Juliana, si perfeksionis, sinis, ketus dan menjunjung tinggi nilai kehormatan seorang wanita, sementara Harsa adalah bentuk nyata dari kerusakan moral manusia yang ada diseluruh dunia, yeah, setidaknya dimata Juliana.
Mereka adalah musuh bebuyutan sejak jaman primitif hingga takdir membawa dua orang itu bekerja dalam satu divisi dan satu ruangan yang sama. Saling membalas umpatan, makian, dan pertengkaran hingga perdebatan sudah bukan lagi hal baru. Tapi siapa yang menyangka, rupanya kebencian mereka malah membawa mereka berdua terbangun suatu pagi di atas ranjang yang sama!
"Kau pasti menjebakku, kan? Kau sengaja mau mencoreng reputasiku sebagai wanita terhormat!" Tuding Juliana.
"Hei, aku mungkin bejat dimatamu, meski begitu aku mempunyai syarat dan ketentuan berlaku untuk wanita yang bermain denganku, dan kau tidak memenuhi semua persyaratan dan ketentuan yang ada." Harsa menyeringai.
Lalu, bagaimana bisa semua itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan dan Kejujuran (Part 2)
Pertanyaan Harsa membuat memori dalam kepala Juliana berputar pada masa dimana dirinya masih remaja, ketika seorang gadis berambut pendek dengan poni yang rata menutupi keningnya, potongan rambut ala Dora namun dalam versi yang lebih modis, sedang menangis dalam pelukannya sore itu di teras rumahnya.
Juliana datang ke rumah sahabatnya yang bernama Sheila karena gadis itu tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Dan kenyataan yang Juliana lihat adalah, Sheila bukan sakit pada fisiknya, melainkan ia patah hati.
Mereka putus, Sheila dan Harsa. Setelah satu bulan yang lalu Juliana berhasil membujuk Harsa untuk menerima Sheila karena Juliana tahu bagaimana besarnya rasa suka Sheila pada Harsa, dan akhirnya mereka pacaran.
Juliana masih ingat dengan jelas bagaimana senyuman lebar dan ceria Sheila ketika mengatakan Harsa menerimanya. Tapi kini yang dilihat Juliana adalah sebaliknya. Tangisan Sheila begitu pilu.
Sore itu Sheila tidak mengatakan apa-apa selain, "Aku dan Harsa putus. Hubungan kami tidak berhasil." Dan sisanya Juliana hanya melihat Sheila menangis tersedu-sedu.
Satu minggu setelah itu, Sheila tiba-tiba pindah sekolah, tanpa memberitahu Juliana, ia bahkan tidak sempat mengucapkan perpisahan atau apa pun pada sahabatnya.
Ia kehilangan satu-satunya sahabat yang ia punya karena Harsa. Dan saat itu lah ia mulai membenci Harsa. Ia yakin sepenuh hati Harsa mencampakkan sahabatnya yang manis dan rapuh.
Juliana ingat, beberapa hari setelah Harsa dan Sheila putus, Juliana yang tak tahan melihat bagaimana Sheila kehilangan semangatnya, akhirnya menemui Harsa, bukan pertemuan yang baik, lebih ke Juliana yang marah-marah pada Harsa saat jam istirahat di kantin. Ketika semua orang sedang tumpah disana.
"Dasar kau playboy! Kenapa kau mencampakkan sahabatku? Apa kurangnya dia? Tidak bisa kah kau menghargai perasaannya? Kalau memang kau tidak suka, seharusnya sejak awal kau tidak usah menerimanya, dari pada akhirnya kau malah mempermainkan perasaannya!" Omel Juliana berapi-api kala itu.
Harsa yang tadinya sedang asik menikmati jajanan kantinnya bersama teman-temannya sampai syok dibuat terkejut oleh labrakan Juliana yang sangat spontan.
Dan disaat itulah, Juliana ingat pertengkaran mereka dimulai. Jika sebelumnya Harsa tidak pernah menggodanya atau mengejeknya, hari itu Harsa menunjukkan sisi lain dirinya di depan Juliana. Hanya pada Juliana.
"Wah, kalian mau lihat bagaimana Mak Comblang yang gagal kalau marah?" Seringai muncul pada wajah Harsa. Orang-orang terkekeh.
"Kau bilang apa tadi? Menghargai perasaannya? Kau sendiri? Tidak bisa kah kau menghargai perasaanku juga? Apa kau lupa siapa yang sejak awal membujukku, memaksaku untuk bertemu dengan temanmu itu? Kau! Bahkan sejak awal aku sudah menolak permintaan mu itu, aku mengatakan dengan sangat jelas padamu, aku tidak menyukainya, apa kau lupa?"
Juliana mengatupkan bibirnya, tangannya mengepal pada sisi rok abu-abunya.
"Kau lupa saran apa yang kau berikan padaku? Coba jalani saja dulu, siapa tahu kalian cocok. Tapi kenyataannya kami tidak cocok. Lalu aku harus apa? Memaksakan perasaanku pada sahabatmu yang tergila-gila padaku?" Harsa menggeleng dengan senyum permusuhan.
"Sebelum kau melabrakku, sebaiknya kau tanya dulu pada temanmu itu, aku yang mengakhiri hubungan kami atau dia yang akhirnya sadar dengan kenyataan bahwa aku tidak pernah bisa menerimanya?"
Tok! Tok!
Suara ketukan menarik kesadaran Juliana kembali pada masa sekarang. Dirinya yang berdiri diantara orang-orang yang mengerumuni mereka di kantin, tiba-tiba tersedot dan kini duduk di dalam sebuah kedai kopi yang nyaman tepat di depan lelaki yang bertahun-tahun lalu dilabraknya di kantin sekolah.
"Are you there? Apakah akhirnya kau menemukan ingatanmu yang hilang?" Sindir Harsa.
Juliana menyesap kopinya yang mulai agak hangat. Membiarkan cairan mengandung kafein itu mengalir membasahi tenggorokannya dan kafein menstimulasi otaknya untuk merespon Harsa.
"Sheila... Sheila tidak pernah bilang alasan kenapa kalian putus." kata Juliana akhirnya.
Harsa tersenyum di depannya.
"Itu aku, aku yang hanya menarik kesimpulan sendiri."
"Wah... sebuah pengakuan yang bersejarah! Kita harus merayakan ini." Harsa mengangkat tangannya memanggil pramusaji.
"Ada yang bisa dibantu, Kak?" tanya pramusaji itu.
"Apa disini ada biskuit rasa kelapa? Untuk teman ngopiku."
"Oh, maaf, Kak, tidak ada. Tapi kami punya beragam roti dan kue tart slice."
"Roti apa yang kau rekomendasikan untuk kopiku?"
"Crossiant?"
"Perfect! Aku mau dua."
"Baik, Kak, ditunggu ya."
Pramusaji itu pergi meninggalkan meja Harsa dan Juliana untuk menyiapkan pesanan Harsa.
"Jullie, apa kau tahu, pengakuanmu itu berarti sesuatu, yaitu kau berhutang maaf padaku, atas semua kesalahpahamanmu padaku."
Juliana mengusap tengkuknya canggung. Ia tahu dia telah salah selama ini.
"Aku... aku minta maaf." kata Juliana tanpa melihat Harsa dan malah menatap isi cangkirnya.
"Kau melakukan kesalahan padaku, Jullie, bukan pada Latte dalam cangkir itu." Harsa terkekeh. "Dan aku tidak mendengar ketulusan sama sekali dalam permintaan maafmu tadi."
Juliana berdeham, ia menegakkan punggungnya kemudian menatap wajah Harsa dimana mata gelap pria itu menatapnya intens.
"Aku... ehm, aku minta maaf atas semua kesalahpahamanku padamu." kata Juliana lebih serius kali ini.
Harsa terlihat seperti menimbang permintaan maaf Juliana, apakah akan diterimanya atau dia akan mengerjai wanita itu.
"Nah, aku masih tidak mendengar ketulusan dari permintaan maafmu. Kau tahu, kau malah terdengar seperti sedang bernegosiasi bukan meminta maaf."
"Lalu kau mau aku minta maaf seperti apa? Berlutut di depanmu atau berdiri di atas meja agar semua orang tahu?" Juliana mulai kesal, dan si Harsa ini malah tergelak.
"Ish kau memang menyebalkan!"
"Baiklah, baiklah, permintaan maafmu aku terima, karena aku bukan pria pendendam, Nona."
"Thanks." Juliana, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, ia tersenyum pada Harsa. Meski itu adalah senyuman yang canggung.
"Permisi, Kak, ini Crossiant-nya." Pramusaji tadi datang kembali untuk menyerahkan dua piring dengan masing-masing Crossiant di atasnya.
Harsa memberikan satu pada Juliana setelah pramusaji tadi pergi.
"Aku tidak memesannya." kata Juliana.
"Hei, ini perayaan, harus ada makanannya." Ujar Harsa santai.
"Perayaan apa?" Juliana mengernyit.
"Perdamaian dunia." jawab Harsa sambil menyobek Crossiantnya lalu mencelupkannya sebagian ke dalam kopinya, ia menundukkan tubuhnya sedikit, memiringkan kepalanya untuk bisa menggigit roti yang berubah tekstur itu.
"Baiklah, tapi bukan berarti aku menerima perasaanmu itu."
Harsa terkekeh.
"Kau pikir aku akan memperjuangkan perasaanku dengan sepotong Crossiant dan secangkir kopi saja?"
Juliana tidak menanggapi, ia memotong Crossiant miliknya, tapi tidak mencelupkannya seperti yang dilakukan Harsa.
"Omong-omong, memang apa yang terjadi antara kau dan Sheila, sampai akhirnya kalian bisa pacaran satu bulan kemudian malah putus?"
"Well, aku hanya mengikuti saranmu untuk menemui Sheila, seperti katamu untuk memintaku menjalani dulu, Sheila pun demikian, dia memintaku untuk menjalani dulu selama satu bulan, jika tidak berhasil, maka dia akan mundur."
"Benarkah?" Mata Juliana melebar. "Tapi kenapa dia bisa sampai membuat keputusan satu bulan seperti itu?"
"Karena sejak awal aku sudah langsung mengatakan padanya bahwa aku tidak menyukainya, bahwa aku menyukai gadis lain. Tapi dia tidak peduli, dia tetap ingin mencoba hubungan kami, jadi aku memberikannya kesempatan selama satu bulan sesuai dengan apa yang dia bilang. Dan, yah, hubungan kami tidak berhasil." jawab Harsa menjelaskannya dengan santai.
"Oh Tuhan... seharusnya aku tidak membujukmu untuk menemuinya." Sesal Juliana.
"Yeah... tapi semua sudah terjadi."
"Lalu, apa Sheila tahu siapa gadis yang kau suka itu?"
"Tentu saja dia tahu, karena aku mengatakan padanya kalau aku menyukai sahabatnya."
Deg!
"Aku menyukaimu sejak dulu, dan jatuh cinta padamu sampai detik ini."
Lagu Falling Love At The Coffee Shop yang dibawakan oleh Landon Pigg kini mengisi setiap sudut kedai yang semakin menghangat.
...I Think that possibly...
...Maybe I'm falling for you...
...Yes, there's a chance that ...
...I've fallen quite hard over you...
...I've seen the paths that your eyes wander down...
...I want to come too...
...I think that possibly...
...Maybe I'm falling for you...
...No one understands me quite like you do...
...Through all of the shadowy corners of me...
...I never knew just what it was ...
...about this old coffee shop I love so much...
...All of the while I never knew...
...I never knew just what it was ...
...about this old coffee shop I love so much...
...All of the while I never knew...
...I think that possibly...
...Maybe I'm falling for you...
...Yes there's a chance that ...
...I've fallen quite hard over you...
...I've seen the waters that make your eyes shine...
...Now I'm shining too...
...Because oh because...
...I've fallen quite hard over you...
...If I didn't know you I'd rather not know...
...If I couldn't have you I'd rather be alone...
...I never knew just what it was ...
...about this old coffee shop I love so much...
...All of the while I never knew...
...I never knew just what it was ...
...about this old coffee shop I love so much...
...All of the while I never knew...
...All of the while...
...All of the while it was you...
...You...
...You...
...You...
.
.
.
TBC~
btw jangan lupa mampir di karya gw yg berjudul Ayunda, gadis pelunas hutang 😘
Akhirnya Every Moment Of You sudah tamat. Terima kasih yang sudah sabar menunggu setiap bab nya update, karena jujur, kisah kali ini cukup menguras energi saya, banyak hal yang saya pertimbangkan untuk saya tulis atau tidak. Misalnya seperti apakah saya perlu menuliskan adegan yang bikin kipas-kipas? Sementara tujuan saya menulis kisah kali ini adalah mengutamakan cerita cinta yang manis di kantor, pertemanan, dan menyampaikan pesan pada pembaca bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh menilai seseorang hanya dari melihatnya saja tanpa benar-benar mengenalnya.
Tapi, mungkin ada pembaca yang kecewa karena tidak ada adegan yang bikin degdegserr...maaf yaa🙏🏻
Saya akan membuat kisah yang degdegserr pada kisah lainnya... ditunggu yaa 😊✌🏻