Bhadrika Anneta Fabian memilih bersembunyi dari keluarganya karena belum siap menerima pernikahannya dengan seorang pria yang tak ia cintai.
Sementara Pangeran Aditama meski sudah tiga tahun berlalu masih terus mencari Istri sirinya yang kabur, hingga pada akhirnya ia menemukan titik terang tentang keberadaannya
" Jika kamu tak ingin aku menjadi Tuan Pemaksa, maka patuhi dan cintai aku sebagai suamimu."
" Tapi aku tetap tidak bisa mencintaimu karena di hati ini hanya ada dia. Jadi lepaskan saja aku!"
" Anne dia sudah pergi, jadi lupakanalah! Lagipula aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu akan tetap menjadi istriku sampai nanti. "
Di kala Pangeran masih berjuang untuk mendapatkan cinta istri, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat mirip dengan almarhum pria yang sangat Anne cintai.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan mereka selanjutnya?
Follow ig Author : Novi_Rahajeng08
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Obat lelah
Selepas menyelesaikan semua pekerjaannya, Pangeran segera pulang ke kediaman Fabio. Pasalnya istrinya masih tinggal di sana, jadi otomatis ia pun harus kembali ke rumah sang mertua walau sudah memiliki rumah sendiri. Lebih tepatnya rumah peninggalan orang tuanya.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya Pangeran pun sampai di kediaman Fabio. Dikarenakan sudah sangat merindukan sang istri, Pangeran pun langsung menuju kamar istrinya. Dikarenakan sudah tiga tahun menjadi keluarga Fabio, Pangeran sudah tak seperti seorang tamu lagi.
Sesampainya di depan kamar Anne, ternyata pintunya tidak di kunci.
" Tumben Anne tidak mengunci pintu," gumam Pangeran seraya masuk ke dalam. Namun, Ia tak menemukan ada sang istri di dalam kamar itu.
" Dimana Anne?" Pangeran terus berjalan mencari keberadaan sang istri. Pangeran mencoba mendekati pintu kamar mandi, siapa tahu sang istri sedang mandi tetapi tak ada. Ia pun kembali berjalan dan seakan mendengar suara seseorang yang sedang berbicara di ruangan walk in closet.
Pangeran pun berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara karena ia ingin memberikan sebuah kejutan. Pupil mata Pangeran terlihat melebar tatkala melihat Anne yang sedang tak mengenakan hijab.
Rambut berwarna coklat yang terurai panjang terlihat sangat indah.
" Oh ya, aku sudah selesai mengurus semuanya. Jadi, kamu dan Daddy tinggal berangkat lusa," ucap Anne pada seseorang di ujung telepon.
" Daddy? Dengan siapa Anne berbicara?" gumam Pangeran. Ia pun semakin pelan dalam mengambil langkah agar tak terdengar.
Lalu ...
Pangeran memeluk tubuh istrinya dari belakang.
" Astagfirullah hal adzim! "pekik Anne terkejut ketika tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Bahkan, ponselnya sampai terjatuh di lantai saking terkejutnya.
" Kamu terkejut sayang? "Pangeran bertanya seakan tak merasa bersalah sedikitpun.
Sementara Anne terlihat mencoba menerapkan jantungnya yang hampir saja copot. Bahkan, Ia masih merasa lemas dengan degup jantung yang berdetak begitu hebat.
" Pangeran bisakah kalau datang itu beri salam dulu!" omel Anne seraya mencoba melepaskan tangan Pangeran yang melingkar di perutnya.
Namun, Pangeran justru semakin mengeratkan pelukannya serta meletakkan dagunya pada pundak Anne.
" Biarkan seperti ini sejenak guna mengisi daya tubuh, "bisik Pangeran yang tengah merasakan kenyamanan saat memeluk Anne seperti ini.
Tubuh Anne meremang tatkala hembusan nafas Pangeran menerpa kulit lehernya. Aliran panas pun ikut menjalar ke seluruh tubuh ketika durasi pelukan itu semakin lama. Jujur, baru pertama kali Anne merasakan hal aneh seperti ini. Ingin rasanya memberontak tapi ingatan akan statusnya sebagai seorang istri membuat Anne menjadi enggan melakukannya.
"Kamu cantik dan harum," puji Pangeran seraya menghirup aroma wangi dari tubuh istrinya yang begitu menyegarkan dan menenangkan.
Pipi Anne seketika merona merah tatkala mendengar Pangeran memujinya cantik dan harum.
" Hari ini rasanya sangat penat dan lelah, tapi seketika hilang ketika bisa memeluk istri seperti ini. Sekarang aku tahu, kenapa orang yang telah menikah mengatakan bahwa obat lelahnya adalah istri."
" Gombal!" ketus Anne yang tak mau percaya begitu saja dengan perkataan Pangeran. Pasalnya, yang ia tahu bahwa obat lelah itu ya istirahat.
" Kok gombal sih sayang, aku tuh beneran tau. Makasih ya, sudah mau kembali dan menerima ku. "
" Siapa bilang aku sudah menerima?" sanggah Anne yang merasa bahwa ia belum sepenuhnya menerima Pangeran sebagai suaminya.
Dahi Pangeran terlihat berkerut, dan mengurai pelukannya tatkala mendengar perkataan Anne yang membuatnya bingung. Bukankah tadi Anne sudah menciumnya lebih dulu? Tapi kenapa sekarang tiba-tiba mengatakan kalau belum menerima? Apa jangan-jangan Anne mengalami amnesia?
Menyadari bahwa Pangeran sudah tak memeluknya, Anne membalikkan tubuhnya hingga membuat jarak wajahnya menjadi lebih dekat lagi dengan Pangeran. Awalnya Anne mengira bahwa posisi Pangeran tak sedekat ini tapi ternyata.
Jakun Anne terlihat naik turun, durasi detak jantungnya pun semakin cepat layaknya sedang lari maraton.
" Apa maksudnya Anne? Bukankah tadi siang kamu sudah___" Anne langsung membekap mulut Pangeran karena ia tak ingin mendengar pria itu mengatakan apa yang terjadi tadi.
Sungguh, Andai waktu bisa di putar kembali ingin rasanya Anne mengubah semuanya. Dimana Ia akan lebih bisa mengontrol diri dan tidak bertindak gegabah dengan mencium Pangeran lebih dulu. Tapi, apalah daya jika nasi sudah menjadi bubur yang tak bisa kembali lagi menjadi beras.
" Aku harap kamu tidak akan salah paham dengan kejadian tadi siang! Karena itu terjadi hanya karena___ refleksi otak!"tutur Anne yang terdengar begitu gugup.
Pangeran mencoba melepaskan tangan Anne yang membengkap mulutnya.
" Refleksi otak? "ulang Pangeran tak mengerti akan sikap Anne yang tiba-tiba berubah.
" Em. " Anne mengangguk.
" Jadi, kamu jangan GR! "tandas Anne seraya mendorong tubuh Pangeran agar menjauh. Setelahnya Anne terlihat berjalan pergi meninggalkan Pangeran karena udara di ruangan itu terasa sangat pengap sekali.
" Anne ... jadi kamu belum menerimaku sebagai suami begitu? "teriak Pangeran yang mencoba memastikan.
" Tergantung! " balas Anne ambigu yang terus berjalan pergi meninggalkan Pangeran.
Pangeran terlihat mengacak rambutnya, Ia benar-benar di buat bingung akan sikap istrinya itu.
...***...
Seusai makan malam dan sholat isya, Pangeran langsung mengajak Anne kembali ke kamar karena ada yang ingin ia bicarakan.
Sementara Mama Dira dan Dinda justru menanggapi lain soal Pangeran yang buru-buru mengajak Anne kembali ke kamar.
" Sepertinya ada kemajuan dengan hubungan mereka," ucap Mama Dira.
" Iya, sepertinya tak lama lagi Mama bakalan punya cucu lagi," timpal Dinda yang membuat kedua wanita itu tertawa bersama.
"Kalian menertawakan apa? "tegur Papa Ken yang baru saja datang.
" Gak ada, hanya urusan wanita, "kata Mama Dira yang tak ingin memberitahukan apa yang membuat Mama Dira dan Dinda tertawa.
" Oh, ya. Anne mana? " Papa Ken kembali bertanya tatkala tak melihat keberadaan putrinya.
" Sudah kembali ke kamarnya, "jawab Mama Dira.
" Kok tumben jam segini sudah kembali ke kamar, biasanya juga ngobrol-ngobrol santai bersama, "papar Papa Ken.
" Ya, itu kan dulu, Pa. Kalau sekarang mah beda, putri Papa itu kan sudah punya suami. Jadi, wajar kalau jam segini sudah kembali ke kamarnya. Namanya juga pengantin lama berasa baru, "terang Mama Dira dengan cengengesan.
Sementara Papa Ken terlihat terdiam seakan memikirkan sesuatu.
" Apa mereka ___"
" Sudah gak usah di jelasin! Kita sama-sama sudah pernah menjadi pengantin baru, lebih baik Papa duduk dan ikut makan camilan," tawar Mama Dira dan diangguki oleh Dinda.
Bagi orang yang sudah menikah lama, pasti akan lebih mudah paham walau tidak di jelaskan secara detail.
...***...
penasaran sama lnjtn nya