Liam tidak pernah merasakan cinta sebelum bertemu dengan Lyra Maharani, perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya hingga membuat Liam meradang lantaran cintanya tak kunjung disambut oleh Lyra.
"Menikahlah denganku." -Liam Malik
"Saya tidak bisa."-Lyra Maharani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu Unaiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Liam tersenyum setelah apa yang dia lakukan. Dia mengelus pipi Lyra pelan, beruntung perempuan ini hadir di dalam kehidupannya.
Meski samar Liam bisa mendengar suara Lyra saat mimpi buruk itu mencoba menghancurkannya sekali lagi.
Liam menunduk kembali menatap wajah terlelap Lyra. Perempuan itu mungkin kelelahan hingga tanpa sadar tertidur di sampingnya. Liam berfikir sejenak, jika dia membiarkan Lyra tidur dalam posisi seperti itu, perempuan itu akan merasa pegal saat bangun.
Jadi dengan sangat hati-hati Liam menggeser tubuhnya. Tangannya kemudian menyusup di balik punggung Lyra. Tenaganya masih belum pulih, namun mengangkat tubuh Lyra bukan hal yang sulit bagi Liam. Liam menggeser tubuh Lyra ke bawah sehingga perempuan itu dapat berbaring dengan sempurna.
Liam dengan pelan meletakkan kepala Lyra di atas bantal lalu tangannya bergerak menarik selimut.
Setelah memastikan Lyra terbaring dengan nyaman Liam kemudian turun dari ranjang dengan hati-hati agar tidak membuat goncangan yang bisa membuat Lyra terbangun. Liam mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur.
Liam lalu keluar dari kamar, tidak lupa membawa baskom berisi air kompresan juga handuk kecil yang sebelumnya digunakan oleh Lyra untuk mengompresnya. Lyra pasti sangat kelelahan menjaganya hingga perempuan itu ketiduran.
Liam duduk sejenak di kursi meja makan. Sebentar lagi Bi Mirah pasti akan bangun, dan pastinya dia akan mencari Lyra jika tidak mendapati perempuan itu di kamar. Liam mengusap wajahnya, apa yang harus dia lakukan? Dia tidak ingin membangunkan Lyra. Tapi tidak mungkin juga dia membiarkan Bi Mirah mengetahui keberadaan Lyra di kamarnya.
Bagaimana jika Sofia bangun dan menangis saat bocah itu tidak mendapati Lyra berada di paviliun? Satu pertanyaan itu membuat Liam bangkit dari posisi duduknya. Dia memutuskan kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar Liam berdiri di depan jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah paviliun. Laki-laki itu memperhatikan jendela-jendela paviliun. Matanya menajam memastikan apakah lampu-lampu di dalam paviliun sudah dinyalakan atau belum.
Dari jendela tidak terlihat apa-apa, masih gelap. Berarti Bi Mirah masih belum terbangun. Sekarang Liam mendekat pada ranjang di mana Lyra sudah terlelap dengan nyaman.
Liam perlahan mendekat, lalu dia duduk di pinggir kasur. Pandangannya terkunci pada wajah Lyra. Rasa sakit di tubuhnya sudah tidak terasa lagi. Suhu tubuh Liam memang masih hangat namun dia sudah merasa baikan.
Tangan Liam terangkat menyingkirkan rambut Lyra yang menutupi sebagian wajahnya. Liam lalu menyelipkan rambut Lyra ke belakang telinga perempuan itu.
Liam tidak mengerti sejak kapan dia tertarik pada Lyra. Sejak kapan wajah Lyra menjadi pemandangan yang menghangatkan hati Liam. Lyra hanya menemaninya setiap malam. Sebelum tidur wajah terakhir yang dia lihat adalah wajah Lyra, aroma terakhir yang dia cium adalah aroma Lyra, suara terakhir yang dia dengar adalah suara Lyra. Apa karna itu?
Sebelumnya Liam adalah orang yang sangat sulit membuka diri. Dia selalu memberi batasan untuk semua orang yang hadir di dalam hidupnya, namun entah mengapa pada Lyra berbeda. Dia tidak tau kapan pastinya, namun setiap pagi tanpa dia sadari dia selalu berharap orang yang pertama dia lihat adalah Lyra.
Liam menyentuh wajah Lyra. Jari-jari Liam bergerak menyentuh kelopak mata Lyra, alis Lyra yang tidak terlalu tipis, keningnya yang sedikit mengkerut, pipinya yang sedikit berisi, dagunya yang lancip dan terakhir bibir ranum yang terlihat menggoda itu.
Liam mengacak rambutnya frustasi. Apa yang sedang dia lakukan? Jelas ini salah. Liam menarik tangannya seketika. Kesadarannya menamparnya telak. Lyra mungkin akan menamparnya jika perempuan itu tau apa yang sedang dia fikirkan saat ini.
Liam menundukkan tubuhnya kedua siku tangannya bertumpu pada lutut. Liam menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Sejujurnya Liam tidak mengerti bagaimana perasaannya. Yang dia rasakan pada Lyra masih abu-abu, hanya satu yang sudah jelas, dia membutuhkan Lyra. Perasaan lain yang muncul kemudian adalah perasaan nyaman, dia merasa nyaman berada di dekat Lyra dan dia ingin untuk berlama-lama berada di dekat perempuan itu, segala hal menjadi baik-baik saja bagi Liam.
Dia sudah mengakui pada Lyra bahwa dia sudah mulai menyukai perempuan itu namun untuk jatuh cinta, bisakah ini Liam sebut cinta? Jantungnya tidak terasa berdebar-debar seperti yang kebanyakan digambarkan di dalam film. Ataukah ini memang berbeda dengan cinta? Lalu Liam harus memberi nama apa pada perasaan yang timbul untuk Lyra?
Sekali lagi Liam menatap wajah terlelap Lyra. Apa perasaan membingungkan yang dia rasakan ini juga dirasakan oleh Lyra?
Liam menghembuskan nafasnya pelan. Dia kemudian melihat jam di dinding kamar. Sudah pukul Lima lewat. Liam berjalan cepat menuju jendela. Dia lalu mengintip dari celah tirai. Lampu di paviliun sebagian sudah menyala.
Liam kembali menghampiri Lyra. Dia kembali duduk di pinggir kasur, sekali lagi melihat wajah Lyra sebelum tangannya menyentuh pipi perempuan itu. Ibu jari Liam mengelus pipi Lyra pelan. “Lyra...” Panggil Liam setengah berbisik. Lyra menggeliat terlihat terganggu.
Sudut bibir Liam kembali tertarik melihat itu, Lyra masih sangat mengantuk, namun dia tidak punya pilihan lain selain membangunkan perempuan itu.
“Lyra..” Sekali lagi Liam mencoba membangunkan Lyra. Kali ini berhasil, perempuan itu terlihat mengucek matanya sebelum menatap sekeliling dengan raut kebingungan.
“Kamu ketiduran,” ucap Liam pelan.
Melihat Liam duduk di depannya Lyra segera bangkit, perempuan itu dengan terburu-buru segera turun dari ranjang membuat tubuhnya sedikit terhuyung. Liam dengan sigap menahan tubuh Lyra agar tidak oleng dan terjatuh.
“M-maaf Tuan,” cicit Lyra. Dia menunduk dalam, tidak berani menatap wajah Liam.
Liam melepas tangannya di bahu Lyra kala meraskan perempuan itu bergerak mundur, menjaga jarak darinya.
“Saya tidak bermaksud lancang Tuan, sekali lagi saya minta maaf,” tutur Lyra penuh penyesalan.
Liam mengangkat dagu Lyra agar menatap wajahnya. “Apa saya terlihat marah?” Liam menatap lekat mata Lyra.
“Saya tidak marah Lyra, saya tau kamu tidak sengaja melakukannya.”
Lyra terdiam. Perempuan itu menyingkirkan tangan Liam di dagunya.
“Bi Mirah sudah bangun, mungkin sebentar lagi dia akan datang ke mansion. Katakan saja sebenarnya bahwa saya yang menghubungi kamu dan menyuruh kamu datang. Kebetulan saya masih sedikit demam, jadi kamu bisa bilang saya sakit agar Bi Mirah tidak salah sangka,” ucap Liam panjang. Dia kemudian mundur, menjauh dari Lyra.
Setelah mendengar perkataan Liam, Lyra pun tersadar. Laki-laki di depannya sedang sakit.
“Apa Tuan sudah merasa lebih baik?” Lyra maju selangkah, dia menatap Liam khawatir.
“Kenapa tidak kamu periksa sendiri?” Liam juga maju satu langkah. Lyra kemudian mendekat, tangannya terulur menyentuh dahi Liam, memeriksa suhu tubuh laki-laki tersebut.
“Masih panas,” gumam Lyra.
“Tuan sebaiknya berbaring kembali.” Lyra mendekat ke arah Liam dan menuntun laki-laki itu untuk berbaring di atas ranjang.
“Saya tidak marah hanya karna kamu tertidur di ranjangku.” Liam berkata lembut. Tangannya menyentuh tangan Lyra yang sedang menarik selimut untuk menutupi tubuh Liam.
“Tok..tok..tok....”