Popoy atau Tiara adalah gadis kampung yang sangat baik, cantik dan juga pintar. Dia lulus dengan meraih predikat terbaik di sekolahnya.
Tapi, modal itu saja tidaklah cukup untuk menjamin dirinya bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan. Apalagi, Tiara hanya lulusan SMA.
Ekonomi keluarga yang pas-pasan dan incaran rentenir yang ingin memperistri Popoy, membuatnya nekad pergi ke kota. Popoy tidak mau terikat pernikahan dengan bandot tua yang selalu menjerat petani dengan hutang, hingga para orangtua terpaksa harus merelakan anak gadisnya untuk dipersunting demi melunasi hutang mereka.
Namun, Popoy tidak pernah menyangka jika di kota, dirinya malah terlibat banyak masalah. Bekalnya dirampok dan dia hampir saja diperkosa oleh para preman.
Popoy berhasil keluar dari mulut harimau tapi akhirnya masuk ke mulut buaya. Dia bersembunyi di bagasi mobil seorang Miliarder yang terkenal suka bergonti-ganti wanita.
Bagaimanakah nasib Popoy selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. SEDIH MELIHAT NADINE
Sebelum pulang, Alex dan Popoy menemui Bu Fatma. Di sana ada Nadine, Andre serta Gani yang sedang bermain sambil berjalan mengitari sang nenek.
Nadine saat melihat kedatangan mantan kekasihnya merasa bersalah dan sangat malu.
Apalagi jika dia teringat akan kejadian masa lalu serta sikap Gio yang sangat keterlaluan terhadap Alex, seperti tadi.
Nadine hanya menyunggingkan sebuah senyuman untuk Popoy, sedangkan terhadap Alex, Nadine tidak berani membalas tatapannya.
Popoy pun membalas senyuman Nadine sambil mengulurkan tangan dan berkata, "Salam kenal Mbak, aku Tiara, tapi orang-orang lebih sering memanggilku Popoy."
"Eh, iya Mbak Popoy, aku Nadine dan itu putraku."
"Hallo sayang, siapa nama kamu?" sapa Popoy saat Gani memandang ke arahnya dan mendekati Nadine.
"Ayo sayang, kenalan dengan Tante!" pinta Nadine sambil mengulurkan tangan Gani ke arah Popoy.
"Hallo Tante cantik, aku Gani!" ucap Gani dengan bahasanya yang masih cadel.
Popoy pun berjongkok di hadapan Gani, lalu diapun membalas uluran tangan Gani sambil tersenyum manis dan berkata, "Hallo anak ganteng, aku Tante Popoy."
Gani pun tersenyum, lalu berkata, "Terimakasih Tante."
Kemudian Gani melepaskan jabatan tangannya, lalu berjalan kearah Alex tanpa Nadine minta.
Gani memeluk kaki Alex, mendongak dan menyeringai menunjukkan giginya yang masih belum tumbuh semua.
Alex menatap Gani, dia jadi teringat kenangan saat dirinya begitu sakit mendengar pengakuan Nadine.
Wajah Gani sangat mirip dengan Gio, hingga Alex merasa canggung untuk menyapa Gani.
Gani pun tersenyum lalu berkata, "Oom baik, ayo kita main!"
Alex hanya menatap Gani tanpa berkata sepatah katapun hingga membuat Popoy menyenggol lengannya. Alex pun menatap Popoy yang memberi kode agar Alex menjawab ajakan Gani.
"Maaf ya sayang, Oom belum bisa bermain dengan kamu. Oom mau pulang, kapan-kapan Om kesini lagi untuk bermain dengan kamu," ucap Alex sembari mengatupkan kedua tangannya.
"Iya Nak, sana gih main lagi!" pinta Nadine.
Gani pun kembali berkata, "Janji ya Om, kapan-kapan ajak Gani main!"
"Iya, Oom janji," jawab Alex sembari mengulurkan jari kelingkingnya.
Gani pun menyambut dengan mengaitkan jari mungilnya ke jari Alex.
Sebenarnya Gani begitu menggemaskan bagi Alex, tapi entah mengapa dia seperti memiliki tembok pembatas yang membuatnya tidak bisa bersikap terlalu manis terhadap bocah lucu itu.
Melihat sikap Alex yang merasa canggung terhadap Gani, Nadine pun meminta putranya untuk bermain lagi.
"Ayo Nak, main lagi ya di sana!" ucap Nadine sembari memegang lengan Gani dan membawanya sedikit menjauh.
Alex yang melihat Nadine begitu kurus sebenarnya merasa sedih, tapi dia tidak memiliki hak lagi untuk mencampuri yang bukan urusannya. Karena menikah dengan Gio sudah menjadi pilihan Nadine saat itu.
Popoy memandang ke arah Alex yang masih menatap Nadine. Dia melihat kesedihan di mata suami sementaranya itu.
Ada perasaan aneh menyusup di hatinya, lalu Popoy pun menghela nafas dan berdehem.
Deheman Popoy membuat Alex tersentak, lalu dia pun mengalihkan perhatian ke arah tamu yang masih duduk menikmati sisa-sisa acara pesta.
"Poy kamu mau makan atau kita langsung pulang?"
"Pulang saja Mas, nanti kita makan di rumah saja," jawab Popoy.
"Baiklah, kita pamit dulu dengan ibu."
Alex pun menghampiri Ibu Fatma yang masih ngobrol dengan Andre, lalu dia berkata, "Bu, maafkan Alex ya, tadi sempat membuat keributan. Ibu jangan diam saja dong, jika diperlakukan tidak adil oleh Papa."
"Kamu juga Ndre, sering-seringlah menjenguk ibu. Siapa lagi yang akan menjaga ibu selain kamu. Jika ada apa-apa telepon saja aku ya."
"Ibu baik-baik saja kok Nak, kamu jangan khawatirkan Ibu. Mulai sekarang, kamu harus fokus mengurus rumah tanggamu, jangan lagi suka keluyuran malam."
Alex menatap tajam ke arah Andre dan Andre pun meringis, karena memang dialah yang mengadu kepada Ibu, tentang perilaku Alex selama ini di luaran.
"Jangan meringis kamu! Aku tahu, kamu 'kan yang mengadu ke Ibu!"
"Lex...jangan salahkan adikmu! walaupun dia tidak mengadu, ibu tahu semua tentang pergaulanmu. Jadi, ibu harap sejak sekarang berubahlah! tidak ada gunanya semua itu Nak! Lupakanlah masa lalu dan bangunlah masa depan mu bersama Nak Tiara."
"Alex cuma kumpul-kumpul dengan teman kok Bu!"
"Jika teman membawa pengaruh yang positif nggak masalah untuk didekati, tapi jika teman hanya membawa dampak buruk, lebih baik menjauhlah Nak!"
"Iya Bu."
"Nak Tiara, ibu titip Alex ya. Jika dia masih bandel, jewer saja telinganya!"
Popoy pun tersenyum sambil memandang Alex, mana mungkin dia berani menjewer, bisa-bisa malah hukumannya akan ditambah.
"Kenapa Nak, kamu nggak berani?" ucap ibu yang memandang kepada Popoy.
"Eh, iya Bu."
"Awas saja jika kamu berani!" bisik Alex ditelinganya hingga membuat Popoy merinding.
Sentuhan bibir Alex di telinga membuat Popoy bergidik, ada gelenyer aneh dan udara pun terasa gerah.
Untuk menutupi perasaannya, Popoy pun buru-buru mengalihkan pembicaraan, "Oh ya Bu, kami mau pamit."
"Kok terburu-buru Nak, kalian kan belum makan?"
"Nggak apa-apa Bu, nanti saja di rumah. Alex mau makan masakan istri. Masakan Popoy jauh lebih lezat Bu," ucap Alex sambil tersenyum sinis ke arah Popoy.
"Aduh, hukuman ku bertambah lagi," monolog Popoy.
"Apa Nak!"
"Nggak Bu, maksud saya harus tambah ilmu memasak, biar suami makin sayang."
"Ya, layanilah suami dengan baik Nak dan rawatlah kesehatan kamu agar jangan seperti ibu," ucap ibu dengan sedih.
Alex yang melihat Bu Fatma sedih lalu berkata, "Tinggallah bersama kami Bu!"
"Tidak Lex, ibu masih punya tanggung jawab, nggak mungkin ibu meninggalkannya, meski papamu seperti itu."
Alex tidak bisa memaksa, karena memang benar yang dikatakan Bu Fatma, jika tanggungjawabnya sebagai istri masih ada meski Bram mengabaikannya.
"Baiklah Bu, kapanpun ibu ingin tinggal bersama Alex, pintu rumah kami akan selalu terbuka buat ibu."
"Terimakasih Nak, kamu memang anak baik," ucap ibu sambil memeluk Alex."
Saat Bu Fatma melepaskan pelukannya, seorang pelayan datang, "Nyonya dipanggil Tuan.
"Iya, terimakasih ya. Sebentar lagi aku kesana."
"Kata Tuan musti cepat Nya!"
"Iya bilang saja tunggu!"
"Pergilah Bu temui Papa, tadi papa masih di ruang kerjanya. Kami pamit ya Bu," ucap Alex di susul oleh Popoy.
Setelah melihat ibunya pergi, Alex pun mendekati Andre dan berkata, "Kami duluan Dre, coba kamu selidiki, kenapa Nadine sepertinya tertekan dan satu lagi, ingat jaga ibu."
"Baik Kak."
"Aku tunggu hasil penyelidikan mu!" ucap Alex.
Kemudian Alex melihat ke arah Nadine dan diapun berkata, "Dine, kami pulang ya!"
"Iya Kak. Hati-hati ya Kak dan kamu juga Tiara."
"Terimakasih Mbak," jawab Popoy.
Kemudian Alex pun menggandeng lengan Popoy dan pergi meninggalkan rumah orangtuanya. Sementara pesta masih berlangsung, Bram serta Gio meminta maaf dan mengklarifikasi bahwa kejadian tadi hanyalah sebuah kesalahpahaman.
smg sukses kedepannya ya author........ 🙏🙏
baru kali ini baca novel ngak di skip2
keren tetap berkarya semogga sukses selalu