Kalau yang ingin cerita cinta-cintaan bukan di sini tempatnya. Ini hanyalah cerita gabut author yang entah kenapa bisa bikin kisah anak berusia 8 tahun.
Nggak suka boleh skip. Yang mau lanjut harap sediakan tisu karena cerita ini mengandung banyak bawang.
***
'Apakah aku nakal? Kenapa aku dibuang di sini? Apakah Ayah tidak inginkan aku lagi?'
Amara, seorang gadis berusia delapan tahun yang tengah dilanda sedih karena dititipkan di panti asuhan oleh ayahnya tanpa dia tahu kenapa. Di tengah kesedihannya, Belvara, seorang anak laki-laki selalu hadir untuk menghibur hati Amara yang sedang sedih.
Sampai pada akhirnya ....
"Tidak! Kalian bohong!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon trias wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Tak Sadarkan Diri
Aku bangun, ternyata aku memang bermimpi. Tidak ada ayah di sini, tapi tadi seperti yang nyata sekali jika aku melihat ayah ada di hadapanku dan akan membantuku yang sedang terjatuh.
...***...
"Tapi Amara janji jangan nangis ya," pinta Bunda Evie sebelum kami akan berangkat menuju ke desa. Ya, aku mendesak Bunda Evie setiap hari dan akhirnya kami akan pergi menuju pusara ayah. Rasanya tidak percaya karena aku tidak bertemu dengan ayah terlebih dahulu, tapi dari penuturan dokter yang datang beberapa hari yang lalu, dan mengatakan jika benar ayah sakit dan telah tiada karena sakitnya itu.
"Janji kan?" tanya Bunda Evie sekali lagi. Aku mengangguk, meski tidak. janji juga akan bagaimana nantinya.
Akhirnya mobil membawa kami pergi, jauh aku rasakan sampai aku sendiri tidak tau kemana kami pergi. Aku mengantuk!
"Amara, bangun. Kita sudah sampai." Bunda Evie mengguncang bahuku pelan, aku yang tertidur di pangkuannya terbangun dan mengucek mataku yang masih berat untuk terbuka.
"Kita sudah sampai?" tanyaku. Bunda Evie mengangguk. Aku melihat ke arah luar dan aku kenal dengan tempat ini.
Kuburan umum di desaku. Sedikit jauh dari rumah, tapi aku dan Denis pernah beberapa kali datang ke sini untuk mencari serangga selain di bukit belakang rumah kami.
Aku mendekat pada Bunda Evie sambil berjalan melewati batu-batu nisan yang terkadang sudah rusak. Bunda Evie memegang tanganku erat dan akhirnya kami berhenti pada sebuah pusara yang baru, tanahnya saja masih belum terlalu padat, masih merah, berbeda dengan yang lainnya yang sudah ada tembok atau ditanami rumput yang terlihat rapi.
Aku membaca tulisan yang ada di nisan itu. Itu memang nama ayah.
"Ayah kamu sudah bahagia di atas sana. Dia sudah tidak akan merasakan sakitnya lagi," ucap Bunda Evie sambil mengelus lenganku. Aku hanya diam, tidak bisa bicara apa-apa karena seperti ada air yang memenuhi tenggorokan ku. Mataku mulai panas, suaraku tidak keluar, tatapanku buram, dan ....
...***...
Aku terbangun di sebuah kamar putih, bau obat yang tidak aku sukai. Tanganku sakit seperti tercubit, baru aku lihat ada selang dan jarum di sana. Tidak ada orang lain di dalam sini. Aku hanya menangis, bukan karena takut tidak ada orang, tapi karena saat di depan makam ayah, aku bahkan tidak bisa mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hati.
"Amara!" seru Bunda Evie berlari setelah masuk ke dalam ruangan ini. Aku berbalik memunggunginya dan melanjutkan tangisku.
Tidak tahu berapa lama, tapi aku merasa capek juga. Dokter dan perawat pulang pergi masuk ke ruangan ini, membujukku untuk makan, tapi aku tak mau. Hingga akhirnya Kak Gery masuk dan membujukku dengan lembut. Akhirnya aku mau makan karena di bilang ayahku akan sedih jika aku tidak makan, dia akan sedih jik aku sakit. Padahal, jika aku tidak pingsan tadi, aku ingin pergi ke rumah dan membawa semua barang berharga milik ayah dan membawanya ke panti. Mungkin bajunya, mungkin sepatunya, atau apa pun itu.
Kak Gery dan Bunda Evie keluar dari ruangan ini. Kak Gery pamit untuk kembali ke rumahnya, sedangkan Bunda Evie pergi untuk menemui dokter.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bara tiba-tiba muncul membuat aku yang sedang memejamkan mata membuka mataku perlahan.