Bermula ketika Zara memilih membantu menggantikan Hana, sang sahabat, yang akan bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengannya. Zara harus terjerat hubungan pria itu.
Melakukan kontrak cinta dengan Devano, yang merupakan salah satu CEO muda di Ibukota.
Di awal, rencana Devano berjalan sangan mulus, hingga tiba disuatu saat, sang kakek mengetahui kontrak cintanya bersama Zara.
Ketika benih cinta mulai tumbuh, keduanya harus mengakhirinya, karena keluarganya akan kembali menjodohkan Devano dengan wanita lain.
Tidak di sangka, rupanya Tuhan memiliki cerita sendiri untuk mereka. Dari perkenalannya dengan keluarga Devano, membuat Zara bisa kembali menguak kisah lama keluarganya yang cukup menyedihkan hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini ia nantikan.
bagaimana kisah selengkapnya?
yuk ikuti terus ceritanyaa...
jangan lupa subscribe dan follow Nad ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadya Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Ruangan dengan nuansa putih itu tampak hening. Kedua pria beda usia kini tengah duduk saling berhadapan dengan mata yang menatap satu sama lain.
Sudah hampir lima menit semenjak kepergian Zara, kedua pria itu belum membuka obrolan sama sekali.
"Ehem!" Devano mengatur posisi duduknya agar nyaman, kemudian kembali menatap kearah sang kakek.
"Jadi, apa yang ingin kakek tanyakan pada Devano? Apakah masalah tadi pagi?" tanya Devano
Kakek Seno mengangguk membenarkan, "tidak seperti yang kakek pikirkan, 'kan? Kamu cucu kakek yang tidak pernah mengecewakan kakek."
Devano tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya. Ia merasa lucu melihat sang kakek yang hari ini tampak frustasi, sama halnya seperti dirinya yang beberapa waktu lalu ketika dirinya dipaksa untuk kencan buta dengan gadis pilihan sang kakek.
"Tentu saja tidak. Kakek terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu dan itu tidak baik. Semalam Devano sudah mengantarkan Zara dengan selamat sampai di depan kosnya. Tapi karena ada suatu insiden, akhirnya Zara menemui dan mengantarkan Devano pulang. dan karena sudah larut malam, Devano meminta Zara untuk menginap dan tidur di kamar tamu. Jika kakek ragu dan tidak percaya, kakek bisa tanyakan sendiri sama bibi Heni, karena dialah yang mengantarkan Zara ke kamar tamu," jelas Devano panjang lebar.
Ia hanya tidak ingin masalah semakin banyak dan kesehatan sang kakek akan kembali menurun.
"Tunggu sebentar. Kamu mengantar Zara ke kosan? Bukankah dia tinggal bersama papa dan mamanya?" tanya Kakek Seno yang menyadari ada kekeliruan disini.
"Eh, i-itu kosan temannya, kek. Dia minta dianter kesana. Iya bener, temennya!" jawab Devano sedikit kaget. Rupanya ia hampir saja keceplosan mengungkap jati diri Zara.
"Lebih baik kakek istirahat, kata dokter dalam dua hari kedepan, kakek baru boleh pulang," kata Devano.
***
Zara berjalan menyusuri trotoar dengan cepat. Siang ini gadis itu berniat mengunjungi restoran tempat dirinya bekerja.
Banyak teman-temannya yang menanyakan keberadaannya saat ini karena sudah beberapa hari tidak bekerja. Mereka bertanya pada pak Hari, tetapi jawaban pak Hari tidak memuaskan mereka.
Zara telah tiba di depan pintu restoran, dengan menghembuskan napasnya pelan, gadis itu masuk ke dalam.
Kedatangannya disambut bahagia oleh teman-temannya yang berpapasan dengannya.
Ana, teman Zara yang paling dekat, mendekati Zara sembari membawakan buku menu.
"Ra! Kamu apa kabar?" tanya Ana ketika Zara sudah duduk di kursi dekat dengan jendela.
Zara tersenyum melihat Ana yang mendatanginya lebih dulu, "baik, An. Kamu sendiri gimana kabarnya? Kerjaan lancar, 'kan?"
"Aku juga baik. Dan kerjaan juga aman-aman saja. Eh kamu kemana aja, Ra? sudah beberapa hari nggak masuk kerja? Apa benar kamu pindah tempat kerja?" tanya Ana.
Gadis itu menerima kabar dari pak Hari, jika Zara sedang di pindah pekerjaan dalam dua bulan kedepan ke suatu tempat yang tidak dipublikasikan.
Zara membolak-balikan buku menu, hingga matanya tertuju pada salah satu menu yang sudah sangat lama ia idam-idamkan, itu adalah steik.
"Em, bisa dibilang begitu sih, An. Aku ada pekerjaan lain, jadi libur dulu kerja disini. Oh iya, An. Aku mau ini dong." tunjuknya pada salah satu steik yang menurut Zara harganya lumayan mahal. "Minumnya jus jeruk aja," sambungnya.
"Widih, banyak duit ya, Ra. Tumben beli daging, biasanya juga makan mie instan sama aku kalau kerja," gurau Ana disambut kekehan dari Zara.
"Aku terkenal banget ya, si tukang makan mie instan. Kebetulan dapat rezeki lebih jadi sekali-kali pengen nyenengin diri sendiri," kata Zara.
Gadis itu kembali lapar setelah tadi hampir lima belas menit berjalan menyusuri trotoar karena berniat untuk berjalan santai.
"Baik, ada lagi?" tanya Ana sembari mencatat pesanan Zara.
"Sudah cukup, itu saja," kata Zara. Ana mengangguk paham, setelah itu pergi meninggalkan Zara menuju kebelakang.
***
Zara tengah menunggu pesanannya sembari memainkan ponsel di tangannya. Menanyakan kabar keluarganya di kampung, juga dengan Hana yang menanyakan keberadaannya.
Terlalu asik dengan ponselnya, hingga tanpa Zara sadari seseorang tengah menatap ke arahnya dengan senyum misterius.
Pundak Zara di tepuk, membuat gadis itu tersentak kaget. "Astaga!"
"Gitu aja kaget, lagi ngapain sih, kayaknya seru banget?" tanya Hana yang tiba-tiba datang, dan langsung duduk di kursi berhadapan dengan Zara.
"Lagi tukar pesan sama ibu dirumah. Katanya panen kali ini banyak yang gagal, jadi ayah dan ibu sedikit kesulitan nyari kerjaan," kata Zara sedikit lesu.
"Sudah tenang aja. Kan habis ini Devano ngasih gaji lebih. Atau mau aku kirimkan bahan pokok ke kampung?" tawar Hana.
"Nggak perlu, Han. Gaji dari mas Dev pasti cukup kok kalau untuk biaya makan dalam beberapa bulan kedepan. Kamu sudah banyak membantu keluarga ku, jadi kali ini, jangan ya,"
Hana mengangguk paham, "ya sudah, tapi kalau ada apa-apa langsung ngomong sama aku, siapa tahu aku bisa bantu. Kamu kan juga tahu, kalau aku sudah anggap ibu kamu, juga ibu aku sendiri," jelas Hana.
"Iya-iya, makasih ya, Han,"
Tak lama kemudian, pesanan Zara tiba bersamaan dengan pesanan Hana. Rupanya gadis itu, sebelum menghampiri Zara, sudah memesan makanan terlebih dahulu.
***
Ting!
Ting!
Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Zara, gadis itu segera meraih ponselnya di atas nakas dan langsung membukanya.
"Siapa sih ganggu orang lagi tidur," gerutunya kesal. Ia baru saja tertidur beberapa menit yang lalu setelah pulang dari restoran. Namun, bunyi notifikasi pesan masuk yang berulang kali berbunyi mengganggu tidur siang menjelang sorenya.
"Mas Dev?" katanya sembari membaca nama si pengirim pesan.
'Malam ini temani saya menemani kakek di rumah sakit'
"What!" pekik Zara.
Begitulah pesan yang dikirim Devano berulang-ulang hingga membuat Zara ingin melempar ponselnya ke tembok.
"Biasanya kalau orang kaya lagi sakit, mereka pasti nyewa perawat buat jagain, tapi tumben orang satu ini mau bermalam dirumah sakit menemani kakek?" Bingung Zara, tetapi gadis itu tetap mengiyakan ajakan Devano.
Bersambung