Kehilangan selamanya istri yang sangat dicintainya bukanlah hal yang mudah dihadapi oleh Dokter Danny. Ayah Dokter Danny selalu menyuruh Danny untuk menikah lagi.
Akankah Danny menikah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ding-dong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Danny nya ada?
"Aku ingin bicara. Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Kayla seraya berbisik di telinga Dokter Danny.
"Aku sibuk, Mir," balas Dokter Danny lalu melepaskan tangan Kayla yang menggenggam tangannya.
"Kapan kamu ada waktu?" Tanya Kayla dengan sangat berharap.
"Maaf, hari ini pasien ku sangat banyak," ujar Dokter Danny. Ia sudah tidak sabar untuk segera kembali ke ruang poli kandungan.
"Aku tunggu di kantin rumah sakit, ya? Aku traktir makan siang," ujar Kayla dengan tersenyum.
Dokter Danny menghela napas lalu pergi tanpa memberi jawaban.
Dokter Serli yang kebetulan tidak ada pasien berjalan-jalan di lorong sekitar poli. la pun melihat Dokter Danny yang sedang mengobrol dengan Kayla. Karena penasaran, ia pun menguping pembicaraan Dokter Danny dan Kayla.
"Mau apa wanita itu?" gumam Dokter Serli dengan cemberut. Ia merasa cemburu pada Dokter Danny yang belum jadi siapa-siapa nya.
"Sepertinya wanita itu naksir sama Dokter Danny. Aku harus bertindak lebih cepat sebelum di embat tuh wanita," imbuh nya lalu berlalu pergi kembali ke ruang poli anak.
Karena tadi ia mendengar kalau mereka akan bertemu di kantin rumah sakit nanti siang, ia pun berencana untuk datang ke kantin juga meskipun sudah membawa bekal. Tadinya, ia membawa dua bekal dan memberikan satu kotak pada Dokter Danny untuk makan siang bersama. Namun, karena Kayla mengajak Dokter Danny bertemu di kantin, terpaksa ia pun ikut makan di kantin rumah sakit.
Waktu istirahat siang telah tiba. Biasanya, Dokter Danny akan meminta asisten nya untuk membelikan makan di kantin rumah sakit. Kemudian ia akan memakannya di dalam ruang poli kandungan. Namun, hari ini tiba-tiba Dokter Serli memberikan bekal makanan. Ditambah lagi Kayla mengajak nya makan siang di kantin rumah sakit.
"Dokter, mau dibelikan makanan apa?" tanya Diana yang membantu di poli kandungan hari ini. Semua bidan tahu kalau Dokter Danny akan minta dibelikan makanan jika sudah waktunya makan siang.
"Nasi ayam bakar seperti biasanya, ya? Oh iya, ini kamu saja yang makan," balas Dokter Danny seraya menyerahkan kotak makanan dari Dokter Serli.
"Terima kasih, Dok," balas Diana dengan tersenyum kemudian berlalu pergi.
Dokter Danny tidak makan makanan pemberian Dokter Serli. Ia juga tidak datang ke kantin untuk makan bersama Kayla. Hari ini ia merasa sangat lelah. Hampir setiap malam ia kurang tidur semenjak menikah dengan Ayudia. Ia pun menguap beberapa kali lalu menaruh kepalanya di atas meja hingga tanpa sadar ia pun tertidur.
Sementara itu di dalam ruang poli anak, Dokter Serli sedang bercermin untuk memastikan penampilannya menarik. Tidak lupa ia memoles bedak di pipi dan lipstik di bibirnya. Setelah dirasa cukup oke, ia pun keluar dari ruang poli anak menuju kantin.
Sesampainya di kantin rumah sakit, Dokter Serli merasa risih karena banyak orang yang membeli makanan hampir berdesak-desakan. Ia terpaksa pergi ke kantin karena ingin melihat Dokter Danny dan Kayla bertemu, la ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan. Ia pun celingak-celinguk untuk mencari sosok Dokter Danny. Namun, ia tidak menemukan sosok lelaki idamannya itu, tapi ia melihat Kayla sedang duduk seorang diri pada sebuah meja.
'Dokter Danny pasti belum datang. Apa jangan-jangan dia nggak datang?' gumam Dokter Serli dalam hati. Ia pun tersenyum senang lalu berjalan mendekat ke arah Kayla. Ia akan bergabung dan berpura-pura tidak tahu kalau Kayla sedang menunggu Dokter Danny.
"Boleh saya duduk di sini? Karena meja yang lain sudah penuh." Dokter Serli meminta izin pada Kayla. Kayla pun terpaksa mengizinkan meskipun dengan berat hati.
Sudah dua puluh menit berlalu, tetapi Dokter Danny tidak kunjung datang. Dokter Serli dan Kayla sama-sama celingak-celinguk sedari tadi untuk mencari sosok Dokter Danny, barangkali saja Dokter Danny salah meja, pikir mereka.
"Mbak nya sedang menunggu seseorang, ya?" tanya Dokter Serli berbasa-basi pada Kayla. Sedari tadi mereka saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Iya," balas Kayla singkat dengan sopan lalu menyeruput es teh nya yang sudah hampir habis.
"Mm... pacar nya?" tanya Dokter Serli lagi semakin ingin mengorek hubungan Kayla dengan Dokter Danny.
"Masih calon," jawab Kayla lagi lalu celingak-celinguk lagi untuk mencari sosok Dokter Danny.
"Kok ketemuan nya di sini? Biasanya kalau orang mau pedekate itu ketemuan nya di tempat yang romantis, Mbak. Bukan di tempat orang sakit kayak gini," tutur Dokter Serli dengan penuh penekanan.
"Iya juga, ya. Ya udah saya pergi dulu kalau begitu," pamit Kayla lalu bangkit dan pergi meninggalkan Dokter Serli.
"Biar aku yang gantikan ketemuan di sini. Hehe," gumam Dokter Serli dengan sangat percaya diri setelah Kayla pergi.
Tiga puluh menit berlalu.
Tiba-tiba seorang perawat datang ke arah Dokter Serli.
"Dok, ditunggu Dokter Stevan di ruang poli," ucap perawat itu yang bernama Nesa.
"Ada apa?" tanya Dokter Serli dengan heran. Ia pun cemberut karena Dokter Danny belum datang, tapi ia sudah harus pergi karena Papa nya datang ke ruangan nya.
"Saya tidak tahu, Dok," jawab Nesa.
"Ya sudah, ayo!" Dokter Serli pun terpaksa pergi dari kantin.
Sesampainya Dokter Serli di ruang poli anak. Dokter Stevan sudah duduk di kursi Dokter Serli dengan melipat kedua tangan di depan dada nya.
"Ada apa Papa ke sini?" tanya Dokter Serli dengan cemberut pada Dokter Stevan.
"Ada apa kamu bilang? Kamu tahu nggak ini jam berapa?" Dokter Stevan berkata dengan geram pada Dokter Serli seraya menunjuk jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Tahu. Terus kenapa?" balas Dokter Serli malah bertanya balik pada Dokter Stevan.
Dokter Stevan mendengkus pelan. Ia tidak menyangka anaknya yang cantik ini begitu polos atau pura-pura polos.
"Ini jam waktunya bekerja, Serli. Bukan main-main. Sudah dua kali Papa datang ke sini dan kamu tidak ada di tempat!" sembur Dokter Stevan karena sudah kesal dengan kelakuan Dokter Serli.
"Kan nggak ada pasien, Pa," balas Dokter Serli membela diri.
"Ada pasien atau tidak, kamu harus standby di ruangan kamu. Jangan sampai ketika ada pasien, kamu malah kelayapan tidak jelas entah ke mana," ujar Dokter Stevan lalu berdiri.
"Kalau sampai kejadian ini terulang lagi, lebih baik kamu berhenti dari rumah sakit ini. Kamu pikir cari kerja gampang?" bisik Dokter Stevan di telinga Dokter Serli.
"Iya, Pa. Maaf...." Dokter Serli berkata maaf dengan terpaksa.
Sementara itu di poli kandungan, Dokter Danny masih tertidur dengan kepala di atas meja. Diana tidak berani membangunkannya. Tidak lama kemudian terdengar pintu diketuk. Diana pun membuka pintu itu.
"Iya, ada apa, Bu?" tanya Diana pada seseorang yang mengetuk pintu itu.
'Ibu? Apa wajahku sudah setua itu?' Gumam wanita itu dalam hati. Wanita itu adalah Kayla.
"Dokter Danny nya ada?" Tanya Kayla.