Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.
Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.
"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Pernikahan Berdarah
Elleta menatap tajam ke cermin yang memantulkan dirinya. Gaun putih yang melekat di tubuhnya, rumbai-rumbai seperti jaring mancing bikin sakit mata.
Perias sedari tadi merias Elleta dengan raut wajah yang cerah. Namun, tak secerah suasana hati Elleta.
“Nona Elleta, memang sangat cantik. Aura pengantinnya keluar, jadi pangling liatnya,” puji perias itu. Elleta tak menjawab pujian itu, di kepalanya hanya ada susunan rencana yang akan ia lakukan.
Perias itu tersenyum bangga hingga matanya menyipit, melihat hasil riasannya. “Sudah Selesai, Nona.”
Brak!
Suara pintu ditendang kencang hingga membentur dinding, Elleta menoleh. Matanya menyipit karena senyuman cerahnya.
Itu Michael. Seperti rencananya tadi malam, ia harus kabur gimanapun caranya. Ia tak mau terjebak di pernikahan konyol ini.
“Keluar! Sudah selesaikan, bukan?” pinta Michael ke perias itu, lalu perias itu mundur keluar dari ruangan tersebut.
“Ayok, El! aku tahu, cara keluar dari sini.” Michael melangkah ke sebuah ruangan kecil, tak lain kamar mandi.
“Itu jendela, kamu bisa keluar lewat sana.” Michael menunjuk jendela agak besar itu. Terima kasih pada Tuhan karena ukuran tubuh Elleta yang kecil.
“Abang yakin? Aku pakai gaun, susah naiknya,” rengek Elleta manja, hingga ide gila terlintas.
Krak Srek Srek
Suara robekan pada bahu baju rumbainya, dan di belahan paha Elleta terobek sekali tarik. Michael yang melihat itu sedikit speechless.
“El, itu gapapa?” tanya Michael melihat penampilan gadis itu seperti bukan untuk menikah, tapi ngajak perang.
Elleta menjinjing gaunnya, mencopot heelsnya yang ia jinjing di tangan kanannya. “Gapapa, tunggu apa lagi, bang. Bantuin Elleta naik.”
Elleta naik ke wc berbentuk duduk, pegangan tangan Michael. Membuka jendela itu, sebelum kakinya sampai ke jendela. Gadis itu mengintip melihat kanan dan kiri. Untung kosong, tidak ada orang sama sekali.
Heelsnya di jatuhnya pertama kali. Lalu kakinya berhasil keluar dari jendela. Tinggal kepalanya ikut keluar, hingga terakhir kakinya lainnya. Badannya sudah sepenuhnya keluar, menggantung di jendela. Berhasil! Elleta lompat dengan cepat.
“Puji Tuhan, akhirnya aku selamat,” gumam Elleta lega, nafasnya yang memburu.
Tap tap tap
Suara langkah kaki membuat Elleta menoleh dengan cepat, seakan nafasnya terhenti. Itu papanya, laki-laki yang selalu dihindarinya.
“Papa tahu, kamu bakal kabur, Elleta. Apa ini rencana bodohmu!” Yuda menatap tajam anaknya, matanya menelusuri gaun pengantin yang sudah dimodifikasi oleh Elleta.
“Steve, calon suamimu. Sudah nunggu, ayok! Papa anterin.” Yuda tarik paksa tangan gadis itu.
“Papa, apa-apaan sih! Aku nggak mau, Pa! Jangan maksa aku buat nikah sama, Steve. Dia monster gila!” Elleta mencoba melepaskan genggaman tangan papanya yang terus menariknya masuk ke ruangan di mana itu ruangan Steve berada.
“Steve, calon istrimu. Jaga dia baik-baik, Elleta rubah nakal yang harus ditaklukan,” ujar Yuda mendorong Elleta masuk lebih dalam ke ruangan itu.
“Terima kasih, Tuan Crassia. Saya akan jaga Elleta dengan baik.” Steve menundukkan kepala dengan hormat.
Di dalam hati Elleta berkata. Ia memutar bola matanya jengah. “Jangan percaya sama tampang baiknya, Pa. Itu cuman topeng.”
Steve melihat gaun putih milik Elleta dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tunggu, ada robekan. Matanya melebar, lalu tersenyum ketir.
“Kamu tahu, harga gaun itu berapa, El? Hanya satu gaun, harganya bisa membeli satu mobil sport.” Steve mendekat ke arah Elleta, gadis itu mundur selangkah dengan perasaan waspada.
“Terus, aku harus apa? Bilang wow gitu? Kamu yang keluarin uang itu, maksa aku buat nikah sama kamu, sebenarnya apa yang kamu kejar, Steve?” Mata Elleta menyorot tajam penuh pertanyaan yang siap melahap.
Steve terkekeh ringan membuat satu ruangan itu yang awal sunyi menjadi menggema. “Kamu! Aku cuman mau kamu, El!”
Elleta berlari mengambil carter di meja rias laki-laki itu. Membuka carter mengarahkan ke lehernya. Jantung Steve mendadak berdetak kencang. Menghampiri Elleta dengan bercucuran keringat.
“Jangan gila, Elleta! Ini hari pernikahanmu.”
Elleta tambah mengarahkan ke lehernya lebih dekat, nafasnya memburu. “Kalau ini hari bahagia buat kamu. Tapi enggak buat aku, Steve! Aku bukan barang yang bisa disepakati di dalam kontrak ini, AKU PUNYA HAK SUARA!”
Steve menarik carter itu, bau anyir tergores ke telapak tangannya. Darah itu menetes ke bahu Elleta yang terbuka. Mata Elleta melebar, apa laki-laki di depannya ini kehilangan akal.
“Lepas carter itu, Elleta. Ayo, ke altar bersamaku,” ucap Steve lirih, menahan perih di tangannya.
“Enggak, mimpi! Kamu enggak takut, aku berbuat lebih nekat, ya? Steve Athariz Danendra.”
“Aku lebih suka sikapmu yang pemberani, Elleta. Daripada kamu hanya berdiam di kamar. Meratapi Daniel, kekasihmu itu.”
Elleta nambah menekan carter itu. Darah Steve menetes hingga ke lantai. Pintu terbuka dengan kencang hingga terbentur ke dinding. Theo menatap tangan Steve yang terus menetes ke lantai.
“Pak Steve! Tunggu, aku panggilkan dokter.” Theo merogoh ponselnya menekan tombol panggilan.
“Bawa dokter itu ke ruangan nomor 2, segera!”
Tanpa menunggu menit dokter itu ambil alih carter di tangan Elleta. Steve melepas carter itu hingga terjatuh ke lantai. Dengan sigap dokter itu membalut luka itu dan menjahitnya tanpa bius. Rintihan kecil keluar dari mulut Steve.
“Lihat aja, Steve. Kamu bakal tau akibatnya mencoba menghentikanku,” batin Elleta dengan menatap tajam ke tangan laki-laki itu yang di perban.
Setelah selesai di balut tangan laki-laki itu, tangan kirinya menarik Elleta paksa keluar dari ruangan tersebut.
“Kamu harus cepat diikat, Elleta,” bisik Steve di sela langkahnya menuju altar katedral. “Diikat jadi istriku.”
langkah Steve yang lebar, kaki Elleta terseok-seok mengikuti langkah lebar laki-laki itu. Di mana gaunnya yang panjang menyulitkan jalannya. Hingga mata Elleta menatap tamu yang datang ke Katedral itu.
"Kali ini tolong, Elleta. Jadi pengantin paling bahagia, setelah itu kamu boleh berbuat sesukamu."
Mungkin Elleta tak memikirkan penampilannya gaunnya yang dimodifikasi menarik perhatian tamu. Elleta dan Steve berdampingan di podium melangkah ke arah Altar. Senyuman yang terpaksa di sunggikan.
"Apa kalian siap?" tanya pendeta itu.
Steve mengangguk, pendeta itu mulai membuka kitab. Tangan Elleta di genggam erat seakan gadis itu akan lari. Dada gadis itu tergemuruh untuk menolak acara yang berlangsung ini.
"Saya, Steve Athariz Danendra, mengambil engkau, Elleta Clarissa Crassia, untuk menjadi istriku. Saya berjanji setia dalam suka dan duka, sehat dan sakit, serta mencintai dan menghormati sepanjang hidup."
Elleta tak kuat menahan sesak yang menghantam dadanya, bibirnya kelu. Genggaman tangan Steve seakan berkata, sekarang waktunya ia mengucap janji suci itu.
"Saya, Elleta Clarissa Crassia, mengambil engkau, Steve Athariz Danendra, untuk menjadi suamiku. Saya berjanji setia dalam suka dan duka, sehat dan sakit, serta mencintai dan menghormati sepanjang hidup."
Setelah mengatakan itu mata Elleta menetes, tangannya sudah terisi cincin pernikahan tersebut.
"Sekarang kamu, sudah resmi menjadi Nyonya Danendra. Margamu sudah berganti, Elleta. Bukannya kamu senang? Menjadi bagian Danendra," bisik Steve yang penuh keangkuhan.
Mata Elleta menatap ke pintu Katedral, seakan Daniel ada disana menyaksikan acara sakral ini. Ada rasa rindu yang terpatahkan, raut wajah kecewa Daniel sudah terlintas di kepalanya.
"Maaf kak, harusnya kamu yang berdiri disini disampingku," batin Elleta dalam hati.
Steve mendekat lalu mengecup dahinya gadis itu, itu sudah seperti tanda kepemilikan. "Harusnya kamu bahagia Elleta, semua akses atas nama Danendra tidak akan mengganggumu sekarang.”