Jesslyn tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis dalam satu malam. Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran finansial, ia dipaksa menikahi Neo, pewaris kaya raya yang kini terbaring tak berdaya dalam kondisi koma. Pernikahan itu bukanlah perayaan cinta, melainkan sebuah kontrak dingin yang hanya menguntungkan pihak keluarga Neo.
Di sebuah rumah mewah yang sunyi, Jesslyn tinggal bersama Neo. Tanpa alat medis modern, hanya ada dirinya yang merawat tubuh kaku pria itu. Setiap hari, ia berbicara kepada Neo yang tak pernah menjawab, berharap suara dan sentuhannya mampu membangunkan jiwa yang terpenjara di dalam tubuh itu. Lambat laun, ia mulai memahami sosok Neo melalui buku harian dan kenangan yang tertinggal di rumah itu.
Namun, misteri menyelimuti alasan Neo koma. Kecelakaan itu bukan kebetulan, dan Jesslyn mulai menemukan fakta yang menakutkan tentang keluarga yang telah mengikat hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kau Memiliki Kepribadian Ganda
"Sebenarnya apa yang akan kau cari di pelelangan itu?" tanya Jesslyn sambil melirik ke arah pria itu, yang tengah sibuk melihat ponsel di tangannya.
Neo melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. "Harta peninggalan nenek moyangku yang hilang."
Jesslyn mengerutkan kening. "Hah , kau serius? Lalu bagaimana bisa harta itu sampai di pelelangan?"
Neo meletakkan ponselnya, lalu menatap Jesslyn dengan serius. "Benda itu dicuri oleh mantan kepala pelayan di kediaman, Hou. Selama bertahun-tahun aku mencari jejaknya, dan informasi terakhir yang kudapat, benda itu akan dilelang hari ini."
"Bagaimana kau bisa yakin itu benar-benar benda yang kau cari?"
Neo menatapnya dengan yakin. "Aku tahu pasti. Benda itu memiliki tanda khas keluarga Hou, dan hanya kami yang berhak memilikinya. Aku tidak akan membiarkan warisan keluargaku jatuh ke tangan orang lain."
Jesslyn terdiam sejenak, memproses penjelasan Neo. "Seperti apa benda itu?"
Neo tersenyum samar. "Sebuah kalung berlian bermata biru Konon, kalung itu adalah simbol pelindung keluarga kami. Tapi yang lebih penting, benda itu memiliki nilai sejarah yang tidak ternilai harganya."
Jesslyn menatapnya dengan ragu. "Demi sebuah kalung, dan kau rela repot-repot pergi sejauh ini hanya untuk itu?"
Neo mendesah, menatapnya dengan sabar. "Ini bukan hanya soal kalung, Jesslyn. Ini soal kehormatan keluargaku. Apa yang hilang harus kembali. Aku tidak peduli berapa pun harganya."
"Jadi, kau akan membelinya, tidak peduli berapa pun harga yang harus kau bayar?"
Neo mengangguk. "Jika itu memang satu-satunya cara, ya. Tapi aku tidak yakin pelelangan akan semudah itu. Selalu ada orang yang mengincar benda-benda berharga seperti ini."
Jesslyn menggigit bibir, dia mulai merasa cemas. "Apa kau yakin ini aman? Maksudku, kalau benda itu berharga, bukankah ini bisa memancing masalah?"
Neo menatapnya, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Itulah kenapa aku membawamu. Siapa tahu keberadaanmu bisa menjadi pembawa keberuntungan."
Jesslyn mendengus berat. "Kau ini benar-benar aneh, Neo. Kalau aku tahu perjalanan ini akan melibatkan hal-hal aneh seperti ini, aku pasti sudah menolak sejak awal."
Neo tertawa kecil. "Tapi kau tetap ikut, bukan? Itu artinya kau tidak bisa menolak pesonaku."
Jesslyn mendecih sebal. "Dasar pria narsis."
Neo tersenyum tipis, matanya kembali tertuju ke luar jendela. "Aku suka pujianmu itu, itu artinya aku sangat berharga di matamu."
Jesslyn terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Neo, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Jesslyn, suaranya memecah keheningan.
"Apa itu?"
Jesslyn menggigit bibirnya sejenak, ia ragu untuk melanjutkan. Namun, akhirnya ia memberanikan diri. "Apa benar kau memiliki kepribadian ganda?"
Neo terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tertawa. "Bodoh!" katanya sambil menyentil kening Jesslyn. "Jadi kau mempercayai rumor itu?"
Jesslyn menatapnya dengan wajah bingung. "Aku hanya penasaran. Kau tahu sendiri, rumor itu cukup sering aku dengar. Bahkan Merry sempat membicarakannya."
Neo mendesah, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. "Tentu saja tidak. Aku normal, Jesslyn. Rumor itu adalah hasil kerja keras Ini dan Nenek tiriku. Mereka menyebarkannya untuk menjatuhkan reputasiku."
Jesslyn mengernyitkan dahi. "Untuk apa mereka melakukan itu?"
Neo menatap lurus ke depan, wajahnya berubah serius. "Tujuannya jelas. Mereka ingin merebut posisi tertinggi di perusahaan keluarga dan mencoreng nama baikku di depan semua orang. Jika aku dianggap tidak stabil secara mental, mereka akan lebih mudah mendapatkan kendali atas segalanya."
Jesslyn terdiam, mencoba mencerna kata-kata Neo. "Jadi, rumor itu benar-benar tidak berdasar?"
"Tentu saja tidak," jawab Neo. "Aku tahu aku bukan orang yang sempurna, tapi aku tidak punya masalah kepribadian seperti yang mereka katakan. Kau sudah hidup bersamaku cukup lama, Jesslyn. Apa kau pernah melihat tanda-tanda aneh dariku?"
Jesslyn mengangkat bahu. "Aku tidak tau. Tapi, kalau dibilang aneh, kau memang sering membuatku kesal. Tapi kalau soal kepribadian ganda sepertinya tidak."
Neo terkekeh pelan, ia merasa geli dengan responsnya. "Lihat? Kau sendiri mengakuinya. Kau hanya kesal karena aku terlalu tampan dan sering membuatmu kehilangan akal."
Jesslyn mendengus kesal. "Bisa-bisanya kau memuji diri sendiri di tengah pembicaraan serius seperti ini."
Neo tersenyum tipis. "Aku hanya mengatakan fakta, Jesslyn."
Jesslyn mendesah, berusaha menahan tawa. "Dasar pria narsis. Tapi, aku lega mendengar penjelasanmu. Setidaknya sekarang aku tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Neo menatapnya dengan lembut, nadanya menjadi lebih serius. "Jesslyn, kau tidak perlu percaya pada apa pun yang orang lain katakan tentangku. Jika ada sesuatu yang ingin kau tahu, tanyakan langsung padaku. Aku tidak akan pernah berbohong padamu."
Jesslyn menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah, aku akan ingat itu."
Neo tersenyum puas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke jendela. "Bagus. Sekarang, duduklah dengan tenang. Kita hampir sampai di pelelangan."
----
Bersambung
jdi GX lama2 baca nya
suka Thor ceritanya buat lgi ya 🙂