Kisah Revalina Hamid atau Adiva Briana Elang , selama terpisah dari keluarga kandungnya. Saudara kembar Adila Dyah Elang yang hilang saat usia 8 tahun tumbuh dengan identitas baru.
Keadaan merubah sifat dan watak mereka. Adiva yang lupa akan Siapa dirinya hidup dengan jati diri baru, sebagai Revalina Hamid Putri dari keluarga Hamid dari istri pertama. Putri yang selalu bikin masalah dengan ayahnya, saudara tirinya dan ibu sambungnya.
Adila anak perempuan yang ceria dan ceplas-ceplos dalam bicara , berubah menjadi pribadi yang pendiam dan introvert, mandiri pendiam, tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak setelah kembaran nya menghilang.
Bagaimana cara takdir bekerja untuk menyatukan anak-anak Raihan dan Raihana. Ikuti juga kisah cinta si kembar menemukan cintanya.
Juga kisah si kembar setelah terpisah dan berkumpul lagi. Juga kisah cinta mereka bersama sahabat-sahabatnya dan tidak ketinggalan kakak si kembar Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Buat Bergaya
"Sarapan dulu sebelum berangkat ke Bandara." Ucap bunda sambil mengambilkan aku nasi dan ikan goreng buatku sarapan.
"Bunda tidak sarapan ?" Tanyaku saat bunda mulai menyuapi ku.
"Ini sepiring berdua."
"Usia bunda denganku cuma terpaut antara 14 sampai 15 tahun. Seharusnya kita menjadi adik kakak, bukannya bunda dan anak. Tapi mengapa dulu bunda malah meminta ayah mengadopsi ku?" Tanyaku disaat kami makan bersama.
"Simpel sih sebenernya, bunda menemukan mu saat bunda baru kehilangan putri Bunda. Jadi jiwa keibuan bunda itu terasa terpanggil !"
"Aku juga mau dong di suapin !" Ucap Om Andi yang baru muncul ,sambil menggedong Bima dan bergabung duduk dengan kami.
"Sini Bima sama aku ,kalau bunda gantian nyiapin Om Andi ! Dasar Om-om selalu iri sama daun muda!" Ucapku membuat om Andi melotot.
"Lihat anakmu ngatain aku om-om,"rajuk Om Andi membuat bunda terkekeh.
"Masih ada satu jam sebelum aku berangkat ke bandara, ayo kita bermain dulu!"Ucap sambil berjalan ke depan bersama Bima.
"Dari mana Sar?" Tanyaku saat melihat Sari dengan kantong hitamnya.
"Biasa mak-mak beli sayur dulu sebelum berangkat kerja !" Ucap Sari Sambil mencium pipi Bima dalam gedong aku.
"Adik-adik titip salam makasih. Padahal aku yang jadi model dadakannya, tapi mereka juga yang ikut kena untungnya."
"Karena kamu kakak yang hebat!"
"Berangkat pesawat jam berapa?"
"Jam 10 mungkin 7.30 menit berangkat dari sini !"
"Aku masuk dulu, mau masak hati-hati di jalan jangan lupa main lagi ke sini!" Ucap Sari masuk ke dalam rumah.
Sesuai rencana aku berangkat ke bandara di antar oleh om Andi dan bunda, tidak ketinggalan Bima.
"Mau ke mana Serma Andi !" Tanya Taufik yang kebetulan lagi joging. Sedangkan Om Andi sedang mengeluarkan mobil.
"Siap Letnan ijin mau mau ke Bandara !"
"Bun umur Om Andi kan lebih tua kok malah hormat?" Tanya yang duduk di teras dengan bunda.
"Karena Om Andi pangkatnya di bawah Letnan Tufik!" Jelas bunda dengan suara lirih.
"Bandara, kalau nunggu saya 15 menit bisa keburu gak. Kalau bisa mau nebeng?"
"Siap Letnan bisa, kamu rencananya berangkat pukul 7.30 menit ini masi pukul 7. 10 menit!" Begitu mendengar ucapan Om Andi, Taufik langsung lari. Tidak sampai 15 menit dia sudah kembali dengan seragam dan tas ranselnya.
"Kenapa ko Makai seragam,?" tanyaku.
"Agar lebih mudah membawa perlengkapan dinas dan perlengkapan tambahan. Karena prajurit TNI yang cuti atau izin pulang kampung ,bisa saja sewaktu-waktu dipanggil untuk bertugas. Sehingga, tidak ada salahnya prajurit TNI tetap memakai seragam dalam perjalanan hingga sampai ke kampung halaman." Jelas Taufik saat kami berada di dalam mobil.
"Aku kira cuma buat bergaya , pamer seragam?" Ucapku membuat Om Andi menggelengkan kepalanya.
"Maybe some of them are like that !"(mungkin ada yang sebagian begitu.) Ucap Taufik terkesan ambigu.
Tidak ada obrolan serius di antara kami, selama perjalanan hanya obrolan kaku antara om Andi dan Taufik . Dari obrolan mereka aku juga tahu Taufik hanya cuti 2 hari, sebelum ada kegiatan pelatihan di Malang.
"Ko Reva diam saja dari tadi, sakit gigi mu?" Tanya Om Andi, sambil mengemudi mobil.
"Lagi mikir habis selesai kuliah mau ngapain ?" Jawab asal sambil memperhatikan jalanan.
"Ga ada keinginan nikah muda ?"
"Mas, !" tegur Bunda. "Belajar aja dulu yang benar , jangan di dengerin !"
"Tu dengerkan om larangan dari bunda. Apalagi aku di rumah paling muda, mungkin setelah kedua kakakku. Tapi kalau buat sekolah lagi kayanya sudah gak sanggup deh." Jawabku sambil melihat bunda.
"Memanfaatkan masa muda untuk belajar gak ada salahnya. Di luar sana banyak Lo yang ingin belajar ke tingkat lebih tinggi tapi terhalang banyak hal. Bunda saja baru bisa lulus S2 di saat umur sudah expired."
"Kepalaku sudah terasa mau meledak ngerjain tesis Bun, apalagi kalau di suruh Disertasi kepalaku mungkin bisa pecah." Ucapku yang yang di sambut tawa Om Andi.
"Reva sedang ngerjain tesis berarti Reva adalah mahasiswi S2,?" tanya Taufik.
"Iya memang kenapa ,?" tanyaku.
"Aku kira masih SMA,?" tanya Taufik.
"Gila berarti mukaku awet muda ya, umur sudah 24 tahun masih di bilang kaya anak SMA!" Ucapku membuat semua tertawa, termasuk Taufik yang bertanya.
"Bukan begitu sekarang kan banyak anak muda berumur 18 tahun , tapi sudah berdandan menor seperti wanita 24 tahun!" Ucap Taufik sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Berarti yang di samping anda kebalikannya ya Let, wanita sudah 24 tahun tapi masih kaya anak SMA."
"Bukan gitu bunda aku hanya memakai apa yang membuatku nyaman." Ucapku menolak pendapat bunda mengenai diriku. Memang bunda sering mengomentari penampilan ku yang bisa di bilang semauku. Bertepatan dengan mobil berhenti di depan bandara.
"Aku pulang dulu bun?" Ucapku berpamitan kepada Bunda dan Om sebelum turun dari mobil.
"Hati-hati jangan lupa kasih kabar !"
Aku langsung keluar berjalan masuk ke bandara meninggalkan Taufik yang masih basa-basi dengan Om Andi.
"Memang kamu pesawat jam berapa sih , buru-buru banget ?" Tanya Taufik yang sudah berjalan di sampingku.
"10.15!"
"Masih lama bisa lah ngobrol sebentar ?"
"Boleh, tapi aku mau beli es dulu haus !" Ucapku yang langsung masuk ke kedai kopi dan memesan satu minuman dingin yang mengandung kafein.
"Aku gak nyangka kamu seorang mahasiswa S2. Calon wanita karir, semoga segera lulus dan bisa berkarier !" Ucap Taufik setelah kami duduk di ruang tunggu bandara.
"Terima kasih atas doanya. Sudah lama kenal Dokter Farah?"
"Sudah setahun ini dikenakan oleh Irham. Tinggal di Jakarta sama siapa ?"
"Orang tua, saudara."
"Bisa bagi no ponselnya ?"
"Buat?" Tanyaku sambil memicingkan mataku.
"Buat pertemanan,!" Jawanya kikuk.
"Oke !" Jawabku sambil memberikan no ponselku.
Tidak masalah Diva hanya no ponsel, jika berani macam-macam adukan ke papa. Lagian dia kan tahunya namaku Reva bukan Diva, jadi aman.
Selama 30 menit mengobrol sebelum masuk pesawat, obrolan kami lebih mirip obrolan perkenalan nama anak SMA.
Sesampai di Jakarta aku di jemput Satria dan langsung ketemuan dengan pihak wedding organizer. Bukan buat nikah ya, buat memberikan contoh desain sovenir pernikahan. Sudah setahun ini aku bekerja dengan salah satu teman Satria yang memiliki jasa wedding organizer.
"Sorry telat ya mas Bagas mbak Ayu !" Ucapku begitu masuk ke dalam kafe diikuti Satria. Bagas dan Ayu sepasang kekasih, hubungan mereka berawal dari bawahan dan atasan.
"Santai aja pihak mempelai juga belum datang kok," jawab Ayu.
Kali ini pengantin minta sesuatu yang berbeda, karena itu aku menyarankan untuk memakai gambar lukisan mereka di pintu masuk gedung resepsi. Bukan foto prewedding mereka. Karena mereka seorang polisi dan perawat aku sengaja menunjukkan contoh gambar Sari dan Romli. Setelah mengikuti meting hampir satu jam, mereka setuju dengan dengan saranku. Bahkan mereka memesan 300 mug keramik dengan desain gambar mereka. Untuk pengambilan gambar akan di diskusikan waktu senggang mereka.
"Cuma modal bisa gambar udah bisa menghasilkan cuan ya!" Ucap Satria saat kami di dalam perjalanan pulang, setelah 2 jam di kafe.
"Salah, bisa gambar kalau hasil gambarnya kaya punya mu, ya ga bakal menghasil uang. Bisa gambar tapi kalau tidak punya keberuntungan juga gak akan bisa. Jadinya intinya semua sudah di gariskan tinggal bersyukur." Ucapku yang di tanggapi dengan cibiran Satria .
🎼✉️ Sister
Gw lagi razia narkoba di sebua kafe tempat kumpulnya anak remaja.
🎼✉️ Sister
📷 Sama dia aku di panggil Reva dan di katakan sombong.
.