NovelToon NovelToon
Mertuaku BUKAN Ibuku

Mertuaku BUKAN Ibuku

Status: tamat
Genre:Pelakor / Tamat
Popularitas:45.7k
Nilai: 5
Nama Author: febrianis

Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Menantu Atau Babu

"Ibu!" pekik Pak Idris dan Febri kompak, seraya menatap ke arah Ibu Sella yang tengah berkacak pinggang.

"Ibu gak mau pulang ke kampung! Lagian, Mas Idris! Kita bukan suami–istri lagi! Nanti, orang-orang di kampung akan mengatakan! Jika, kita kumpul–kebo!" tungkas Ibu Sella.

Febri pun hanya diam, tidak ingin ikut campur dan memilih untuk berlalu. Menemui suaminya, untuk melihat persiapan lelaki itu. Sebab, Febri ingin segera pergi bekerja.

"Mas," panggil Febri ketika masuk ke dalam kamar. Dilihatnya sang suami yang baru saja selesai mandi, dengan handuk yang masih melilit di pinggang.

Tidak bisa Febri pungkiri, jika suaminya amatlah tampan. Hingga, membuat Febri terpana.

"Ehem … Mas belum siap, Dek!"

Febri terkaget, mendengar suara sang suami dan menjadi salah tingkah. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan nyengir.

"Adek tunggu di luar ya, Bang?"

Setelah mengatakan hal itu, Febri mengambil langkahnya. Kabur, sebelum dia ketahuan. Tengah, jatuh cinta untuk kesekian kalinya kepada sang suami.

"Ko, jantungku. Dag, dig, duk," batin Febri, seraya mengusap dadanya.

"Kamu kenapa berbicara sendiri? Dah gak waras!"

Febri menatap kearah sang empunya suara tersebut, dia memutar bole matanya jegah. Febri tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Ibu Sella dan memilih, kembali ke dapur.

Sebab, Febri lebih memilih sarapan dengan makanan. Daripada, dengan berdebat dengan ibu mertuanya itu.

"Febri!" pekik Ibu Sella kesal. Karena, dilewati begitu saja. Dirinya yang baru saja habis, dimarahi oleh Pak Idris. Semakin menjadi kesal, apalagi sikap Febri yang semakin dingin kepadanya.

"Ibu!"

Ibu Sella menatap ke arah Yusuf yang baru saja keluar dari dalam kamar, putrnya kini telah berpakaian rapi.

"Kamu mau berangkat kerja?" tanya Ibu Sella dan mendapatkan anggukkan kepala.

"Ibu dah sarapan?" tanya Yusuf.

"Dah! Sarapan, dengan omelan dari bapakmu! Pokoknya, Ibu mau. Kamu antar bapakmu itu pulang ke kampung! Bisa-bisa, Ibu mati berdiri. Kalau dia masih disini!" balas Ibu Sella. Meluapkan kekesalannya, hanya Yusuf yang mau mendengarkan. Keluh–kesahnya, sebab sang putra yang selalu menjaga perasaannya.

Namun, kali ini berbeda. Yusuf, tidak menggubris apa yang di ucapkan oleh sang ibu. Dia berlalu, menuju dapur. Sebab, Yusuf seklias melihat bayangan sang istri yang menuju ke sana.

"Yusuf!" pekik Ibu Sella kesal, seraya menghentakkan kakinya.

"Gak anak! Gak bapak! Apalagi, menantu! Bikin darting!" Imel Ibu Sella, yang memilih berlalu. Menuju ke kamarnya.

Sedangkan, Febri dan Pak Idris yang kini tengah duduk sarapan. Serta Yusuf yang baru saja sampai, melihat bapak dan istrinya. Merasa terharu, walaupun Pak Idris. Bukannya, ayah sang istri. Namun, perhatian Febri sama. Yusuf, melihat dan merasakan hal itu.

"Eeekkk … kenyang!"

Pak Idris bersendawa, kemudian berlalu. Dia telah mengisi amunisi dan siap untuk melakukan aktivitas lainnya.

"Bapak," panggil Yusuf. Menghentikan langkah sang bapak dan membuat lelaki itu menatap kearahnya.

"Apa, Suf?" tanya Pak Idris.

Ada perasaan yang berat di dalam hati Yusuf, untuk mengatakan yang sebenarnya. Akan tetapi, dia harus sedikit tegas. Karena, ini menyangkut malsalah rumah tangga mereka.

"Yusuf, hanya ingin menanyakan? Kapan Bapak akan … pulang?" tanya Yusuf ragu-ragu. Takut, menyinggung perasaan bapaknya.

Benar saja, seperti dugaan Yusuf. Pak Idris, berubah air mukanya dan menatap ke arah Yusuf tajam.

"Bapak akan pulang! Setelah dapat uang! Bapak tahu diri ko! Bukan seperti, Ibumu! Hanya bisa makan dan tidur! Gak bisa cari uang!"

Setelah mengatakan hal itu, Pak Idris berlalu dnegan hati yang dongkol. Makanan yang telah ia makan, terasa sangkut di perut. Sebab, ucapan Yusuf.

"Mas," panggil Febri pelan. Dia melihat bagaimana kemarahan dari bapak mertuanya.

"Kita sarapan dulu, nanti … baru berangkat bekerja," jelas Yusuf yang tidak ingin membahas yang baru saja terjadi. Sebab, akan menghilangkan selera makannya.

Febri pun diam dan tidak melanjutkan pembicaraan tersebut, mereka sarapan berdua. Kemudian, setelah itu. Berangkat bekerja.

Selama di perjalanan, Febri hanya diam. Dia bahkan merasa segan untuk berpegangan kepada sang suami. Tidak seperti dulu, dia akan memeluk lelaki itu dari jok belakang motor.

Hingga, mereka sampai di kantor pun. Febri masih diam, dia benar-benar merasa canggung.

"Dek, nanti pulang? Tunggu Mas, ya?"

"Ah … iya, Mas! Adek tunggu," balas Febri terkejut. Mereka berdua pun berjalan beriringan, hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Mona yang sedari tadi memperhatikan, pasangan suami-istri tersebut dari atas hingga kebawah. Sampai, Yusuf yang berlalu. Meninggalkan Febri, karena mereka yang berbeda tempat.

"Beb, kalian baikan, lagi?" tanya Mona penuh selidik. Namun, hanya ditanggapi oleh Febri dengan mengangkat bahunya. Membuat, Mona berdecak kesal.

Mereka berlalu, menuju meja Febri. Mona masih penasaran, seolah tidak ingin melepaskan sahabatnya itu.

"Beb, aku mau tanya nih!" bisik Mona dengan menekankan ucapannya.

"Apa sih, Mon?" balas Febri, malas. Dia sudah tahu, akan tingkat kekepoan sahabatnya itu.

"Cih! Kura-kura, dalam perahu! Padahal, tahu!"

Febri menahan tawanya, seraya menggelengkan kepala. Dia amat jegah dengan sikap Mona yang terlalu lebay.

"Hey, Febri Ayundi! Aku tahu, kalau kamu diperlakukan seperti babu! Bukan, menantu! So … walaupun aku belum pernah menikah! Tapi … dah banyak hal yang aku ketahui, tentang kehidupan berumahtangga."

Febri menatap Mona tajam, dia menarik wanita itu agar duduk di dekatnya. Lalu, memperjelas ucapan Mona yang terkesan kompor baginya.

"Maksudnya apa? Diperlakukan, seperti babu! Bukan, menantu."

"Beb, sudah menjadi rahasia umum! Kalau, menantu perempuan diperlakukan seperti, babu! Karena, para mertua? Mereka, menginginkan. Menantu yang bisa ini dan itu, sedangkan kita para perempuan! Punya keterbatasan!" Memiliki, kekurangan dan kelebihan masing-masing! Hal, ini juga membuat aku malas. Untuk menikah dan lebih suka menyendiri."

Febri tertegun dengan apa yang diucapkan oleh Mona, dia tidak menyangka. Jika, disampaikan oleh sahabatnya. Memang tengah ia alami langsung, di mana Febri yang bekerja di luar rumah. Harus, mengambil alih. Pekerjaan yang ada di rumah, padahal dia juga bisa merasa lelah dan letih.

"Tapi … gak mungkin juga 'kan? Kamu, menjadi jomblo. Sampai, mati?" tanya Febri mencibir. Hal itu membuat, Mona naik pitam.

"Helo! Ini Mona gitu loe! Aku cantik dan punya banyak duit! Mudah, buat aku cari berondong diluar sana! Tapi … gak dengan ibu mertua yang baik! Sebab … apa yang aku miliki, gak berarti!" tungkas Mona berapi-api.

Febri mengerutkan dahinya dan memperjelas, ucapan Mona.

"Maksudnya? Mertua yang baik, gimana?"

"Ya ampun! Febri! Ibu mertua itu, lebih kejam dari Ibu Kota, ataupun ibu tiri dari Cinderella! Mereka, tidak akan pernah menerima kita? Karena, bukan anak kandungnya!"

"Menerima siapa?"

"Pak Martin!"

1
Komsiyah Komsiyah
makin belibet ceritanya
Komsiyah Komsiyah
panggilannya gak jelas ganti 2 sampai 3x
Ayujoe Desiana Haful
gak jelas 😏🥴🥴 gak ad akhir cerita
AZ & AR
HVS kali thor.. HIV mah pemyakit..
Author_Febrianis: iya kak 🙈 maaf, tempo 😅 mau ketawa, tapi ... takut dosa
total 1 replies
◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔
Saya suka novel ini, jalan & alur cerita nya benar² bagus 😱🥰🤩🤩
◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔
semangat kk, terus up ya😊 jangan terlalu memaksakan diri kk buat nulisnya, istirahat aja kk dulu😅🙏
◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔
saya dh mampir kk, novelnya bagus saya suka😆😆😊
As Cempreng tikttok @adeas50
karya keren kak, Semangat 😁
Lina Zascia Amandia
Gila Ibu mertua memakai baju kerja menantu...
Lina Zascia Amandia
Hehee... namaprotagonis wanitanya sm dgn napen Kak Wilda..... sedihnya pny mertua begitu, apalagiserumah....
Author_Febrianis: iya kak Lina 😅
total 1 replies
Lina Zascia Amandia
Likenya yang mampir duluan.
Lina Zascia Amandia: Sama2 semangat ya...
total 2 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Balada menantu dan ibu mertua.
sabar yak, Febri😌
Author_Febrianis: iya Mak 🤧
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!