Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hyana
"Mami bener2 kecewa sama kamu, Na.., bisa-bisanya kamu lakuin itu sama kakak ipar kamu..",
"Maaf Mi.., adek nggak bermaksud kayak gitu..",
"Kamu tuh...., kenapa bikin ulah terus sih Na..",
"Maaf Mi...",
"Kayaknya ini jalan satu-satunya. Kamu harus dinikahin sama Harsa, itu kan mau kamu?",
"Na..takut sama kakek, sama papi mi..",
"Itu resiko.., kalo kamu takut..kenapa kamu pacaran sama bang Harsa?",
"Na kan cinta Mi..",
"Cinta kamu itu buta...",
"Jangan bilang sama Papi tentang kejadian ini mi...",
"Kamu bisa bilang kayak gitu ke Mami, tapi kalo Aa' bilang sama Papi, Mami juga nggak bisa cegah. Ini resiko karena kamu udah jahat sama Sevim..",
"Mi..maafin Na..",
"Makanya kalo mau bertindak tuh dipikir dulu Na...",
"Iya mi..iya..",
"Walaupun yang kamu lakuin itu salah, tapi Mami harus berterima kasih sama kamu. Karena ulah kamu, Sevim sama Himsa jadi ngadon cucu buat Mami..",
"Tuh kan.., bener kan apa yang Na lakuin..",
"Bener-bener..., tetap aja salah...!!", tiba-tiba Himsa datang dari belakang dan ikut nimbrung percakapan antara adik dan Maminya.
"Iya kak maaf...",
"Jangan kebiasaan ikut campur sama urusan orang. Nggak usah ganggu rumah tangga kakak.., mau Aa' nidurin Sevim, mau nggak.., itu urusan Aa'.., lagian Sevim juga nggak mau sama pacarmu itu...,jadi nggak usah khawatir...!!!",
"Na kan cuma antisipasi aja Aa'..",
"Masih bisa jawab ya kamu..!!!", ucap Himsa dengan mengangkat tangannya yang hendak memukul Hyana.
"Aa'....!!!!! jangan Aa'....",
"Kalo aja kamu laki-laki.., nggak ada Mami disini.., udah Aa' gebukin kamu Na..",
Hyana benar-benar takut, dia bahkan sampai memeluk sang Mami erat.
"Aa' mau keluar bentar.., Mami sama Na.., nggak usah ganggu Sevim. Biarin dia di kamar istirahat..",
"Mami kan mau liat keadaanya Aa'..",
"Nggak usah..,yang ada Sevim malu karena semalem ketauan kita ngelakuin itu..",
"Aa' mau kemana?",
"Beli obat buat Sevim..",
Sevim memang sudah bisa berjalan meskipun masih tertatih. Masih perlu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya.
Sevim hanya bisa berdiam diri di kamar. Rasanya sedih campur dengan malu. Seharusnya hanya Sevim dan Himsa yang tahu tentang kegiatan ranjang yang mereka lakukan. Tapi, karena ulah Hyana seisi rumah mengetahuinya, termasuk para Maid. Merasa kesepian, Sevim mencoba menelepon sahabatnya, Farah.
Halo Vim.."
" Far, lagi dimana?"
" Kuliah, ini ada Aira juga disampingku "
"Benar kata Aira, sakit rasanya aku nangis"
" Hahaha, udah dipecahin? katanya nggak cinta, tapi mau aja"
" Kata kamu kan itu kewajiban "
" Iya, emang bener. Kamu telepon aku cuma mau bilang kalau semalam rasanya sakit?"
" Bukan.., minggu depan ketemuan ya. Aku mau cerita banyak. Salam buat Aira udah dulu ya, Suamiku manggil. Bye "
"Se....",
Tut..tut..tut..
Sevim langsung mengakhiri panggilan teleponnya ketika Ahimsa masuk ke dalam kamar.
"Se....",
"Iya Aa'...",
"Nih salepnya..",
"Aman buat...., itu nya Sevim kan Aa'..",
"Aman..",
"Tadi Aa' bilang ke apotekernya gimana?",
"Ya nggak gimana-gimana.., beli salep gitu..",
"Jelasinnya gimana?",
"Ya gitu...",
"Sevim mau tau Aa'..",
"Bawel..., udah cepetan diolesin. Mau Aa' bantu?",
"Sevim masih penasaran..",
"Apa sih Se?",
"Aa' tadi bilang gimana sama apotekernya..",
Flashback.
"Pagi mas..,ada yang bisa dibantu? mau cari obat apa..?",
"Mau cari salep mbak..",
"Untuk..",
"Istri saya...",
"Istri masnya kenapa? luka? lukanya kenapa?",
"Semalem..., hmmmmm.., gimana sih ya ngomongnya..",
"Salep buat apa ini mas..",
"Buat itu mbak..",
"Iya mas buat mata..? tangan? kaki?",
"Buat...", ucapnya dengan membentuk jarinya membentuk huruf V.
"Owh.., bilang dong mas. Saya paham..,olesin ini dijamin jamurnya ilang.., bisa ngilangin aroma nggak sedap, bau terasinya langsung ilang..",
"Mbak kira istri saya jorok..., atau ikan asin???",
"Loh masnya cari obat jamur buat istrinya kan?",
"Anu nya istri saya bengkak mbak..,gara-gara lepas kontrol.., saya pengantin baru..",
"Owalah.., lha masnya nggak bilang.., ngomongnya kayak alun-alun.., mutee-muter..",
"Ya udah cepetan...",
Flashback off.
Sevim cemberut ketika mendengar cerita dari Himsa. Ada yang membuatnya tersinggung.
"Enak aja bilang bau terasi..", umpatnya.
"Kan bukan Aa' yang bilang Se..",
"Iya tau.., tapi kan sesama perempuan seharusnya nggak boleh ngomong kayak gitu..",
"Niatnya bercanda itu..",
"Keterlaluan..",
"Udah nggak usah ngedumel. Nanti cantiknya ilang..,
"Emang Bau ya Aa'?",
Himsa mengangguk.
"Padahal Sevim udah perawatan sebelum nikah kemarin..",
"Aromanya memabukkan . Yang penting rasanya.., mantap..!!!", ucapnya dengan mengacungkan jempolnya.
"Hih...,",respon Sevim dengan mulutnya yang manyun.
"Tadi kamu telepon siapa?",
"Temen Aa'.."
"Temen yang mana?",
"Farah.., istrinya temen Aa'..",
"Oh...",
"Bahas apa?",
"Kepo..",
"Nggak boleh ada yang ditutupin dari suami..",
"Nggak ada.., Sevim cuma mau janjian ketemuan. Boleh kan?",
"Boleh.., asalkan izin dulu..",
"Iya nunggu Sevim sembuh.."
Sebuah percakapan normal antara suami istri. Tidak ada yang aneh, semuanya berjalan wajar.
Sevim ikut bergabung makan malam bersama keluarga Sanjaya. Ini, pertama kalinya Sevim duduk satu meja dengan berpredikat sebagai nyonya Ahimsa Sanjaya.
"Se.., udah enakan sayang...?", tanya Mami Anin ketika Sevim baru duduk di kursinya.
"Iya mah..",
Hyana tidak berani menatap lurus ke depan. Rasanya malu sekaligus canggung karena ulah isengnya yang mengerjai kakak iparnya sendiri.
"Terus honeymoonnya gimana Aa'?",
"Gampang Mi..",
"Nggak jadi Him?", tanya Papi Galang.
"Belum tau Pi..., nanti lah gampang...",
Mereka hening ketika mulai menikmati makan malam mereka. Sevim juga tidak banyak bicara, sedari tadi dia hanya berkonsentrasi pada makanan yang ada di depannya. Kalau boleh jujur, dia masih kesal dengan perbuatan adik iparnya.
"Himsa sama Sevim udah mutusin, kalo mau tinggal di Apartement..",
"Kenapa Him..?",tanya kelak
" Sevim kurang nyaman disini kek...",
Mati aku, kenapa Aa' bilang kayak gitu sih..?
"Kenapa Vim..?",
"Hmmmm...,Sevim pengen mandiri aja kek?",
"Mandiri? yang seperti apa yang kamu pengen? cucu baju, masak, beres-beres sendiri gitu?",
"Nggak kek bukan gitu maksud Sevim...",
"Terus apa?",
"Kek.., ini sudah keputusan kami berdua..",
"Oke kalo kalian mau mandiri silahkan.., kakek harap ini bukan akal-akalan kalian aja.., kakek tetap mengawasi kalian. Jangan coba-coba menjalani pernikahan palsu..",
"Pernikahan palsu gimana, orang Himsa juga udah kenal luar dalamnya Sevim..",
"Aa'...", ucap Sevim yang mencegah suaminya agar tidak berbicara ngawur lagi.
"Oke..baguslah.., biar kakek cepet dapet cicit..
Kakek mau istirahat dulu..",
Kakek berdiri lalu pergi meninggalkan ruang makan dengan diikuti oleh asistennya.
"Aa'.., kenapa harus tinggal di Apartement sih? disini aja ya? biar mami nggak kesepian..",
"Nggak Mi..,Himsa tetap bawa Sevim tinggal di Apartement..",
"Kenapa sih Aa'?"
"Mami nggak inget apa yang dilakuin Hyana ke Sevim tadi malem?", ucapnya dengan nada bicara meninggi.
"Hyana apain Sevim?", tanya Harsa.
"Abang tanya aja sama Hyana, pacar abang..",
Aa' Himsa langsung membawa Sevim menuju ke kamarnya, dengan menggendongnya ala bridal style. Tak peduli disana masih ada papi mami, Harsa juga Hyana.
"Aa'..malu..",
"Ssttt.., udah diem aja.., Aa' nggak sabar nungguin kamu yang jalannya kayak keong..",
"Ini kan gara-gara Aa' juga..",
"Mau lagi nggak..?",
"Jangan dulu.., masih perih.., bengkaknya masih..",
Ahimsa tersenyum meskipun mendapatkan penolakan halus dari Sevim.
Hyana tertunduk, tatapan tajam Harsa sudah mengintimidasi. Bukan hanya Hyana, hati mami Anin juga tak kalah gelisahnya. Ucapan Ahimsa rupanya berhasil membuat Papi Galang bertanya.
"Itu maksud Himsa tadi, apa Mi..?",
"Apa Pi?",
"Yang dimaksud pacar Harsa, itu siapa? Na?",
"Nggak Pi..",
"Mi.., jelas-jelas Papi denger..",
"Bukan gitu Pi..",
"Na.., coba jelasin sama Papi..",
Hyana menggelang.
"Sa.., bisa kamu jelasin?", tanya Papi kepada Harsa.
Dasarnya jujur dan bertanggung jawab. Harsa akhirnya membuka suara dan berterus terang kepada Papi Galang.
"Iya Pi, Harsa sama Hyana pacaran..",
"Berapa lama?",
"Udah lama Pi..",
Braaakkkkk
Papi Galang menggebrak meja makan. Suara sendok dan piring yang beradu terdengar nyaring mengiringi amarahnya.
"Papi nggak setuju...!!!!!",
Konflik sudah mulai,
Rosy sebentar lagi keluar kandang...makin ngeselin atau udah tobat..???
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl