(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)
Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Halaman ~
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...
“Oma... aku tidur disini ya?” ucap Ishana merayu Farra saat Abyan dan Zahra diminta menginap semalam di rumah itu.
“Pulang sana, kamar di sini udah penuh,” ucap Falisha terlihat tidak menyetujui.
“Masih banyak kok, Mbak.” Ishana masih tetap bertahan.
“Dah... pulang. Kasihan juga sama mama dan papa di rumah berdua,” sambung Hanum terlihat ikut mengusir secara halus.
“Mama sama papa kan bisa berdua dulu malam ini,” ucap Ishana masih bertahan dengan pendiriannya.
“Kapan-kapan aja, Ishana,” ucap Farra akhirnya bersuara.
“Ah, Oma... lagian di sini ada mas Abyan. Kalau lain kali nggak mau ah... kalau nggak ada mas Abyan,” ucap Ishana merayu Farra sambil memeluk tangan perempuan itu.
“Emangnya lo istrinya mas Abyan? Sadar diri dong,” ucap Falisha sangat kesal.
“Eh Ishana... gue kasih tau ya... kalau pengantin baru itu nggak bisa diganggu gugat. Apalagi kalau udah masuk kamar, dinding aja bisa jadi saksi bisu panasnya gairah mereka,” sambung Hanum memanasi.
Ishana mendengar itu semakin berwajah masam. “Lagian aku cuma numpang tidur aja kok. Apa salahnya? Kalau ada Mas Abyan tuh enak aja suasananya,” ucap Ishana tampak mencari alasan.
“Ishana pulang, jangan manja,” ucap Arum.
“Mama... aku mau tidur di sini. Malam ini... aja.” Ishana berusaha merayu Arum juga.
Zahra yang melihat perdebatan itu mulai merasa ingin pulang saja jika suasananya terus seperti ini.
“Ishana...,” pekik Sofian dengan suara tinggi.
Ishana menghentakkan kaki dan melepaskan pelukannya ke Arum sebelum berjalan keluar ruangan tanpa berpamitan. Tingkahnya terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.
“Maaf atas sikap Ishana yang nggak bisa diubah. Dari dulu sampai sekarang susah diomongin,” ucap Arum yang kurang nyaman dengan tingkah laku putrinya.
“Nggak apa-apa, Arum. Biasa aja kali. Apalagi kalau adik sedang manja sama kakaknya. Itu udah biasa,” ucap Farra membela sambil melirik sekilas ke arah Zahra.
Zahra melihat tatapan itu tidak tertarik untuk menanggapi apa pun.
“Tapi kan Oma, sekarang itu udah beda situasinya. Ishana dan Abyan juga bukan anak kecil lagi.” Arum berusaha bertindak agar Farra bisa mengerti maksudnya.
Farra terdiam. Ia hanya menaiki alisnya tanpa berkomentar lagi.
“Kalau begitu kami permisi dulu ya. Hari juga kayaknya udah malam banget,” lanjutnya. Semua orang yang ada disana langsung mengangguk pelan. “Assalamualaikum...,” ucap Arum masih merasa tidak enak hati.
“Waalaikumussalam...,” ucap mereka serentak.
Arum dan Sofian bersalaman sejenak dengan mereka, setelah itu perlahan pegi.
“Kami juga pamit pulang dulu ya, Oma,” ucap Abyan.
Alis Farra berkerut. “Kenapa nggak tidur di sini aja?”
“Iya nih.. mbak Zahra bisa tidur sama aku lagi,” sambung Falisha sangat senang.
“Mbak mau jadi pengganggu juga ya? Kenapa nggak sekalian buat grup dengan Ishana. Biar kalian bisa berbagi pendapat buat pisahin mas Abyan dan Mbak Zahra,” ucap Hanum memanas.
Zahra sempat merasa apa yang dikatakan Hanum memang ada benarnya juga.
“Enak aja gue disamain dengan Ishana. Lagian ya... mbak Zahra aja nggak ada komentar,” jawab Falisha membela dirinya.
“Besok Zahra masuk kerja,” ucap Abyan memecahkan perselisihan kedua adiknya.
“Memangnya kerja besok masuk apa sih, Mbak?” tanya Falisha.
“Dinas malam, Sha.”
“Tuh kan... dinas malam juga. Balik besok pagi atau siang kan bisa,” ucap Farra yang masih berusaha menahan mereka agar tetap menginap.
Falisha langsung mendekat ke arah Zahra. “Tidur di sini aja sama aku, Mbak,” rayunya sambil memegang tangan Zahra.
Abyan tersenyum jahil. “Kalian mau... mendengarkan suara jeritan seseorang ditengah malam?”
Zahra sontak terkejut. Abyan ternyata bisa juga mengeluarkan jurus jitunya untuk terus menolak.
“Aku pikir... takut juga sih kalau dengerin suara orang yang jerit-jerit ditengah malam,” sindir Falisha ke Zahra. “Apalagi ngebayangin sesuatu.”
Zahra mendengar itu merasa kesal melihat Falisha yang ternyata tidak bisa diajak kompromi lagi.
“Tapikan semua kamar kedap suara, Mas,” ucap Hanum yang ikut menjahili.
“Oh... yang ini kayaknya beda, Num. Lebih ganas,” ucap Falisha sembari menahan tawa.
“Udah-udah... jangan suka ngomong ngelantur,” ucap Sari angkat bicara. Ia merasa heran dengan tingkah kedua putrinya yang selalu menjahili orang lain.
“Kalau begitu kami pulang dulu. Lain kali kami menginap disini. Kami berdua juga masih banyak kerjaan yang belum selesai.” Abyan langsung bersalaman dengan cepat sebelum pembicaraan semakin melebar.
Zahra pun mengikuti gerakan Abyan.
“Hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan ngebut bawa mobil,” ucap Sari.
“Tapi kalau Zahra udah ketauan hamil, kalian jangan diam aja. Kasih tau kami. Bila perlu tinggal di sini,” ucap Farra tanpa basa-basi.
Zahra hanya menghela napas kasar. Ia kira akan segera pulang, ternyata masih berlanjut.
“Udah ya, Ma. Nanti aja kita bahas itu,” sambung Sari. “Mereka aja masih pengantin baru.”
Abyan dan Zahra hanya saling melirik.
“Lebih baik kalian segera pulang. Hari sudah semakin malam,” ucap Dameer menegahi. Ia memberikan kode ke Abyan, agar segera membawa Zahra secepatnya pergi sebelum semakin panjang pembicaraan mereka.
Abyan mengangguk melihat gerakan Dameer. “Assalamu'alaikum...”
“Waalaikumsalam...,” jawab mereka serentak.
...***...
Bangun tidur sambil meregangkan tubuh terasa begitu menyenangkan bagi Zahra. Rasanya semua beban menghilang sejenak. Ia membuka mata perlahan, lalu terdiam beberapa saat.
Zahra langsung menatap sekeliling kamar dengan bingung.
Perlahan ia bangun dan duduk memperhatikan keadaan sekitar. Tubuhnya masih tertutup selimut, bahkan pakaian yang digunakan semalam juga masih melekat.
Padahal terakhir kali yang ia ingat, dirinya masih berada di mobil saat perjalanan pulang.
Zahra mulai menduga ia ketiduran dan Abyan yang membawanya masuk ke kamar. Siapa lagi yang melakukan hal itu kalau bukan Abyan.
Ia pun bertanya-tanya, kenapa lelaki itu tidak membangunkannya. Namun di sisi lain, Zahra juga berpikir mungkin dirinya memang sempat dibangunkan, hanya saja terlalu lelah hingga tidak sadar.
Pada akhirnya Zahra memilih tidak terlalu memikirkannya lagi. Baginya, semua sudah terlanjur terjadi dan nanti ia tinggal mengucapkan terima kasih saja.
Tatapannya kemudian mencari tas miliknya.
Ternyata tas itu sudah diletakkan rapi di atas meja oleh Abyan. Zahra segera mengambil ponselnya karena khawatir ada pesan penting masuk.
Dan benar saja.
Ada beberapa pesan dari rumah sakit. Tiga orang rekan kerjanya ternyata tidak bisa masuk kerja dan meminta dirinya untuk menggantikan jadwal mereka.
Zahra hanya bisa menghela napas karena kondisi ketiganya memang tidak memungkinkan untuk bekerja.
Ia berniat meminta izin lebih dulu pada Abyan. Jika tidak diizinkan, barulah ia akan meminta solusi ke Finna.
“Mandi dulu deh,” gumamnya pelan.
Zahra segera pergi ke kamar mandi sambil membersihkan tubuhnya dari bau asap yang masih melekat sejak semalam.
Setelah selesai mandi, ia mengambil wudhu dan melaksanakan salat subuh terlebih dahulu.
Semuanya selesai dengan cepat.
Kini Zahra memutuskan untuk membuat sarapan.
“Nanana... nanana...” Zahra berjalan keluar kamar sambil bernyanyi kecil untuk menghibur dirinya sendiri.
Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat seseorang di dapur.
“Mas...”
Zahra tampak terkejut karena ternyata Abyan sudah bangun lebih dulu dan sedang memasak.
“Selamat pagi, Sayang.”
Wajah Zahra langsung memerah mendengar sapaan itu. Ditambah wajah Abyan sangat mendukung.
“Mas kok masak?” tanyanya sembari berjalan mendekat.
Abyan tersenyum sambil mengaduk masakan. “Duduk sana, sebentar lagi selesai.” Abyan menunjuk meja makan.
Zahra merasa aneh karena biasanya dirinya yang memasak, bukan malah duduk menunggu seperti itu. “Sini biar aku aja yang masak, Mas.”
“Nggak usah. Semalam kamu udah masak banyak. Sekarang Mas pula yang masak,” ucapnya sambil tersenyum ramah.
Zahra akhirnya memilih duduk mengikuti arahan Abyan agar tidak menimbulkan perdebatan lagi. Ia memperhatikan lelaki itu yang tampak begitu cocok menggunakan celemek dapur.
Dalam pandangan Zahra, Abyan terlihat nyaris sempurna saat itu.
Tak lama kemudian, Abyan menyajikan makanan ke atas meja dan mengisi piring mereka berdua.
Zahra langsung mencicipinya.
Rasanya benar-benar enak.
“Nggak enaknya ya, Ay?” tanya Abyan penasaran.
“Enak kok, Mas.” entah kenapa Zahra malah merasa tersaingi.
Abyan tersenyum manis sembari mengambil lauk untuk mengisi piringnya. “Maaf soal kejadian semalam. Mas usahakan itu nggak akan terulang lagi,” ucap Abyan memecahkan keheningan diantara mereka.
“Nggak apa-apa kok, Mas. Nggak usah Mas pikirin lagi.” Zahra juga tidak mau membahas masalah semalam. “Makasih juga Mas berbaik hati memindahkan aku dari mobil ke kamar. Aku juga nggak sengaja ketiduran di mobil.”
Abyan menggangguk pelan. “Tapi soal Oma... aku nggak terima. Itu sama aja mencoreng nama baik Mas sebagai suami. Lagian kamu sebagai istri juga patut dilindungi dalam berbagai hal. Itu sudah menjadi kewajiban Mas.”
Zahra tidak bisa berkata apa-apa lagi jika Abyan sudah melontarkan ucapan yang membuatnya kembali terjebak mengikuti permainannya.
“Soal Ishana juga. Mas udah kasih penjelasan sama dia. Kamu... nggak perlu cemburu lagi.”
Sontak saja Zahra berhenti mengunyah. “Aku nggak cemburu, Mas. Aku kan udah ngomong, kalau aku—
“Tapi Mas nggak suka kamu ngomong kayak begitu,” potong Abyan tegas.
Zahra terdiam. Namun, ia memperhatikan wajah lelaki tersebut yang tampak jelas menunjukkan kemurungan di balik wajah tampannya.
Ia pun mulai berpikir, mungkin jika pernikahan mereka benar-benar nyata, ucapannya memang cukup berlebihan.
Zahra akhirnya memilih mengganti topik pembicaraan. “Mas... kayaknya aku akan lembur dua hari lagi deh.”
Abyan berhenti mengangkat sendoknya sejenak. “Kenapa? Apa karyawan di ruangan kamu masih kurang?”
Zahra spontan berpikir, adanya Fadel disebabkan perintah dari Abyan. “Nggak Mas. Cuma... tiga temanku nggak bisa masuk.”
“Alasannya?”
“Bu Eri terkena penyakit demam berdarah, bu Ima anaknya demam tinggi, bu Ika orang tua laki-lakinya meninggal.”
Abyan mengangguk sembari mengunyah pelan. “Mas suruh orang aja atau tambah karyawan agar kamu nggak lembur lagi,” tawarnya.
Zahra sebenarnya tergoda menerima tawaran itu, tetapi ia tahu hal tersebut justru akan membuat rekan-rekan kerjanya merasa heran nantinya.
“Nggak usah, Mas. Mereka izin nggak selamanya. Lagian aku juga udah terbiasa.”
“Kebiasaan mu itu harus diubah sekarang.”
Zahra sudah tahu, Abyan tidak akan mengizinkan. “Jadi... nggak boleh ya, Mas?” tanyanya memastikan.
Abyan awalnya ingin mencegah. Akan tetapi belum sempat berbicara ia sudah melihat reaksi Zahra yang seperti memohon. “Boleh.”
Zahra sontak saja tersenyum tipis.
Abyan melihat itu sudah yakin, Zahra pasti senang jika pekerjaannya tidak diganggu gugat. Ia pun mengambil gelas berisi air putih lalu meminumnya.
Setelah itu ia meletakkan gelas kembali kesemula. “Tapi... ini untuk yang terakhir kali ya, Ay,” lanjutnya.
Zahra mengangguk pelan sembari tersenyum.
“Baju ganti dibawakan?” tanya Abyan lagi.
“Nggak Mas, paling entar ganti dalaman aja.”
Zahra tiba-tiba merasa malu sendiri membayangkan kesan pertama Abyan terhadap dirinya dulu.
“Nanti Mas bawain. Yang kotor kamu masukkin kedalam plastik, biar Mas bawa pulang. Biar bisa dicuci,” ucap Abyan santai.
Zahra langsung menggeleng cepat. “Nggak usah, Mas. Lagian aneh aja kalau kamu yang nganterin langsung. Apa kata temenku nanti, simpanan kamu gitu,” protesnya.
Abyan langsung tersenyum kecil mendengar penjelasan itu. “Kamu tenang aja. Bukan Mas yang anter.”
“Lalu... siapa?”
“Nanti juga kamu tau sendiri.”
Zahra jadinya semakin gelisah. Jangan-jangan Abyan terus-menerus ingin mempermainkannya.
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...