Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Mengerjai Bu Danton dengan sayang.
Bang Reigar bisa bernafas lega karena Jill sudah mulai ceria. Baginya istri yang kenyang akan membuat emosinya ikut stabil.
Kini Jill sudah berkutat kembali dengan televisi di kamar depan. Matanya tidak lepas dari serial drama china yang beberapa waktu ini menjadi favoritnya. Ia pun duduk di samping Jill dan sesekali melirik punggung sang istri yang sedang membelakanginya.
"Nggak Mama, nggak kamu.. Suka sekali dengan film seperti itu. Suamimu ini kurang apa sampai kamu harus melirik laki-laki lain?" Ujar Bang Reigar tak habis pikir.
"Lebih tepatnya kurang ajar sih, Bang. Perempuan baru lihat begini saja Abang rasanya kebakaran, gimana tingkah laki-laki yang hobby melihat melon Afrika sampai matanya juling?? Apaan dah, Abang??" Balas Jill kesal.
"Begini nih, ini yang susah. Kalau di nasihati bukannya merenung, minta maaf.. Malah ngejawab bae, dasar betina." Gerutu Bang Reigar.
"Eehh.. Pendengaran Abang masih normal, kapan kamu minta maaf???"
"Yaaa.. Pokoknya Jill sudah minta maaf." Kata Jill bersikeras dengan gayanya.
"Kapan???"
"Ya dalam hati, kalau Abang nggak dengar, salahkan diri Abang yang nggak peka dan nggak mau dengar apa kata istri." Jawab Jill kemudian memindahkan chanel TV nya.
"Astagfirullah..!!" Bang Reigar hanya bisa mengurut pelipisnya saat mendengar ocehan Jill yang selalu di luar nalar. "Kau atur-atur saja lah perputarannya, kau kan panitia pusat. Yang penting kau beri Abang ruang, biar nggak stress. Kau masih mau jajan kan, dek?"
"Mau.." Jawab Jill lirih seakan tak peduli.
Bang Reigar memilih mengambil pakaian seragamnya, siang nanti akan ada pelaksanaan giat lari siang bersama anggota dan seperti biasa, Bang Reigar adalah pria yang sangat memperhatikan penampilan dan kebersihan.
"Da*aman Abang dimana, dek??" Tanya Bang sambil mengedarkan pandangan mata pada seluruh laci lemari.
"Tepat di depan mata Abang masa nggak kelihatan??" Jawab Jill tanpa menatap ke arah Bang Reigar.
Hela nafas Bang Reigar terdengar pelan. Jika biasanya ia hanya melipatnya dan menatanya, kini ada kotak kecil berisi seluruh barang pribadi miliknya. Mungkin hal ini akan di alami semua pria beristri.
Bang Reigar lanjut menuju meja riasnya. Ia hendak mengambil parfumnya, tapi kemudian ia melihat deretan segala macam skincare dan make up milik sang istri.
"Ini lipstick terpakai atau tidak?? Kenapa semua warna coklat??" Tanya Bang Reigar.
"Itu bukan warna coklat, tapi nude."
"Kenapa beli yang warnanya nyaris tidak ada bedanya??" Gumam Bang Reigar.
"Itu semua jelas berbeda, masa Abang nggak lihat bedanya??" Ujar Jill sekarang mulai melirik suaminya.
"Ini.... Kau kemanakan semua parfum Abang??" Bang Reigar sampai celingukan mencari barang miliknya.
"Yang di container kecil itu loohh, di samping minyak kayu putih sama balsem." Kata Jill.
"Kau hanya sisakan space kecil ini saja plus balsem dan minyak kayu putih buat Abang???" Selidik Bang Reigar dengan kening berkerut seakan tak percaya.
"Iya."
"Kau pikir Abang manula???? Mana berbagai merk begini." Bang Reigar menggaruk keningnya yang tidak gatal karena berurusan dengan istri tercinta.
Jilly kembali memunggungi suaminya, kini remote televisi sudah berada di tangannya.
"Hmm.. Dek. Nanti malam ada final sepak bola. Abang pinjam TV nya boleh?"
"Nggak, ini hari terakhir pangerannya berperang. Jill penasaran siapa yang akan naik tahta. Ambil saja TV di ruang tamu atau di ruang tengah." Jawab Jilly.
"Dua TV itu sudah nempel di dinding, dek. Masa Abang lepas. Yang ini saja lah." Bujuk Bang Reigar.
"Jill mau rebahan, Bang. Enak disini lah. Memangnya Abang mau Jill rebahan pakai daster satu tali terus Om Garo dan Om Danu seliweran disini???? Kalau mau sih nggak apa-apa, Jill pakai ling*rie warna maroon."
"Ancaman macam apa ini??" Bang Reigar menyambar parfumnya lalu segera berangkat menuju Batalyon.
...
"Garo...!! Kau pergi lah sekarang ke toko elektronik, beli TV 52'..!!" Perintah Bang Reigar sambil mengeringkan rambutnya usai mandi di kantor setelah lari siang.
"Waaaahh.. Siap, Danton. Puas nih kita lihat bola." Kata Prada Garo.
"Danu, kau beli camilan, minuman dan makanan buat nanti malam..!!"
"Siap, Danton."
...
Jill ternganga melihat TV yang begitu besar ada di halaman rumahnya. Tikar pun juga sudah di gelar rapi.
"Ini TV buat apa, Om??"
"Ijin.. Danton beli untuk nobar nanti malam, Ibu." Jawab Prada Garo.
Kening Jill seketika berkerut kesal, ia melipat kedua tangan di depan dada membuat Prada Garo dan Prada Danu menelan ludah dengan kasar.
"Masukan ke kamar saya. Tukar dengan TV 32'..!!" Perintah Jill tegas dan jelas.
"Itu Bu, tapi......"
"Ayo..!! Saya tunggu..!!!" Kata Jill sambil masuk ke dalam rumah.
"Duuhhh.. Bagaimana nih??" Gumam Prada Danu bingung sendiri.
"Hubungi Danton, sekarang..!!!"
//
"Sayaaaang.. Tadi kamu nggak mau pinjamkan TV nya. Jadi Abang sekalian beli yang besar, ini sudah terlanjur bawa om-om bukan lho. Kasihan kalau nggak jadi." Bujuk Bang Reigar.
"Siapa suruh Abang nggak berunding dulu sama Jill. Jill juga mau TV yang ini." Jawabnya sambil menekuk wajah.
Bang Reigar sampai meraup wajahnya, tapi sungguh tidak jantan jika dirinya harus ribut dengan seorang wanita. Ini kalau bukan istri, Abang tumbuk juga, nih."
Jill mengambil posisi tengkurap dan menutup kedua telinganya. "Nyee.. Nyee.. Nyee.. Nggak dengar.. Nggak dengar..!!!!"
"Kaauuu.. Sekali lagi kau buat acara... Abang tindih betul kau, ya..!!" Ancamnya.
~
"Jadi giman, Danton??" Tanya Prada Danu.
"Kau pasang proyektor. Pakai sprei king size cukup, kan?? Perkara 'Kapten' ngambekan.. kalah telak, saya." Jawab Bang Reigar. Ia mengutak-atik sesuatu sambil sesekali mengintip ke arah kamar.
"Sudah, Dan, nggak usah tanggepin 'Bu Jenderal', bisa habis kita. Begini saja sudah cukup."
"Mau setting TV di kamar, Dan?? Biar saya saja." Kata Prada Garo.
"Nggak usah, saya saja. Ngadepin 'Bu Kapten' harus pakai cara haluuss.. Kalau kita nggak nobar pakai TV itu, istri saya juga nggak akan lihat. Malah dia bakalan gabung sama kita 'nonton bola'. Adil, kan??" Jawab Bang Reigar dengan senyum licik.
"Si_ap. Danton mau buat apa??"
Seringai senyum Bang Reigar terlihat nakal penuh tipu muslihat. "Kau sekarang ke ruangan saya, copy file dari laptop saya.. Nama file nya............."
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭