NovelToon NovelToon
Kekasih Rahasia Supermodel

Kekasih Rahasia Supermodel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noeryanthi Kusnadii

- Cinta Yang Menyembuhkan Trauma-

Damarlangit hanya salah satu dari orang yang memiliki trauma dalam hidupnya. Bahkan trauma itu dirasakan sejak usia Damar 10 tahun hingga saat ini, dan sampai dia berhasil menjadi super model, trauma itu masih Damar rasakan.

Hingga pada suatu hari, seorang wanita penghibur datang untuk menyembuhkan lukanya, namanya, Arundaya. Dipertemukan dengan tidak sengaja, membuat mereka mengenal satu sama lain, hingga kedekatan mereka jauh dari hubungan hanya seorang teman. Hingga hubungan gelap mereka jalin karena Ibu Damar tidak menginginkan Damar dekat dengan wanita seperti Arundaya yang dia pikir akan merusak karir Damar.

Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah mereka menjalin hubungan saat Ibu Damar melarangnya, dan apakah trauma Damar akan sembuh saat bertemu dengan Arundaya yang ingin membantu Damar untuk sembuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noeryanthi Kusnadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Dalam perjalanan ke rumah Damar, Arundaya masih memikirkan ucapan 2 wanita tadi. "Sebenarnya siapa Zyan. Apa yang mereka maksud model itu," ucap Arundaya lirih sambil menatap ponselnya. Dia coba mencari tau siapa itu Zyan. Siapa tau ada berita tentang yang dibicarakan wanita tadi.

"Oh ... mungkin Zyan ini yang mereka maksud." Arundaya melihat dengan seksama foto Zyan di layar ponselnya. Dia sedikit mengulik siapa itu Zyan, kenapa sampai ada gosip itu yang fans Damar dengar.

Setelah taksi yang di tumpangi Arundaya berhenti, dia segera turun dan masuk rumah Damar. Dia menatap ke sekitar sebelum masuk, entah kenapa dia kepikiran tentang Sarita yang datang untuk menumui Damar waktu itu.

Arundaya berjalan masuk setelah berhasil membuka pintu, suasana rumah terasa sunyi. Dia menatap ke area dalam rumah, seperti tidak ada siapapun di sana, sampai dia berjalan ke kamar. Ketika dia melewati kamar Damar, pintu kamarnya sedikit terbuka. Arundaya begitu penasaran dan membuka perlahan pintu kamar Damar kemudian berjalan ke arah tempat tidur.

"Rupanya dia sudah pulang," ucap Arundaya lirih. Langkah kakinya terus mengarah ke tempat tidur Damar, sampai langkahnya terhenti ketika dia melihat Damar seperti akan bangun.

Sejenak Arundaya menatap ke arah Damar tang tampak gelisah dalam tidurnya. Tak lama, Damar bangun dengan nafas memburu, dan keringat yang membanjiri wajah dan tubuhnya.

Tangan Damar mencengram selimut yang dikenakan sambil tertunduk menahan sakit. Melihat hal itu Arundaya segera menghampiri Damar. "Kamu baik-baik saja?" tanya Arundaya dengan penuh kekhawatiran.

Tanpa menjawab, Damar menggapai tangan Arundaya dan memeluknya. Dia seperti sedang ketakutan. Tubuhnya bergetar saat memeluk Arundaya.

"Aku bersamamu, jangan takut." Arundaya mengusap punggung Damar pelan. Berharap Damar tenang ketika memeluknya.

"Apa perlu aku panggilkan Mas Rio agar dia datang?" tanya Arundaya.

"Tidak ... tidak perlu. Biarkan aku seperti ini sebentar saja." Dalam pelukan Damar, Arundaya hanya bisa diam. Pikirannya masih mengarah pada bagaimana Sarita bisa sekejam itu kepada Damar sampai mengalami trauma seperti ini. Luka yang begitu dalam, membuat Damar sangat ketakutan.

Dirasa sudah merasa lebih tenang, Damar melepaskan pelukannya pada Arundaya. Wajah pucatnya tampak jelas, karena dia memang kurang enak badan. Namun, bukan Damar jika tidak keras kepala.

"Minumlah," ujar Arundaya sambil menyodorkan segelas air dan obat yang biasa Damar konsumsi.

Dengan sekali tegukan Damar menelan obat itu, walau kenyataannya sebanyak apa obat itu dia telan. Trauma itu tetap masih ada. Entah bagaimana trauma itu bisa hilang.

"Kamu pucat sekali. Lebih baik aku mengantarkanmu ke rumah sakit," tutur Arundaya coba membujuk Damar.

"Tidak." Damar meletakkan gelas di nakas samping tempat tidurnya dan menarik lengan Arundaya untuk duduk di tepi tempat tidurnya.

Damar memposisikan kepalanya pada pakuan Arundaya. Kenyamanan yang dia rasakan sekarang membuat dia tenang. Arundaya memang bisa menenangkan Damar saat traumanya kambuh.

"Apa hari ini berjalan dengan baik?" Pertanyaan Damar membuyarkan lamunan Arundaya yang kembali teringat tentang ucapan penggemar Damar tadi.

"Ah ... iya. Aku mulai bekerja full time besok," jawab Arundaya. Dia membelai rambut Damar yang sedikit lepek karena keringat.

"Baguslah, kamu tidak akan bosan lagi karena memiliki kesibukan sekarang. Dan tentang kamu ingin tinggal bersama temanmu. Lebih baik tinggallah di sini saja. Aku membutuhkanmu," ujar Damar. Matanya terpejam walau tidak tidur.

"Tapi aku--"

"Kenapa? Kamu tidak ingin tinggal bersamaku? Aku berjanji tidak akan seenaknya sendiri meminta jatah padamu, tapi aku membutuhkanmu." Damar memeluk tangan Arundaya yang melingkar di bahunya.

Arundaya menatap Damar yang ada di pangkuannya. Setakut itukah Damar hingga tidak ingin Arundaya pergi darinya.

"Maaf, jika aku memanfaatkanmu. Tapi aku membutuhkan dirimu untuk rasa takut ini." Kembali Damar mengatakan apa yang dia inginkan.

Dalam diam Arundaya kembali teringat tentang ucapan penggemar Damar tadi. Ingin sekali Arundaya bertanya, tapi dia tidak bisa menekan Damar ketika kondisinya sedang tidak baik.

"Aku akan di sini menemanimu. Aku harap kamu tidak terus menyembunyikan luka hatimu itu," sahut Arundaya. Bagaimanapun, Damar banyak membantunya. Kenapa saat Damar membutuhkan dia, tapi dia tidak bisa.

"Terima kasih," tutur Damar.

"Sama-sama. Oh ya, sayang. Boleh aku bertanya?" tanya Arundaya yang masih begitu penasaran dengan apa yang mengganggu pikirannya.

"Katakan saja." Damar menatap Arundaya yang juga menatapnya. Senyum manis Damar tunjukkan walau hanya sekilas.

"Apa kamu mengenal Zyan?" tanya Arundaya dengan penuh hati-hati. Takut jika pembahasan yang dia tanyakan membuat Damar tidak nyaman.

"Ada apa? Apa dia mengganggumu?" tanya Damar. Kali ini tatapannya berbeda. Senyum tipis yang tadinya mengembang kali ini hilang, seakan pembahasan yang Arundaya tanyakan salah.

"Tidak. Hanya saja--" Ucapan Arundaya menggantung. Dia ragu untuk mengatakannya.

"Apa ini tentang rumor itu?" tanya Damar seakan dia mengerti dengan apa yang akan Arundaya tanyakan.

Arundaya hanya mengangguk pelan sambil terus menatap Damar yang menarik nafas panjang dan memejamkan mata. "Apa yang ingin kamu tau?" tanya Damar.

"Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat. Apapun yang terjadi. Aku percaya jika apa yang menjadi pilihanmu sekarang itu baik. Apalagi kamu melakukan ini demi seseorang yang kamu sayangi."

"Sebenarnya apa yang kamu tau? Bukankah rumor tentang penganiayaan yang terjadi, Zyan yang membocorkannya. Apa itu yang ingin kamu tanyakan?" Damar memperjelas apa yang sedang mengganggu pikiran Arundaya tentang rumornya dengan Zyan.

"Bukan rahasia lagi jika Ibuku menjadikanku mesim pencetak uangnya, tapi tentang Zyan aku singkirkan itu tidak benar. Dia melakukan kesalahan fatal yang membuat Papa memintanya untuk keluar dari agensinya. Tapi apalah dayaku untuk menjelaskan apa yang terjadi, ketika semua orang berpikiran jika aku yang bersalah." Arundaya mendengarkan dengan jelas penjelasan Damar. Yang bisa dia ambil, Damar hanya menjadi sasaran Zyan karena dia merasa tersaingi.

"Apa masalahku ini membuatmu ragu padaku, ketika aku tidak pernah memandangmu sebelah mata," ujar Damar.

"Bukan seperti itu. Aku hanya mendengarnya dari beberapa penggemarmu. Aku pikir yang mereka tau itu salah, dan aku hanya penasaran saja. Maafkan aku jika itu membuatmu tidak nyaman. Aku bertanya di waktu yang tidak tepat." Arundaya merasa bersalah dengan topik yang ditanyakan. Bagaimana dia bisa membahas itu, jika kenyataannya dia tau apa yany sebenarnya terjadi hingga membuat Damar trauma.

Tuntutan yang Sarita berikan pada Damar, membuatnya tidak begitu peduli dengan rumor yang terjadi. Yang terpenting untuknya, dia bekerja dan memberikan uangnya pada Sarita. Jika tidak ancaman demi ancaman akan Sarita berikan.

Damar bukan tidak bisa melawan. Dia hanya tidak ingin membuat orang yang melahirkannya susah karenanya. Walau berkali-kali Sarita mengatakan jika Damar bukan putranya, namun rasa takut kehilangan dan kepatuhan Damar pada Ibunya tidak bisa dia elakan. Dia menerima setiap rasa sakit itu sendiri, tapi akan sampai kapan dia ingin melukai dirinya dengan rasa sakit yang Ibunya berikan?

1
habibulumam taqiuddin
kok G lnjut2
Nona Lemetd 💜: sudah di lanjut lagi kak 🫡
total 1 replies
habibulumam taqiuddin
selamatkan arundaya
habibulumam taqiuddin
lama sekali g update
ramochaaa
semangat thorrr
ramochaaa
semangatttt
habibulumam taqiuddin
salut sy dg kejujuran damar. menerima kekurangan pasangan masing-masing....
Ameera zie
ya allah bu, tobatt
Ameera zie
ngilu🥲
Nona Lemetd 💜
happy reading ya, jangan lupa tinggalkan komen kalian. terima kasih, follow akunnya juga yaaaa
adilia
keren
adilia
damar
adilia
seru untuk di baca
Yarasary
aku udah mampir tor, mampir juga yuk ke novel aku ~Aswarya genggam aku 😊.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!