Kisah ini adalah kisah nyata dari pengalaman seorang wanita bernama Indah Puspita Sari (samaran). Dia adalah wanita yang tegar dan mandiri. Kisahnya dimulai ketika ayahnya meninggal dunia. Hingga pada akhirnya Indah hidup terpisah dari keluarganya dan menjalani kisah hidup yang berliku-liku dan penuh air mata. Bagaimana kisah Indah selanjutnya? Selamat membaca🙏😘
*Autor tidak pandai menulis dan membuat novel, tapi dari tulisan ini semoga para pembaca dapat memetik pelajaran yang terkandung dalam tulisan ini. Terimakasih yang sudah baca🙏 jangan lupa tinggalkan jejak ya😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Anjarwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke kampungku
Waktu itu anakku berumur dua minggu. Badanku sudah nggak karu-karuan rasanya. Aku sudah tidak kuat lagi menjalani hari dirumah mertua. Aku yang selalu tersiksa oleh orang-orang yang tidak punya hati dan perasaan.
Hari itu tenagaku benar-benar sudah mencapai batasnya. Seharusnya seorang perempuan yang baru selesai melahirkan harus banyak-banyak istirahat. Tidak boleh capek-capek apalagi kerja berat. Tapi beda dengan aku, yang diperlakukan seperti pembantu dan pemuas nafsu.
Karena sudah tidak kuat lagi, aku nekad mau pulang ke kampungku. Aku yakin anakku sudah kuat untuk diajak perjalanan jauh. Kalau aku tetap bertahan bisa-bisa aku mati karena terus tersiksa lahir batin. Aku ngotot minta pulang, tapi suamiku tidak mengijinkan. Mertuaku juga tidak mengijinkan. Tapi tetap saja kali ini aku tidak mau mengalah.
Aku bilang sama suamiku, mau diijinkan atau tidak aku akan tetap pergi. Mau diantar atau tidak aku bisa pergi sendiri. Hingga pertengkaran tidak dapat dihindari. Akhirnya aku yang menang, mungkin mereka malu kalau aku pergi sendiri. Dan mertua menyewa mobil untuk mengantarkan aku pulang.
Sesampainya dirumah ibuku, ada perdebatan kecil. Tapi aku sudah tidak perduli lagi. Terserah suamiku mau tinggal atau ikut dengan orangtuanya. Hingga akhirnya dia memilih ikut dengan orangtuanya. Alasannya karena disana masih ada pekerjaan. Aku sih malah senang kalau dia ikut orangtuanya pulang.
Mungkin karena ditempat mertua aku diperlakukan seperti pembantu. Jadi pas aku sudah dirumah ibu, badanku terasa bermasalah. Waktu itu aku sampai nggak bisa berjalan. Sebenarnya aku sudah merasakan ada yang aneh sejak dirumah mertua. Makanya aku memaksa pulang ke rumah ibuku. Untung saja aku sudah dirumah, kalau masih dirumah mertua entah apa yang terjadi padaku.
Dengan keadaanku yang seperti itu. Tentu saja aku tidak bisa berbohong lagi. Akhirnya aku menceritakan pada ibu apa yang aku alami disana. Walaupun tidak semua aku ceritakan. Ibuku marah dan nggak terima aku diperlakukan seperti itu. Sampai keluarlah kata-kata yang tidak patut. Juga sumpah serapah yang ditujukan untuk mertua dan suamiku.
Aku mengatakan pada ibuku untuk tidak lagi membahasnya. Biarkan saja dan nggak usah dipikirkan. Yang terpenting adalah aku sudah pulang dengan selamat. Karena kondisiku yang tidak bisa berjalan ibuku menyuruh seorang dukun bayi untuk memijatku. Orangnya sudah nenek-nenek, Mbah itu langganan ibuku.
Tiap hari Mbah datang kerumah. Dipijitnya seluruh badanku dan aku diberi ramuan tradisional. Seperti jamu gitu, rasanya pahit dan tidak enak. Tapi aku harus mau jika pengen cepat sembuh dan bisa berjalan lagi.
Tetangga tidak ada yang tahu kondisiku yang sebenarnya. Karena menurut aturan orang Jawa. Kalau orang yang habis melahirkan tidak boleh keluar rumah selama empat puluh hari. Dan tidak ada yang curiga. Yang tahu hanya keluarga dan Mbah saja.
Setelah sebulan akhirnya aku bisa kembali normal. Rasanya badanku lebih enak dan kembali kuat. Suamiku hanya kadang-kadang saja sms atau telpon. Tapi tidak terlalu aku pikirkan. Aku sadar aku punya anak yang harus aku cukupi kebutuhannya. Suamiku tidak bisa diharapkan. Dia tidak pernah memberikan uang padaku. Dia juga tidak meninggalkan aku uang waktu mengantarkan aku pulang kerumah ibu. Jadi aku anggap kalau dia memang tidak menganggap aku ini istrinya.
Aku sudah memikirkan untuk mencari bekerja. Apa saja pekerjaannya nanti akan aku terima. Yang penting halal dan bisa untuk membesarkan anakku. Tapi kemungkinan aku harus meninggalkan anakku pada ibuku. Karena dikampung sangat sulit mencari pekerjaan. Dan kemungkinan besar aku akan pergi merantau entah kemana.
Aku akan berjuang keras demi anakku. Aku yakin aku pasti bisa melewati semuanya. Dan ketika nanti uangku cukup. Maka aku akan segera mengurus perceraianku dengan suami. Tidak perduli aku harus membesarkan anak seorang diri. Tidak perduli juga dengan omongan orang lain. Aku juga tidak perduli jika harus menjanda di usiaku yang masih sangat muda. Semua aku jalani dengan ikhlas.
* Cobaan hidup memanglah berbeda-beda. Terkadang penuh dengan lika-liku dan air mata. Tapi yakinlah suatu saat nanti pasti akan ada hikmahnya. Bersabar dan ikhlas kan semua yang terjadi. Insha Allah semua akan terasa lebih ringan untuk dijalani.