Bertemu kembali setelah terpisah sekian lama, perasaan cinta itu kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pe_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kedekatan Berlanjut.
HAPPY READING...
***
Minggu kedua setelah kesepakatan kerja sama terjalin. hubungan Anna dan Mahes kian baik. mereka begitu akrab dan sangat sepemikiran tentang halal berbau seni.
dan hal itu benar-benar membuat Anna menikmati pekerjaannya kali ini.
"Hahaha... aku sudah menduganya..." ucap Anna sambil menggores tinta pada kanvas di depannya. sedangkan Mahes berdiri dan mengamati pekerjaan Anna.
"Dan tinggal aku sendiri yang menjomblo sampai sekarang..." keluh Mahes.
Mereka tengah membahas kencan buta Mahes beberapa waktu lalu yang tak berhasil. entah apa yang membuat Mahes tidak menerima wanita hasil kencan buta nya itu. hingga membuta pria itu masih melajang sampai sekarang.
"Salah sendiri pilih-pilih..." timpal Anna. baginya membicarakan hal ini adalah lumrah. toh pada akhirnya dewasa adalah fase yang akan dilalui semua orang. termasuk Mahes juga.
"Aku tidak pilih-pilih, bahkan tak memiliki kriteria apapun untuk pendamping ku nanti..." ucap Mahes. kali ini tatapannya justru beralih pada Anna yang duduk di depannya itu. memperhatikan gerak-gerik Anna yang terlihat tenang saat melukis. dan Mahes suka hal itu.
"Lalu?" pancing Anna. kalau tidak punya kriteria appun soal wanita, kenapa tak satupun wanita yang Mahes terima?
"Hati tidak bisa dibohongi bukan?" jawab Mahes dan tersenyum di akhir kalimatnya.
Seumur hidup itu lama. ia tak bisa asal menerima seseorang dan berkomitmen sampai akhir hayatnya. bagaimana kalau wanita yang ia pilih tidak memiliki sifat yang sama seperti pertama kali mereka bertemu? yang ada hanya akan mengecewakan semuanya.
"Aku hanya ingin wanita yang bersamaku nanti adalah wanita yang benar-benar ingin berjalan di sampingku sampai tua nanti..." lanjut Mahes.
"Seperti?" tanya Anna lagi. masih dengan konsentrasinya terhadap lukisan yang tengah ia kerjakan saat ini.
"Seperti dirimu..." jawab Mahes.
Mendengar jawaban Mahes, Anna terdiam. cukup lama tak melanjutkan pekerjaannya. bingung dengan apa yang dikatakan Mahes barusan.
Anna menoleh ke arah pria di belakangnya.
Apa maksudnya? begitu sorot matanya bicara. sedangkan yang ditatap hanya diam. tak menjelaskan maksud dari ucapannya itu.
"Hahaha... jangan bercanda Mahes..." gurau Anna. mencairkan suasana yang sempat membeku tadi.
wanita itu kembali lagi menatap ke arah kanvas di depannya. hendak meneruskan pekerjaannya.
"Aku serius Ann..." ucap Mahes. kali ini Anna benar-benar mendengar ucapan pria itu.
Mahes menatap punggung Anna begitu dalam. "Aku serius menyukai mu Ann...".
Mahes sebenarnya pernah bingung dengan perasaannya itu. apakah perasaan terhadap Anna hanya sebuah kekaguman saja? atau karena mereka sudah nyaman dan dekat?
tapi sampai detik ini, perasaan Mahes terhadap wanita itu justru semakin dalam. ada keinginan untuk memiki Anna.
"Mahes-,".
Anna tak bisa membiarkan semua ini berlanjut. setidaknya hubungan mereka hanyalah sebatas hubungan kerja saja. tak melibatkan hati. karena Anna tau, apapun yang terjadi nanti pasti hanyalah sebuah penyesalan saja. dan pada akhirnya hanya Mahes yang akan tersakiti oleh perasaannya sendiri.
"Aku tidak memaksamu Ann... aku hanya ingin mengatakan sejujurnya saja..." ucap Mahes. memang ia sadar terlalu awal untuk mengatakannya. tapi mau bagaimana lagi?
Mahes benar-benar menyukai Anna.
"Baiklah, aku akan kembali ke Perusahaan..." ucap Mahes.
apalagi suasana menjadi tak nyaman setelah ia mengungkapkan isi hatinya pada Anna.
"Hm," jawab Anna penuh kebingungan.
"Aku kembali dulu ya..." ucap Mahes. menyentuh ujung kepala Anna begitu lembut.
Setelah kepergian Mahes, Anna benart tidak bisa berkonsentrasi. fokusnya hilang dan hanya menatap lukisan di depannya tanpa tau harus melakukan apa.
ucapan Mahes berulangkali terngiang dalam kepalanya.
Usia mereka yang sama, seharusnya tak menjadi masalah. mereka bisa saja saling membuka hati dan menjalin hubungan ke depannya. hanya saja bukan itu masalah bagi Anna. ia hanya tak bisa memulai sebuah hubungan. Ada Arion yang juga menjadi hal penting yang harus Anna pertimbangkan.
apalagi bocah itu tak paham dengan apa yang tengah terjadi pada Anna.
yang Arion tau, ia memiliki ibu dan Ayah dalam hidupnya.
Hingga malam hari, Anna baru saja merapikan semua pekerjaannya dan keluar dari Kantor.
tadinya ia ingin memesan Taxi, tapi siapa sangka Mahes ada di depan sana.
"Ann...".
Mengejutkan Anna dengan panggilannya barusan.
Mahes?
"Ayo aku antar pulang..." ucap pria itu. membuat Anna hanya terdiam tak tau harus melakukan apa.
bahkan ketika Mahes berjalan mendekat, Anna masih tak bersuara.
"Haloo... kenapa melamun?" ucap Mahes. melambaikan tangan tepat di depan wajah Anna. membuat wanita itu mengerjab beberapa kali.
Mahes tersenyum sangat indah.
seperti tak ada beban sama sekali. padahal pria itu juga yang membuat Anna hilang konsentrasi sejak siang.
"Ayo aku antar pulang..." ajak Mahes.
"Tapi-,". Percuma saja, Mahes menarik tangan Anna dan membawanya mendekat ke mobil. hingga yang Anna lakukan hanyalah pasrah saja. mengikuti keinginan Mahes dan duduk di bangku samping kemudi.
"Sudah siap?" tanya Pria itu dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan kantor Anna.
Mahes benar-benar mengantar Anna pulang.
Diperjalanan tak ada yang bersuara sama sekali. sedangkan Anna memilih untuk menatap ke luar jendela. toh bingung mau mengatakan apa? karena suasana sungguh canggung.
"Mau makan dulu sebelum pulang?" tanya Mahes menyarankan.
"Kamu belum makan?" tanya Anna. sedikit terkejut karena jam makan malam telah lewat.
Mahes menggelengkan kepalanya masih dengan senyum yang selalu tersungging di bibir.
"Sayang sekali... kamu sudah makan ya?" tanya Mahes. padahal ia sudah berharap bisa makan bersama Anna malam ini.
"Sudah, tadi di pesankan makan malam oleh Mita..." ucap Anna bohong. ia pun belum makan malam, tapi sengaja berbohong agar tidak terlalu lama sampai di rumah.
Mahes pun mengangguk paham.
terus mengemudi dan tak lepas mengamati jalanan di depan sana.
Tiba-tiba telepon Anna berdering.
Sean?
Anna terkejut melihat nama kontak yang tengah meneleponnya saat ini.
Bagaimana ini?
Anna bingung harus menjawab telepon dari Sean atau membiarkannya saja.
"Kenapa tidak di angkat?" tanya Mahes.
"Em...".
"Angkat saja..." lanjut pria itu mempersilakan.
Pada akhirnya Anna benar-benar mengangkat telepon dari Sean. "Halo?".
"MAMA!".
Ada kelegaan dalam hati ketika bukan suara Sean yang muncul dari sana. melainkan Arion.
suara khas anak kecil yang terdengar keras, membuat Mahes juga penasaran.
"Arion, kenapa berteriak?" tanya Anna.
"Kenapa Mama belum pulang sampai jam segini?".
"Iya Arion... ini Mama lagi di jalan..." jawab Anna menjelaskan. sesekali ia melirik jam yanga da di pergelangan tangannya. memang sudah jam 8 lebih, tapi Anna masih berada di luar. otomatis membuat Arion bertanya-tanya bukan?
"Cepat pulang!".
"Oke... sebentar lagi Mama sampai..." jawab Anna. dan panggilan telepon pun terputus.
"Putramu?" tanya Mahes.
"Ha? oh... iya..." jawab Anna.
Mahes pun mengangguk paham. Ia sudah tau kalau Anna seorang orang tua tunggal yang memiliki anak laki-laki. hanya itu yang ia tau.
"Pasti dia sangat khawatir dengan Mamanya yang tidak kunjung sampai..." lanjut Mahes.
"Iya.." jawab Anna canggung.
Aduhh... aku ingin segera sampai... batinnya bicara. sungguh berbincang dengan Mahes setelah percakapan tadi siang benar-benar membuat Anna merasa aneh.
Tiba di Apartemen.
Anna turun dari mobil. diikuti oleh Mahes juga. pria itu terus mengamati gedung bertingkat tinggi yang dihuni oleh Anna.
"Aku- aku... masuk dulu ya..." pamit Anna.
"Tidak mau menawariku untuk bertamu dulu?" goda Mahes.
"Ha?".
"Hahaha... aku hanya bercanda Ann..." ucap Mahes kembali hendak menyentuh ijung kepala Anna, tapi karena perlakuannya yang tiba-tiba reflek membuat Anna menjauh sebelum Mahes melakukannya.
Pria itu hanya bisa tersenyum. entah apa yang ada dalam pemikirannya.
"Sudah malam juga, tidak baik bertamu saat seperti ini..." lanjut Mahes lagi.
Anna mengangguk.
"Baiklah... sampai bertemu besok..." ucap Mahes pamit. "Selamat malam Ann...". berjalan masuk kembali ke mobil.
"Hati-hati..." ucap Anna. melambaikan tangan mengantar kepergian Mahes dari sana. hingga mobil Mahes tak terlihat dari pandangannya, Anna langsung berjalan masuk ke dalam Apartemen.
Tanpa ia sadari, di balkon Unitnya berada ada sepasang mata yang tengah memantau pergerakannya.
***