Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 28
Keesokan Pagi.
Cindy sudah selesai dengan penampilannya, pagi itu ia berniat berangkat lebih awal agar bisa lebih santai. Namun, ketika hendak meninggalkan kamar, Cindy tersadar bahwa David tak juga bangun dari tidurnya.
Karena penasaran Cindy pun berjalan mendekati David mencoba membangunkan pria 27 tahun itu.
“Paman hari ini pergi ke kantor, 'kan?” tanya Cindy lirih.
Bibir David terlihat bergerak, seakan ingin mengatakan sesuatu pada Cindy. Namun, yang terdengar justru suara yang tak jelas sehingga Cindy harus lebih mendekatkan telinganya ke arah mulut David.
“Paman bicara apa?” tanya Cindy.
Tangan Cindy perlahan menyentuh kening David yang ternyata suhu tubuh David sangat panas.
“Astaga, Paman demam.” Cindy panik mengetahui bahwa David sakit dan menyalahkan dirinya sendiri karena ucapannya kemarin langsung dikabulkan oleh Tuhan.
Kini, Cindy bingung harus bagaimana. Ia merasa bersalah dan harus memutuskan untuk menemani David dirumah atau pergi bekerja.
“Paman sakit, apa sebaiknya Paman dirawat saja?” tanya Cindy.
Cindy yang hendak memberitahu Mama Ratih, langsung dihentikan oleh David dan terlihat jelas kalau David tak membiarkan Cindy meninggalkan dirinya.
“Tetaplah disini,” ucap David dengan suara yang sangat lirih, namun masih bisa didengar oleh Cindy.
“Paman harus ke rumah sakit, kalau tidak begitu Paman tidak akan cepat sembuh. Cindy juga harus pergi bekerja, sangat tidak etis pegawai baru seperti Cindy langsung meminta izin untuk tidak bekerja,” terang Cindy.
“Biar aku saja yang meminta izin,” balas David.
Cindy tak ingin berdebat, terlebih lagi kondisi David yang sedang sakit.
“Baiklah, terserah Paman saja. Cindy harap pemilik butik tidak memecat Cindy.”
David tersenyum kecil dan terus menggenggam erat tangan Cindy. Semakin banyak Cindy bergerak, semakin erat pula tangan David mencengkram.
“Paman yakin tidak mau dirawat di rumah sakit? Kalau demam Paman tidak turun juga bagaimana?” tanya Cindy khawatir.
“Ssuutttss..” David memberi isyarat agar Cindy tak banyak bicara.
“Karena Paman sedang sakit, Cindy tidak akan banyak bicara. Sekarang Paman mau apa?” tanya Cindy yang bersedia menebus kesalahannya dengan mengabulkan semua permintaan David.
David tak menjawab, ia malah semakin mempererat genggamannya dan kembali menutup matanya rapat-rapat.
“Paman tidak boleh tidur dengan terus menahan tangan Cindy, kalau begini terus yang ada tangan Cindy menjadi sakit.”
“Pergilah dan buatkan aku teh hangat, tolong jangan diberi gula,” pinta David lirih.
“Baiklah, sekarang lepaskan tangan Cindy terlebih dahulu.”
Cindy menghela napas panjang dan bergegas membuatkan teh hangat tanpa gula sesuai dengan keinginan David.
“Sudah mau berangkat?” tanya Mama Ratih ketika melihat Cindy baru saja menuruni anak tangga.
“Hari ini Cindy izin, Ma. Paman David sakit,” jawab Cindy.
Mama Ratih terkejut sebanyak dua kali. Yang pertama David tiba-tiba sakit dan yang kedua adalah Cindy masih memanggil suaminya dengan sebutan Paman.
“Cindy, boleh Mama bertanya sesuatu sama kamu?” tanya Mama Ratih serius.
“Tanya apa, Ma?” tanya Cindy penasaran.
“Sedekat apa hubungan kamu dan suamimu?” tanya Mama Ratih serius.
Cindy menggigit bibirnya sendiri, ia bingung harus menjawab apa. Ia tidak mungkin berkata jujur apalagi sampai berbohong mengenai hubungannya dan David yang sama sekali tidak ada kemajuan sedikitpun. Bahkan, bisa dikatakan kalau hubungan mereka tidak mungkin kearah yang lebih baik.
“Ya ampun, maaf. Mama rasa tidak seharusnya bertanya seperti itu. Sekarang, pergilah ke dapur. Kalau keadaan David belum membaik, lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit,” terang Mama Ratih.
“Sepertinya Mas David tidak mau pergi ke rumah sakit, Ma. Cindy dari tadi mencoba membujuk dan Mas David menolaknya,” pungkas Cindy.
Cindy ingin sekali menampar bibirnya sendiri karena menyebut David dengan kata Mas. Hal itu tentu saja dia lakukan agar tak menimbulkan kecurigaan bagi Mama mertua, karena pertanyaan yang diberikan Mama Ratih padanya telah menyadarkan karena tak sengaja menyebut David dengan panggilan Paman didepan Sang Mama Mertua.
“Semoga David segera membaik,” ucap Mama Ratih.
Setelah Mama Ratih berlalu pergi, Cindy buru-buru membuatkan teh hangat karena tidak ingin bila David menunggu lama.
“Paman, ini teh hangat tanpa gula,” ucap Cindy seraya meletakkan secangkir teh tersebut diatas nakas.
“Terima kasih, tolong bantu aku duduk,” pinta David dengan suara yang masih sama, lirih dan tak terlalu jelas.
Cindy mencoba membantu David untuk duduk, namun karena kurangnya kesiapan Cindy membuatnya jatuh ke dalam pelukan David.
“Paman, tolong lepaskan Cindy. Paman sebaiknya tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan,” ujar Cindy yang terasa sesak karena David memeluknya cukup erat.
“Renata.” Samar-samar David menyebut nama Renata yang membuat Cindy terkejut bukan main.
David ternyata sedang melantur, ia sendiri tidak sadar menyebut nama Renata.
“Paman, lihat baik-baik. Aku ini Cindy dan bukan Tante Renata,” tegas Cindy yang sudah berhasil melepaskan diri dari David.
Cukup lama Cindy mengoceh, sampai akhirnya Cindy tahu kalau David sedang melantur tidak sadarkan diri efek dari demam yang sedang diderita oleh David.
Tak ingin ambil pusing, Cindy tetap berusaha profesional. Ia berusaha menebus kesalahannya dengan tetap berada di dekat David Wijaya.
“Sudah bangun?” tanya Cindy setelah menunggu kurang lebih 1 jam.
“Apakah wanita itu datang kemari?” tanya David yang terlihat mencari seseorang.
“Paman kalau sakit ya sakit aja, kenapa malah berhalusinasi? Paman pikir Tante Renata akan datang kemari?” tanya Cindy dengan nada tinggi.
“Si*lan.” David mengumpat kesal karena tidak seharusnya Renata muncul didalam pikirannya.
“Paman marah pada Cindy? Memangnya salah Cindy apa?” tanya Cindy mengira bahwa David marah kepadanya tanpa sebab yang pasti.
“Tidak, bukan marah padamu. Tapi, marah pada diriku sendiri yang tak bisa mengendalikan pikiranku untuk tidak memikirkan dirinya,” jawab David.
“Apakah Paman masih mengharapkan Tante Renata yang jelas-jelas sengaja kabur di hari pernikahan Paman?” tanya Cindy kesal.
Cindy merasa kasihan dengan David, bahkan disaat sakit pun yang David pikirkan hanyalah Renata.
“Terserah Paman saja, sekarang coba minum teh yang sudah dingin ini,” ujar Cindy.
Cindy kembali membantu David untuk duduk dan kali ini berhasil. Kemudian, dengan perlahan David meneguk teh tawar itu sampai habis.
“Good,” ucap Cindy pada David yang telah menghabiskan secangkir teh tawar tersebut.
Ponsel David berbunyi dan karena David tak sanggup menerima sambungan telepon tersebut, ia pun meminta Cindy untuk menerimanya dan mengatakan bahwa David tidak bisa pergi bekerja.
“Maaf, hari ini Paman tidak bisa pergi bekerja karena sakit,” ucap Cindy.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Cindy mengakhiri sambungan telepon.
“Siapa?” tanya David sedikit penasaran.
“Shakira,” jawab Cindy singkat dan mengembalikan ponsel David ditempat semula.
“Aku lapar, bisa buatkan aku nasi goreng dengan cabai yang lumayan banyak?”
“Paman gila ya? Paman itu lagi sakit, seharusnya minum obat bukan malah makan cabai,” ucap Cindy geram.
Disisi lain.
Shakira yang sudah tiba di Kantor, merasa perjalanannya menuju Kantor menjadi sia-sia. Ia bahkan menghabiskan 2 jam lamanya untuk berhias diri agar bisa dilirik oleh David.
Dengan perasaan kecewa, Shakira pun pulang ke kontrakannya dan berharap David bisa segera membaik.
“Sia-sia pengorbanan ku pagi ini,” gumam Shakira.
Sebelum pulang, Shakira memutuskan untuk duduk sejenak dibawah pohon beringin seraya memikirkan masa depannya.
Saat tengah duduk santai, tiba-tiba saja Shakira tak sengaja melihat pria yang dulu pernah menjadi sugar daddynya. Shakira yang takut ketahuan kalau dirinya bekerja di Kantor tersebut, memutuskan untuk pergi menjauh dan berharap siapapun dari masa lalunya tidak pernah muncul dihadapannya.
“Kenapa hari ini si*l sekali, kenapa harus aku yang mengalaminya?”
Shakira berlari kecil menuju taksi yang sedang berhenti, kemudian masuk ke dalam dengan napas yang tak beraturan.
“Cepat jalan Pak!” perintah Shakira panik.
“Mau pergi kemana, Neng?” tanya pengemudi taksi tersebut.
“Jalan dulu saja, Pak. Yang penting pergi jauh dari area sekitar sini,” jawab Shakira sambil memperhatikan ke arah sekitar.
Mobil taksi itu pun bergegas pergi mengikuti arahan dari Shakira.