Apa jadinya jika seorang pria mencintai wanita yang telah bersuami, dan wanita itu merupakan kakak iparnya sendiri ?,
Niat ingin membantu sang kakak lelaki, Kennedy justru terbawa perasaan hingga memiliki obsesi untuk mendapatkan Joanna sang kakak ipar. Trauma Joanna yang membuat Kennedy panik akhirnya membuat pria itu hilang akal hingga berujung pada sebuah persetubuhan hangat yang tak dapat ia lupakan.
Hai readers yang budiman !
Ini novel pertama yang saya keluarkan dalam mengikuti event Cinta Yang Tak Direstui , mohon dukungannya dan salam kenal,
Jangan lupa vote dan tinggalkan saran di kolom komentar ! Terima kasih 💜☺️✌️
"Mmmmmphh" isak tangis Joanna tertahan, karena Kennedy mencium lembut bibirnya.
"Hentikan," Joanna mencoba menghindari bibir Kennedy tapi tubuh lemah nya tak mampu menghentikan tindakan adik iparnya.
"Ken,"
Tak menghiraukan segala ucapan Joanna, Kennedy justru membimbing kakak iparnya untuk mengikuti permainan lidahnya dan tak memberi kesempatan Joanna u
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon boora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manisnya Buah Mangga Bak Penawar Luka Bagi Joanna
Hening sunyi malam dengan rintik hujan tipis beserta diiringi alunan suara hewan liar sudah terbiasa terdengar di telinga Joanna.
Wanita itu tak lagi memiliki rasa takut akan tikus got besar maupun kecoa atau serangga, kehidupan Joanna berubah 360° dari sebelumnya.
"Rasanya sudah begitu lama." Joanna tersenyum memandangi gambar foto kedua orang tuanya.
"Apa Ayah dan Ibu sama sekali tak merindukan ku ?" jemari kurusnya nampak mengusap lembut gambar sepasang wanita serta lelaki paruh baya yang terpampang pada layar ponselnya.
Joanna kembali tersenyum getir saat mengingat kedua orang tuanya, tak terasa buliran air matanya menetes begitu saja.
"Kamu bukanlah anak mereka lagi Joanna !"
"Kau ingat itu bukan ?" isak tangisnya semakin dalam saat memori nya kembali mengingat alur kejadian di masa lalunya.
"Apa diriku tak pantas mendapat kesempatan untuk memperbaiki semuanya ?" wanita itu kembali bertanya pada dirinya sendiri.
"Semua itu bukan sepenuhnya salahku bukan ?" pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari pikiran Joanna semakin membuat dadanya kembali sesak seketika.
Joanna kembali meneguk teh bunga telang dan mengusap kasar air matanya.
"Tidak Jo !"
"Kamu jangan cengeng seperti ini !"
"Dirimu bahkan telah bisa berjalan sejauh ini seorang diri !"
"Lupakan semuanya, kamu sudah menjadi yang terbaik untuk dirimu sendiri !"
"Itu sudah cukup Joanna !" semua pernyataan-pernyataan semangat itu kembali terucap dan memenuhi relung hati Joanna.
"Kamu tidak membutuhkan siapapun lagi dalam hidup ini !" Joanna kembali duduk dengan tegap dan menonaktifkan ponselnya kembali, ia beranjak dan melangkah menuju pembaringan di kamarnya.
Pria bertubuh tinggi tegap nan kekar itu hampir semalaman mengutak-atik ponsel di tangannya, ia mencoba untuk mencari tahu lokasi tentang tempat tinggal Joanna yang baru saja mengunggah gambar pada sosial medianya setelah sekian lama.
"Nona, kau baik-baik saja bukan ?" Kennedy bergumam seraya menatap keluar jendela, pria itu nampak begitu mencemaskan kakak iparnya karena ia tahu betul bagaimana kepribadian Joanna.
Joanna selalu terbangun sebelum sinar matahari membuat hangat seluruh tanaman di kebunnya.
Wanita itu kini tengah sibuk menarik serta membongkar dan meratakan ribuan biji padi hasil panen dihalaman samping rumahnya.
"Ayolah semoga saja tidak turun hujan hari ini !" Joanna mendongakkan kepala dan menatap langit yang terlihat begitu cerah.
Dari pagi hingga sore wanita itu sibuk mengurus hasil panennya, wajah bahagianya kembali terpancar karena cuaca memang sangat bersahabat hari itu.
Buliran padi yang telah kering membuat wanita itu semangat untuk memasukkan dan kembali menyimpannya di dalam karung.
Joanna kembali menarik dan mengangkat karung-karung hasil panen miliknya didalam ruangan yang ia pergunakan sebagai gudang hasil panen semua tanaman dari kebun maupun sawahnya.
"Aaaaaaggghhhh !" Joanna menghela nafas dan memejamkan matanya seketika.
"Ini sungguh melelahkan !" wanita itu nampak mengistirahatkan tubuhnya sejenak dibawah rindangnya pohon mangga pada pekarangan samping rumahnya, ia tak lagi mempedulikan rasa gatal yang mendera kulitnya dan tetap memejamkan mata.
Suara dari perut kosongnya kembali membuat wanita itu membuka mata dan beranjak untuk memanjat pohon mangga miliknya.
"Waah, buah ini ternyata begitu banyak yang hampir masak di pohon !" ia bergumam dan seketika meraih beberapa buah mangga dan memasukkan nya dalam t-shirt abu-abu longgar nya.
Joanna kembali turun dan menikmati 2 buah mangga yang nampak begitu manis dalam genggamannya.
"Nona !"
"Jangan hanya mengkonsumsi buah-buahan !"
"Tubuh mu juga sangat membutuhkan karbohidrat yang cukup Nona !"
Kalimat itu terdengar begitu jelas terlintas dalam telinga Joanna.
Rahangnya seketika melambat saat mengunyah buah mangga dalam mulutnya.
Joanna kembali tertunduk dan menghela nafas dengan begitu dalam.
Tenggorokan nya kembali tercekat, saat mengingat suara Kennedy.
"Maaf Ken !"
"Maaf jika diriku terlalu merindukanmu !" ia kembali berucap seorang diri dalam hati.
Perut mual yang dialami oleh Linda semakin sering terjadi, wanita itu nampak semakin panik tatkala mendapati keterlambatan dalam siklus menstruasinya.
"Apa ini ?" matanya terbelalak saat memeriksa tanggal terakhir ia mengalami datang bulan.
"Ini sudah lebih dari satu minggu ?" wanita itu nampak gelisah dan mondar-mandir di depan kamar mandi.
"Ada apa denganmu ?" Brian yang keluar dari kamar mandi nampak begitu sinis dan seketika melontarkan pertanyaan pada wanita dihadapannya.
"mmmm, !"
"Tuan kapan akan menikahi saya ?" Linda kembali merengek dan menggenggam tangan pria di samping tubuhnya.
"Apa maksudmu ?" pria itu kembali menampilkan wajah tak suka saat Linda mengungkit tentang pernikahan.
"Bukankah dari awal kau bersedia untuk ku jadikan simpanan ?" Brian berucap datar dan melepas tangan Linda dari lengannya.
"Sial !"
"Pria ini kenapa begitu membangkang padaku akhir-akhir ini ?" wanita itu kembali terdiam dan menggerutu di dalam hati.
"Tunggu saja, akan ku berikan sebuah kejutan untuknya nanti jika memang diriku memiliki benih dari dirinya !" Linda, wanita itu sama sekali tak patah semangat untuk bisa menaklukkan Brian pria yang selama ini membuatnya bertahan untuk bisa menggantikan Joanna.
Setelah beberapa jam berkendara Kennedy akhirnya sampai pada sebuah kediaman hening yang berada dihadapannya.
Pria itu berulang kali menekan bel pintu, hingga akhirnya menampakkan seorang wanita paruh baya yang nampak bingung atas kehadiran Kennedy di rumahnya.
"Ibu !"
"Apa ibu lupa terhadap saya ?" Kennedy berucap dengan begitu ramah mencoba untuk menyapa wanita paruh baya dihadapan nya.
"Nak Kennedy ?" wanita itu nampak berucap setelah agak lama mencoba mengingat raut wajah yang tak begitu asing baginya.
"Benarkah ini dirimu Nak ?" ibu Joanna seketika menangis dan memeluk pria tinggi tegap dihadapan nya.
"Bagaimana keadaan Joanna Nak ?" wanita paruh baya itu kembali menghujani beberapa pertanyaan pada Kennedy.
"Apa kau mengetahui keberadaan nya sekarang ?"
"Dirimu kemari untuk membawakan berita bahagia pada ibu kan Ken ?" ibu Joanna kembali nampak tak sanggup membendung air matanya.
Kennedy yang mendengar semua rintihan tangis dari ibu Joanna seketika turut terdiam, pria itu sebelumnya berpikir bahwa keluarga Joanna mengetahui keberadaan kakak iparnya.
"Maaf Nak !" wanita paruh baya yang telah nampak tenang itu kembali tertunduk dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu terlalu merindukannya !" ibu Joanna nampak menuangkan dan menyuguhkan secangkir teh hangat untuk pria yang bertamu ke rumahnya sore itu.
"Apa Nona sama sekali tidak memberikan informasi tentang alamat barunya pada ibu ?" Kennedy kembali bertanya dengan begitu lembut pada wanita paruh baya yang berada dihadapannya.
"Semenjak mantan suami dan ibu mertuanya mengetahui hubungan kalian,"
"Suamiku sangat marah besar Nak !"
"Dia bahkan tega menghukum darah dagingnya sendiri !" suara ibu Joanna kembali tersendat.
"Joanna harus menerima betapa perih dan kasarnya suamiku saat mencambuk buah hatiku sendiri Nak !"
"Dia bahkan tak lagi menganggap Joanna sebagai putrinya !" ibu Joanna kembali sesenggukan menceritakan kisah kelam masa lalu sang buah hati.
Kennedy yang mendengar hal itu seketika membawa ibu Joanna dalam pelukannya.
"Saya berjanji akan membawanya kembali padamu ibu !" Kennedy berucap dengan tatapan tajam dan tulang rahang yang nampak begitu tegas
"Saya berjanji !" air mata Kennedy akhirnya turut terjatuh, hatinya tak lagi mampu menahan segala kepahitan yang dialami oleh Joanna, wanita yang begitu ia kagumi dari dulu hingga saat ini.
Novel ini mengikuti event Cinta Yang Tak di Restui, kritik dan saran akan sangat membangun bagi diri saya ☺️🙏