#2 My Daddy
Damian Xe Axelle Defron, bangsawan tampan yang mengalami kecelakaan hebat yang membuat matanya buta sebelah kanannya. sebenarnya ia bisa membuat matanya melihat kembali tapi ia harus melakukan sesuatu sebelum membuat matanya kembali normal.
Kelly De Savillion, gadis cinta pertamanya. Kini ia menemukan gadisnya di waktu yang tepat namun dengan matanya yang cacat.
"Gadis kecil, kita bertemu lagi. apa kau merindukan ku?" ujar Damian.
"Dami?"
"Yes, i am,"
Namun kali ini pertemuan mereka menghadapi situasi yang sangat sulit. seorang pria yang terobsesi dengan Kelly salah satu musuh Damian dan juga merupakan bangsawan ternama Calvin Molive Defron, memiliki marga yang sama dengan Damian karena mereka masih memiliki hubungan darah. sangat terobsesi gila dengan Kelly, gadis manis milik keluarga Xander dan Xavellion.
"Oh Damn! You touched something you shouldn't, you bastard!" Damian murka
Calvin menyeringai. "Why not? I'm crazy about that woman."
"She's mine dammit!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sofy adisty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.
Damian membersihkan tangannya yang berlumuran darah dengan sapu tangan. Ia menendang dua mayat yang ada di depannya dengan mual. Ia pun terus berjalan lalu menoleh kebelakang, menatap kedua mayat tersebut sambil tersenyum sinis.
"Terlalu banyak bicara kau akan cepat mati," gumam Damian. Ia membuang pisau lipat yang ada di tangannya lalu mengambil pistol yang terlempar dari Heven saat mereka sedang mencoba saling membunuh tadi.
Damian memperhatikan isi peluru tersebut, hanya tersisa tiga buah saja. Damian berdecih, ia pun menyimpan pistol tersebut. "Bergaya seperti pembunuh profesional padahal pistol kau saja hanya berisi tiga peluru," ucapnya.
Damian menyentuh telinganya saat mendengar suara tembakan. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Hanya sedang membunuh satu serangga," jawab Dalton.
Damian hanya menggelengkan kepalanya dan sambungan telfonnya terputus. Ia terus berjalan lalu membuka ponselnya, Dalton mengirimkan posisi Calvin lewat gps yang terpasang di sepatu miliknya.
Damian berjalan mengikuti sinyal posisi yang ia lihat di ponselnya lalu langkahnya terhenti saat melihat pintu di depannya.
Damian memasukkan ponsel tersebut kembali ke dalam saku bajunya, ia menyentuh engsel pintu dan mengambil pistol yang ia simpan tadi.
Damian mendekati pintu, ia bersiap untuk membuka pintu sekaligus menembak Calvin di dalamnya. Damian berhitung dalam hati sambil mengamati posisinya.
Cklek'
Dor'
Dor'
Suara tembakan saling bertabrakan saat Damian membuka pintu ia melihat siluet dan langsung melepaskan tembakan tersebut. Namun teryata Calvin memang sudah bersiap dari awal, ia juga ikut melepaskan tembakan.
Tembakan Damian mengenai bagian perut Calvin namun tembakan Calvin teryata mengenai pundak Damian.
Damian meringis, ia memegangi pundak nya yang sudah mengeluarkan begitu banyak darah sedangkan Calvin, ia meraung kesakitan memegangi perutnya yang tertembak.
"Kau beruntung brengsek!" umpat Calvin.
Damian menatap pistol di tangannya, tersisa dua peluru. Ia harus melumpuhkan Calvin, baik dengan membunuhnya atau tidak.
Calvin berusaha bangun sambil memegangi perutnya dengan tangan yang memegang pistol namun terlihat gemetaran.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Damian marah, ia mengelak saat Calvin menembak kembali.
"Aku?" tanya Calvin sambil tertawa. "Tentu saja semua yang kau miliki sialan!"
...◇◇◇...
Dalton sibuk membantu Revana untuk menjinakkan bom yang ada. Calvin benar benar gila, ia ingin mengubur semua orang dalam satu ledakan.
"Berapa waktu yang tersisa?" tanya Dalton.
Revana yang tetap fokus memperhatikan bom di tangannya pun berbicara. "Hanya tersisa tiga puluh menit. Kepalaku terasa ingin pecah," gerutunya tanpa menoleh sedikit pun.
Dalton mendapat telfon dari anak buahnya jika sisa anak buah Calvin sudah di habisi di tempat. Dalton memerintahkan mereka untuk menjauh dari lokasi.
"Berapa bom yang tersisa yang belum kau dapatkan?" tanya Dalton penasaran.
Revana berdecak kesal, ia pun menatap Dalton. "Kenapa tidak kau cari saja dengan alatmu sendiri? Aku sibuk!" ucapnya kesal. "Jangan menggangguku! Ini menyangkut nyawaku juga tau!" sambungnya dan ia kembali fokus dengan alat di tangannya.
Dalton menyunggingkan senyum tipisnya, ia terlihat tergoda dengan wajah marah Revana di hadapannya. Namun, ia langsung menggelengkan kepalanya. Dalton kembali mengaktifkan alat pendeteksi tersebut dan sambil berjalan dengan pelan.
Langkahnya terhenti saat melihat ruangan yang berjarak lima meter darinya. Terdengar suara pendeteksi begitu keras menandakan ada sesuatu yang sangat berbahaya di dalam sana.
Dalton membulatkan matanya, itu tempat Calvin. Dalton langsung menghubungi Damian namun sial nya earphone miliknya tidak tersambung seperti ada sesuatu sinyal yang mengganggu komunikasi mereka.
"Tidak benar," gumam Dalton panik.
Dalton berbalik, ia pun menyusul Revana yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Rev—"
"Selesai!" teriak Revana senang.
Dalton terdiam, melihat begitu banyak bom di tangan Revana semuanya selesai di kerjakan wanita itu sendiri. Jenius.
Dalton memukul kepalanya, ini bukan saatnya untuk memuji wanita ini. Dalton menarik tangan Revana untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Astaga! Apa kau tidak bisa pelan? Tangan ku sakit tau!" ucap Revana kesal.
Dalton menatap Revana dengan wajah tegang. "Tidak ada waktu, kita harus selamatkan Damian!" ucapnya dengan panik.
Revana menatap tidak percaya. "Apa yang kau—"
"Di ruangan tempat Calvin terpasang bom waktu yang bisa kapan saja meledak. Disana ada Damian!"
...◇◇◇...
Damian tertawa sinis. "Apa kau gila? Kau terlalu serakah," ucapnya.
Calvin menggelengkan kepalanya tertawa geli. "Aku gila? Yah aku memang gila. Apalagi melihat kau bahagia," ucapnya sambil meringis.
Damian menatap tidak percaya. "Idiot!" umpatnya. "Kenapa kau menargetkan wanitaku?" tanyanya.
Calvin meludah. "Wanitamu? Kelly? Dia harusnya dari awal adalah milikku brengsek!" teriaknya marah.
Damian menggeram marah. "Dia adalah milikku! Aku tidak akan membiarkan kau mencelakai nya!" ucapnya. "Aku tau kau adalah pelaku yang membuat Kelly trauma," sambungnya.
Calvin tertawa kecil. "Aku, semua yang berhubungan dengan Kelly pelakunya adalah aku sendiri. Dan kau," ucapnya sambil menunjuk Damian. "Aku yang menyabotase mobil milikmu dan membuat mu buta!" sambungnya.
Damian kembali menyerang tubuh Calvin hingga jatuh tersungkur membuat senjata yang mereka pegang terlepas. Damian meringis namun ia tetap melayangkan pukulan di wajah Calvin.
"Aku selalu berharap bisa bersama dengan keluarga yang waras tapi teryata semua seperti kau sialan!" teriak Damian.
Bugh'
Damian tersungkur saat Calvin memukulnya dengan tongkat besi. Pandangan Damian langsung buram, ia meringis kesakitan.
"Kau fikir aku mau jadi keluargamu? Tidak sialan! Kau yang status nya adalah anak sah sedangkan aku anak haram!" teriak Calvin membuat Damian memandang tidak percaya. "Kau berfikir kita bisa akrab?" tanyanya tidak percaya.
Anak haram? Damian bangun sambil memegangi kepalanya. Bahunya yang tertembak terus menerus mengeluarkan darah.
"Kau tidak akan keluar hidup hidup disini!" ucap Calvin sambil menyeringai, ia memegang sebuah kotak hitam kecil seperti tombol.
Brakk'
"Damian! Menjauh dari sana!" teriak Dalton saat menendang pintu tersebut. Revana menatap panik.
"Damian selamatkan dirimu!" teriak Revana.
Damian menoleh sambil meringis, apa yang sedang mereka katakan? Ia tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Menjauh?" tanya Calvin tersenyum miring. "Kalian terlambat," sambungnya sambil menekan tombol tersebut. Terdengar suara seperti waktu yang bergerak mundur.
"Sialan!" umpat Dalton.
Damian menatap pintu balkon lalu ia berlari mendekati Calvin. Sedangkan Dalton langsung menarik tubuh Revana untuk mendekati balkon, ia memeluk tubuh Revana dan menggendongnya. Bermaksud untuk melompat, tepat di bawah mereka ada kolam renang yang begitu dalam. Damian mendorong tubuh Calvin dengan cepat.
Tittt'
Tittt'
Titt'
Bom tersebut sudah berada di waktu nol dan tepat saat itu juga ruangan tersebut langsung meledak dengan begitu kuat membuat tubuh Damian dan Calvin terhempas begitu pula dengan Dalton dan Revana.
Dalton melindungi kepala Revana dengan tangannya dan mendekap tubuhnya sambil memejamkan matanya saat dirinya hampir menyentuh kolam. Ia meringis kesakitan.
Damian dan Calvin ikut jatuh ke dalam kolam bersama dengan puing puing bangunan yang ikut terlempar karena bom tersebut.
Byurr'
Semua terhempas kuat ke dalam kolam renang yang begitu dalam dan puing puing bangunan ikut terjatuh dan tenggelam.
...◇◇◇...
...TBC...
masa Damian hanya tau bucin doank
qu pikir bakal langsung perang saudara gitu