Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.
Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.
Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.
Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.
Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.
Ikuti kisahnya sampai akhir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Lama
Setelah pemeriksaan selesai, Kak Andra langsung mengantarkan mama dan abah pulang terlebih dulu, lalu dia kembali lagi untuk menemaniku mengatre obat di bagian farmasi.
Setidaknya sudah satu jam lebih mengantre obat di depan ruang farmasi. Selama itu juga hanya keheningan yang menyelimuti kami, harus menunggu berapa lama lagi aku harus bertahan dalam keadaan tidak nyaman ini bersama dengan Kak Andra yang sedang tidak mau berteman denganku?
Bersama dengan para pengantre obat lainnya. Kulihat orang-orang di sekitarku, urutan 179 bukanlah urutan paling akhir ketimbang ibu muda di sebelahku yang sedang menggendong balitanya, dia memegang nomor antrean 360.
Giliran antrean obat abah tiba. Saat kaki hendak melangkah, karena tempat yang relatif sempit membuatku mau tak mau bersabar lebih karena kondisi pintu masuk yang sesak dan hanya tersedia satu jalur sekaligus sebagai pintu keluar.
Namun, tidak disangka jika aku menabrak seseorang yang sedang membawa nampan. Nampan yang berisi beberapa gelas kaca beserta tatakan dan tutupnya itu terjatuh ke lantai dan jangan ditanya segaduh apa suara yang ditimbulkan.
"Daisya!" Pekik Kak Andra dari belakangku. Dia menarik tubuhku mundur karena khawatir pecahan gelas kaca itu akan melukaiku.
"Maaf, maaf," kupunguti bagian pecahan besar yang berserakan di lantai.
"Lain, kali hati-hati, Bu!" Ujar judes seorang tenaga medis yang membawa nampan tadi.
"Maafkan saya, Dok," ujarku pada wanita muda berjas putih khas dokter itu.
Lalu, kami bertatapan. "Lha, Daisya?! Kamu Daisya, bukan?" Pekik perempuan itu.
"Donna, kamu Donna?" Giliran aku yang bertanya padanya. Perempuan berjas putih dan berjilbab itu adalah Donna, teman sebangku masa SMA.
"Iyaa, benar! Ee, kita ketemu juga di sini! Ini siapa? Pacar?" Tanya Donna dengan suara sangat keras saat melihat Kak Andra berdiri di belakangku.
Aku meringis tipis, bukan bermaksud memberikan jawaban. Kurasa Donna tidak memperhatikan situasi dan kondisi saat ini.
Donna yang kukenal dengan karakternya yang ekstrovert dan sangat terbuka, seterbuka itu sampai sekarang pun dia tidak sungkan menyapa teman lamanya ini.
"Tampan, Sya!" Bisiknya padaku.
"Halo, aku Donna," ujar Donna memperkenalkan dirinya. Memang perempuan itu tidak memiliki rasa canggung sama sekali mengulurkan tangannya pada Kak Andra di awal pertemuan.
Tidak kalah absurd dari kelakuan Donna, Kak Andra seperti menemukan teman barunya. Dia semringah dan menyambut ramah uluran tangan Donna, seraya berkata, "Oh, jadi, kamu Donna yang kata Daisya diselingkuhin itu? Kenalin, aku Andra," ujar Kak Andra yang membuatku dan Donna bersitatap atas tuduhan 'perselingkuhan' itu. Tidak lain karena tempo hari aku yang pernah beralibi, mengatakan jika temanku Donna-lah yang menjadi korban perselingkuhan.
"Kenapa sih Kak Andra harus ingat sekran? Ketemu Donna beneran, kan? Duh, jadi runyam deh kalau begini," sesalku di dalam hati.
"Diselingkuhin?" Tanya Donna mengernyit dengan tatapan mengerut kepadaku.
"Bukan, bukan. Bukan Donna yang ini, Kak. Ish, kamu salah orang," sergahku melambai-lambaikan tangan berujar bukan. Sama sekali bukan Donna yang ini, tapi Donna di dalam imajinasiku saja.
"Nomor antrean 179 atas nama Bapak Burhanuddin," apoteker kembali memanggil nomor antreanku. Aku segera berlari sebelum antreanku terlewat atau harus menunggu lebih lama lagi. Kubiarkan mereka berbincang semaunya selagi aku meninggalkan mereka berdua.
Sesekali aku melihat ke bekalang pada Donna dan Kak Andra yang berbincang sesaat seraya membantu para petugas kebersihan membersihkan sisa-sisa puing pecahan gelas kaca itu.
"Udah?" Tanya Kak Andra saat aku menghampirinya.
"Jadi, itu Donna yang kamu maksud?" Tanya Kak Andra.
"Bukan Donna yang itu. Kenapa, kamu naksir dia?" Aku bertanya.
Kak Andra malah mengendikan bahunya, "tadi dia minta nomorku. Sepertinya bukan aku yang suka, tapi dia yang suka aku," sangat percaya diri dua berkata seperti itu.
"Hush, jangan sombong!"
Klonet, notifikasi ponsel Kak Andra berbunyi.
Tanpa sengaja, dapat kuintip tipis-tipis layar ponsel Kak Andra.
"Halo, Kak. Ini aku dokter cantik tadi, save kontakku, ya. Savana." Melihat pesan itu membuat jantungku berdetak lebih cepat.
"Namanya bukan Donna, tapi Savana," ucap Kak Andra yang membuat mulutku menganga dan mata yang terbuka.
Bersambung...
Nah, udah muncul, nih.