Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 B@by Blu3s
Sesampai di rumah Bu Asih, bayi Lana sudah disiapkan box bayi yang diletakkan di kamar Lana. Tapi, karena masih belajar menyusu dan belum sempurna keluar juga ASInya, sementara Lana akan tidur menyebelahi bayinya di ranjang saja.
Bu Asih sudah langsung sibuk mempersiapkan syukuran untuk kelahiran sang cucu pertama. Ia dibantu oleh beberapa tetangga belanja dan memasak sampai kepada membagikannya kepada seluruh tetangga sekitar serta tak lupa juga mengirimnya ke Bu Tutik. Jarak rumah besannya itu hanya sekitar lima kilometer saja. SementaraGalih sengaja mengambil cuti selama tiga hari untuk full menemani bayi dan istrinya di sana.
“Risvia Putri namanya,” ucap Galih mengumumkan ketika saat tasyakuran yang mengundang tetangga sekitar tersebut dipertanyakan untuk pertama kali nama si bayi. Nama itu sudah disepakati bersama sang istri sebelum acara tadi.
“Wah, cantik namanya secantik wajahnya, ya.Persis pula sama ibunya ini,” kata seoarang tetangga dari Bu Asih. Saat Risvia menangis, itulah saat Lana langsung terserang semacam stress mendadak karena sang bayi belum juga nyaman dalam mengenyot putting susunya. Hal mana itu justru malah menghambat produksi ASI.
Segala saran dari tetangga seperti mencarikan daun katuk dan memasaknya jadi sayur bening untuk dikonsumsi Lana, makan banyak telur ayam dan minum sari kedelai serta kacang hijau. Bahkan juga adayang bilang mandi keramas di sebelum Subuh dan sore hari. Semua cara dilakukan, untunglah di batas hari ketiga akhirnya ASI Lana bisa keluar dengan lancar.
Hal yang membuat Lana stres adalah ketika mendengar Bu Tutik yang selalu menyuruh Galih pulang di malam hari. Ia semakin jengkel karena terkadang ibu mertuanya itu seolah semakin manja dan kolokan pada suaminya tersebut. Terkadang ada tamu orang dari sensus desa saja Bu Tutik menelepon Galih dan menyuruhnya langsung pulang saat itu juga.
Padahal saat itu Lana sedang membutuhkan dukungan dan pendampingan dari suaminya. Belum lagi Risvia kecil juga suka sekali digendong ayahnya karena ibunya sendiri belum bisa leluasa menggendong dengan kondisi pasca melahirkan yang masih lemah dan harus pakai jarik hingga kurang leluasa bergerak bebas tersebut.
Alhasil yang senakin sibuk adalah Bu Asih. Beruntungnya wanita itu tak pernah mengeluh meskipun harus bangun di pagi buta untuk memasak sarapan. Kemudian menyiapkan air panas untuk mandi Risvi kecil dan juga Lana. Belum lagi nanti memandikan Risvi dan membedongnya.
Beranjak siang, ia akan mulai mengupas beberapa bahan jamu untuk kemudian diparut dan diperas. Setelah dicampur madu akan diminum Lana dengan ekspresi wajah yang sedikit mual. Ya, Lana memang tak begitu doyan minum jamu dan hal itulah yang seringkali dipakai sebagai bahan untuk menyerang Lana oleh Bu Tutik ketika Risvi rewel dan menangis terus. Padahal memang sudah sewajarnya bayi akan seringkali menangis karena memang bayi hanya bisa mengutarakan ketidaknyamanannya melalui tangisan.
“Sabar, ya Dek. Untung aja kita di sini sampai empat puluh hari. Setidaknya Ibu tidak akan terganggu dengan suara tangis Risvi nanti,” kata Galih menyabarkan sang istri.
“Huh, Ibu itu baru menunggui di sini belum ada sehari aja udah banyak amat keluhannya. Coba Ibu aku. Manaada mengeluh? Mana ada nyalah-nyalahin aku? Padahal dia sepanjang hari udah repot ngurusin semua keperluanku dan Risvi.” Lana sangat kesal dengan sikap Bu Tutik.
“Iya, Dek. Maafin Ibu, ya. Soalnya kan kita tahu sendiri Ibu itu susah banget tidurnya. Makanya kalau ada tangis bayisepanjang malam nanti jangan-jangan malah sama-sama gak ada yang tidur dan malah sakit juga Ibu. Kita bisa makin repot, kan?” Galih mencari-cari alasan agar ibunya tampakmtak begitu keterlaluan.
“Menurutku ini kesempatannya buktiin sih, Mas. Kan katanya kalau malam dia gak bisa tidur, tuh. Ya sekalian aja kalau malam dia bantu aku jagain Risvi. Biar pas siang dia tidur aku yang handle sendiri. Tapi nggak bisa juga kan? Uh, emang dasarnya aja nggak sayang sama cucunya itu.” Lana terus menggerutu sepeninggal Bu Tutik tadi.
“Hush, Lana!” Tegur Galih memprotes. Galih tentu saja tak ingin ibunya dipersalahkan dan dihujat terus menerus oleh ostrinya. Namun, bukan salah Lana juga kalau dia merasa jengkel karena sikap Bu Tutik memang seringkali keterlaluan. Tak memikirkan kondisi Lana dan juga bayinya. Yang dipikirkan cuma kenyamanan diri pribadi.
Setelah tujuh hari, tali pusar Risvi terlepas dan Bu Asih sesuai adat di lingkungannya, kembali mengadakan syukuran. Wanita itu selalu saja rajin memasak besar bersama para tetangga dan juga mengurusi semuanya. Lana yang belum bisa banyak membantu hanya tertegun dan berdoa selalu untuk kesehatan sang ibu.
Pun begitu saat usia Risvi sudah menapai empat puluh hari, ada adat bernama ‘selapan’ yang juga diadakan syukuran untuk Risvi. Kembali rombongan ibu PKK dan juga grup pengajian Bu Asih berkumpul untuk khataman dan mendoakan Risvi.
Sementara Risvi semakin dekat dengan Bu Asih karena wanita itulah yang merawatnya serta selalu tampak di matanya, sebaliknya, Risvi tak begitu nyaman ketika dalam gendongan Bu Tutik. Hari setelah syukuran selapan tersebut, Galih memboyong pulang Lana beserta Risvi ke rumah Bu Tutik. Di sana Risvi mungkin masih belum begitu bisa menyesuaikan dengan kondisi rumah baru, sehingga ia masih terus menangis saja. Hanya diam sesaat ketika sedang menyusu.
Terkadang Bu Asih menelepon dan mendengar tangis Risvi hingga ia memaksa berkunjung ke rumah Bu Tutik sekedar sambang bayi dan membantu menenangkannya. Dan memang seringkali Bu Asih bisa sekali menenangkan Risvi. Mungkin karena ada keterikatan batin di antara nenek dan cucu kesayangannya itu.
Risvi selalu tampak sangat nyaman dalam gendongan dan ayunan Bu Asih. Sampai-sampai beliau meminta Galih untuk membawa Lana menginap kembali di rumahnya saja sebab kasihan kalau mendengar cerita dari Lana bahwa Risvi sangat sering rewel di rumah itu.
“Kan sudah di sana empat puluh hari toh, Bu. Nanti Galih jadi repot wira wiri ke sana ke sini kalau anaknya di sana,” sanggah Bu Tutik yang mendengar pula permintaan dari Bu Asih tersebut.
“Tapi ini demi kebaikan Risvi kan, Bu. Apa Ibu ndak kasihan sama Lana yang jadi kurang tidur kalau Risvi rewel terus? Risvinya juga nanti bobotnya bisa turun kalau kualitas tidurnya kurang.” Bu Asih mengemukakan alasannya meminta hal tersebut.
“Lagian kalau Ibu bisa ngalah dikit pasti nggak akan susah buat Mas Galih, Bu. Ibu cukup ngalah dengan nggak nyuruh Mas Galih tidur di sini, kan?” sergah Lana akhirnya. Sudah lama ia kesal dengan permintaan sang ibu mertua yang mengharuskan Galih tidur malam di rumahnya padahal anak dan istrinya sedang di rumah Bu Asih.
“Loh? Kok jadi Ibu yang ngalah, sih? Yang gak becus nenangin anak kamu kok.” Bu Tutik berkeras tak mau mengalah. Hal mana langsung menimbulkan penilaian buruk Pak Ilham dan Bu Asih atas besannya tersebut. Mertua super egois!
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻