Pertemuan yang tak pernah mereka rencanakan, tapi justru takdir membawanya semakin dekat. Hingga mereka benar-benar yakin bahwa cinta itu hadir. Tapi ternyata tak cukup hanya Cinta, tapi juga ada perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????" bentuknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Pernah Bisa Menerima Kehadirannya
"Bu?!" bentak Ryan tak suka mendengar kalimat tentang putrinya itu. Dia benar-benar terlihat marah.
"Kamu marah?" Ibunya tak menyangka Ryan akan semarah itu.
Ryan mengusap wajahnya kasar, hilang kontrol hingga membentak ibunya seperti itu.
"Sebegitunya kamu marah? Sampai bentak Ibu?"
"Tapi jangan bilang begitu dong, Bu....." nada suaranya sedikit merendah. Dia sadar bahwa tak seharusnya ia membentak ibunya seperti itu.
"Kenapa kamu semarah itu? Dia siapa emangnya? SIAPA??" suara ibunya meninggi sedikit bergetar.
"DIA PUTRI AKU, BU....." tegas Ryan.
"Putri yang diangkat karna kasihan?? IYA? ITU MAKSUDMU?"
"Bu....??" bentak Ryan lagi bahkan lebih keras dari yang tadi.
"Apapun yang terjadi, Fiska itu putriku. SELAMANYA!" lanjutnya kembali menegaskan bahwa dia sangat menyayangi putri kecil itu.
"Kamu lupa ini orangtua kamu, Ryan...." ibunya mulai menangis, dia sangat kecewa akan bentakan putranya.
Ada jeda sejenak hingga sunyi terasa diantara mereka walaupun itu hanya sebentar. Ryan menarik napas, berusaha menahan emosinya yang sebenarnya ingin meledak itu.
"Ryan minta maaf sudah bentak ibu...... Tapi Ryan juga minta tolong...... JANGAN PERNAH SALAHKAN DIA, BU...... Dia nggak tau apa-apa..... Dia bahkan belum paham siapa dirinya." Ryan sangat menghayati setiap kata yang ia keluarkan itu. Curahan hati yang membuatnya tak pernah tega melihat putrinya sedih.
Ibunya menggeleng sambil menangis. Kecewa dengan pernyataan itu. Itu seperti menjelaskan bahwa tak akan pernah bisa menerima anak itu seperti yang Ryan minta.
"Ryan minta tolong, Bu......Jangan!!!" Ryan berlutut di depan ibunya meminta dengan sangat tulus, air matanya terus menetes.
"TIDAK!!!" Ibunya mundur, menarik kakinya dari tangan Ryan.
"Itu bukan hal kecil, Ryan...... Ini tentang masa depan kamu!!!" tegas ibunya.
"Ryan bisa selesaikan itu semua, Bu...." jelas Ryan meyakinkan bahwa itu bukan jadi penghambat baginya.
"Selesaikan?? Mana?? Coba ingat lagi, ada nggak perempuan yang mau menerima kamu karna itu???"
"Bu, anggap saja itu tidak jodoh."
"Sampai kapan??? Hah?? Sampai ibu tak ada??Atau sampai kamu yang tiada?? IYA??" Ibunya benar-benar muak pada Ryan. Dari dulu selalu tetap pada pendiriannya untuk selalu bersama anak itu.
"Ryan tak bisa menjawab itu, Bu...." ucap Ryan bahkan seperti orang yang tak berpikir lebih panjang dengan apa yang dikatakan ibunya tadi. Itu cukup menjelaskan, Ryan tak perduli dengan apa yang terjadi pada dirinya jika itu demi putrinya.
"Itu cukup, Ryan. Jika itu masih keputusan mu, jangan pernah temui ibu lagi......" ucap ibunya dengan raut kecewa. Dia pergi meninggalkan Ryan. Keluar dari rumah itu.
"Maaf, Bu......." ucap Ryan pelan saat melihat ibunya pergi begitu saja.
"Silakan, Nyonya...." seorang sopir pribadinya membuka pintu mobil mempersilahkan ibu Ryan.
"Bahkan dia tak mengejar??" batin ibunya penuh harap kalau putranya akan mengejarnya dan akan mengubah keputusannya. Ternyata itu hanya terjadi dalam bayangannya.
Ibunya menoleh ke belakang, masih dengan harapan yang sama. Putranya datang menghampirinya. Ternyata tidak sama sekali.
"Itu cukup!!" batinnya lagi sambil melangkah penuh rasa kecewa, sedih yang bercampur.
Bahkan sampai mobil itu pergi melaju, Ryan tak ada mengejar. Dia tetap berlutut di posisi tadi, seakan tak berdaya untuk berdiri kembali. Rasa bersalah pada ibunya memang memenuhi hatinya. Tapi rasa sayang pada putrinya tak akan pernah berkurang.
"Pah....?" panggil Fiska dari belakangnya.
Dengan cepat, Ryan mengusap air matanya. Berdiri dan balik badan menghadap putrinya.
"Sudah mandinya, Sayang?" Ryan mengusap ujung hidungnya yang memerah, sedikit mampet sambil menarik napas panjang.
"Papa......" Fiska sedikit heran menangkap perubahan wajah ayahnya.
"Papa kenapa?" tanyanya pelan sambil mendekat, jemarinya meraih ujung jari sang ayah.
Ryan segera memalingkan wajahnya sejenak. Ia menarik napas pelan, berusaha mengatur suara yang masih sedikit serak.
"Nggak papa, Sayang....." Ryan berjongkok di depan putrinya. Ia memaksakan senyum tipis, sementara suaranya masih terdengar sedikit serak. Ia menggenggam tangan mungil putrinya dan mengusapnya perlahan, berusaha meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Sekarang kita main? Siap.....?" Ryan mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi, wajahnya kembali dipenuhi senyum hangat.
"Siap!" Seru Fiska dengan mata berbinar. Ia langsung mengangkat kedua tangannya sambil melompat-lompat kecil, kegirangan melihat ayahnya kembali ceria.
Ryan terkekeh pelan, sesaat semua kesedihan yang tadi memenuhi dadanya menghilang, tergantikan oleh tawa polos yang selalu mampu menguatkannya.
"Let's go!!" seru Ryan sambil mengangkat tubuh mungil putrinya ke dalam pelukannya. Berlari kecil membuat Fiska tertawa lepas.
"Yeiiiii......" teriak Fiska riang, kedua tangannya terentang seperti sedang terbang.
Mereka masuk ke kamar bermain yang dipenuhi warna cerah. Rak-rak berisi boneka, balok susun, mobil-mobilan, dan rumah-rumahan kecil berjajar rapi di setiap sudut.
"Papa mau jadi murid, ya?" Pinta Fiska sambil mengambil sebuah boneka kelinci.
Ryan langsung duduk bersila di atas karpet empuk. "Baik, Bu Guru Fiska. Muridnya siap belajar."
Fiska menggeleng lucu, "Nggak boleh ribut!"
"Iya, Bu Guru." jawab Ryan sambil mengangkat tangan.
Fiska tertawa geli. Ia mulai menyusun balok menjadi sebuah istana kecil, lalu memindahkan boneka bonekanya satu per satu ke dalamnya. Ryan sengaja beberapa kali memasang balok dengan miring hingga roboh.
"Papa....." Fiska memonyongkan bibirnya.
"Maaf, Bu guru. Papa belum pintar."
Anak kecil itu menghela napas panjang, lalu memperbaiki susunan balok sambil mengajari Ryan dengan sabar. Melihat wajah serius putrinya, Ryan tak kuasa menahan tawa.
"Stttt!!! Jangan ribut, nanti bu guru tak fokus." ucap Fiska masih mendalami perannya.
"Baiklah. Maaf, Bu guru." Ryan menutup mulutnya supaya tawanya tak terdengar.
Mereka berpindah memainkan puzzle, menggambar dengan krayon warna warni hingga membangun kota kecil dari balok susun. Ryan dan Fiska sama-sama saling bercerita tentang dunia khayal yang hanya dipahami oleh mereka.
"Papa.... Haus," semangat Fiska perlahan mulai berkurang. Ucapannya semakin pelan dan gerakannya tidak lagi secepat tadi.
"Ini......minum dulu, Nak." Ryan mengambil botol minum Fiska yang selalu tersedia disana.
"Terimakasih, Papa....." Fiska bersandar di bahu ayahnya, masih memegang boneka kelinci kesayangannya.
"Besok kita main lagi, ya......"
Ryan mengusap lembut rambut putrinya, "Tentu. Papa janji."
Fiska mengangguk kecil. Kelopak matanya mulai terasa berat. Ia masih berusaha mengambil balok di dekatnya, tapi jemarinya perlahan mengendur hingga balok itu jatuh pelan di atas karpet.
Ryan tersenyum tipis. Napas Fiska terdengar teratur, pipinya menempel nyaman di dada sang ayah.
"Sudah tidur putri Papa...." ucapnya pelan. Ia menyingkirkan beberapa mainan yang berserakan di dekatnya. Ia bersandar di sofa kecil dalam kamar bermain tanpa ingin mengganggu tidur putrinya.
Ryan menatap wajah polos yang sedang terlelap itu cukup lama. Ia mengecup lembut puncak kepala Fiska.
"Selamat tidur, Putri Papa......"