Bismillah karya baru FB Tupar Nasir
WA 089520229628
Sekuel dari Ya, Aku Akan Pergi Mas Kapten
Kapten Excel belum move on dari mantan istrinya. Dia ingin mencari sosok seperti Elyana. Namun, pertemuan dengan seorang perempuan muda yang menyebabkan anaknya celaka mengubah segalanya. Akankah Kapten Excel Damara akan jatuh cinta kembali pada seorang perempuan?
Jangan lupa ikuti kisahnya, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Ketahuan
Suara orang yang sedang berbicara di luar itu semakin dekat. Zinni segera beranjak dari ruang tengah, lalu dia memasuki sebuah kamar yang dulu tempat Zinni tidur.
Tidak perlu susah payah, Zinni membuka pintu kamarnya itu, karena pintu kamar itu sudah tidak terkunci lagi. Sepertinya kamar miliknya itu, pernah dimasuki orang. Padahal dulu, semua pintu, termasuk kamarnya sudah ia kunci semua sebelum ia meninggalkan rumah itu.
Zinni segera memasuki kamarnya yang telah usang. Kasurnya pun usang dan lapuk serta banyak sarang laba-laba. Zinni bersembunyi di balik lemari miliknya yang kini kotor penuh debu.
"Ya Tuhan, selamatkan aku. Jangan sampai orang-orang itu masuk dan menemukan aku," doanya penuh harap.
Sementara orang yang terdengar suaranya di luar tadi, masih berada di belakang rumah Zinni. Mereka mengamati tanah milik Zinni yang luasnya lumayan, yaitu 500 meter persegi, dengan keadaan yang sangat strategis. Bagaimana orang tamak seperti Juragan Awan tidak tertarik dengan keadaan tanah yang cukup strategis seperti itu? Bela-belain dia menyuruh anak buahnya memantau tanah itu jauh hari.
"Juragan Awan mulai bulan depan sudah akan memerintahkan tanah ini segera dibersihkan dari rumput-rumput liar. Dia ingin mendirikan ruko-ruko yang akan disewakan pada orang yang berminat jualan di sekitar sini," tutur pria yang berbaju kemeja krem seraya menatap ke depan dengan awas.
"Kenapa Juragan Awan ingin mendirikan ruko, padahal ini hanya sebuah perkampungan? Mana ada orang kampung sini yang mau menyewanya? Mereka tentu tidak mau jualan rugi karena sepi pembeli," timpal pria yang berkaca mata merasa mustahil apa yang menjadi rencana Juragan Awan.
"Juragan Awan ingin menjadikan kampung ini ramai seperti di kota. Dia ingin orang kampung Sami Mawon, berbelanja ke ruko ini, daripada harus belanja ke pasar yang letaknya lumayan jauh dari sini," balas pria berkemeja krem.
"Tapi, aku rasa rencana Juragan Awan kurang berpotensi dengan baik. Sebab orang-orang kampung ini, tidak terlalu bergaya konsumtif dalam perihal makanan. Mereka malah banyak menaman sayuran di kebunnya masing-masing untuk diolah dari pada beli makanan di luar," tukas pria berkaca mata.
"Betul juga apa yang kamu katakan. Harusnya ke rencana awal saja, kebun ini bisa ditanami sayuran dan ubi serta pisang, yang penting menghasilkan, sehingga tanah ini ada fungsinya, tidak terbengkalai seperti ini," kata pria berkemeja krem.
"Lalu ke mana gadis pemilik tanah ini? Sayang sekali tanah seluas ini dirampas begitu saja oleh Juragan Awan."
"Entahlah. Kenapa juga Juragan Awan mengeluarkan keputusan tidak jelas seperti itu? Bikin sengsara rakyatnya saja," ujar pria berkemeja krem sangat menyayangkan.
"Ah sudahlah. Jangan sampai pembicaraan kita ini didengar tangan kanan Juragan Awan yang mulutnya comel dan ember, bisa bahaya kita. Tugas kita hanya memantau dan melaporkan keadaan tanah ini, sekaligus mengawasi keberadaan gadis pemilik tanah itu, itupun jika dia pulang ke kampung ini."
"Sebaiknya kita kembali. Dua minggu kemudian kita harus datang ke sini lagi untuk melakukan pengawasan dan observasi tanah," pungkas pria berkemeja krem seraya membalikkan badan.
Setelah pria berbaju krem itu membalikkan badan, matanya dibuat terkejut ketika melihat rumput ilalang sekitar belakang rumah itu teronggok begitu saja, jika rumput yang teronggok itu milik pengarit, lantas kenapa si pengarit tidak mengambil rumputnya, ini malah dibiarkan?
"Kenapa ada rumput teronggok di sini, apakah ada orang yang ngarit ketinggalan rumputnya?" Pria berkaca mata keheranan. Disusul pria berkemeja krem, sama herannya.
Mereka berdua menaruh curiga kalau tadi ada orang yang masuk ke dalam rumah ini.
"Apa tadi ada orang yang masuk ke rumah ini lewat pintu belakang?" duga pria berkaca mata merasa janggal.
"Entahlah. Apa kita masuk saja ke dalam untuk memastikan?" tanya pria berkemeja krem. Pria berkaca mata mengangguk dan setuju kalau mereka masuk dan mengontrol ke dalam.
Mereka sudah berada di dalam, matanya bergulir ke seluruh ruangan yang berdebu dan penuh serangga laba-laba.
"Sepertinya aman dan tidak ada orang yang masuk," simpul pria berkemeja krem.
"Aku rasa seperti itu. Tapi, tunggu dulu. Lihat lantai itu, kenapa bisa bersih dengan sapu usang berada di dekatnya? Apa, tadi ada orang memasuki rumah ini? Sebaiknya kita menyebar, cari orangnya di dalam setiap ruangan," titah pria berkaca mata, mencurigai.
"Baiklah. Ayo, kita segera cari." Pria berkemeja krem mengajak untuk segera mencari ke dalam tiap ruangan, yang kemungkinan dimasuki orang yang masuk ke rumah peninggalan orang tua Zinni ini.
Sementara Zinni yang sedang berada di dalam kamarnya, sedang mencari jalan untuk bersembunyi. Dengan tergesa ia memburu lemarinya, lalu memasuki lemari pakaian gantung, dan dia bersembunyi di sana, meskipun cara ini tidak yakin akan aman. Yang penting Zinni sudah berusaha menyembunyikan diri.
"Ya Allah, semoga mereka tidak menemukan aku," pinta Zinni sungguh-sungguh, dengan perasaan yang sangat sedih dan putus asa. Tapi, yang bisa Zinni lakukan saat ini, hanyalah sembunyi dan pasrah saja menerima nasib.
Pintu kamar Zinni mulai terdengar dibuka, hati Zinni langsung ciut. Dia terus saja berdoa agar dirinya selamat dan tidak diketahui pria itu.
Derap langkah kaki semakin dekat menuju lemari. Zinni memejamkan mata. Seraya berharap pria itu tidak menemukan dirinya.
Sayang sekali sepertinya doa Zinni sedang tidak terkabul. Sekali tarik pintu lemari itu terbuka. Sorot cahaya senter memasuki lemari itu, membuat mata Zinni terasa silau.
"Lho, ternyata ini. Brad, dia ada di sini. Aku sudah menemukan orangnya," teriak pria yang berkemeja krem pada rekannya yang sedang memeriksa ruangan lain.
Pria berkaca mata yang tadi namanya disebutkan tadi, segera memasuki kamar milik Zinni. Dia penasaran dengan yang diteriakkan rekannya tadi.
Zinni menutup wajahnya saat sorot senter menyoroti wajahnya, dia tidak mau wajahnya dikenali orang-orang suruhan Juragan Awan. Namun, sayang sekali, mereka justru berusaha dengan sekuat tenaga menarik kedua lengan Zinni sampai tubuh Zinni keluar dari lemari itu.
"Lepaskan. Jangan kalian sentuh tangan saya!" sentak Zinni ketakutan.
"Diam, kamu rupanya anak gadis pemilik rumah ini. Kebetulan sekali. Ayo ikut kami!" ajak pria berkemeja krem itu seraya menarik lengan Zinni keluar.
"Jangan tarik tangan saya keluar, ini rumah saya. Aduhhh, sakitttt. Kenapa kalian tega melakukan ini padahal ini rumah peninggalan orang tua saya?" ujar Zinni seraya berusaha berontak. Namun, sia-sia.
"Nanti kamu tanyakan saja pada Juragan Awan. Sekarang lebih baik diam saja dan ikut kami," paksa Brad tidak ada ampun.
Zinni menahan tubuhnya sekuat mungkin di dalam rumah itu. Sayang sekali tenaga mereka terlalu kuat.
"Pak Excel, Pak. Ayo angkat Hp nya," jerit Zinni yang tangannya berhasil meraih Hp di dalam tas, lalu menghubungi Excel.
"Pak, saya mohon. Saya tidak tahu salah saya apa. Untuk itu, saya mohon izinkan saya diam di rumah saya ini, saya tidak akan lari, toh ini rumah saya sendiri." Zinni mencoba melobi atau mengecoh kedua orang suruhan Juragan Awan. Nanti kalau lengah dia akan lari ke jalan besar untuk mencegat angdes.
Kedua pria itu saling lempar tatap seperti tidak yakin.
"Kenapa dengan kalian berdua, Pak? Saya siang tadi baru datang ke rumah ini, sengaja ingin menengok dan tinggal beberapa saat di sini, tapi kalian tiba-tiba datang dan memperlakukan saya persis penjahat," tukas Zinni berusaha kuat padahal sebenarnya takut.
semoga saja benar ya Thor ☺️🤩