NovelToon NovelToon
KITA KEMBAR?

KITA KEMBAR?

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Anak Kembar / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Teen School/College / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:60.9k
Nilai: 5
Nama Author: bund FF

Rumus selamat dari pembullyan di sekolah adalah berteman dengan cowok ternakal.

Dan sialnya, cowok itu adalah Rifat Basuki. Pemilik pondok pesantren ternama dimana omku menimba ilmu. Dia yang sejak dulu kukagumi, Gus Rifat.

Semenjak pindah ke ibu kota, aku jadi tahu jati diriku dan sungguh aku sangat kecewa dan memutuskan pergi dari rumah.

Beruntung ada om tampan tapi menyebalkan, Samuel Darius Alexander yang mau menampungku dengan syarat mau merawat kekasihnya yang sedang mengalami koma.

Namaku Alina Jovanca Putri

---

Hidup gue amat tenang selama 16 tahun ini. Tapi sejak kehadirannya, seolah semua keberuntungan berpihak padanya.

Dia merampas kasih sayang papa, dia berteman dengan bad boy sekolah yang super keren, dia cerdas, dan dia juga punya sugar Daddy yang sangat tampan.

Ahhh.... Gue iri!
Awas lo, kembaran!
Hidup lo nggak boleh tenang.

Kenalkan, nama gue Alisa Permata Yudha

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan-jalan Pagi

Alin bersiul sambil mengelap motornya karena seharian kemarin teronggok di garasi luas milik papanya.

Masih mengenakan baju rumahan, Alin celingukan melihat koleksi moge milik papanya yang pernah Alin lihat mirip seperti milik Pak Kyai, abahnya Rifat di pondoknya dulu.

"Uwah, ada kuncinya. Kalau aku coba naik, papa marah apa enggak ya?" gumam Alin, dia bisa mengendarai motor besar seperti itu karena seringnya bergaul dengan Rifat. Cowok itu yang mengajarkannya pada Alin.

Masih dengan mesin motornya yang menyala, Alin mencoba menghidupkan mesin salah satu motor Yudha dan ternyata bisa.

"Hah, bisa" kata Alin sambil bertepuk tangan.

"Keren banget sih yang ini, coba naik deh" kata Alin yang tak menyadari jika tingkah konyolnya sedang diperhatikan oleh papanya.

"Kalau mau coba, papa nggak marah kok" Alin sungguh terkejut saat papanya yang tiba-tiba berucap begitu. Buru-buru dia turun dari motor dengan tak enak hati.

"Maaf pa, aku lancang" ucap Alin sambil mematikan mesin motor papanya, dan kembali mengelap motornya sendiri.

"Nggak apa-apa, sayang. Kalau kamu mau coba, papa nggak marah kok" kata Yudha sambil tersenyum.

Alin melihat gurat wajah papanya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah hampir lima puluh tahun.

"Beneran, pa?" tanya Alin malu-malu, tapi sangat mau.

"Iya benar. Bagaimana kalau kita naik bersama, kita keliling komplek pagi ini?" tanya Yudha.

"Uwah, boleh banget pa" ucap Alin terlalu bersemangat. Lagipula melihat langit di luar masih sedikit gelap. Matahari belum nampak sepenuhnya.

"Kamu mau naik yang mana?" tanya Yudha yang sudah memilih satu untuk dia kendarai.

"Yang itu saja" jawab Alin yang kembali pada motor yang tadi sudah dia panaskan mesinnya.

"Oke, ayo berangkat" ajak Yudha.

"Ehm, tapi papa tumben sudah bangun?" tanya Alin sedikit heran, biasanya Yudha akan keluar kamarnya saat jam enam pagi untuk bersantai di teras belakang.

"Papa tadi bangun subuh" jawab Yudha.

"Besok ke masjid bersama yuk, pa. Kita jalan kaki" ajak Alin.

Yudha tersenyum dan mengangguk, bahagia sekali hatinya melihat jika Vani sangat berhasil mendidik Alin sampai bisa sedisiplin itu.

"Sudah, ayo kita berangkat" kata Yudha yang sudah lebih dahulu melakukan motornya perlahan, diikuti Alin dibelakangnya.

Tin! Tin!

Klakson dari Yudha membuat Pak Bagas segera membukakan gerbang.

Orang tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak percaya melihat Alin bisa mengendarai motor milik papanya.

Alin dan Yudha berkeliling tak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Hingga hampir satu jam berkendara, Alin yang melihat Rifat tengah mengelap motor dan memanasi mesin motornya di sebuah halaman membuatnya berhenti untuk memastikan pandangannya.

Dan Yudha juga ikut berhenti, berjejer dengan motor Alin.

"Uwah, ada tamu pagi-pagi buta nih" ucap Rifat sambil mendekat pada Alin yang masih berada diatas motornya sambil menampilkan deretan giginya yang putih.

"Assalamualaikum, gus. Kenalin tuh, papanya Lisa" sapa Alin.

"Waalaikumsalam. Pagi om" jawab Rifat sambil mendekat pada Yudha dan menyalami pria itu. Yudha terkesan karena Rifat mencium punggung tangannya.

"Pagi, kamu yang namanya Rifat?" tanya Yudha.

"Sebentar deh, papanya Lisa kan juga papanya elo kali, Lin. Dasar bocah" perkataan Rifat membuat Alin terkekeh.

"Iya om, saya Rifat. Apa Alin mengadu yang tidak-tidak nih sama om tentang saya?" tanya Rifat dengan nada bercanda.

"Tidak. Hanya saja anak saya kok suka sekali sama kamu" jawab Yudha yang masih menatap lekat pada Rifat, memang anak yang masih remaja itu sudah nampak berwibawa di mata Yudha.

"Anak yang mana dulu nih, om? Kalau yang ini, saya pasti akan terharu kalau sampai suka sama saya" lagi-lagi Rifat bercanda, tak ingin pembicaraan itu semakin jauh.

"Sudahlah, pa. Masih pagi, jangan terlalu serius kalau ngobrol sama gus Rifat. Dia nggak akan nyambung soalnya belum sarapan" kata Alin.

"Pulang yuk pa. Aku mau siap-siap ke sekolah. Belum juga nengokin Bejo, dari kemarin aku belum ketemu. Rindu aku sama dia" kata Alin sambil mengenakan helmnya kembali dan menyalakan motornya.

"Bejo siapa, Lin?" tanya Rifat.

"Kucing oren yang waktu itu kecelakaan, gus. Dia selamat loh. Aku kasih nama Bejo deh" jawab Alin sambil menengok pada papanya yang juga sudah siap.

"Kami pulang dulu ya, gus. Sampai ketemu di sekolah. Assalamualaikum" pamit Alin.

"Waalaikumsalam, nanti nggak nebeng lagi?" tanya Rifat sebelum Alin benar-benar pergi.

"Nggak gus, makasih. Motorku sudah bisa" jawab Alin sambil melambaikan tangannya dan kembali pulang.

Sesampainya di rumah, gelegar suara knalpot motor mereka berdua membangunkan Lisa yang tidurnya merasa terganggu.

Masih dengan rasa malas, Lisa mendekat pada jendela dan melihat ke luar. Rasa emosi kembali menerpa hatinya saat melihat Yudha tertawa bahagia bersama Alin yang tengah mengendarai motor masing-masing.

"Alin udik! Ih .. Brengsek banget Lo jadi orang! Ambil saja semua perhatian papa. Makan semuanya. Gue nggak butuh!" teriak Lisa di dalam kamarnya, dan setelah puas marah dan berteriak, wajahnya kembali terasa perih karena cakaran Bejo kemarin belum kering betul.

"Ah... Sakit. Sudah mati masih saja ninggalin jejak. Nggak kucingnya, nggak tuannya, semuanya nyebelin. Awas ya lo, udik" kata Lisa sambil memegangi wajahnya yang terasa perih.

Sementara di dalam garasi, Alin yang sudah memarkirkan motor papanya dengan baik bergegas pamit untuk bersiap pergi sekolah.

"Aku duluan ya pa, mau cepetan mandi. Sudah jam enam" pamit Alin.

"Papa juga mau ke kantor. Kita bertemu di meja makan ya sebelum berangkat" kata Yudha.

"Iya pa" jawab Alin sambil berlari memasuki rumah dan menyambangi kandang Bejo yang masih saja kosong.

"Mbak, Bejo kemana sih? Kok kandangnya kosong terus?" tanya Alin.

"Ehm, lagi pengen kawin kayaknya, non. Sejak kemarin kelihatannya main ke rumah kucing di depan rumah sana" jawab si mbak masih saja berbohong.

"Oh, yasudah deh" jawab Alin yang kembali berlari dan memasuki kamarnya untuk segera bersiap ke sekolah.

Sudah setengah tujuh, Alin yang sudah siap dengan segala perlengkapan sekolahnya merasa ingin ke toilet.

"Taruh disini dulu deh" gumam Alin sambil meletakkan tas ranselnya di bufet depan kamarnya, diapun kembali masuk dan segera menuntaskan hajatnya.

Kesempatan itu digunakan oleh Lisa untuk melihat isi di dalam tas Alin dan menemukan buku tugas Alin yang memperlihatkan jika Alin harus mengumpulkan salah satu tugasnya hari ini.

"Hahaha, mampus lo udik" gumam Lisa sambil membawa salah satu buku tugas Alin dan segera berlari ke belakang.

Tak berapa lama, Alin yang sudah siap segera menenteng tasnya dan segera pergi ke meja makan.

"Pagi pa" sapa Alin yang melihat Yudha sudah duduk dan mengoleskan selai stroberi diatas rotinya.

"Pagi, Lin. Dimana Lisa?" pertanyaan Yudha membuat Alin celingukan dan menemukan Lisa sedang berjalan ke meja makan dari arah belakang.

"Tumben dari belakang, Lisa?" tanya Alin heran, Lisa datang bukan dari arah kamarnya.

"Kepo" jawab Lisa singkat, Alin hanya bisa bernafas dalam. Menyesal rasanya sudah bertanya.

"Sebentar pa" kata Alin sambil beranjak dan sedikit berlari ke dapur, meminta mbok Nah untuk membuatkan bekal.

"Kenapa?" tanya Yudha setelah Alin kembali.

"Mau bawa bekal, pa. Nanti ada meeting lagi di PMR. Biar nggak kelaparan" jawab Alin yang kembali sibuk dengan nasi gorengnya.

"Kenapa tidak beli saja?" tanya Yudha.

"Nggak apa-apa, pa" jawab Alin.

"Kamu nggak sekolah?" tanya Yudha yang melihat Lisa masih memakai baju tidurnya.

"Masih sakit, pa" jawab Lisa.

"Memangnya kamu kenapa sih sebenarnya, Lisa?" tanya Yudha heran.

"Sedikit insiden, pa. Papa sih akhir-akhir ini cuek sama aku, Alin terus yang diperhatikan. Kan jadi nggak tahu apa yang terjadi sama aku sampai seperti ini" kata Lisa.

Yudha kembali pusing, sungguh Lisa terlalu manja untuk mengerti jika mereka bersaudara.

"Tadi aku sama papa ketemu gus Rifat lih, Lis" kata Alin berusaha menyenangkan hati Lisa.

"Terus?" tanya Lisa santai, padahal dalam hatinya menggebu.

"Papa bilang kalau kamu ngefans sama dia. Apa kamu masih mau bilang kalau papa nggak perhatian sama kamu? Papa sampai mau menyampaikan pesan kamu ke dia, loh" kata Alin dengan santai.

"Terus, dia bilang gimana?" wajah Lisa mulai excited.

"Sayangnya gus Rifat nggak begitu merespon. Masih belum mikirin masalah begituan kayaknya" jawaban Alin membuat Lisa sedikit manyun.

"Apa gue harus nunggu kita kembali belajar di satu kampus yang sama? Keburu ngefans cowok lain dong guenya" Alin terkikik geli dengan ucapan Lisa yang seolah dikejar, bukan mengejar Rifat.

Tak lagi banyak bicara, Alin segera berpamitan untuk segera pergi sekolah karena jam pertama pelajaran hari ini dimiliki oleh guru Biologi yang cukup killer.

Beruntung Alin tak datang terlambat, dia duduk di kursinya bersamaan dengan bel tanda masuk berbunyi dan pak guru sudah stand by di mejanya. Sungguh guru yang on time!

"Baiklah, keluarkan tugas kalian dan letakkan di meja saya" ucap pak guru.

Seisi kelas segera mengambil buku tugasnya dan menyerahkan pada pak guru yang tengah memindai seluruh isi ruangan dan nampak Alin yang sibuk mengeluarkan isi di dalam tasnya.

"Mana tugas kamu, Alina?" pertanyaan pak guru membuat seisi kelas ikut menoleh ke arahnya.

Alina bingung. Bagaimana bisa bukunya raib?

1
diara
i like it
diara: semangat terus yah kak berkarya nya
total 2 replies
Arini Hidayati
semoga ada keajaiban
Arini Hidayati
kasian berlian
Muanisah Jariyah
hansen psikopat
Purwo Ningsih
Jangan Clara yang jadi korban harus cepat ditolong
falea sezi
sam ngapa lu ngelarang pcr jg bukan
falea sezi: heran urus aja pcrmu yg koma/Facepalm/
total 2 replies
Rech
clara termasuk contoh teman yang bermuka dua keknya
FIFA: lebih ke terlalu polos sih kalau menurut ku, kak...
ada kok cewek polos yg spkgaul begitu...
ujung-ujungnya ya merepotkan teman deh
total 1 replies
Purwo Ningsih
Jangan Clara jadi korban Hanses jatuhnya Alin yang akan menyesal.
Bongkar dong kebusukan Hansen
FIFA: memang Clara itu yaa....
total 1 replies
FIFA
iya...
benar..

Alin jadi anak binti Vani, bukan anak bin Yudha😊
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
hati busuk si lisa
falea sezi
Rifat cocok ma alin
falea sezi
jd anak di luar nikah nih nasab nya bukan di yudha berarti dia g berhak nikahkan alin kelak kalo alin nikah
falea sezi
vani ma Yuda cerai apa hamil di luar nikah
falea sezi
masih meraba alurr
Surya Filter
jangan lama lama torr up nya😞😞
Ramijah Ram
kok lama up nya
Mutiara
.
Surya Filter
lama banget gak up lg tor
Nofi Otafia
lanjuttzz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!