Marah dan kecewa pada sang ayah yang tak menganggapnya anak membuat Anesha memilih kabur dari rumahnya dan pergi ke kota.
Anesha pikir dia akan mudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal. Namun ternyata dia salah, dua hari di kota tanpa uang dan arah tujuan justru membuatnya terlunta-lunta bahkan nyaris mati kelaparan.
Hingga akhirnya sosok bak dewa penyelamat itu datang di saat yang tepat.
"It's ok baby girl, Daddy's here." Sebuah kalimat penenang yang akhirnya membuat Anesha tanpa sadar jatuh cinta pada pria dewasa yang sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri.
Akankah Alesha memperjuangkan perasaannya atau justru memilih mundur saat mengetahui sang Daddy bukanlah seorang pria single?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I'm Not A Sugar Baby
Ini sudah hari ke empat sejak Anesha masuk ke sekolah barunya. Sejak hari pertama hingga sekarang, Daniel masih terus mengantar jemput gadis itu.
Bahkan beberapa hari ini Daniel juga memilih menginap di apartemen daripada pulang ke rumahnya. Pria itu masih khawatir dengan kondisi Anesha yang sempat menangis histeris hari minggu lalu.
Dan setelah mencari tahu, Daniel mengetahui alasan gadis itu menangis dari ponsel Anesha yang baru selesai di perbaiki.
Daniel mengepalkan tangannya. Kemarahan itu jelas terlihat di wajahnya begitu membaca pesan yang di kirimkan ayah Anesha pada putrinya.
Daniel tak menyangka ada seorang ayah kandung yang tega menyakiti hati putrinya sedalam ini. Dia juga seorang ayah yang memiliki seorang putri. Walaupun sudah sangat jelas jika Danisa bukan anak kandungnya, namun Daniel sangat menyayanginya. Dia tak akan tega berbicara dengan nada tinggi, apalagi meyakiti hati putrinya dengan kata-kata yang tak pantas semacam ini.
"Bagaimana bisa gadis semanis dan sepenurut kamu memiliki ayah seperti ini." Daniel yang hanya orang lain saja bisa merasakan sakitnya menjadi Anesha. Lalu bagaimana bisa seorang ayah kandung justru menjadi penyebab hancurnya perasaan putrinya.
Daniel kembali membaca pesan yang ada di ponsel Anesha. Pesan itu berasal dari ibu gadis manis itu. Dari yang Daniel baca, Ibu Danisa sangat menyayangi putrinya. Bahkan terlihat sangat merindukan Anesha. Dari history pesannya, setiap hari wanita paruh baya itu selalu mengirimkan pesan untuk putrinya walaupun tak ada satupun pesan yang Anesha balas.
Namun anehnya dua hari belakangan ini Ibu Anesha tak pernah mengirim pesan lagi pada putrinya. Dan entah kenapa Daniel menjadi sedikit khawatir. Akan tetapi Daniel sendiri tak tahu harus berbuat apa.
Ketika mengulir aplikasi perpesanan di ponsel lama Anesha, pandangan mata Daniel terhenti pada satu pesan yang belum di baca dari sebuah nama unik-'Devvil girl'. Penasaran, Daniel pun membuka pesan tersebut. Pesan yang ternyata di kirim sekitar dua bulan yang lalu.
[Hai Anesha, terimakasih sudah pergi dari rumah. Aku berharap kamu tak akan pernah kembali.
Selagi ayahmu terus memenuhi kebutuhanku, aku janji akan menjaga ayahmu dengan baik.
Dan untuk ibumu, aku tak janji akan menjaganya. Dia wanita tua yang sangat menyebalkan. Kenapa saat kamu kabur dari rumah tak mengajaknya pergi sekalian, agar hidupku lebih tentram.
Saat ini harapan terbesarku hanya satu, semoga kamu betah dalam pelarianmu.
Salam sayang dari sepupu manismu, Kania]
"The real devvil girl. Aku tak menyangka Anesha memiliki sepupu sejahat semacam ini."
Belum selesai umpatan dan sumpah serapah dia ungkapkan untuk Kania, sebuah panggilan telepon di nomor Anesha justru mengagetkannya.
"Ibu..." Setelah membaca nama sang penelepon, Daniel merasa ragu, harus mengangkatnya atau justru mengabaikannya.
Cukup lama Daniel berpikir hingga dia memutuskan untuk mengangkat telepon itu. Namun belum sempat dia menggeser tombol hijau, panggilan itu justru telah berakhir.
Lama menunggu, tak ada lagi panggilan masuk. Hingga Daniel yang penasaran memilih menelepon balik Ibu Anesha. Namun sayang seribu sayang, saat Daniel menelepon Ibu Anesha, nomor wanita paruh baya itu justru sudah tak aktif lagi.
...***...
Seperti hari-hari sebelumnya saat berada di sekolah, hari ini pun tak ada yang spesial bagi Anesha.
Anesha masih menjadi sosok penyendiri, bukan karena dia tak ingin memiliki teman, akan tetapi sepertinya memang tak ada yang ingin bertemen dengannya setelah mengetahui latar belakangnya yang berasal dari keluarga sederhana.
Mungkin mereka yang terlahir dari keluarga berada merasa tak selevel jika berteman dengannya. Ya, dari segi ekonomi mereka memang jauh berbeda. Hanya saja saat ini Anesha tengah mendapat keberuntungan karena bertemu dengan Daniel yang mau menampungnya bahkan memberikan kehidupan yang sangat layak untuknya. Bukan hanya dari segj materi saja, Daniel juga memberikan kasih sayang tulus yang akhir-akhir ini tak pernah dia dapatkan dari ayah kandungnya sendiri.
Tett.. Tett...
Bel pertanda berakhirnya pelajaran hari ini baru saja terdengar. Anesha mulai membereskan buku-bukunya dan memasukan ke dalam tas.
Anesha harus bergegas keluar, dia khawatir Daniel sudah menunggunya seperti hari-hari sebelumnya. Apalagi tadi saat jam istirahat, Daniel mengirim pesan dan mengatakan akan menjemputnya.
"Udah mau pulang?" tanya salah satu teman sekelas Danisa.
"Iya," jawab Anesha singkat. Dia sedang tak ingin berbasa-basi. Apalagi alasannya jika karena tak ingin Daniel menunggunya.
"Buru-buru amat," ujarnya sembari tersenyum mengejek.
Anesha memilih mengabaikan ucapan gadis itu. Selain buru-buru, Anesha juga tak ingin mencari masalah.
Namun saat Anesha beranjak dari tempat duduknya, kedua bahunya justru di tekan dengan kasar hingga dirinya kembali terduduk.
"Lihat guys, dia sombong banget, di ajak ngobrol malah main pergi aja," ujar gadis itu pada temannya.
Saat ini di kelas hanya tinggal mereka bertiga, karena siswa yang lainnya sudah meninggalkan kelas beberapa saat setelah bel berbunyi.
"Aku sedang buru-buru. Kalau kalian ada perlu bisa kalian bicarain besok," ujar Anesha kembali bangkit dari duduknya dan mulai melangkah pergi.
"Simpanan Om Om perut buncit aja gayanya selangit." Kalimat hinaan dari salah satu temannya membuat Anesha menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap kedua teman sekelasnya dengan penuh tanda tanya.
"Maksud kalian apa?" Bukan pura-pura tak tahu, tapi Anesha memang tak mengerti maksud mereka.
"Lo jadi sugar baby kan? Dapet jatah berapa lo sekali jalan sama dia?" ledek siswi itu sambil tersenyum miring.
"Maksud kalian apa?" tanya Anesha lagi. Dia masih tak mengeri maksud ucapan teman sekelasnya ini.
"Lo itu orang miskin, tapi tiap hari gue lihat lo di anter jemput pake mobil mewah. He is your sugar daddy and you're the sugar baby."
"Stop. Don't talk carelessly. He's my adoptive father," bantah Anesha dengan tatapan nyalang. Dia benar-benar tak terima dengan ucapan kedua teman sekelasnya tentang Daniel. "Remember and listen, my name is Anesha Ayudia and i'm not a sugar baby," sambung Anesha sebelum akhirnya meninggalkan kelas dengan amarah di dadanya.
ko blm di up sate lagi
penasaran nih
kenapa ga di lanjut
penasaran nih sama
kisah nya anesha dan daniel