NovelToon NovelToon
Selingkuh With Bocah

Selingkuh With Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Marica

Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.

Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.

Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?

Yuk ikuti ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SWB Chapter 28

Setelah kejadian beberapa waktu lalu, hubungan Intan dan Giovanni semakin dekat dan akrab. Ada kenyamanan yang tumbuh begitu alami, nyaris tak disadari, seolah kehadiran satu sama lain telah menjadi bagian dari rutinitas yang menenangkan. Umur tidak lagi menjadi jarak di antara mereka. Bersama Giovanni, Intan merasa didengar tanpa dihakimi. Ia bisa mencurahkan isi hatinya, tentang keinginannya, kegelisahannya, hingga masalah hidup yang selama ini ia simpan rapat.

Namun kali ini, Intan harus merasakan kesepian yang samar tapi mengganggu. Giovanni sedang cuti. Ironisnya, justru Intan sendiri yang meminta pemuda itu mengambil cuti agar bisa fokus menghadapi ujian akhir sekolahnya. Keputusan yang masuk akal, tetapi meninggalkan ruang kosong yang tak terduga.

Sudah hampir satu minggu Intan tak bertemu dengan Giovanni, kekosongan itu merayap perlahan membuat pikirannya mudah melayang dan sulit berkonsentrasi. Setiap sudut kafe yang sedang ia persiapkan terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya. Padahal hanya beberapa hari lagi kafe barunya akan dibuka untuk umum, mimpi yang seharusnya membuatnya bersemangat, bukan gelisah.

Drrttt...

Getaran ponsel di atas meja membuat Intan tersentak dari lamunannya. Ia meraih ponsel itu dan membaca pesan yang masuk. Undangan reuni dari teman-teman kampusnya dulu. Intan menatap layar cukup lama, jari-jarinya menggantung ragu di atas papan ketik.

Intan melihat undangan itu sambil mempertimbangkannya. Ilham juga sedang keluar kota. Kepalanya saat ini penuh dengan beban dan pikiran yang menyesakkan. Ia merasa butuh keluar, butuh suasana lain, sekadar bernapas tanpa peran dan tuntutan. Akhirnya Intan membalas pesan, mengiyakan undangan dengan perasaan setengah lega.

Malam pun tiba. Intan melajukan mobilnya menuju lokasi reuni yang ternyata diadakan di sebuah club malam. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan. Klakson bersahut-sahutan, lampu-lampu kota memantul di aspal basah, menandakan malam minggu yang sibuk. Di balik kemacetan itu, Intan justru merasa sedikit tenang, seolah hiruk-pikuk di luar mampu menenggelamkan kebisingan di kepalanya.

Setelah berkutat dalam kemacetan akhirnya Intan sampai di club malam tujuannya. Intan segera memarkirkan mobilnya setelah itu turun dari mobil. Angin malam langsung menyambutnya, membawa aroma asap kendaraan.

Intan tampak cantik dalam balutan dress hitam ketat sepanjang lutut. Rambutnya terurai rapi, riasan wajahnya sederhana namun tegas, mencerminkan sisi dewasa dan percaya diri yang sering ia sembunyikan di balik kesibukan.

"Intan."

Panggilan itu membuatnya menoleh. Dua wanita berjalan mendekat, wajah mereka terlihat antusias seolah tak menyangka bisa bertemu lagi. "Kamu benar Intan, kan?"

Intan tersenyum tipis lalu mengangguk. Meskipun begitu keningnya sedikit berkerut. Ada rasa asing bercampur penasaran.

"Aku Ica sama Ayu. Masa kamu lupa?" protes Ica sambil terkekeh. "Kita dulu satu kelas loh."

Intan terdiam beberapa detik, memori-memori lama berputar di kepalanya. Begitu ia mengingat, senyumnya mengembang lebih lebar. Ada kehangatan yang tiba-tiba muncul, seperti membuka kembali halaman lama yang sempat terlupakan.

"Kalian…? Iya, aku ingat sekarang. Apa kabar?"

"Kami baik," jawab Ayu cepat. Tatapannya penuh rasa ingin tahu. "Kamu sendiri apa kabar?"

"Aku juga baik," balas Intan, meski di balik senyumnya terselip lelah yang hanya ia sendiri yang tahu.

Mereka akhirnya bercengkerama sejenak di area parkir, tawa kecil menyelip di antara cerita singkat tentang masa lalu. Untuk sesaat, Intan merasa lebih ringan. Kemudian, mereka bertiga melangkah masuk ke dalam club malam.

Kedatangan mereka langsung disambut cahaya lampu warna-warni dan dentuman musik yang kian menguat, membuka malam yang tampaknya akan penuh kejutan dan perasaan tak terduga.

-

-

Waktu terus berputar tanpa terasa. Jam yang melingkar di pergelangan tangan Intan sudah menunjukkan malam yang semakin larut, namun Intan sama sekali tidak menyadarinya. Tawa dan obrolan ringan bersama teman-teman lama membuatnya larut dalam nostalgia. Hanya satu yang terasa kurang, Davina tidak ada di sana. Sahabatnya itu harus absen karena kesibukan yang tak bisa ditinggalkan, meninggalkan sedikit ruang kosong di hati Intan.

Di tengah keseruan itu, Intan tiba-tiba merasa kantong kemihnya penuh. Rasa tidak nyaman itu memaksanya untuk menghentikan obrolan. "Aku ke kamar mandi dulu," ucapnya sambil berdiri.

"Mau aku temani, Intan?" tawar Ica dengan nada penuh perhatian.

"Tidak usah. Aku hanya sebentar," tolak Intan sambil tersenyum kecil.

"Baiklah," balas Ica lantas kembali mengobrol dengan yang lainnya.

Intan melangkah menyusuri ruangan. Lantai mengilap memantulkan cahaya lampu, aroma parfum bercampur minuman menguar di udara. Ia sempat bertanya pada salah satu pelayan mengenai letak toilet. Pelayan itu menunjuk ke arah lorong yang sedikit lebih sepi. Intan mengangguk dan berjalan ke sana, langkahnya pelan namun pasti.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu toilet, Intan tertegun. Ada firasat aneh yang membuatnya ragu. Ia membuka pintu sedikit, lalu buru-buru menutupnya kembali. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ia melangkah mundur dengan tergesa dan tanpa sengaja menabrak seseorang.

"Maaf," ucap Intan reflek sambil berbalik.

Kalimat itu berhenti di tenggorokannya. Matanya terbelalak kecil ketika mendapati sosok yang dikenalnya berdiri tepat di hadapannya.

Pangandaran keduanya bertemu pada satu titik yang sama. Senyum keduanya sama-sama merekah, ada perasaan yang sulit untuk dijelaskan muncul di dada mereka. "Gio."

Pandangan mereka masih bertaut dengan Giovanni. Sejenak, dunia di sekitar mereka seakan meredup. Suara musik terdengar jauh, digantikan detak jantung yang sama-sama berdegup lebih cepat. Senyum spontan merekah di wajah keduanya, senyum yang lahir dari rasa akrab dan perasaan yang belum sepenuhnya terdefinisi.

"Ngapain?" tanya Giovanni. Suaranya ringan dan matanya meneliti Intan.

"Aku ada acara di sini," jawab Intan. "Dan ... aku mau ke toilet. Tapi ... " Ucapannya menggantung, ia melirik sekilas ke arah pintu di belakangnya, wajahnya sedikit memerah.

Merasa ada yang janggal, Giovanni mengulurkan tangan dan membuka pintu toilet itu. Seketika ia menghela napas pendek, lalu tersenyum sinis melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Seorang pria dan wanita tengah larut dalam hasrat mereka, sama sekali tak peduli pada sekitar.

Giovanni menutup kembali pintu toilet itu rapat-rapat. "Mungkin mereka tidak punya uang untuk menyewa hotel."

Intan mengernyit geli sekaligus canggung. "Aku pergi saja," ucap Intan cepat. Rada tidak nyaman membuat Intan ingin segera menjauh.

Namun saat ia berbalik, Giovanni meraih lengannya. Sentuhan itu ringan, tetapi cukup membuat Intan berhenti dan menoleh.

"Kita ngobrol sebentar," ajak Giovanni. Nada suaranya lembut, hampir seperti permohonan.

Intan menelan ludah. Ada keraguan, ada juga perasaan ingin tahu yang tak bisa ia pungkiri. Pada akhirnya ia mengangguk pelan untuk menerima ajakan pemuda itu.

Giovanni tersenyum, lalu menuntunnya ke sudut ruangan yang lebih tenang, jauh dari dentuman musik dan keramaian. Cahaya di sana lebih redup, menciptakan suasana intim. Mereka duduk berhadapan, dihalangi meja bundar kecil di tengah, cukup dekat untuk saling merasakan kehadiran satu sama lain.

"Kamu apa kabar?" tanya Intan membuka obrolan. Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

"Baik," jawab Giovanni tanpa ragu. Ia lantas menatap Intan lekat. "Lebih baik setelah bertemu kamu."

Ucapan itu membuat dada Intan menghangat. Ada getar halus yang menjalar, membuatnya hampir salah tingkah. Ia tersenyum, berusaha menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba muncul, perasaan yang rupanya belum sepenuhnya pergi sejak pertemuan terakhir mereka.

"Oh iya kamu sering ke sini?" tanya Intan untuk mengalihkan rasa gugupnya.

"Tidak terlalu," jawab Giovanni. "Bagas tadi yang mengajakku ke sini."

Intan manggut-manggut. Setelah itu tidak ada lagi obrolan. Di tengah sudut ruangan yang sunyi itu, di antara cahaya temaram dan jarak yang semakin menyempit, ada sesuatu yang perlahan tumbuh kembali, tanpa perlu banyak kata.

"Emm, Gio ... sebaiknya aku kembali. Aku takut teman-temanku menunggu," pamit Intan.

Giovanni mengangguk. "Aku antar."

Intan segera menggeleng. "Tidak usah. Kamu cepat temui teman-temanmu saja."

"Kamu yakin?" tanya Giovanni memastikan.

"Hmm." Talia bergumam untuk merespon ucapan Giovanni.

Setelah itu keduanya berpisah, menyisakan ruang kosong di dada masing-masing.

Giovanni melangkah menuju tempat teman-temannya berkumpul, meskipun terkadang mata elangnya mengawasi Intan yang duduk lumayan jauh darinya. Hingga hampir satu jam, ponselnya tiba-tiba berdering. Ada panggilan masuk dari Intan.

Reflek pandangan Giovanni mengarah pada Intan yang entah berasa di mana. Tanpa menunggu waktu lagi Giovanni menerima panggilan itu.

"Halo," sapa Giovanni.

"Gio ... tolong!"

1
sunshine wings
Storynya bagus
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
ig: Marica_Author
siap kak 🥰
Arinawati Rina
lanjut dong kak lgi seru nich
ig: Marica_Author
insyaAllah ya kak. tak tamatin yang satu dulu🙏
Yuli Yulianti
up nya sering sering dong thor
Yuli Yulianti
sudah waktu nya kamu jujur intan biar mm mu tau kebejatan Ilham ..
Happy Kids
terlalu jaga perasaan jd nya dibalik kan sama suamimuu wkwkwkw harusnya nindi ttp dikasi tau
sunshine wings
Bukan menggalakkan perselingkuhan tapi kalo keadaan sudah begini.. Hubungan suami isteri gak boleh diselamatkan lagi lebih baik berpisah.. Berpoligami benar tapi kalo gak adil sama juga boongnya..
sunshine wings
Yes.. Kebenaran itu adalah hakiki.. 🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
Mangkanya Intan.. Terus terang pada ibumu.. Menjelaskan secara perlahan² jadi gak kaget..
sunshine wings
benar apa kata Gio, Intan..
sunshine wings
Kenapa ndak jelaskan pada mamamu duduk perkara yg sebenarnya Intan supaya mama lebih mengerti.. Terus terang jangan sembunyikan.. Jadi ada solusinya..
sunshine wings
Satu aja caranya Intan.. Rumah itu dijual..
sunshine wings
Suami dayus..
sunshine wings
Siapa yg mau sisa biarpun dibolehkan poligami itu.. Jijik rasanya.. 🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️
sunshine wings
Ya terserahlaa mas.. tp ikut jalan masing²..
sunshine wings
Wow.. Gio udah menunjukkan rasa.. 😍😍😍😍😍
sunshine wings
🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
🤭🤭🤭🤭🤭🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
Hati Gio udah tersangkut..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!