Demi membalas orang-orang yang membuatnya terpaksa terpisah dengan orangtua, Nayyara telah merencanakan sebuah pembalasan.
Dia menyamarkan dirinya dengan sempurna, menyembunyikan wajah indahnya menjadi wajah buruk yang menggunakan kacamata tebal!
Namun dalam proses balas dendamnya, Nayyara berbuat salah yang fatal—— dia telah menarik perhatian CEO dingin.
""Semua wanita itu murahan"" Harry Balwis
""Kau hanya pria arogan yang haus akan cinta"" Nayyara.
Mampukah Naya mencapai tujuannya? atau dia malah jatuh cinta pada pria itu sebelum tujuannya tercapai?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Secangkir kopi
Berendam adalah salah satu cara untuk menyegarkan pikiran, hampir 20 menit Yara berendam dalam air hangat. Setelah dirasa cukup ia keluar dari Bathup dengan menggunakan kimono handuknya, menuju lemari pakaian lalu mengambil baju tidur dengan gambar princess.
Yara melihat pantulan dirinya pada cermin di hadapannya.
"Kejadian tadi masih awal, dan segera akan di mulai" ucapnya pada wanita yang berada di dalam cermin.
Entah apa yang meracuni pikirannya, mendadak kakinya melangkah ke apartemen Harry. Berdiri disana tanpa ada niatan untuk mengetuk. Ia hanya diam, sepuluh menit berlalu. Yara cbelum melakukan apapun.Tapi
Krek.
Pintu terbuka dari dalam. Harry terkejut melihat wanita yang berdiri di depan pintu apartemennya. Harry hendak keluar untuk mengambil sesuatu di mobilnya ia urungkan karena melihat Yara.
Yara juga terdiam merasa ketahuan, seperti maling yang tertangkap basah, padahal dia tidak melakukan apapun hanya berdiri disana.
Masih pada posisi yang sama. Hening. selang beberapa menit Yara membuka suaranya.
"Secangkir kopi?" ucapnya canggung.
"Masuklah" jawabnya datar padahal dalam hatinya bahagia tak terkira, ingin rasanya ia melompat kegirangan, tapi malu dong ada Yara.
Sedikit senyum tersungging di bibirnya.
Yara masuk kedalam setelah dipersilahkan oleh pemilik apartemen. Harry mengikutinya dari belakang setelah menutup pintu kembali.
"Apa kau mau keluar?" tanyanya pada laki - laki yang masih berada di belakangnya.
"Tidak, hanya ingin mengambil sesuatu di mobil tapi bisa nanti saja" jawabnya sembari menatap Yara.
Dia memakai baju princess, seperti anak kecil saja.
Mereka berdua terlihat sama sama canggung, dan masih dalm keadaan berdiri.
"Ehhmmm... apa aku boleh duduk?" tanya Yara.
"Tentu, duduklah" jawab Harry, memalukan ia membiarkan tamunya berdiri dari tadi sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gara gara baju bermotif princess membuatnya tidak fokus.
Seorang Harry terlihat gugup di depan seorang wanita, memalukan.
"Apartemen yang nyaman" lanjut Yara memperhatikan dekorasi apartemen itu. Cukup rapi untuk ukuran seorang pria.
"Terima kasih, aku akan mengambil minuman"
"Hemm.. "
Harry melangkah menuju dapur, membuat kopi kusus untuk tamu spesialnya, Harry membuat dua kopi panas. Setelah selesai ia membawanya ke tempat dimana Yara sedang duduk manis.
"Ini kopimu, masih panas" seraya menyodorkan Satu tangannya yang memegang satu cangkir kopi.
"Terima kasih, disaat banyak masalah aku lebih suka minum kopi, itu sangat menenangkan" Yara tanpa sadar menceritakan tentang kebiasaannya.
"Apa kau sedang banyak masalah" pertanyaan jebakan dari Harry, ada sedikit harapan Yara mau berbagi dengannya.
"Untuk saat ini mungkin belum"
"Kalau begitu, nanti aku akan membawamu ke tempat pembuat kopi terenak"
"Memangnya ada"
"Ada, kau mau?"
"Mau" jawabnya sembari menganggukkan kepalanya.
Mereka duduk berhadapan, membuat mereka bisa melihat dengan jelas wajah satu sama lain. Yara tampak semangat, beda dengan Harry yang masih keliatan gugup. entah apa yang membuatnya gugup, dan Yara bisa menangkap itu.
"Apa kau gugup? " tanyanya karena merasa tidak enak.
"Hah" Harry malah kebingungan mendengar pertanyaan Yara.
"Kau gugup? "ulang Yara.
"Apa sangat kelihatan " dia malah balik bertanya.
"Ya, sangat, apa kau takut ketahuan kekasihmu jika ada wanita lain masuk ke apartemenmu? "
"Tidak juga, aku malah gugup kau datang, bolehkah aku jujur, aku merasa bahagia kau datang kemari"
Ah.. Apa yang aku katakan, membuat suasana semakin canggung saja.
Mereka terdiam dengan pikiran masing masing.
Beberapa menit kemudian.
"Untuk yang tadi , Terima kasih" ucapnya benar benar tulus.
Harry mengangguk. " Aku tidak menyangka kau adalah nona X itu, ibuku sangat mengagumi designmu, dia mengoleksinya, bahkan dia juga kagum padamu "
"Benarkah, aku merasa tersanjung, aku tidak sehebat itu"
"Tapi kenyatannya, kau sangat hebat, kau juga ternyata pewaris C M Mall yang sempat dikabarkan menghilang setelah Kabar meninggalnya orang tuamu"
"Kau mengenal mereka?" tanya Yara.
"Hemm... " ternyata kau melupakanku lanjut Harry dalam hati. "Apa rencanamu, kau sudah berhasil mendapatkan CM Mall?"
"Tidak ada"
"Tidak ada?" ulang Harry merasa bingung.
"Ya, aku hanya ingin mengambil hakku, dan kembali setelah mendapatkannya, itu saja"
"Kembali?"
"Ya aku akan kembali ke Australia, tempat dimana aku memiliki keluarga"
Harry terdiam, berusaha mencerna apa yang barusan ia dengar dari wanita yang ia rasa pernah dekat dengannya.
"Apa dari awal tujuanmu hanya itu?"
Mengangkat sebelah alisnya, ia tidak paham dengan pertanyaan Harry atau dirinya yang sudah melewatkan sesuatu.
"Aku tidak punya siapa siapa disini, dan aku tidak harus punya tujuan lain"
"Kau bisa mencari tujuanmu mulai saat ini, mungkin ingin punya kekasih"
"Kekasih? Aku rasa itu tidak perlu, di Australia banyak pria tampan, aku akan mencarinya disana"
Tiba tiba Harry merasa haus, ia menghabiskan kopinya dalam sekali teguk. Yara yang melihatnya merasa keheranan dengan tingkah Harry.
Harry berpikir haruskah ia memberitahu Yara bahwa ia tahu rahasianya ketika bersandiwara menjadi Naya, dan dia pernah menjadi sugar babynya, tapi apa itu penting saat ini.
Disaat hubungannya dengan Yara terlihat semakin dekat, apa itu tidak akan membuat hubungan mereka renggang lagi setidaknya sekarang mereka bisa berteman.
Ya berteman, itu ide yang tidak terlalu buruk.
"Mungkin kau butuh seorang teman, aku bisa menjadi temanmu"
"Aku tidak mencari teman pria, karena mustahil pria dan wanita itu berteman"
"Kenapa?"
"Kau akan jatuh cinta padaku" jawab Yara sembari tersenyum.
Deg
Jatuh cinta? sepertinya sudah bahkan sebelum kita mulai untuk berteman.
"Kau sangat percaya diri sekali"
"Aku hanya bercanda, tidak mungkin kau jatuh cinta padaku disaat mempunyai kekasih yang sangat cantik"
"Hemmm... " Harry teringat kekasihnya Feby. Semoga dia bisa berperan dengan baik dengan tidak mendengar godaan syetan untuk berselingkuh, karena dari tadi telinganya mendengar bisikan syetan untuk mencium bibir manis itu.
Ahh. Apa yang aku pikirkan.
Yara menyesap kopinya kembali sampai tandas tak bersisa.
"Habis, Terima kasih, mungkin aku harus kembali"
"Ingin menghabiskan waktu bersama malam ini"
"Kau mengajakku tidur bersama?" tanya Yara terkejut, bisa - bisanya Harry menganggapnya wanita murahan. Meskipun ia teringat Harry pernah mengatakannya dulu.
"Ternyata pikiranmu tak sepolos wajahmu, pikiranmu mesum"
"Hah?"
Apa aku salah, benar kan yang aku dengar tadi, menghabiskan malam bersama. Apa aku yang terlalu pintar.
"Kemarilah" Harry menarik tangan Yara menuju depan televisi besar dan memberikannya mainan.
Ternyata dia mengajakku main game, tepatnya main PlayStation.
Masih ada ya hari gini, mungkin Harry mengoleksinya.
"Kau bisa menggunakannya" tanya Harry, melihat wajah Yara yang kebingungan. Akhirnya Harry mengajarinya sebentar.
"Ok, aku siap bermain"
Mereka bermain dengan bahagia, sampai lupa waktu, terdengar suara gelak tawa dari keduanya.
Mereka bermain smbil memakan cemilan yang Harry pesan lewat aplikasi, karena biasanya kalau bermain itu harus ada cemilannya, seperti nonton di bioskop selalu ada popcorn.
Harry menikmati kebersamaannya dengan Yara. Harry tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini ketika bersama Feby. Apa dia sekarang mulai membandingkan mana wanita yang tebaik menurutnya. Harry Harry ternyata kau sudah jatuh dalam perangkap..
"Aku lelah" meletakkan kepalanya pada sofa, posisi mereka duduk dibawah sofa dengan karpet berbulu sebagia alasnya, meskipun tidak tebal tapi lumayan empuk, membuat tubuh yang berbaring di sana terlelap menuju alam mimpi
terima kasih atas karya yg sangat menghibur ini thor.. semangat terus utk karya² baru yg lebih wow lagi.