NovelToon NovelToon
Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami

Status: tamat
Genre:Cerai / Keluarga & Kasih Sayang / Cintapertama / Tamat
Popularitas:162.7k
Nilai: 5
Nama Author: rehuella

Mantan, biasanya selalu menyebalkan. Lain halnya dengan Sabda Baghaskara. Pria itu selalu mengirimkan uang kepada Amora Salmadani dengan alasan, sebagai nafkah lahir untuk putri mereka yang berusia enam tahun.

Sialnya, apa yang dilakukan Sabda menjadi pemicu keretakan hubungan Salma dengan suami barunya.

Akankah Salma bercerai untuk ke dua kali, atau dia akan tetap mempertahankan Endra, saat tahu apa yang sudah pria itu lakukan?

Gaes jangan lupa masukin ke rak buku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rehuella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Sabda

Salma baru selesai melakukan pemeriksaan MRI dengan dokter Edi. Setelah enam puluh menit menjalani pemeriksaan, akhirnya dokter menjelaskan jika kerusakan system lembik yang dialami Salma tidak begitu parah. Itu artinya, ingatan Salma bisa pulih kapan saja.

“Kenapa dari tadi ngomong ingatan terus? Kalian khawatir banget ya?” Salma langsung protes saat Sabda berhasil membawanya keluar dari ruang neurologi.

Sabda hanya tersenyum simpul, perlahan menurunkan kecepatan langkahnya. “Salma, apa kamu tahu siapa presiden saat ini?”

“Jelas tahulah, Mas! Masa gitu aja ditanyain! Jawabannya pak SBY!” jawab Salma, membuat Sabda semakin lebar tertawa.

“Salah, Salma! Kita sekarang, berada di tahun 2017. Presiden kita sudah ganti Pak Jokowi! Kamu tahu? Itu artinya, kamu sedang terjebak dalam kenangan lima tahun silam.”

Sabda yang sudah berada di depan ruang Obgyn berganti menghadap Salma. “Dan lagi, kamu harus sembuh. Kamu harus ingat mengenai hubungan kita.” Sabda berkata sungguh-sungguh.

“Ya, aku harus mengingat momen pertumbuhan Ody. Tapi masalah kita, aku yakin kita masih terikat. Mengingat janji yang selalu kamu ucapkan, aku tidak akan percaya jika kita sudah bercerai!”

"Pelan-pelan, biarkan waktu yang menjawab!" Sabda kembali mendorong kursi roda yang ditempati Salma saat seorang perawat mendatangi mereka.

Sebenarnya dokter Obgyn sudah tidak buka praktek lagi. Akan tetapi, karena permintaan dari dokter Edi, wanita itu pun membuka kesempatan untuk Salma melakukan pemeriksaan.

Dengan penuh kesabaran Sabda membantu Salma naik ke atas ranjang pemeriksaan. Sabda yang sungkan memilih menunggu di kursi depan meja kerja sang dokter.

Sejenak telinganya bisa mendengar keramahan dokter yang kini memeriksa Salma. Mungkin merilekskan Salma yang terlihat tegang sejak masuk ke ruangan tersebut.

Sudah hampir lima menit Sabda mendengarkan obrolan mereka. Mendadak suasana berubah tenang, tidak ada lagi suara dari balik tirai. Sabda yang bosan memainkan apapun yang ada di atas meja sang dokter. Sampai kemudian, sebuah kertas pasien menarik perhatian Sabda.

Salah. Bukan kertas pasiennya, melainkan nama pasangan pasien yang tertulis di kertas itu. Arwenda? Sabda hanya bisa membaca nama belakangnya saja, karena sebagian kertas itu masih tertutup tumpukan kertas lain.

Banyak orang bernama belakang Arwenda, dia berharap kertas itu bukan milik pria yang kini sedang merecoki pikirannya. “Mbak!” panggil Sabda tanpa Suara.

Wanita itu menoleh, sosok assiten yang sejak pagi menemani sang dokter, mendekat ke arah Sabda. "Ada apa, Pak?"

“Ini pasien apa?” Sabda bisik-bisik.

“Ini pasien yang datang tadi pagi, Pak.” Perawat itu seakan paham, dia menjawab sama berbisiknya.

“Apa boleh saya pinjam?” tanya Sabda.

Perawat itu langsung merangkum kertas-kertas di sana. “Mohon maaf, Pak! Ini privasi pasien,” ujarnya yang membuat Sabda mende-sah kecewa. Tahu begitu tadi tidak perlu melapor.

“Bentar saja, Mbak!”

Perawat itu menggeleng. “Saya harus menjaga privasi pasien, Pak.” Perawat itu mengakhiri dengan senyuman.

“Mari saya jelaskan!”

Suara dari dalam bilik, membuat Sabda menyerah. dan merelakan kertas itu.

“Ada masalah ya, Dok?”

Dokter itu tersenyum simpul. “Santai saja, zaman sekarang kalau ditangani dengan baik. Insya allah bisa sembuh.”

Ucapan dokter membuat Sabda mengalihkan fokusnya ke arah mereka berdua yang kini mendekati meja dokter. “Apa yang terjadi, Dok?” tanya Sabda setelah berhadapan dengan sang dokter.

“Jadi, Pak! Di rahim ibu Salma, terdapat kista.”

“Tidak begitu menganggu, dan saya yakin jadwal menstruasi Bu Salma masih normal. Besarnya kira-kira 12 milli. Sebaiknya kita coba metode obat dulu ya, bulan depan saat haid ke dua kita bisa memeriksanya ulang. Jika mengecil, kita tidak perlu melakukan operasi.”

Saat Sabda menoleh ke arah Salma, air mata wanita itu sudah tumpah membasahi pipi. Sabda meraih tangan Salma, berusaha menenangkan. “Semua akan baik-baik saja.” Sabda berkata lirih.

“Dokter, apa itu artinya saya tidak bisa hamil lagi?” tanya Salma.

“Saya tidak pernah mengatakan pada pasien saya, sulit hamil ataupun tidak bisa hamil. Saya selalu menekankan pada pasien, siapa yang berusaha maka dia akan mendapatkan. Jadi tenang saja, kita serahkan semuanya pada Allah. Anak itu kan titipan! punya anak itu artinya kita juga harus siap bertanggung jawab dunia akhirat.”

“Tuh dengar kan?” ucap Sabda, kali ini berganti memeluk tubuh Salma karena tangisnya semakin pecah.

“Apa kamu masih mau menerimaku, jika aku tidak memiliki bayi laki-laki?”

Sabda tersenyum simpul, tangannya mengusap surai hitam milik Salma.

“Ayo jawab, SABDA!”

“Apapun kondisinya, jika wanita itu kamu, aku akan menerimanya. Jadi, jangan berpikir berat. Kita ikuti kata dokter ya!”

Salma menganggukan kepala, belum sepenuhnya tenang. Tapi dia juga tidak bisa berlarut dalam kesedihan, ada Sabda dan Aundy yang wajib dia layani.

“Terima kasih atas penjelasannya, Dok!” ucap Sabda lalu menuntun Salma keluar dari ruangan itu.

Hingga malam menjelang tidur, wajah Salma terlihat murung. Bahkan enggan merespon saat Aundy mengajaknya bermain Cublak-cublak Suweng. Dia hanya bergeming meratapi nasibnya.

Sabda pun tidak bisa berbuat banyak. Selain menjaga Salma. Ya, tugasnya hanya menjaga Salma. Untuk pengambilan keputusan, Sabda menyerahkan sepenuhnya pada suami asli dan keluarga besarnya.

Beruntung Bu Deva dan Panji segera datang jadi Salma seperti mendapat tempat untuk berkeluh kesah.

Jauh berbeda dengan pak Arif, bu Deva lebih welcome terhadap Sabda. Wanita itu tidak membenci Sabda dengan apa yang sudah terjadi dengan kehidupan pernikahan mereka. Jodoh di tangan Allah, jika memang keputusan mereka adalah bercerai, mungkin ada hal yang tidak bisa diungkapkan pada keluarga.

“Uti, besok bunda boleh pulang. Tadi dokter berkumis itu bilang begitu.” Aundy melapor.

“O, ya? bagus dong! Kalau begitu, biar bunda Salma pulang ke rumah Uti ya!”

“Enggak. Kita keluarga bahagia Uti, harus ada ayah dan bunda di rumah Ody.”

Bu Deva tersenyum kecut. “Ody masih ingatkan, kalau ada ayah Endra?”

Wajah Aundy langsung muram. Bagaimana bisa seperti itu. Dia membenci Endra, bahkan berharap ayah tirinya itu tidak akan kembali. "Ody mau punya ayah Sabda aja. Ayah Endra itu jahat, punya istri lain selain bunda."

Ucapan Aundy membuat Bu Deva terbahak. "Nggak mungkin Ody, mana bisa seperti ini."

Melihat Aundy asyik ngobrol dengan Bu Deva, Sabda memutuskan membawa Panji keluar dari ruangan. “Ody, ayah keluar dulu ya sama Om Panji.” pamit Sabda sambil melirik Panji.

“Iya, Ayah!”

Sabda memberi isyarat pada Panji untuk berbicara di luar.

“Apa sih, Bang!” protes Panji setelah berada di luar ruangan.

“Ada hal yang ingin kubicarakan. Tapi hanya kamu yang boleh mendengar.”

“Maksudnya?”

“Sepertinya kekasihnya tinggal di sekitaran Dieng. Tadi pagi aku melihatnya lagi. Kamu ikuti dia saja, siapa tahu menemukan bukti kuat untuk ditunjukan ke Salma.”

“Dilihatkan pun percuma, Mas. Mbak Salma ingatnya masih nikah sama kamu. Ini justru kesempatan buat kamu merebut simpati dari bapak.”

1
Khairul Azam
bener, awal temen curhaþ, pelukan, ciuman, trs lanjut ya begitulah awal perselingkuhan
Khairul Azam
ini lah yg aku takutkan menikah setelah bercerai apa laki bawa anak, kebanyakan laki laki itu mau enaknya aja
Cetak Photommp
dulu aja diabaikan nggak dihargai jadi istri, eh skarang baru dikejar. harusnya tau diri sih!
Fayra
Luar biasa
atik cahya
baru mampir, eh ayah sabda😅😅
Esther
keluarga edan...demi uang menghalalkan segala cara
Esther
nah lho ketahuan
Esther
Salma bersandiwara pura2 amnesia nih
Esther
Salma amnesia
Esther
Endra gila
Esther
Ody dulu tahu ayah Sabda selingkuh dari bunda Salma & skrg melihat ayah Endra selingkuh dari bunda Salma😢
Esther
nah akhirnya ketahuan kamu Endra
Esther
spertinya Endra selingkuh
Esther
jangan2 Endra selingkuh ?
Noor Hasanah
Luar biasa
choowie
betul itu sal👍👍
choowie
ceritanya bikin gemes pengen getokin ayah sabda😬
choowie
😭😭😭
choowie
maksa 😬
Misbahiah
kapan mij lanjutanx...dicariin kok gk ada yaa
Call Me Ella: Ada kok kak, klik aja profile. atau ketik nama Rehuella di pencarian nanti muncul judul Hallo, Mantan!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!