Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Subuh menjelang, adzan subuh pun berkumandang. Seorang gadis cantik kini terjaga dari pembaringannya. Pertempuran semalam dengan batinnya membuat sang gadis tak bisa tertidur lelap. Ia bangun dengan melawan rasa kantuk yang kian menerjang. Winda kini menapakkan kakinya ke lantai. Matanya melirik ke sana-sini mencari sepasang sandal jepit yang biasa ia gunakan jika ingin melangkah ke kamar mandi.
Di ujung sana, tak jauh darri tempat tidurnya. Winda melihat sepasang sandal jepit kesayangannya. Lalu kini gadis itupun bergegas mengambil sendl jepitnya, memakainya lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi berukuran sempit yang ada di kamarnya.
Di basuhnya kedua telapak tangannya dengan air yang mengalir dari kran yang di bukanya. Niat tulus di dalam hati menyucikan diri sebelum menghadap sang khalik. Subuh berganti, menyongsong fajar yang bersemi. Waktupun
berlalu perlahan, awan gelap kini perlahan berganti terang, menyusul matahari yang perlahan mulai mengokoh di puncaknya.
Tak seperti biasanya, hari itu Winda memilih masuk ke dapur. Bukannya melanjutkan tidur seperti yang biasa ia lakukan. Tapi hari ini Winda memilih memasak untuk mengobati hati dilema yang tengah melanda hatinya.
Aroma harum mulai tercium ke beberapa penjuru ruangan. Menusuk ke setiap hidung orang-orang yang ada di sana. Ibu kini berjalan menuju kearah dapur, setelah mencium aroma yang begitu menggiurkan. Penasaran siapakah gerangan orang yang tengah memasak di dapurnya. Apakah itu Winda? Namun jika mengingat akan tentangnya yang sama sekali tak pernah menyentuh peralatan yang ada di dapur, rasanya tak mungkin. Terus siapa yang ada di sana? mungkinkah Annisa? Tapi sejak kapan putri sulungnya itu datang, di pagi hari pula. Segenap pertanyaan memenuhi pikiran Ibu sekarang. Tak ingin rasa penasaran itu kian berkecamuk di dalam diri, Ibu memilih mencari tau sendiri apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini.
Winda telah selesai memasak beberapa makanan di sana. Semuanya sudah matanga sempurna. Tinggal menaruhnya di piring dan menatanya di meja makan. Tak butuh waktu lama baginya mempersiapkan semua itu. Kini semuanya telah tersaji dengan baik di sana.
“Hmm, akhirnya selesai juga.” menepuk kedua tangannya. “Siapa bilang aku tidak bisa memasak.” bangga dengan dirinya sendiri.
Lalu kini tiba-tiba saja Ibu masuk kesana dan melihat. “Winda.” Ibu mengerutkan keningnya, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“Ibu.” Winda menoleh, seulas senyuman terlihat di bibirnya.
“Kamu yang masak ini semua?” tanya Ibu sambil memperhatikan beberapa makanan yang tersaji di sana.
Winda mengangguk pelan sambil mengatakan. “Iya, ini semua Winda yang masak. Ibu cicipi ya.” mengambil sebuah piring kecil dan juga sendok yang tak jauh darinya. “Duduk dulu Bu.” Winda menarik salah satu kursi yang ada di sana.
Ibu mengangguk. Namun keningnya masih mengerut, seolah tak percaya dengan itu semua.
“Ibu cicipi ini semuanya. Jika ada yang kurang, Ibu jangan sungkan kritik masakan Winda.” Suda meletakkan sediki-sedikit menu masakan yang di masaknya. Lalu kini menyuguhkannya kepada Ibu.
Ibu mengangkat sendoknya, lalu kini dengan tangan sedikit gemetar. Ibu mengambil secuil makanan itu, lalu memasukkannya ke mulut.
“Gimana Bu, rasanya?” wajah Winda terlihat penuh harap.
Seketika ekspresi wajah Ibu berubah setelah mencicipi makanan yang baru saja di masukkannya kedalam mulut. Mata Ibu mendelik, seolah tidak puas dengan satu menu yang di rasanya. Sehingga kini, Ibu kembali mencicipi beberapa menu yang sudah di taruh Winda di dalam piring yang sama.
“Winda, ini kamu yang masak?” Ibu masih kurang percaya dengan apa yang di rasanya saat ini.
Winda mengangguk pelan. “Iya, ini semua Winda yang masak. Gimana-gimana, enak nggak?” bola mata Winda melebar, berharap apa yang di lakukannya pagi ini tidaklah sia-sia.
“Enak banget!” Ibu mengacungkan jempolnya. “Kamu, belajar darimana?” tanya Ibu penasaran. Pasalnya selama ini ia tak pernah melihat putri bungsunya itu memegang spatula. Jadi mana mungkin Winda bisa masak, bahkan masakannya seenak ini. Jujur, Ibu masih tak percaya dengan hal itu.
“Dari buku dan juga youtobe.” sahut Winda.
“Oya, tapi kok bisa seenak ini?” Ibu masih tak percaya.
“Sebenarnya sih, Winda sering masak di rumahnya Tasya.” Winda menggaruk belakang kepalanya pelan. “Kalau di rumah, Winda nggak berani. Takut masakan Winda nggak enak.”
“Benarkah? Tapi masakanmu enak loh.” puji Ibu lagi. Lalu kini terlihat wanita paruh baya itu mulai mengambil nasinya dan menaruhnya di piring miliknya, lalu mengisinya dengan makanan yang di masak oleh Winda tadi. “Win, panggilin Ayahmu, suruh sarapan.” titah Ibu kini.
Sementara Ibu mulai menyantap makanannya sekarang. Winda lantas bergegas pergi dari sana, memanggil Ayahnya untuk sarapan bersama. Dan tak lama kemudian, Ayah pun tiba di ruang makan dan melihat Istrinya telah duluan menyantap makanannya.
“Wah, Bu. Tumben makan duluan, lahap lagi.” tutur Ayah sambil menarik kursinya.
“Iya, karena hari ini berbeda.” sahut Ibu sambil terus melanjutkan makannya.
“Berbeda, maksudnya?” kening Ayang terlihat mengerut, bingung dengan apa yang baru saja di sampaikan Istrinya.
“Beda, karena pagi ini yang masak ini semua adalah putri bungsumu, Winda.” jelas Ibu yang mulai menghabiskan makanannya.
Ayah menoleh kearah Winda yang berdiri di sampingnya. “Apa benar Win, yang Ibumu katakan. Ini semua, masakanmu?”
Winda mengangguk, “Iya Ayah.” Di susul seulas senyuman dari sudut bibirnya.
“Tumben?”
“Karena hari ini Winda sedang dilema. Jadi, sebagai pelampiasannya, Winda masak.” Winda berkata jujur. Setelah itu, gadis itu menarik kursinya dan duduk bersama di sana.
Ayah menatap kearah Ibu, begitupula dengan Ibu yang balik menatap kearah Ayah. Mereka berdua saling bertukar pandang satu sama lain, melirik bersama keara anaknya yang saat ini tengah mengambil nasinya.
“Kamu dilema karena apa Win?” Ayah bertanya serius.
“Hmm, apa ya? Winda belum bisa cerita sekarang Ayah.” Winda mulai menyedok nasinya dan memasukkannya kedalam mulutnya.
“Hmm, jangan-jangan ini urusan hati.”
“Anak kita sudah besar Ayah, jadi sekarang sudah bisa main rahasia-rahasiaan sama kita.” timpal Ibu sambil melirik kearah Winda.
Winda pun menimpalinya dengan senyuman, memakan makananannya tanpa ingin meneruskan percakapan selanjutnya.
Hari itu, setelah menyantap sarapannya. Winda bergegas pergi berganti pakaian. Setelah itu, diambilnya tas sandang miliknya dan berlalu pergi menuju ke teras depan rumah. Winda mengambil sepatunya, yang ia letakkan
di rak yang ada di ujung sana. Setelah memakainya, gadis itupun kini berpamitan kepada orangtuanya.
“Bu, Winda pamit dulu ya.”
“Hmm, ya.” Ibu mengusap pucuk kepala Winda yang saat ini tengah menyalim tangannya.
“Ayah mana?” melihat sekeliling, tapi tak menemukan Ayahnya di sana.
“Ayah tadi sudah pergi ke Toko.” sahut Ibu.
Ya, Ayah Winda memilik Toko material yang menjadi penopang hidup keluarga mereka.
“Oh, yasudah kalau begitu, Winda pamit ya Bu.” Winda berlalu menuju kearah sepeda motornya, menghidupkannya lalu pergi meninggalkan kediamannya.
Setibanya di universitas tempatnya mengemban ilmu. Winda memarkirkan sepeda motornya. Setelah itu Winda pun pergi dari sana, hendak masuk ke kampusnya. Namun, belum sempat lagi Winda sempat keluar dari halaman
parkir, tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh seseorang dan di seret pergi masuk kedalam sebuah mobil.
TBC.
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.