagai anak juga nggak pernah ingat sama ibu. Kamu nggak pernah kasih uang ke ibu kalau ibu nggak minta duluan..." bu Yuyun malah balik marah pada Intan.
Intan memijit keningnya karena tidak mengerti dengan jalan pikiran sang ibu. Padahal selama ini Intan selalu memberi uang pada sang ibu tapi dibilang tidak pernah memberi uang.
"Cuma ngasih uang sebulan lima ratus ribu aja diungkit- ungkit terus..." sahut bu Yuyun.
Intan menggeleng- gelengkan kepala.
"Ibu selama puluhan tahun menafkahimu kerja keras banting tulang sendiri, agar kamu bisa hidup dan sekolah, ibu nggak pernah mengeluh. Tapi kamu selalu saja menyalahkan ibu..."
Intan kembali menghela nafas. Bu Yuyun memang begitu, jika Intan menyalahkannya tentang masalah hutang, dia langsung mengungkit apa yang pernah dia lakukan dari Intan masih kecil hingga besar.
"Sudahlah bu, tidak usah membahas soal itu lagi, Intan capek. Sekarang kan ibu sakit, ayo kita ke dokter...." ucap Intan yang mulai lelah mendengar ocehan sang ibu.
"Tidak usah, ibu sudah minum obat..." jawab bu Yuyun.
"Obat apa...?'' tanya Intan.
"Beli di warung..." jawab Bu Yuyun.
"Jangan keseringan minum obat warung, bu, nggak baik. Kita ke dokter aja biar ketahuan penyakitnya ibu..." Intan meraih tangan bu Yuyun namun sang Ibu malah menepisnya tetap menolak dibawa ke dokter.
"Ibu bilang ibu tidak mau berobat. Ibu minum obat warung saja. Ibu nggak mau merepotkan kamu terus...." jawab bu Yuyun.
Intan kembali menghela nafas heran dengan sang ibu. Tadi dia bilang Intan tidak perduli pada ibunya yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Namun saat Intan menawarinya untuk berobat, dia malah menolaknya.
"Arkan mana Intan...? Kok kamu tidak mengajak dia ke sini. Bukannya sekarang Arkan sedang libur sekolah...? Ibu kangen sama Arkan..." tanya bu Yuyun yang tiba- tiba ingat Arkan.
Intan pun memberitahu sang ibu kalau Arkan diajak liburan ke Bandung oleh keluarga Aldy dan menginap di sana untuk beberapa hari ke depan.
"Kok kamu nggak ikut...?" tanya bu Yuyun.
"Nggak bu, rumah nggak ada yang jagain..." jawab Intan.
"Bilang saja kamu nggak diajak sama ibu mertua kamu..." sahut bu Yuyun.
Intan menoleh ke arah sang ibu lalu menghela nafas.
"Memangnya hubungan kamu dengan ibu mertua dan adik iparmu masih belum baik juga...?'' tanya bu Yuyun.
"Belum...dan mungin tidak akan baik. Dari awal kan mereka tidak suka Intan. Jadi selamanya ya tidak akan suka..." jawab Intan dengan ketus.
"Nanti kalau ibu sudah nggak ada kamu bagaimana Intan. Kamu sebatang kara dong. Punya keluarga dari suami, tapi pada nggak akur..." ucap bu Yuyun.
"Ibu ngomong apa sih...?'' sahut Intan heran mendengar ucapan sang ibu yang tidak biasa.
"Ibu kan sudah tua, sebentar lagi mati. Kamu harus jaga diri baik- baik. Maaf kalau ibu selau merepotkan kamu..." ucap bu Yuyun sambil menatap lurus ke depan dan mata berkaca- kaca.
"Ibu jangan ngomong gitu ah..." sahut Intan.
Iya, Intan memang sering dibuat kesal oleh kelakuan sang ibu. Tapi jika sudah membahas tentang kematian, Intan jadi sedih.
Intan lalu berpamitan pada sang ibu untuk pulang. Tak lupa Intan memberi sedikit uang padanya dan janji akan membawakan makanan setiap hari selama bu Yuyun masih sakit.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Di tengah jalan Intan yang mengendarai sepeda motornya, berpapasan dengan Tantri. Mereka berhenti dan ngobrol sambil duduk di atas motor.
"Muka kamu lesu banget Intan, kenapa sih...?'' tanya Tantri.
Intan lalu menceritakan pada Tantri tentang bu Yuyun yang ternyata masih punya hutang pada rentenir.
"Ya ampun masih belum lunas juga, padahal rumahnya sudah di sita kan...?'' tanya Tantri.
"Itu hutang di rentenir yang lain lagi Tantri..." jawab Intan.
"Memangnya hutang buat apaan sih..? sampai rumah di sita masih hutang terus...?'' tanya Tantri.
"Aku juga nggak ngerti, setiap ditanya, jawabannya nggak jelas..." jawab Intan.
Tantri pun memberi saran pada Intan agar minta bantuan Aldy. Namun Intan merasa tidak enak hati pada suaminya. Karena Aldy pernah bilang padanya, bahwa dia tidak akan memberi uang lagi pada bu Yuyun kalau uang tersebut digunakan untuk bayar hutang rentenir.
"Ya coba saja Intan siapa tahu kali ini suamimu mau membantu..." ujar Tantri. Intan pun mengangguk.
Ketika sampai di rumah, Intan langsung menghubungi Aldy dan mengatakan semua tentang bu Yuyun yang masih punya hutang pada rentenir. Dan tentu saja jawaban Aldy seperti yang sudah diprediksi oleh Intan.
Iya, Aldy marah dan mengatakan pada Intan jika dia tidak sudi membayar hutang ke rentenir. Karena bagi Aldy semua yang berhubungan dengan rentenir itu haram. Dan yang cukup membuat Intan sedih adalah Aldy mengatakan jika dia tidak berkewajiban untuk membiayai kehidupan mertua.
"Ya ampun... Aku harus minta bantuan pada siapa lagi kalau begini...?'' ucap Intan setelah sambungan telponnya dengan Aldy berakhir.
"Ah sudahlah... Ngapain aku pusing- pusing mikirin hutang ibu. Kewajibanku hanya memberi uang ibu untuk makan, bukan untuk bayar hutang..." sambung Intan lalu melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Dua hari kemudian, pukul delapan malam Intan baru pulang kondangan di rumah tetangga yang sedang hajatan. Karena badannya terasa lengket, Intan pun kembali mandi. Apa lagi malam ini hawanya terasa panas. Mungkin karena musim kemarau.
"Ah seger sekali..." Intan menggosok- gosok rambutnya dengan handuk.
Kemudian Intan melilitkan handuk ditubuhnya lalu keluar dari kamar mandi. Namun samar- samar Intan mendengar suara mobil di garasi.
"Kok ada suara mobil...? Apa mas Aldy pulang...?'' gumam Intan.
"Intan...Intan..." terdengar seseorang memanggil dari ruang tamu dan suaranya mirip seperti Aldy.
"Ah iya mas Aldy..." Intan segera keluar dari dalam kamar hanya menggunakan handuk yang dililitkan di tubuhnya.
Namun saat Intan keluar dari kamar, dia kaget karena yang memanggilnya bukanlah Aldy melainkan Dirga yang sefang berdiri di dekat meja makan. Tentu saja Intan kaget apalagi dia hanya menggunakan handuk saja. Begitu juga dengan Dirga yang tak berkedip melihat tubuh Intan berbalut handuk warna putih dan rambut basah yang terurai.
Bersambung...