Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi
"Apa pekerjaan mu?" tanya Zander pura-pura tidak tahu latar belakang Ravin.
"Saya game developer, Tuan." jawab Ravin.
"Oh gamer." balas Zander dengan raut wajah merendahkan.
Ravin tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
"Dimana keluargamu?" tanya Zander lagi.
"Saat ini orangtua saya tinggal di luar negri Tuan." jawab Ravin.
"Jadi kamu disini tinggal sendiri?" tanya Zander dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Ravin.
"Apa pekerjaan orangtua mu?" tanya Zander.
"Ayah dan Ibu saya hanya seorang dokter biasa Tuan tapi mereka sudah pensiun tapi mereka masih menjadi dosen di universitas kedokteran." jawab Ravin.
Merendah juga dia. Gumam Zander dalam hati.
Karena Zander mengenal orangtua Ravin.
Bukan hanya Zander, Zayden dan Tuan Abraham juga berpikir hal yang sama dengan Zander.
"Kenapa kamu tidak menjadi dokter juga dan malah memilih menjadi gamer? Apa menjadi gamer lebih menjanjikan untuk masa depan?" tanya Zander.
"Saya ralat dulu Tuan, saya bukan gamer melainkan game developer." ucap Ravin.
"Apa bedanya! Game developer pasti juga seorang gamer kan?" tanya Zander.
"Beda Tuan, kalau gamer prioritasnya bermain game hingga menguasai semua tantangan yang ada dalam game. Sedangkan game developer adalah orang yang membuat tantangan dalam game itu sendiri. Tidak semua game developer bisa menguasai tantangan game yang mereka buat karena setelah game di buat kami butuh gamer untuk menguji coba game itu." jawab Ravin.
"Oh." Zander hanya ber Oh ria.
"Kalau untuk masalah menjanjikan dimasa depan atau tidak, saya sangat yakin kalau penghasilan seorang gamer atau game developer tidak kalah menjanjikan dengan pekerjaan yang lainnya seperti dokter dan pengusaha. Buktinya banyak generasi Gen Z yang bisa membeli rumah, mobil dan barang branded yang lainnya dari hasil bermain game." kata Ravin lagi.
Zayden dan Zemi yang notabene juga seorang gamer tersenyum tipis mendengar jawaban Ravin. Setidaknya jawaban Ravin mewakili isi hati mereka yang ingin sekali membuka jalan pikiran Zander dan Tuan Abraham yang menganggap bermain game hanya membuang-buang waktu dan tidak menghasilkan uang.
"Oh." Lagi, lagi Zander hanya membulatkan mulutnya.
"Lalu kenapa kamu tidak menjadi dokter?" tanya Zemi yang penasaran.
Ravin menoleh ke arah Zemi.
"Karena wanita yang aku cintai sangat menyukai bermain game." jawab Ravin sambil menatap dalam wajah Zemi.
Jantung Zemi berdetak kencang mendengar jawaban Ravin.
"Awalnya aku hanya ingin mempelajari bahasa pemrograman hanya untuk mempelajari cara membuat game karena aku ingin membuat game untuk wanita yang aku cintai sejak SMA dengan harapan jika suatu hari aku bertemu dengannya, aku ingin dia menjadi orang pertama yang menguji coba game ku. Tapi lama kelamaan, aku malah merasa nyaman dengan dunia pemrograman dan akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar mendalami pekerjaan ini." lanjut Ravin.
"Setelah aku mahir, aku pun memutuskan untuk membangun perusahaan ku sendiri. Awalnya orangtua ku menentang bahkan mereka sampai tidak mau membantu memberikan aku modal. Untungnya saat itu aku tidak putus asa, hanya dengan bermodal nekat, aku mengajukan proposal ke beberapa investor. Dari lima investor, hanya satu investor yang mau mendanai perusahaan ku dan-"
"Dan nama investor itu adalah AP Investment?" potong Zayden.
Sontak Zemi dan Ravin melihat ke arah Zayden.
"Kok Tuan tahu?" tanya Ravin.
"Ya, karena kami lah yang memberi modal itu pada perusahaan mu." jawab Zayden.
"Benarkah?" kaget Ravin.
"Jadi sejak tadi kau tidak mengenali kami?" tanya Zayden.
Dengan jujurnya Ravin menganggukkan kepalanya. Bagaimana mau kenal kalau saat mengajukan proposal, tidak sekalipun Ravin bertemu dengan Zayden, Zander apalagi Tuan Abraham. Ravin hanya bertemu dengan kanan tangan Tuan Abraham, siapa lagi kalau bukan Leo. Ravin hanya pernah melihat Zander di majalah bisnis makanya sejak tadi Ravin penasaran dimana dia pernah melihat Zander.
"Ish, ish, ish... masa kamu tidak mengenali siapa keluarga pacar mu!" sindir Zayden.
"Maaf Tuan, ini pertama kalinya saya bertemu dengan keluarga Zemi dan saya juga tidak mencari tahu siapa keluarga Zemi karena perasaan saya untuk Zemi tulus." jawab Ravin.
Zayden menaikkan sudut bibirnya mendengar jawaban Ravin.
Sedangkan Zemi tersipu malu mendengar jawaban Ravin.
"Itu karena kau belum tahu sifat asli adik perempuan ku ini! Kalau kau tahu pasti kau menyesal sudah mencintai perempuan seperti adikku ini." balas Zayden dan langsung mendapat pelototan tajam dari Zemi.
"Bagaimana kalau kami tidak menyetujui hubungan kalian?" tanya Zander tiba-tiba.
Sontak Zemi dan Ravin langsung menoleh kearah Zander.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka