Sepuluh tahun menikah, bukanlah waktu yang singkat untuk mendambakan buah hati.
Keysha Geraldine, seorang wanita yang frustasi karena memiliki suami bersikap dingin. Tak peduli dengan keinginannya dan tidak mau berusaha untuk memiliki keturunan. Hingga akhirnya, Keysha Geraldine memutuskan cara lain untuk memiliki buah hati. Cara apakah yang dilakukan Keysha hingga dirinya dinyatakan positif hamil? Apakah sikap suaminya itu berubah lebih baik ketika mengetahui sang istri tengah mengandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luapan Amarah
(POV Keysha)
Kucuran air dingin membasahi pucuk kepalaku, menghadirkan sensasi menyegarkan. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, aku didera
kelelahan. Guyuran air membuat perasaanku lebih nyaman.
Aku melihat wajah Mas Andre berbeda saat menyambutku di depan pintu. Dia menatapku seperti orang asing. Biasanya Mas Andre memberondongku dengan banyak pertanyaan saat aku pulang, entah dari berbelanja atau memeriksakan kandungan. Tetapi kali ini, dia tidak melakukannya. Mas Andre hanya memandangku dengan tatapan aneh, lalu menyuruhku untuk mandi. Hal yang tidak biasa ia lakukan. Tetapi karena memang sangat lelah, aku hanya menuruti perkataannya, sekaligus ingin menikmati kesendirian ini lebih lama.
Kata-kata Diana tadi membuatku resah. Aku tidak menyangka, ternyata dia menyusul Haris ke hotel. Untunglah kami sedang berada di area terbuka. Aku tidak bisa membayangkan jika dia datang dan menemukan kami di kamar hotel. Meskipun kami tidak melakukan perbuatan terlarang, tetapi tetap saja ini salah.
Aku berkali-kali menjambak rambutku, menyesali kebodohan yang terlanjur aku lakukan. Harusnya aku tidak terbuai perasaan, harusnya aku tidak menuruti sisi liar di dalam diriku, harusnya aku tidak tertuntun pada muara rasa indah yang ditawarkan Haris. Apakah aku selemah itu?
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat saat mengingat ekspresi Diana yang seolah-olah jijik menatapku. Aku kepergok, ketahuan makan bareng suaminya. Oh, ini memalukan! Aku masih bisa berpikir waras, jika melihat Mas Andre sedang bersama wanita lain, mungkin aku juga akan bersikap yang sama seperti Diana.
Di sepanjang perjalanan pulang, Haris menenangkan aku. Dia mengirimkan pesan banyak sekali, tetapi aku tidak membalasnya. Aku sedang malas dan ingin sendirian menyesali kebodohan ini diam-diam.
Aku tahu, Haris pasti khawatir. Tetapi mungkin, inilah yang terbaik, sementara waktu kami tidak bertemu dan berkomunikasi dulu hingga semuanya
mereda.
Haris pasti harus mempertanggungjawabkan kebersamaan kami ini. Dia butuh menjelaskan panjang lebar kepada Diana. Apalagi, aku sempat mendengar tadi Diana mengungkit-ungkit kebaikannya. Saat aku check out dari hotel dan melintasi lobi, masih terdengar suara Diana memaki-maki Haris, dan pria itu
hanya diam tidak menjawab apa-apa. Pemandangan yang membuatku kian menyadari bahwa semua ini salah, dan tidak seharusnya terjadi. Aku memang bodoh!
"Keysha, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah bertindak terlalu jauh," batinku memberontak, tetapi hati nuraniku membenarkan bahwa aku berhak mengecap kebahagiaan bersama pria lain.
Sekarang aku bisa melihat betapa kotornya diri ini. Aku memasang setelan shower lebih kencang. Pada putaran tertinggi, kucuran air mengalir deras. Kuharap ini bisa membasuh sisa-sisa dosa yang aku lakukan bersama Haris.
Aku memegang bibir ini, bibir yang sudah dinikmati dan juga menikmati hangatnya bibir Haris. Lalu, seketika tubuhku terasa melayang lagi, membayangkan betapa panasnya ciuman kami tadi malam.
Untung saja saat itu aku masih punya kewarasan. Dan, yang menyelamatkan aku dari kehinaan adalah panggilan masuk dari suamiku. Jika Mas Andre tidak menelepon, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya karena semua ini begitu indah, semua ini begitu memabukkan. Aku tak punya alasan untuk kembali.
Berkali-kali aku menggigit bibir ini, menikmati sensasi panas yang ditinggalkan Haris. Untuk pertama kalinya, aku menikmati sentuhan demi sentuhan seorang pria. Haris melakukannya dengan sangat lembut, berbeda dengan Mas Andre.
Brak! Pintu kamar mandi didobrak dengan paksa, padahal aku sudah menguncinya.
"Mas Andre, kenapa ke sini?" Refleks, aku menutup dada dengan kedua tangan.
"Kenapa ditutup?" tanya Mas Andre dingin.
"Mas, aku sebentar lagi selesai. Mas Andre tunggu dulu, ya? Aku sudah mau bilasan terakhir."
"Tetaplah di tempatmu!"
Ucapan Mas Andre membuatku membeku. Jika mendengar perintah ini, aku sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Baru saja aku membayangkan kenikmatan itu bersama pria yang memperlakukanku dengan hormat, sekarang inilah kenyataan yang sebenarnya, dan tidak boleh aku hindari, bahwa aku harus melayani pria yang dijuluki suami, tetapi tak tahu cara memperlakukan istri.
Mas Andre menarik tanganku dengan kasar sehingga dadaku bertemu dadanya. Dengan cepat pria itu membuka bajunya, lalu dia menarikku kuat-kuat. Wajah kami nyaris tanpa jarak lagi sekarang. Spontan, aku memejamkan mata ketakutan.
Takut, itulah ekspresi yang aku perlihatkan. Wajahnya begitu garang, tidak seperti biasanya. Dengan rakus, Mas Andre melumat bibirku, lalu dia bergumam, "Aku tidak rela bibir ini dinikmati siapa pun."
Aku tersentak kaget mendengar kata-katanya. Apakah Mas Andre tahu apa
yang sudah aku lakukan di hotel kemarin dengan Haris?
"Kamu dengar aku, Key?" tanyanya saat aku berusaha melepaskan diri.
"Kenapa Mas bersikap kasar begini?" tanyaku ketakutan.
"Kamu dengar aku barusan? Aku tidak akan membiarkan kamu dengan laki-laki lain, termasuk dengan Haris!"
Deg! Jantungku bagai dipukul palu godam, lututku gemetar seketika. Jadi, Mas Andre tahu? Apakah Diana sudah memberitahunya? Dari mana perempuan itu bisa menghubungi suamiku?
Sejujurnya, inilah yang aku takutkan sejak perjalanan di bus tadi. Bagaimana kalau Diana menceritakan apa yang ia lihat kepada suamiku? Dan, ternyata benar!
"Kenapa wajahmu pucat begitu? Kamu selingkuh dengan Haris?" tanya Mas Andre membuatku gugup.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. "Enggak, Mas, mana aku berani? Enggak."
Sekali lagi aku menggeleng, tetapi Mas Andre hanya menatapku sinis.
"Kalau begitu, sekarang layani aku dan jangan menolak lagi!" serunya.
Bagaimana bisa aku melayaninya jika perasaanku tidak tenang begini? Tetapi, aku hanya menurut saja saat kecupan demi kecupan ia daratan di seluruh tubuhku yang menegang menahan takut.
"Kamu ini kenapa, Key?" tanya Mas Andre saat aku tidak memberi reaksi seperti yang dia inginkan.
Entahlah! Aku sangat takut sekarang, berdekatan dengannya membuatku was-was. Takut, cemas, tegang, was-was, semuanya bercampur jadi satu dan membuatku tidak bisa menikmati setiap sentuhannya. Jangankan membalas, merasakan kenikmatan saja, sekarang aku tidak bisa. Batinku dipenuhi berbagai macam perasaan, tetapi takut dan bersalah itu yang paling mendominasi.
"Aku bilang, layani aku! Kamu cuma milikku!" Mas Andre menghentakkan tubuhku kuat-kuat, lalu seperti biasa dia berusaha mereguk kenikmatannya sendiri, tanpa memedulikan teriakanku.
"Sakit, Mas," ucapku tertahan.
"Lebih sakit aku saat membayangkan kamu bercumbu dengan laki-laki lain."
Ucapan Mas Andre lagi-lagi menohok relung jantungku. Apa ini benar? Aku tidak salah dengar? Suamiku tahu aku punya hubungan dengan Haris?
Pedih rasanya membayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya, tetapi aku tak punya daya kekuatan apa pun untuk melawannya. Lihatlah yang dia lakukan sekarang. Dari belakang dia menggauliku semaunya, dan aku tidak bisa menolak.
Aku hanya menjerit tertahan, menahan perih di bawah sana.
"Brengsek!" ucapnya sembari mendorongku sehingga tubuhku mengenai pinggir dinding kamar mandi. "Murahan, kamu Keysha!Lihat, sekarang kamu bahkan tidak bisa melayani suamimu dengan benar! Aku bahkan tidak bernafsu lagi untuk menggaulimu sekarang!" ucapnya dengan marah, lalu meninggalkan aku di kamar mandi sendirian.
Aku jatuh terduduk meratapi kebodohan ini. Tentu saja, bagaimana bisa aku menikmati kekasarannya? Aku bahkan tidak terangsang sedikit pun, yang ada hanya rasa perih. Bukan hanya aku yang merasakan, tetapi dia juga pasti merasakan perih itu saat memasukkan senjatanya, yang ada pasti lecet jika dilanjutkan.
Bahkan organ intimku saja berani menolak dan tidak mau menerima paksaan. Tetapi, kenapa aku selalu bersikap sok kuat menerima semua hinaan perkataan kasar yang keluar dari mulut suamiku?
Aku jatuh terduduk di bawah kucuran derasnya air shower. Rasanya, aku tidak bisa bertahan lebih lama dengan kegilaan ini. Aku tahu, Mas Andre sekarang sudah tidak menganggapku sama seperti dulu, mungkin dia sudah menganggap aku pelacur. Ucapan murahan yang keluar dari mulutnya barusan adalah buktinya. Dia tidak pernah mengatakan itu sebelumnya. Sekarang aku pasrah, tetapi aku tidak ingin menyerah.
tp aku sih yakin klo burung haris anteng2 aja walaupun diobok2 diana sedemikian rupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Aku suka tokoh2nya bukan ceo yg serba wow,,
ditunggu karya2 selanjutnya..
Juga buat othor semoga kehamilan ny sehat hingga melahirkan.
Lopee uu othor