Mariam Musa dan Medina.
Medina mengetahui bahwa jauh di dalam hati Musa masih tersimpan cinta yang besar untuk Mariam. Medina sangat mencintai Musa, dan walau bagaimanapun dia tetaplah seorang istri yang ikut menderita kala melihat suaminya berjuang melupakan cinta pertamanya.
Terlebih setelah takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sulit.
Keihlasan Medina yang harus jatuh bangun mengejar Mariam.
Hanya untuk sebuah pengabdian agar suaminya bahagia.
Medina bodoh, tidak!
Ridho suami dan ridho Allohlah yang dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betti Cahaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Terakhir Biantara
Aku merasa terhina, seolah ikatan pernikahanku dengan Mas Bian tidak berharga. Belum kering tanah kuburannya, mereka sudah datang melamarku. Tanpa peduli hatiku yang masih terluka.
Aku memang pernah begitu mencintainya, tapi caranya datang saat ini membuatku berpikir dia bukan lagi orang yang pernah kukenal. Apa dia berpikir pendek? Atau ini akal-akalan Medina, istrinya? Atau dia memang benar-benar terburu nafsu? Sama sekali bukan Mizan yang kukagumi.
Apa dia pikir, kisahku dan Mas Bian tidak indah? Sampai-sampai dia menggunakan kisah masa lalu sebagai alasan untuk terus maju walaupun pernah kutolak sekali. Dia memang berilmu tapi seandainya Mas Bian yang ada di posisinya, pasti dia lebih bijak. Kamu jauh-jauh ke luar negri belajar apa? Sampai hal seperti ini kamu bertindak bodoh.
Aku hanya menatap Mizan yang membisu di bawah ketiak istrinya, entah kenapa sekarang aku justru membencinya, semua tentangnya salah di mataku. Padahal, bertahun-tahun aku memendam rindu.
Mizan. Dulu kepergianmu membuatku terluka, sekarang kehadiranmu juga menorehkan luka yang lain. Hatiku belum siap menerima perasaanmu, walaupun cintamu pernah bersemayam lama di hatiku. Andai kamu sedikit bersabar, tunggu lukaku kering, bukan seperti sekarang. Kamu justru menaburinya dengan garam.
"Haruskah aku memberi alasan agar Mba menerima niat kami?" tanya Medina yang masih tidak terima lamaranya kutolak.
"Mba!" seru Medina ketika aku tidak menanggapi ucapannya.
Kutarik nafas dengan berat, sesekali aku mencuri pandang ke arah Mizan, dia benar-benar nyaman menjadikan istrinya tameng dan dia duduk manis berlindung.
"Katakan."
"Oktavia butuh figure seorang ayah." Kata-kata yang keluar dari mulut Medina semakin membuatku marah, berani-beraninya sekarang dia membawa-bawa Oktavia.
"Aku akan menjadi ayah sekaligus ibunya," jawabku kesal.
"Mba ... pasti tidak mudah, Oktavia anak perempuan, bagaimanapun dia harus memiliki sosok lelaki sebagai pelindungnya, ijinkan kami mengurangi bebanmu Mba, " bujuk Medina.
Dia benar, setiap malam aku selalu ketakutan. Membayangkan apa saja yang akan terjadi esok hari, tanpa sosok laki-laki sebagai pelindung memang membuat hidupku selalu diliputi rasa cemas. Bisakah aku melindungi Oktavia dari dunia yang jahat hanya dengan kedua tanganku?
"Aku bisa sendiri," jawabku lirih, namun aku berusaha terdengar meyakinkan.
"Mariam ...." Akhirnya kudengar dia berani bersuara.
" Ehm ... Aku belum benar-benar mengungkapkan rasa dukaku atas kepergian almarhum Pak Biantara. Aku ikut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergiannya yang begitu mengejutkan."
"Aku juga merasa kehilangan, Pak Bian sosok yang hebat, hanya beberapa kali berbincang dengannya aku sudah merasa akrab seperti kawan lama. Pasti tidak mudah kehilangan seseorang yang begitu mencintaimu dengan cara yang luar biasa, aku tahu kehidupan kalian sangat indah dari caranya bercerita tentangmu." Mizan, dia berbicara dengan tulus, hatiku kembali melemah.
"Mariam ... kamu tahu? Dia bilang tidak mudah baginya meyakinkanmu untuk menjadi pendamping hidupnya, tapi dia tetap berusaha dengan keras karena saat itu dia yakin kamu adalah jodohnya. Sekarang aku tahu, dia sedang memperingatkanku bahwa suatu saat akulah yang harus berjuang dengan keras untuk meyakinkanmu karena aku yakin, kamu masih berjodoh denganku." Ucapan Mizan mampu membius kami semua, tidak ada yang berani bicara menyelanya.
"Sembuhkan dirimu Mariam, tidak ada kehilangan, suamimu tidak benar-benar hilang, dia tetap ada, tetap hidup di dalam hatimu."
Air mataku kembali jatuh, hatiku yang hampa tiba-tiba terasa hangat dan kembali terisi. Mizan benar, Mas Bian sebenarnya tetap ada di hatiku, dia tidak benar-benar pergi. Seperti magic, aku kembali merasakan kehadirannya. Aku rindu.
Aku terlalu meratapi jasadnya yang pergi, terlalu larut dalam kesedihan, terlalu kalut dalam pikiran, terlalu jauh dalam membayangkan. Aku sibuk menghitung yang pergi, sampai aku lupa menghargai rasa cinta yang masih ada.
"Mariam ... dengarlah, ada satu alasan yang membuatku yakin sampai tak tahu malu datang dua kali melamar seperti ini. Saat berbicara dengan almarhum Pak Biantara, dia seolah memberi pertanda bahwa dia menitipkan kamu dan Oktavia padaku. Aku juga baru menyadarinya akhir-akhir ini, Demi Alloh Mariam, aku tidak berdusta, cara almarhum Pak Bian membuka diri untuk kita sama-sama bicara sebagai teman lama, juga seolah pertanda, dia membantuku membuka kembali jalan yang sudah tertutup di antara kita karena salah paham."
Kata-kata Mizan seperti petunjuk yang menyuruhku untuk berdamai dengan keadaan, Mas Bian tidak benar-benar pergi tanpa pertanda. Apakah Mizan yang menerima semua firasatnya?
Semua terdiam, hanya menyisakan diriku yang terisak.
"Mba Mariam ... Ibu tahu Mba masih dalam keadaan bersedih, tapi kami tidak akan ke sini kalau bukan Alloh yang menggerakan kami untuk mendatangimu. Insha Alloh, Mba, ini petunjuk dari Alloh agar Mba kembali bangkit dan melanjutkan hidup. Masing-masing dari kami juga sudah melalui istihkarah untuk melanjutkan atau tidak melanjutkan, tidak singkat proses kami sekarang berada di sini, tapi Alloh memberi petunjuk yang sama pada masing-masing doa." Ibu Aini kembali berbicara, kata-kata yang membuka mataku, hatiku bergetar mendengarnya.
Mas Bian, inikah caramu menjagaku dan Oktavia dari atas sana?
"Mba Mariam ... kalau memang Mba ingin menjadi satu-satunya istri Mizan, kita bisa bicarakan nanti. Semantara orang yang paling bersikeras memintamu menjadi istri Mizan adalah Medina." Aku menatap Medina yang kini terdiam seiring dengan ucapan Bu Aini.
"Kami semua dengan senang hati akan menerima Oktavia sebagai bagian dari keluarga kami, Ibu harap Mba Mariam mempertimbangkan niat ibadah kami yang ingin melindungi anak yatim, Ibu berjanji akan memberikan pendidikan yang terbaik dan kasih sayang yang tak terhingga untuknya. Bagaimana? Apa alasan kami cukup pantas dipertimbangkan?"
Bu Aini dan Mas Musa cukup membuatku bimbang sekarang. Mereka benar, keadaanku masih sangat labil, bagaimana Oktavia akan aman bersandar padaku? Selama ini aku belum bisa sepenuhnya berdamai dengan keadaan, kepergian Mas Bian yang tiba-tiba membuatku lebih banyak menyalahkan keadaan dari pada menerima takdir.
"Kami menerima lamaran keluarga Bu Aini ... asalkan cucu saya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari keluarga Ibu, saya rasa Mba Mariam tidak keberatan menjadi istri kedua!" jawab Ibuku, dan aku tersentak mendengarnya.
"Bu!" Tangan ibuku meremas tanganku mengisyaratkan untuk tidak membantah.
"Benarkah?" tanya Bu Aini dengan mata yang berbinar, wajah Mizan dan Medina pun tampak sumringah mendengarnya.
"Iya ... Mba Mariam keadaannya belum sepenuhnya stabil, saya selaku orang tua berhak mengambil keputusan demi kebaikan anak dan cucu saya. Sebagai ibu saya merasa lebih tenang jika sudah ada yang bertanggung jawab dan melindungi anak saya. Iya kan, Mba?" Aku terperangah dan masih berusaha mencerna ucapan ibuku.
"Mba, benarkan?!" tegas ibuku lagi, entah apa yang kupikirkan tiba-tiba dengan refleks aku menganggukan kepala.
"Alhamdulillah ...!" Terdengar mereka senang dengan anggukan yang tidak kumengerti, bahkan Mizan dan Medina saling berpelukan, Bu Aini mengkupkan tangan ke wajah dan seorang laki-laki di sampingnya yang tersenyum dengan sedikit paksaan, aku mengenalnya, tapi aku lupa.
Apa hanya aku yang mengambang di sini? Kenapa mereka semua bergembira?
.......
emang ada gitu hehehee